Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Era Kepemimpinan Prabowo-Gibran dalam Perspektif Amartya Sen Keladu, Yosef; Darling, Dominikus; Sugar, Felix; Armansi, Angelus
Politeia: Jurnal Ilmu Politik Vol. 18 No. 1 (2026): Politeia: Jurnal Ilmu Politik
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/politeia.v18i1.20855

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengkaji program unggulan pemerintahan Prabowo-Gibran, makan bergizi gratis (MBG) dengan menggunakan teori kapabilitias dan keadilan Amartya Sen. Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah kualitatif dengan pendekatan kepustakaan (library research), di mana data-data dikumpulkan lewat studi kepustakaan dan kemudian dianalisis dengan metode interpretasi tematis. Temuan menunjukkan bahwa meskipun kebijakan makan gratis memiliki tujuan mulia, dalam praktiknya terdapat risiko pereduksian kesejahteraan manusia hanya pada soal distribusi makanan, tanpa memperhatikan aspek pilihan, putusan, serta kemandirian individu. Lebih lanjut, program makan bergisi gratis berpotensi memperkuat ketergantungan masyarakat dan sekaligus mengabaikan penguatan struktur sosial-ekonomi yang seharusnya menopang kapabilitas jangka panjang. Karena itu, dengan menggunakan lensa pemikiran Amartya Sen, artikel ini menganjurkan agar program pemerintah, termasuk program makan bergisi gratis hendaknya berfokus bukan saja pada ketersediaan barang, tetapi juga pada perluasan kebebasan bagi masyarakat untuk menjalani kehidupan yang bernilai. Sebuah kebijakan termasuk makan bergizi gratis hendaknya menekankan pendekatan dari sekadar pemberian ke arah pemberdayaan yang berkelanjutan. Untuk itu, dengan berpijak pada pemikiran Sen, artikel ini juga memberikan beberapa rekomendasi kebijakan yang sedianya harus diprioritaskan oleh pemerintah, sebab alternatif itu dinilai lebih memperluas kapabilitas masyarakat.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Era Kepemimpinan Prabowo-Gibran dalam Perspektif Amartya Sen Keladu, Yosef; Darling, Dominikus; Sugar, Felix; Armansi, Angelus
Politeia: Jurnal Ilmu Politik Vol. 18 No. 1 (2026): Politeia: Jurnal Ilmu Politik
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/politeia.v18i1.20855

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengkaji program unggulan pemerintahan Prabowo-Gibran, makan bergizi gratis (MBG) dengan menggunakan teori kapabilitias dan keadilan Amartya Sen. Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah kualitatif dengan pendekatan kepustakaan (library research), di mana data-data dikumpulkan lewat studi kepustakaan dan kemudian dianalisis dengan metode interpretasi tematis. Temuan menunjukkan bahwa meskipun kebijakan makan gratis memiliki tujuan mulia, dalam praktiknya terdapat risiko pereduksian kesejahteraan manusia hanya pada soal distribusi makanan, tanpa memperhatikan aspek pilihan, putusan, serta kemandirian individu. Lebih lanjut, program makan bergisi gratis berpotensi memperkuat ketergantungan masyarakat dan sekaligus mengabaikan penguatan struktur sosial-ekonomi yang seharusnya menopang kapabilitas jangka panjang. Karena itu, dengan menggunakan lensa pemikiran Amartya Sen, artikel ini menganjurkan agar program pemerintah, termasuk program makan bergisi gratis hendaknya berfokus bukan saja pada ketersediaan barang, tetapi juga pada perluasan kebebasan bagi masyarakat untuk menjalani kehidupan yang bernilai. Sebuah kebijakan termasuk makan bergizi gratis hendaknya menekankan pendekatan dari sekadar pemberian ke arah pemberdayaan yang berkelanjutan. Untuk itu, dengan berpijak pada pemikiran Sen, artikel ini juga memberikan beberapa rekomendasi kebijakan yang sedianya harus diprioritaskan oleh pemerintah, sebab alternatif itu dinilai lebih memperluas kapabilitas masyarakat.
HANNAH ARENDT ON “WORLDLESSNESS” AND CRIMES AGAINST HUMANITY Koten, Yosef Keladu
Jurnal Ledalero Vol 14, No 1 (2015): Tolak Tipu, Lawan Lupa
Publisher : Ledalero Institute of Philosophy and Creative Technology (IFTK Ledalero), Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31385/jl.v14i1.9.109-128

Abstract

Tulisan ini bertujuan menganalisis ide Hannah Arendt, seorang filsuf politik keturunan Yahudi, bahwa kejahatan kemanusiaan tidak terpisahkan dari situasi dunia atau politik yang tidak manusiawi. Arendt menyebut situasi ini dengan istilah worldlessness, kondisi di mana warga negara dirampas hak-hak asasi mereka untuk memperoleh tempat tinggal yang layak, untuk dilindungi oleh negara serta untuk bertindak dan berbicara secara bebas. Menurut Arendt, situasi worldlessness ini berefek ganda karena dalam situasi seperti ini warga negara digiring, di satu pihak, untuk menjadi pelaku kejahatan; dan di lain pihak, menjadi sasaran kejahatan. Contoh konkretnya adalah peristiwa pembataian massal di Auschwitz, di mana Nazi sebagai pelaku dan orang-orang Yahudi sebagai korban. Mereka semua adalah korban dari kebijakan politik tidak manusiawi yang diterapkan oleh Adolf Hitler. Ide Arendt sesungguhnya menantang pemerintah untuk merancang strategi yang menyeluruh dalam mencegah dan mengatasi kejahatan kemanusiaan. Keywords: “Worldlessness”, crimes against humanity, anti-Semitism, imperialism, “rightlessness”.