Iceu Amira
Fakultas Keperawatan Unpad Bandung

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Penyuluhan tentang Kesehatan Jiwa Remaja di Pondok Pesantren Miftahul Hidayah Kelurahan Lebakjaya Kecamatan Karangpawitan Iceu Amira; Hendrawati Hendrawati; Indra Maulana; Sukma Senjaya
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 6, No 4 (2023): Volume 6 No 4 April 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v6i4.9479

Abstract

ABSTRAK  Kesehatan jiwa menurut WHO (World Health Organization) adalah ketika seseorang tersebut merasa sehat dan bahagia, mampu menghadapi tantangan hidup serta dapat menerima orang lain sebagaimana seharusnya serta mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain.Kesehatan jiwa sangat penting untuk menunjang produktivitas dan kualitas kesehatan fisik. Gangguan mental atau kejiwaan bisa dialami oleh siapa saja, baik usia muda maupun lanjut usia. Tujuan kegiatan ini untuk mengetahui pengetahuan yang dimiliki siswa pondok pesantren tentang kesehatan  tentang kesehatan jiwa. Pelaksanaan pengabdian masyarakat ini bertujuan  untuk mencegah terjadinya gangguan mental di Kelurahan Lebakjaya  Kecamatan Karangpawitan .  Metode yang dipergunakan dalam kegiatan ini adalah penyuluhan Kesehatan mental yang dilakukan pada usia remaja. Sebelum pelaksanaan penyuluhan diberikan pre test terlebih dahulu untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan masyarakat tentang kesehatan jiwa, setelah itu pemberian materi dan tanya jawab, serta diakhiri dengan pemberian post test untuk menilai keberhasilan dari penyuluhan ini. Dalam pengabdian ini hasil yang dicapai ada perubahan pengetahuan tentang Kesehatan jiwa dibuktikan dengan hasil pre dan post tests ada peningkatan. Kata Kunci: Jiwa,  Kesehatan, Penyuluhan, remaja  ABSTRACT Mental health according to WHO (World Health Organization) is when a person feels healthy and happy, is able to face life's challenges and can accept others as they should and has a positive attitude towards themselves and others.Mental health is very important to support the productivity and quality of physical health. Anyone can experience mental or psychiatric disorders, both young and old. The purpose of this activity is to find out the knowledge possessed by Islamic boarding school students about mental health. The implementation of this community service aims to prevent mental disorders in the Lebakjaya Village, Karangpawitan District. The method used in this activity is mental health counseling which is carried out at the age of adolescents,. Prior to the implementation of the counseling, a pre-test was given to find out how far the community's knowledge of mental health was, after that the material was given and questions and answers were given, and ended with the giving of a post-test to assess the success of this counseling. In this service, the results achieved are changes in knowledge about mental health, as evidenced by the results of the pre and post tests, there is an increase. Keywords: Soul, Health,  Counseling, teenager
Efektivitas Dialectical Behavior Therapy (DBT) Pada Pasien Dengan Risiko Bunuh Diri Literature Review Iceu Amira; Hendrawati Hendrawati; Indra Maulana; Udin Rosidin
Malahayati Nursing Journal Vol 6, No 8 (2024): Volume 6 Nomor 8 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v6i8.14904

Abstract

ABSTRACT The risk of suicide is a situation where someone intentionally harms themselves with the aim of ending their life. To reduce this behavior, it is necessary to carry out prevention, namely by implementing Dialectical Behavior Therapy or DBT. This is a psychotherapeutic intervention that helps clients regulate their negative emotions, accept themselves now, and change negative behavior or habits that clients are currently carrying out into more positive behavior. This study aims to determine the effect of Dialectical Behavior Therapy (DBT) on the risk of suicide. The research method used was a literature review with the PICO approach (Population: adolescents at risk of suicide, Intervention: dialectical behavior therapy, Comparison: -, and Outcome: level of suicidal behavior). Articles were searched using Google Scholar, PubMed, and Scopus, and after selection using inclusion and exclusion criteria, 10 articles were reviewed. Show that DBT can be used as an intervention to treat patients at high risk of suicide. Based on the journals that have been reviewed, it shows that the Dialectical Behavior Therapy (DBT) intervention provides an overview of proven effectiveness in preventing the risk of suicidal behavior. Keywords: Dialectical Behavior Therapy, Suicide Risk, Violent Behavior  ABSTRAK Resiko bunuh diri merupakan keadaan dimana seseorang dengan sengaja melukai diri sendiri dengan tujuan untuk mengakhiri kehidupan. Untuk mengurangi perilaku tersebut perlu dilakukan suatu pencegahan yaitu dengan menerapkan Dialectical Behavior Therapy atau DBT ini merupakan intervensi psikoteraupetik yang membantu klien dalam mengatur emosi negatifnya, menerima dirinya sekarang, dan mengubah perilaku atau kebiasaan negatif yang dilakukan klien sekarang ke perilaku yang lebih positif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Dialectical Behavior Therapy (DBT) terhadap risiko bunuh diri. Metode penelitian yang digunakan adalah literature review dengan pendekatan PICO (Population: remaja dengan resiko bunuh diri, Intervention: dialectical behaviour therapy, Comparison: -, dan Outcome: tingkat perilaku bunuh diri). Pencarian artikel menggunakan Google Scholar, PubMed, dan Scopus, dan setelah diseleksi menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi didapatkan 10 artikel yang  direview. Menunjukkan DBT dapat digunakan sebagai intervensi untuk menangani pasien resiko bunuh diri yang tinggi. Berdasarkan jurnal yang telah direview menunjukkan bahwa intervensi Dialectical Behavior Therapy (DBT) ini memberikan gambaran terbukti efektif dalam pencegahan mengatasi resiko perilaku bunuh diri.  Kata Kunci: Dialectical Behavior Therapy, Resiko Bunuh Diri, Perilaku Kekerasan
Efektivitas Rational Emotive Behaviour Therapy (Rebt) Pada Pasien Gangguan Jiwa Iceu Amira; Indra Maulana; Udin Rosidin
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 6 (2025): Volume 7 Nomor 6 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i6.19899

Abstract

ABSTRACT A person's violent or aggressive behaviour is an uncontrollable emotion that can harm oneself or others, both physically and psychologically. The actions given can be pharmacotherapy and non-pharmacology. One of the non-pharmacological actions that can be given is: Rational Emotive Behavior Therapy (REBT). REBT provides a person with the opportunity to recognize their feelings so that they can change irrational thoughts into rational ones related to an event they have experienced that influenced their feelings. The purpose of this writing is to find outmore about evidence based The latest research is related to the application of REBT to patients with mental disorders. Evidence based practice uses four databases and one search engine with the development of the PICO method. Through Ebsco, Pubmed, Sciencedirect, Sage, and Google Scholar.  Five articles were found that met the criteria which were then used as writing sources. Conclusion:The results of the review found that REBT can change a person's behaviour from maladaptive to adaptive. Where, REBT can control aggressiveness in a person'sviolent behaviour, reduce impulsivity, increase self-control, and even reduce levels of depression.  It is hopedthat this writing can be a source of reading evidence based practice as a consideration for nursing interventions fornurses in treating patients with mental disorders. It is recommended that further researchers use the effectiveness of REBT therapy for other cases of psychosis. Keywords: Mental disorder, REBT, Violent behaviour  ABSTRAK Perilaku kekerasan atau agresivitas seseorang merupakan emosi yang tidak terkendali yang dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain baik secara fisik maupun psikologis. Tindakan yang diberikan dapat berupafarmakoterapi dan non-farmakologi. Tindakan non-farmakologi yang dapat diberikan salah satunya adalah Rational Emotive Behavior Therapy (REBT). REBT memberikan kesempatan pada seseorang untuk mengenali perasaannya sehingga dapat merubah pikiran-pikiran yang tidak rasional menjadi rasional terkait suatu kejadian yang pernah dialami yang mempengaruhi perasaan. Tujuan dari penulisan ini, yaitu untuk mengetahui lebih lanjut mengenaievidence based terbaru berkaitan dengan penerapan REBT pada pasien gangguan jiwa. Evidence based practice ini menggunakan empat database dan satu search engine dengan pengembangan metode PICO. Literature review melalui Ebsco, Pubmed, Sciencedirect, Sage, dan Google scholar. didapatkan lima artikel yang sesuai dengan kriteria yang kemudian dijadikan sumber penulisan. Hasil review didapatkan bahwa REBT dapat merubah perilaku seseorang dari maladaptif menjadi adaptif. Dimana, REBT dapat mengendalikan agresivitas pada perilaku kekerasan seseorang, mengurangi impulsivitas, meningkatkan pengendalian diri, bahkan sampai menurunkan tingkat depresi. Penulisan ini diharapkan dapat menjadi sumber becaan evidence based practice sebagai pertimbangan intervensi keperawatan bagi perawat dalam menangani pasien dengan gangguan jiwa. Direkomendasikan untuk peneliti selanjutnya dapat menggunakan efeketifitas terapi REBT untuk kasus psikosa yang lainnya. Kata Kunci: Gangguan Jiwa, Perilaku kekerasan, REBT
Hubungan Kebutuhan Spiritual dengan Kecemasan Pada Lansia di Kelurahan Lebakjaya Garut Iceu Amira; Hendrawati Hendrawati; Indra Maulana; Rifan Muhammad Rafi
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 3 (2025): Volume 7 Nomor 3 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i3.17354

Abstract

ABSTRACT Human life ages naturally. Almost all body systems experience aging, but some systems experience a decline in function at different times. Apart from physical changes, there are also psychosocial changes, one of which is anxiety and spiritual changes. This research is to determine the relationship between spiritual needs and anxiety in the elderly in Lebakjaya Garut Village. Using quantitative research with correlational research type. The instrument used to measure the patient's spiritual level is a spiritual scale adapted from a spiritual instrument compiled by Underwood and Teresi in 2002, namely the Daily Spiritual Experience Scale (DSES). This DSES instrument has also been used previously by Lestari (2018), then for anxiety the researchers took the GAI questionnaire, the sample was 270 people. The results of the Spearman rank correlation analysis show a significant value of 0.014 (0.05) and a correlation value of -0.159. Based on this value, it can be interpreted that the spiritual level and anxiety level of respondents in this study have a unidirectional relationship and show a very weak relationship strength. Ho is accepted, meaning there is no significant influence between the independent variable and the dependent variable simultaneously or together. Keywords: Spiritual, Anxiety, Elderly  ABSTRAK Kehidupan manusia menua secara alami. Hampir semua sistem tubuh mengalami penuaan, tetapi beberapa sistem mengalami penurunan fungsi pada waktu yang berbeda. Selain terdapat perubahan fisik maka terjadi pula perubahan psikososial yang salah satunya kecemasan serta perubahan spiritual. Penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kebutuhan spiritual dengan kecemasan pada lansia di Kelurahan Lebakjaya Garut. Menggunakan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional. Instrumen yang digunakan untuk mengukur tingkat spiritual pasien adalah skala spiritual yang diadaptasi dari instrumen spiritual yang disusun oleh Underwood dan Teresi pada tahun 2002 yaitu Daily Spiritual Experience Scale (DSES). Intrumen DSES ini juga telah digunakan sebelumnya oleh Lestari (2018) , selanjutnya untuk kecemasan peneliti mengambil kuesioner GAI, sampelnya berjumlah 270 orang. Hasil analisis korelasi rank spearman menunjukkan nilai signifikan 0.014 (0.05) dan nilai korelasi -0.159. Berdasarkan nilai tersebut dapat diartikan bahwa tingkat spiritual dengan tingkat kecemasan responden dalam penelitian ini memiliki hubungan tidak searah dan menunjukkan kekuatan hubungan yang sangat lemah. Ho diterima artinya tidak terdapat pengaruh signifikansi antara variabel independen terhadap variabel dependen secara simultan atau bersama-sama. Kata Kunci: Spiritual, Kecemasan, Lansia
Pengaruh Pola Asuh dari Berbagai Budaya Internasional Terhadap Perkembangan Psikososial pada Usia Anak - Anak dan Remaja: A Scoping Review Iceu Amira; Hendrawati Hendrawati
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 5 (2026): Volume 8 Nomor 5 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i5.22857

Abstract

ABSTRACT Parenting styles are very important for the psychosocial development of children and adolescents, yet many psychosocial problems still indicate a lack of understanding of effective parenting styles. This research aims to examine the influence of cross-cultural parenting styles on psychosocial development. This research method uses a Scoping Review to analyze Indonesian and English articles from PubMed, Google Scholar, and Springer over the past 10 years. Thirteen English and Indonesian articles were obtained according to the inclusion criteria, and the review results showed that parenting style has a significant impact on psychosocial development. Authoritarian parenting styles are often associated with increased social anxiety, depression, self-harm, and emotional-behavioral problems. Conversely, democratic and warm parenting styles tend to reduce social anxiety, depression, and behavioral issues, while also improving emotional regulation, self-esteem, and psychological adjustment. A father's warmth reduces anxiety, while a mother's overprotection can actually increase it. Cultural context also influences the effectiveness of parenting styles. Self-esteem, resilience, parental support, and the mother's part-time work are other important factors. Generally, culturally influenced parenting styles have a significant impact, with authoritarian styles often being negative, and democratic/authoritative styles tending to be positive. Additionally, further research is needed to specifically understand how various cultural dimensions (besides traditional values) influence the effectiveness of different parenting styles. Based on the presentation of the thirteen articles reviewed, it can be concluded that parental parenting styles play a significant role in shaping the mental health, emotional regulation, and social behavior of children and adolescents. Keywords: Parenting Styles, Culture, Psychosocial Development, Adolescent Children, Mental Health Nursing.  ABSTRAK Pola asuh sangat penting bagi perkembangan psikososial anak dan remaja, namun masih banyak masalah psikososial yang menunjukkan kurangnya pemahaman pola asuh efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pola asuh lintas budaya terhadap perkembangan psikososial. Metode penelitian ini menggunakan Scoping Review untuk menganalisis  artikel berbahasa Indonesia dan Inggris dari PubMed, Google Scholar, dan Springer dalam 10 tahun terakhir. Didapatkan 13 artikel berbahasa Inggris dan Indonesia sesuai dengan kriteria inklusi, hasill tinjauan menunjukkan bahwa pola asuh memiliki dampak signifikan terhadap perkembangan psikososial. Pola asuh otoriter seringkali dikaitkan dengan peningkatan kecemasan sosial, depresi, self-harm, dan masalah emosional-perilaku. Sebaliknya, pola asuh demokratis dan hangat cenderung mengurangi kecemasan sosial, depresi, dan masalah perilaku, sekaligus meningkatkan regulasi emosi, harga diri, serta penyesuaian psikologis. Kehangatan ayah mengurangi kecemasan, sedangkan overproteksi ibu justru bisa meningkatkannya. Konteks budaya juga memengaruhi efektivitas pola asuh. Harga diri, resiliensi, dukungan orang tua, dan pekerjaan ibu paruh waktu adalah faktor-faktor penting lainnya. Secara umum, pola asuh yang dipengaruhi budaya berdampak   signifikan,  dengan  gaya  otoriter  sering negatif,  dan demokratis/autoritatif cenderung positif. Selain itu, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami secara spesifik bagaimana berbagai dimensi budaya (selain nilai tradisi) memengaruhi efektivitas gaya pengasuhan yang berbeda. Berdasarkan pemaparan tiga belas artikel yang dikaji, dapat disimpulkan bahwa gaya pengasuhan orang tua secara signifikan berperan dalam pembentukan kesehatan mental, regulasi emosi, serta perilaku sosial anak dan remaja.  Kata Kunci: Pola Asuh, Budaya, Perkembangan Psikososial, Anak Remaja, Keperawatan Kesehatan Jiwa.