Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Argumentasi Kemutawatiran Qira’at Sab‘ah Nawawi, Fuad
SUHUF Vol 17 No 1 (2024)
Publisher : Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22548/shf.v17i1.948

Abstract

Some scholars argue that the qira’at sab‘ah have a single (ahad) transmission chain because their transmission is from one individual to another, resulting in a limited number of transmitters. Others believe that the qira’at sab‘ah have a mutawatir (many) transmission chains because their transmission is from one community to another, thus involving a more significant number of transmitters. Both polarizations lack a solid theoretical basis. In this article, the author analyzes the Qur’anic qira’at, which originated from oral traditions, using Walter Ong’s theory of orality as presented in his book Orality and Literacy. Through a qualitative method, the author collects and analyzes written words from various references by reducing and presenting the data and concluding. This study argues that the mutawatir status of the qira’at sab‘ah is logical and plausible. The argument is that a word does not exist in oral tradition because it is formed by letters or their arrangement. Instead, a word and its meaning emerge through the convention between speakers and listeners, resulting from the socio-cultural negotiation of a particular community. Such a convention and tradition presupposes the existence of a community that sustains the knowledge (i.e., the Qur’an) based on this oral tradition.
ETIKA DALAM PEMANFAATAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI) PADA GENERASI Z DI PONDOK PESANTREN SYARIFUL ANAM KOTA CIREBON Theguh; Bisri, Bisri; Nawawi, Fuad
Jurnal Abadimas Adi Buana Vol 7 No 02 (2024): Jurnal Abadimas Adi Buana
Publisher : LPPM Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36456/abadimas.v7.i02.a7916

Abstract

Pada abad post modern ini, teknologi telah menjadi komponen kunci dalam mendefinisikan manusia dan masyarakat. Kehadiran teknologi, terutama dalam bentuk teknologi informasi dan komunikasi seperti Artificial Intelligence (AI), telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia. Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat adalah untuk memberikan pemahaman dasar tentang teknologi AI pada santri di pesantren  Syariful Anam, sehingga para santri dapat lebih memahami cara kerjanya dan potensi pemanfaatannya serta meningkatkan kesadaran tentang etika dan memberikan wawasan tentang dampak teknologi AI secara luas dan memberikan perspektif yang lebih holistik. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini yaitu dengan memberikan seminar sebagai upaya interaktif dan diskusi untuk menyampaikan informasi dan pengetahuan kepada peserta. Hasil dari kegiatan pengabdian ini menunjukkan bahwa peserta, termasuk Generasi Z, menunjukkan antusiasme dan kesadaran yang tinggi tentang pentingnya etika dalam pemanfaatan teknologi AI. Dengan pemahaman etika yang mendalam tentang penggunaan teknologi AI, Generasi Z diharapkan dapat menjadi pemimpin masa depan yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga memiliki kesadaran etika yang tinggi
Etika Dalam Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) Pada Generasi Z Di Pondok Pesantren Syariful Anam Kota Cirebon Saumantri, Theguh; Bisri, Bisri; Nawawi, Fuad
Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Kepulauan Riau (JPPM Kepri) Vol. 4 No. 1 (2024): Volume 4 Nomor 1, 2024
Publisher : STAIN SULTAN ABDURRAHMAN KEPRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35961/jppmkepri.v4i1.987

Abstract

Pada abad postmodern ini, teknologi telah menjadi komponen kunci dalam mendefinisikan manusia dan masyarakat. Kehadiran teknologi, terutama dalam bentuk teknologi informasi dan komunikasi seperti Artificial Intelligence (AI), telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia. Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat adalah untuk memberikan pemahaman dasar tentang teknologi AI pada santri di pesantren Syariful Anam, sehingga para santri dapat lebih memahami cara kerjanya dan potensi pemanfaatannya serta meningkatkan kesadaran tentang etika dan memberikan wawasan tentang dampak teknologi AI secara luas dan memberikan perspektif yang lebih holistik. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini yaitu dengan memberikan seminar sebagai upaya interaktif dan diskusi untuk menyampaikan informasi dan pengetahuan kepada peserta. Hasil dari kegiatan pengabdian ini menunjukkan bahwa peserta, termasuk Generasi Z, menunjukkan antusiasme dan kesadaran yang tinggi tentang pentingnya etika dalam pemanfaatan teknologi AI. Dengan pemahaman etika yang mendalam tentang penggunaan teknologi AI, Generasi Z diharapkan dapat menjadi pemimpin masa depan yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga memiliki kesadaran etika yang tinggi.
Landasan Filosofis Kurikulum Merdeka dan Implikasinya terhadap Tugas Akhir Non-Skripsi di Prodi Aqidah Dan Filsafat Islam UIN Siber Syekh Nurjati Gunawan, Indra; Nawawi, Fuad; Tamami Solihati, Silfa
Indonesian Journal of Education and Learning Vol. 8 No. 2 (2025): April 2025
Publisher : Universitas Tidar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31002/ijel.v8i2.2130

Abstract

Kurikulum Merdeka merupakan inovasi dalam sistem perguruan tinggi di Indonesia yang dirancang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sesuai dengan karakteristik program studi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi landasan filosofis kurikulum merdeka dan implikasinya terhadap pengembangan tugas akhir publikasi ilmiah di Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam UIN Siber Syekh Nurjati. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa landasan filosofis Kurikulum Merdeka di Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam UIN Siber Syekh Nurjati berjalan dengan konsep liberal arts dan mengadopsi teori enam makna esensial pendidikan yang digambarkan oleh Philip Henry Phenix dalam bukunya The Realm of Meaning, yang berimplikasi terhadap pengembangan tugas akhir non-skripsi di program studi Aqidah Filsafat Islam, yakni publikasi ilmiah. Publikasi ilmiah sebagai tugas akhir di program studi Aqidah dan Filsafat Islam UIN Siber Syekh Nurjati tidak hanya menjadi sarana untuk menerapkan pengetahuan, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk berkontribusi terhadap masyarakat melalui penelitian yang relevan dan bermanfaat. Selain itu, tugas akhir publikasi ilmiah mendukung capaian pembelajaran lulusan sebagai akademis dan peneliti di program studi Aqidah dan Filsafat Islam UIN Siber Syekh Nurjati.
EDUKASI KONTRA NARASI INTOLERAN DAN RADIKALISME MELALUI LITERASI MEDIA ONLINE KEPADA SANTRI DI PONDOK PESANTREN ANNIDA KOTA CIREBON Mustopa, Mustopa; Nawawi, Fuad; Bisri, Bisri
Abdimas Galuh Vol 5, No 2 (2023): September 2023
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ag.v5i2.10258

Abstract

Santri pada era digital saat ini banyak melakukan akses informasi ke internet dan media sosial. Bahkan anak anak dapat memengang HP selama 8 jam. Yang menjadi kekhawatiran kita bersama adalah merebaknya konten-konten untuk penyebaran ideologi dan propaganda intoleran dan radikalisme yang menyerang di dunia maya, khususnya di media sosial. Metode yang digunakan dalam pengabdian ini adalah Asset-Based Community Development (ABCD). Metode ini adalah salah satu metode yang digunakan dalam melakukan pengabdian kepada masyarakat dimana metode ini fokus pada kekuatan dan asset, dan dirancang untuk merancang pengorganisasian masyarakat, menghubungkan dan memanfaatkan bantuan dari lembaga esternal. Jumlah santri di Pondok Pesantren Annida Kota Cirebon sebanyak 60 orang. Hasil kegiatan penelitian berbasis pengabdian Prodi Aqidah dan Filsafat Islam ini adalah: Pertama, bahwa santri di Pondok Pesantren belum mengetahui cara mengcounter narasi intoleran dan radikalisme secara online, oleh karena itu diperlukan sosialisasi pendidikan cara mengcounter narasi radikalisme dalam membendung konten radikalisme. Kedua, para santri diupayakan dapat melawan konten konten radikalisme dan intoleran dengan membuat website atau menyuguhkan menu-menu toleransi terhadap narasi radikalisme. Setiap santri Annida diharuskan mampu mengetahui narasi-narasi radikalisme. Ketiga, santri Santri Annida yang berjumlah 60 orang hasil dari survei mengatakan siap membuat media online yang bertujuan untuk mengcounter narasi-narasi intoleran di internet dan media sosial.
Polemik Qirā’ah Sab’ah Antara Zamakhsharī dan Abū Ḥayyān Nawawi, Fuad
SUHUF Vol 14 No 1 (2021)
Publisher : Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22548/shf.v14i1.581

Abstract

This paper shows that traditions, socio-cultural networks, ideologies, and interests formed a perspective on knowledge, including knowledge of qirā’āt sab’ah (seven methods of reading the Qur’an). Az-Zamakhsyarī (d. 538 H / 1143) is critical to qirā’āt sab’ah. It is because he has a Mu’tazila background who considered that some of the various readings of qirā’āt sab’ah are the products of scholarly ijtihad. Mu’tazila also thinks that not all qiraah sab’ah is part of the Qur’an. Az-Zamakhsyarī was also sided with the nahwu Basrah school which positions language rules as the decisive “judge”. If there is a qira’ah that is not in accordance with the rules, the qira’ah is punished as a syāz qira’ah (weird reading). On the other hand, Abu Hayyān (d. 745 H/1344) defended qirā’āt sab’ah because Abū Hayyān had an Ash’ariyyah background. This theological school views qirā’āt sab’ah as qira’ah mutawatir (trusted reading) so it is considered taboo to be criticized. Abū Hayyān was sided with the nahwu school of Kufa which judged that anything derived from Arab expressions—not to mention qirā’āt sab’ah—was accepted as a source of language, even though at first it differed from the general rule
Ethical Credibility Over Doctrinal Supremacy: Nurcholish Madjid's Framework for Managing Intra-Muslim Tension in an Urban Indonesian Community Novianto, Fauzan Akbar; Nawawi, Fuad; Gunawan, Indra
IBDA` : Jurnal Kajian Islam dan Budaya Vol. 23 No. 2 (2025): IBDA': Jurnal Kajian Islam dan Budaya
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/ibda.v23i2.15404

Abstract

This study shifts the focus of religious moderation discourse from abstract interfaith conflict to subtle intra-Muslim fragmentation at the grassroots level. Centered on the case of Teratai Putih, East Jakarta, it explores the symbolic boundaries and doctrinal tensions between two mosques representing traditionalist and reformist orientations. Employing a qualitative case study through interviews, field observations, and document analysis, the research applies Nurcholish Madjid’s framework to analyze how ethical substance overrides formalistic piety in shaping communal trust. The findings reveal a critical anomaly: worshippers transcend theological divisions to contribute zakat and donations to institutions that demonstrate higher ethical credibility and transparent management. This phenomenon affirms that Ethical Credibility has surpassed Doctrinal Supremacy as the primary currency of communal trust. Conceptually, the study advances the paradigm of religious moderation by redefining legitimacy from Creed Legitimacy to Credibility Legitimacy, resonating with Madjid’s vision of an inclusive and ethically grounded Islamic community.
The Phenomenon of the Tradition of Reciting Qur'anic Verses in the Awrad Kitab Dzikrul Ghofilin in the Jakatawa Mosque Community Sang Cipta Rasa Hamid, Abdul; Yahya, Mohamad; Nawawi, Fuad
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v10i2.3627

Abstract

Abstract: Zikr is a human practice in an effort to get closer to Allah Swt. Along with the times, this dhikr reading product develops dynamically according to the direction of each Mursyid. One of the dhikr that is studied is the awrad Kitab Dzikrul Ghofilin. This article aims to describe and identify the community's meaning of the recitation of Qur'anic verses contained in the awrad Kitab Dzikrul Ghofilin. This research uses a qualitative method with the Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) theory approach initiated by Jonathan A. Smith. The results showed that the polarization of expression in the community was inseparable from the existence of the verses of the Holy Qur'an in the awrad of Kitab Dzikrul Ghofilin delivered by the scholars, such as: responsibility as motivation; ingenuity in broadcasting the awrad; a sense of tawadhu and simplicity; comfort, tranquility, and peace of heart: collaboration of taste; and finally the pleasure of Allah Swt. as hope. Furthermore, the impact felt by the practitioners of the awrad Kitab Dzikrul Ghofilin, namely activities feel lighter and less difficult, the arrival of unexpected sustenance, all affairs are facilitated, and more careful in their behavior. This research is expected to give birth to a number of new expressions in responding to traditions that develop in society and recommends that stakeholders always take care of traditions that have nuances of mysticism.Keywords: Al-Qur'an, Awrad Kitab Dzikrul Ghofilin, Phenomenology, Zikir Abstrak: Zikir merupakan pegangan amalan manusia dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah Swt. Seiring perkembangan zaman, produk bacaan zikir ini berkembang secara dinamis sesuai arahan Mursyidnya masing-masing. Salah satu zikir yang dikaji ialah awrad Kitab Dzikrul Ghofilin. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan mengidentifikasi pemaknaan komunitas terhadap pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an yang terdapat dalam awrad Kitab Dzikrul Ghofilin. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan teori Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) yang digagas oleh Jonatan A. Smith. Hasil penelitian menunjukkan bahwa polarisasi ekspresi pada komunitas tidak terlepas dari adanya fadilat-fadilat ayat suci Al-Qur’an pada awrad Kitab Dzikrul Ghofilin yang disampaikan oleh para ulama, seperti: tanggung jawab sebagai motivasi; kecerdikan dalam mensyiarkan awrad; rasa tawadhu dan kesederhanaan; kenyamanan, ketenangan, dan kedamaian hati: kolaborasi olah rasa; dan terakhir rida Allah Swt. sebagai harapan. Selanjutnya dampak yang dirasakan oleh pengamal awrad Kitab Dzikrul Ghofilin, yaitu aktivitas terasa lebih ringan dan tidak sulit, datangnya rezeki yang tidak terduga-duga, segala urusan dipermudah, dan lebih berhati-hati dalam bersikap. Penelitian ini diharapkan melahirkan sejumlah ekspresi-ekspresi baru dalam merespon tradisi yang berkembang di masyarakat dan merekomendasikan kepada stakeholder agar senantiasa merawat tradisi yang bernuansa aliran kebatinan.  Kata Kunci: Al-Qur’an, Awrad Kitab Dzikrul Ghofilin, Fenomenologi, Zikir