Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

FENOMENA AYAM KAMPUS MELALUI LAYANAN MEDIA ONLINE: KECERDASAN BARU DUNIA PROSTITUSI DI KALANGAN MAHASISWI Ero Ayu Ajeng Bahrudin; Stania Amanda
Perspektif Vol 2 No 2 (2022)
Publisher : Yayasan Jaringan Kerja Pendidikan Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53947/perspekt.v2i2.366

Abstract

Abstrak Media online merupakan kecerdasan baru dalam prostitusi yang membuat layanan seksual lebih cepat dan praktis. Ayam kampus memanfaatkan fitur yang ada di media sosial untuk menarik calon pelanggan untuk memakai jasanya. Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan tentang gambaran umum prostitusi ayam kampus melalui pemanfaatan media online terkait teori sosiologi, dampak prostitusi bagi mahasiswi, dan penanggulangannya. Adapun metode yang digunakan yaitu kualitatif dengan library research, berasal dari beberapa sumber berupa e-book dan e-journal yang terkait. Hasil yang di dapatkan adalah prostitusi yang dilakukan oleh mahasiswi melalui media online merupakan suatu bentuk rebellion (pemberontakan) dalam terori anomi yang dipengaruhi dengan kehadiran kemajuan teknologi komunikasi (media online). Sehingga pemberontakan itu dianggap sebagai suatu bentuk inovasi yang mana apabila seseorang tidak memiliki kemampuan dalam menempatkan dirinya atau tidak memiliki kontrol diri dalam menggunakan media online, hal tersebut akan membawa siapa saja dapat terjerumus dalam prostitusi online. Serta terjadinya perubahan struktural dan fungsional dalam kegiatan prostitusi, yang semula ayam kampus terikat dengan muncikari, kini ayam kampus melakukan prostitusi secara mandiri (tanpa perantara) dengan melalui media sosial. Prostitusi berdampak negatif bagi mahasiswi karena membuat mahasiswi tidak fokus belajar yang mengakibatkan perkuliahannya menjadi terbengkalai. Selain itu, mahasiswi yang terjerat prostitusi akan dengan mudah terkena penularan IMS (Infeksi Menular Seksual). Adapun upaya yang dilakukan terkait prostitusi melibatkan banyak pihak, mulai dari keluarga, pemerintah, pihak kampus, serta masyarakat yang ada pada lingkungan kampus dengan melakukan pengawasan, membuat regulasi yang tegas, dan melakukan sosialisasi kepada mahasiswi. Abstract Online media is a new intelligence in prostitution that makes sexual services faster and more practical. Ayam kampus take advantage of existing features on social media to attract potential customers to use their services. The purpose of this study is to describe the general picture of ayam kampus prostitution through the use of online media related to sociological theory, the impact of prostitution on female students, and its countermeasures. The method used is qualitative with library research, derived from several sources in the form of e-books and related e-journals. The result obtained is that prostitution carried out by female students through online media is a form of rebellion in the theory of anomie which is influenced by the presence of advances in communication technology (online media). So that rebellion is considered as a form of innovation where if a person does not have the ability to position himself or does not have self-control in using online media, this will lead anyone to fall into online prostitution. As well as the occurrence of structural and functional changes in prostitution activities, which were originally ayam kampus tied to pimps, now ayam kampus carry out prostitution independently (without intermediaries) through social media. Prostitution has a negative impact on female students because it makes female students not focus on studying which causes their lectures to be neglected. In addition, female students who are caught in prostitution will easily be exposed to STI (Sexually Transmitted Infections) transmission. The efforts made regarding prostitution involve many parties, starting from the family, the government, the campus, as well as the community around the campus by carrying out supervision, making strict regulations, and conducting outreach to female students.
ADVOKASI PEKERJAAN SOSIAL TERHADAP DISKRIMINASI PADA KAUM PENYANDANG DISABILITAS DI DUNIA KERJA Ero Ayu Ajeng Bahrudin
KHIDMAT SOSIAL: Journal of Social Work and Social Services Vol 3, No 2 (2022)
Publisher : KHIDMAT SOSIAL: Journal of Social Work and Social Services

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini memuat kajian terkait bagaimana advokasi pekerja sosial terhadap diskriminasi pada kaum penyandang disabilitas di dunia kerja. Beberapa indikator sosial ekonomi menunjukkan bahwa penyandang disabilitas belum sepenuhnya mendapatkan kesejahteraan yang diharapkan. Sebagai contoh, di Indonesia sendiri, 71,4% penduduk penyandang disabilitas adalah pekerja informal. Adapun salah satu penyebabnya adalah  dikarenakan oleh kurangnya akses ke pasar tenaga kerja, dimana penyandang disabilitas kerap kali mengalami permasalahan diskriminasi di dunia kerja yang membuat kaum penyandang disabilitas kurang mendapatkan kesempatan dalam mewujudkan kesetaraan dan mendapatkan hak-haknya dalam hal pekerjaan. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan terkait bagaimana advokasi pekerjaan sosial terhadap diskriminasi yang terjadi pada penyandang disabilitas di dunia kerja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode library research, yaitu berasal dari e-book dan e-journal yang terkait. Adapun hasil penelitian ini menjelaskan bahwa advokasi pekerjaan sosial sangat dibutuhkan dalam upaya membantu penyandang disabilitas memperoleh hak dan kesempatan serta kesetaraan seperti yang lainnya, advokasi pekerjaan sosial dapat dilakukan dengan cara mengadvokasi kebijakannya. Undang-undang No.8/2016 perlu diadakan revisi kembali dan di evaluasi implementasinya mengingat bahwa pada kenyataannya masih belum terpenuhinya hak penyandang disabilitas pada lapangan pekerjaan dan  data (akses bekerja) untuk penyandang disabilitas yang masih minim. Selain itu terdapatnya rekrutmen yang tidak sesuai menimbulkan kendala bagi penyandang disabilitas. Sehingga penyandang disabilitas harus mendapatkan perhatian khusus. Perluasan akses tenaga kerja dan perlindungan di tempat kerja perlu untuk didiskusikan perwujudannya dalam kebijakan. Dengan dilakukannya advokasi tentu diharapkan dapat mampu mendorong peningkatan kesempatan kerja yang lebih luas agar dapat mewujudkan penyandang disabilitas yang sejahtera, mandiri, dan non diskriminasi.Kata kunci: Advokasi, Pekerjaan Sosial, Diskriminasi, Disabilitas