Yusron Masduki
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perbandingan Muatan Hak Asasi Manusia dalam UUD NRI Tahun 1945 dan Rancangan UUD Usulan Kelompok Republik Persatuan Indonesia (RPI) Immawan Wahyudi; Yusron Masduki
Ahmad Dahlan Legal Perspective Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/adlp.v4i2.10814

Abstract

Realita sosiologis-yuridis di Indonesia pernah mengalami keberlakuan bermacam-macam Undang-Undang Dasar (UUD) di antara UUD tersebut adalah UUD Tahun 1945 dan Undang Undang Dasar Sementara (UUDS) 1950. Pada awal kemerdekaan juga pernah diusulkan  rancangan Undang Undang Dasar dari kelompok yang mengklaim  sebagai kelompok Republik Persatuan Indonesia (RPI). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis perbandingan muatan Hak Asasi Manusia (HAM) dalam UUD Tahun 1945 dalam rancangan kelompok RPI. Metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian hukum normatif dengan hukum perbandingan yang melibatkan analisis terhadap berbagai aspek hukum, seperti undang-undang, putusan pengadilan, regulasi, dan sistem peradilan di negara-negara yang menjadi subyek penelitian. Penelitian ini menyimpulkan muatan HAM dalam UUDS 1950 tertuang di bagian V menyatakan bahwa hak-hak dan kebebasan-kebebasan dasar manusia dirinci dalam 27 pasal dan dilanjutkan dalam 6 pasal yang mengatur tentang asas-asas dasar warga negara. Hal yang sama  diusulkan oleh RPI yang diuraikan dalam 26 pasal, pada intinya cenderung ke arah demokrasi yang lebih terbuka  dan menyangkut semua unsur HAM namun dalam perspektif  Islam. UUD 1945 baru memasukkan konsep HAM setelah mengalami amandemen HAM dinyatakan dalam 10 pasal di bawah Bab XA.  Secara historis di Indonesia   mengalami dinamika pemikiran yang intens   dalam menuangkan muatan HAM dalam UUD. Perbandingan tentang muatan HAM dalam UUD menunjukkan adanya dinamika pemikiran bahkan perdebatan, namun pada akhirnya UUD NRI memasukkan muatan HAM melalui amandemen.
Preventing religion as a legitimation of violence: Internalization of moderation values in Islamic religious education among junior high school students Sutipyo Ru iya; Qo idah Ariq Pangisti; Yusutria Yusutria; Yahya Niwae; Yusron Masduki
TA`DIBUNA Vol 14 No 6 (2025): Desember
Publisher : LPPM Universitas Ibn Khaldun, Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/tadibuna.v14i6.21137

Abstract

Violence in the name of religion often occurs around us. According to several research results, one of the reasons is the lack of knowledge about religious moderation. Moderate behavior in religion needs to be encouraged from an early age, especially in junior high school. Junior high school students are in an ambiguous stage of development, between childhood and adulthood, so they need to internalize good social and humanitarian values. This study aims to explore the process of internalizing the values of religious moderation in junior high schools carried out by Islamic Religious Education teachers. The method used is a qualitative method with a phenomenological approach. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation. Data sources from Islamic Religious Education teachers, other religious teachers, Muslim students and students of religions other than Islam. The process carried out by Islamic Religious Education teachers includes three stages: pre-learning, reinforcement learning, and the internalization stage. Each stage is carried out carefully by Islamic Religious Education teachers supported by the entire school community. Through three stages of internalization of the values of religious moderation carried out in this school, the impact was that there was no violence in the name of religion carried out by students, teachers and education staff. The three stages of the process of internalizing the values of religious moderation carried out by Islamic Religious Education teachers are worthy of being adopted and duplicated in other places.