Margaretha Martha Anace Apituley
Universitas Kristen Indonesia Maluku

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Gereja sebagai Komunitas Ekologis: Gambaran tentang Gereja dalam Konteks Kerusakan Ekologi di Maluku Monike Hukubun; Margaretha Martha Anace Apituley
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 7, No 2 (2023): April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v7i2.882

Abstract

Abstract. This article is an effort in developing the church ecclesiology as an ecological community. The effort was based on the reality of ecological damage that is currently occurring, especially in the Kei Islands-Southeast Maluku. To develop the church ecclesiology as an ecological community, Colossians 1:15-20 was interpreted using cosmic hermeneutics so that there is a fusion of horizons between the theological meaning of the text and the context of ecological damage in Kei islands- Moluccas. Based on the interpretation process, Colossians 1:15-20 showed the Christ-cosmic privilege so that God's concern for the life of all creation on earth is seen. The Christ-cosmic meaning that cares for the life of all creation then makes every believer aware of respecting, preserving, and maintaining the earth.Abstrak. Artikel ini merupakan pengembangan eklesiologi gereja sebagai komunitas ekologis. Upaya tersebut didasarkan pada kenyataan kerusakan ekologis yang sementara terjadi, terkhususnya di Kepulauan Kei-Maluku. Dalam upaya pengembangan eklesiologi gereja sebagai komunitas ekologis, teks Kolose 1:15-20 diinterpretasi menggunakan hermeneutik kosmis sehingga terjadi fusi horison antara makna teologi teks dengan konteks kerusakan ekologis di Kei-Maluku Tenggara. Berdasarkan proses penafsiran, Kolose 1:15-20 memperlihatkan keistimewaan Kristus-kosmis sehingga terlihat kepedulian Allah terhadap kehidupan seluruh ciptaan di bumi. Makna Kristus-kosmis yang peduli terhadap kehidupan seluruh ciptaan kemudian menyadarkan setiap orang percaya untuk menghormati, melestarikan, dan memelihara bumi.
SOSIALISASI KONSELING PASTORALIA BERPERSPEKTIF GENDER BAGI KORBAN KEKERASAN SEKSUAL PADA KELOMPOK PEMUDA NEGERI KAKERISA AMAPATI ABUBU Juliana A Tuasela; Margaretha Martha Anace Apituley
MAREN: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2026): September
Publisher : Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69765/mjppm.v7i2.2108

Abstract

Angka kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak di Kepulauan Lease, khususnya Negeri Kakerisa Amapati Abubu, terus meningkat multidimensional. Sebagai komunitas pulau kecil pesisir yang terisolasi geografis, wilayah ini rentan terhadap fenomena "gunung es" akibat kuatnya struktur patriarki dan budaya malu (culture of shame). Di sisi lain, pelayanan gereja masih konvensional-ritualistik serta belum memiliki kerangka pemulihan yang sensitif gender, sehingga penanganan sering memicu penghakiman moral sekunder (secondary victimization) bagi korban. Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan menguatkan kapasitas sosial-keagamaan kelompok pemuda dan pelayan jemaat melalui sosialisasi konseling pastoralia berperspektif gender. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA) yang diintegrasikan melalui lima tahapan: sosialisasi UU TPKS/Perda Maluku No.2/2012, pelatihan klinis teknik intervensi krisis dan trauma healing, penerapan inovasi non-teknologi berupa Buku Saku dan Panduan Konseling, simulasi/pendampingan posko aduan jemaat berbasis sektor, serta pelembagaan keberlanjutan program melalui restrukturisasi Satgas Pemuda Jemaat Ramah Anak. Melalui kolaborasi multidisipliner dosen dan mahasiswa, program ini menargetkan pencapaian IKU 2, 3, dan 5 secara simultan. Target luaran wajib meliputi publikasi artikel ilmiah pada Jurnal Pengabdian Masyarakat Maren, video dokumenter kegiatan, publikasi media massa, serta luaran tambahan berupa produk inovasi Buku Saku Panduan Rujukan Kontekstual. Indikator capaian kuantitatif program ini adalah kelulusan dan sertifikasi minimal 25 kader pemuda sebagai peer counselor dengan peningkatan pemahaman standar psikologi trauma dan hak seksualitas sebesar 80%. Secara jangka panjang, program ini berkontribusi penuh pada tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) terkait kesetaraan gender dan penghapusan segala bentuk kekerasan di ruang domestik maupun publik.