Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Potensi Airtanah Berdasarkan Nilai Resistivitas Batuan di Kelurahan Cangkorah, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat Mohammad, Febriwan; Mardiana, Undang; Yuniardi, Yuyun; Firmansyah, Yusi; Alfadli, Muhammad Kurniawan
Bulletin of Scientific Contribution Vol 14, No 2 (2016): Bulletin of Scientific Contribution
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1321.29 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v14i2.9799

Abstract

Groundwater is water that contain under the soil or rock which located in subsurface layer. The resistivity method or geoelectricity using electrical properties of subsurface materials to obtain the anomalies. Aquisition data did with 2 line of 2-D resistivity and 10 point of 1-D resistivity. The result from 1-D resistivity are divided into three classification : First classification had range between 1 – 5 Wm which indicate the  rock with low resistivity and shallow. This layer interpretated as clay from Saguling Lake sedimentation and this layer act as aquiklud layer. The second classification with range between 6 – 20 Wm indicated as medium resistivity and act as aquitard. The third classification  with range more than 20 Wm indicated as high resistivity and act as aquifer with low productivity. From the 2-D resistivity survey, such as : Low resistivity range assosiated with shaly tuff lithology and sandy tuff, depth of the low resistivity range about 0 – 40 meters, Medium resistivity range had depth about 10 – 70 meters, act as aquifer due to have well porosity properties. High resistivity range depth is more than 70 meters until 100 meters assosiated with massif layer, bad porosity, and did not have rock pore, the lithology is collaboration between massif breccia with igneous component. Keyword : Geoelectricity, Resistivity, Batujajar, Groundwater, Aquifer Air tanah merupakan air yang terdapat di dalam lapisan tanah atau batuan yang terletak di bawah permukaan tanah. Metode resistivitas (resistivity) atau geolistrik memanfaatkan sifat kelistrikan material bawah permukaan untuk mendapatkan anomali. Pengukuran dilakukan sebanyak 2 lintasan geolistrik 2-D dan 10 titik pengukuran 1-D. Dari hasil pengukuran metode 1-D diperoleh 3 paket batuan yaitu : Paket lapisan batuan 1 dengan nilai tahanan jenis berkisar antara 1 – 5 Wm yang mengindikasikan batuan dengan resistivitas amat rendah dan dangkal. Lapisan ini diduga berupa lempung dari endapan danau Saguling. Lapisan ini diduga berperan sebagai akiklud. Paket lapisan batuan 2  dengan nilai tahanan jenis antara 6 hingga 20 Wm mengindikasikan batuan dengan resistivitas menengah dan bersifat sebagai akitar . Paket lapisan batuan 3 dengan nilai tahanan jenis antara lebih dari  20 Wm mengindikasikan batuan dengan resistivitas yang tinggi dan dapat berperan sebagai akifer dengan produktivitas rendah. Dan dari hasil geolistrik 2-D, yaitu : Rentang resisitivitas rendah kemungkinan berasosiasi dengan batuan dengan litologi tuf lempungan dan tuf pasiran memiliki kedalaman bervariasi antara 0-40 meter, Rentang resistivitas menengah memiliki kedalaman bervariasi sekitar 10-70 meter. Porositas paket batuan ini diperkirakan baik, dan dapat berperan sebagai akifer, Rentang resisitivitas tinggi ini berasosiasi dengan rentang kedalaman yang bervariasi mulai dari 70 meter hingga kedalaman lebih dari 100 meter berasosiasi dengan Lapisan keras, massif, porositas buruk dan tidak dapat menyimpan air di antara pori-pori batuannya, berupa perpaduan antara breksi padu dengan komponen batuan beku. Kata kunci : Geolistrik, Resistivitas, Batujajar, Airtanah, Akifer
DEPOSITIONAL ENVINRONMENT AND PALEOCURRENT THE MIDDLE OF WARUKIN FORMATION BASED ON SEISMIC AND WELL LOG DATA IN NORTH-EAST PART BARITO BASIN, SOUTH KALIMANTAN Yuniardi, Yuyun; Mardiana, Undang; Mohammad, Febriwan; Nur, Andi Agus; Alfadli, Muhammad Kurniawan
Bulletin of Scientific Contribution Vol 18, No 3 (2020): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v18i3.31550

Abstract

Explorations in the Barito basin has started nearly 100 years and was marked by the discoveryof the Tanjung Field in 1938 (Maso at all 1993). The middle of Warukin Formation is one of thereservoir formation in the Barito basin of North-Northeast. Barito Basin is located betweenSundaland in the west and Meratus in the east (Satyana, Awang.1994). An understanding of thedepositional environment and paleo-current will be very useful for the exploration and fielddevelopment optimization of oil and gas. The data used in this researcher seismic 3D data and well data. From the existing data createdseismic facies maps and correlation maps well with the markers used datum is the Top FormationMiddle Warukin. Downlap termination pattern found on the seismic line 75H - 37 at the lower limit indicates thetime of formation of this facies occur sea level rise. Configuring the parallel reflection pattern -subparallel and divergent indicate the depositional environment is shelf / platform or deltaplatform (Serra, O, 1990). Coarsening upward to fining upward pattern relatively evolved fromwireline log analysis, in which a pattern is formed on the shore face transgressive delta thenserrated pattern formed in the shelf. Based on the seismic data and log data as well as supportingdata from the regional geology of the Barito Basin, it can be interpreted that the study area isformed on the delta depositional environment - shelf. Paleo-current study area can be determined based on seismic facies maps and regionalconditions Barito Basin. Of seismic facies maps can be interpreted Paleo-current direction isrelative to the south - west with relative sediment supply from the north - east.
KARAKTERISTIK ENDAPAN VULKANIK SUB DAS CIGOMBONG LERENG TIMUR GUNUNG SALAK MUTAQIN, DEDEN ZAENUDIN; Mohammad, Febriwan; Mardiana, Undang; Yuniardi, Yuyun; Alfadli, Muhammad Kurniawan
Bulletin of Scientific Contribution Vol 17, No 2 (2019): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2557.95 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v17i2.22569

Abstract

ABSTRAKMetode stratigrafi yang digunakan pada batuan vulkanik serupa dengan mempelajari stratigrafi pada batuan sedimen, yaitu membuat korelasi, urutan secara vertikal berdasarkan waktu, menentuakan perubahan fasies dan sejenisnya. Penelitian Stratigrafi rinci mengenai daerah vulkanik masih jarang dilakukan. Hal ini biasanya dikarenakan oleh kondisi lapangan yang sulit ditempuh. Penelitian ini berlokasi di Sub DAS Cigombong Lereng Timur Gunung Salak untuk mengetahui perubahan litologi baik secara lateral maupun vertikal. Permasalahan dipecahan dengan Observasi lapangan. Data lapangan berupa lintasan-lintasan stratigrafi berdasarkan daerah cekungan pengaliran. Berdasarkan fasies vulknik dari keseluruhan analisis , terdapat 6 kelompok fasies dari muda ke tua yaitu endpan aliran laharik gunung salak, endapan aliran lava 2 gunung salak, endapan aliran lava 1 gunung salak, endapan aliran piroklastik scoria 3 gunung salak endapan aliran lava 1 gunung salak, endapan aliran piroklastik scoria 2 berasosiasi dengan endapan Seruakan gunung salak, dan endapan aliran lava 1 gunung salak, endapan aliran piroklastik scoria 1 pra gunung salak.Kata kunci: Cigombong, Fasies Gunung Api, Salak, VulkanikABSTRACTStratigraphy in volcanic area have similar treatment with sedimentary rock study process, i.e. make correlations, order vertically based on time, determine changes in facies and the like. Detailed stratigraphic research on volcanic areas is rarely done. This is usually caused by field conditions that are difficult to go through. This research is located in the Cigombong East Slope Sub-watershed of Mount Salak to determine lithological changes both laterally and vertically. The problem is solved by field observations. Field data in the form of stratigraphic trajectories based on drainage basins. Based on the Vulcanic facies of the whole analysis, there are 6 facies groups from young to old, namely Salak mountain flow depletions, Salak flow 2, Salak flow 1, pyroclastic flow, scoria 3 Salak mountain deposition, lava flow 1 Salak mountain, scoria pyroclastic flow sediment 2 associated with Salak mountain excavation, Salak mountain lava flow 1, pyroclastic flow precipitate 1 Salak mountain.Keyword: Cigombong, Volcanic Facies, Mt. Salak, Volcanic.
Determinasi Karakteristik Reservoir Formasi Talang Akar Berdasarkan Data Well Log dan Seismik Sub-Cekungan Palembang Selatan, Cekungan Sumatera Selatan Yuniardi, Yuyun; Mardiana, Undang; Mohammad, Febriwan; Nur, Andi Agus; Alfadli, Muhammad Kurniawan; Mutaqin, Deden Zaenudin
Bulletin of Scientific Contribution Vol 20, No 3 (2022): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v20i3.44360

Abstract

Penentuan Karakteristik reservoir merupakan suatu upaya untuk mengetahui kualitas reservoir dari suatu tubuh batuan dalam perkiraan prospek atau tidaknya lapisan reservoir tersebut. Penelitian ini dilakukan pada formasi Talang Akar yang masuk kedalam Sub-Cekungan Palembang Selatan, Cekungan Sumatera Selatan, dengan menggunakan data well, data seismik, data SWC dan data Mudlog. Formasi talang akar menunjukan lingkungan delta plain dimana zona reservoirnya yang merupakan bagian bawah dari formasi tersebut termasuk dalam lingkungan fluvial. Pada klasifikasi parasekuen formasi talang akar terdapat siklus regresi-transgresi yang membentuk pola pengendapan progradasi dan retrogradasidalam skala kecil dengan rincian Sumur X1, X2, dan X3 terdapat 4 parasekuen, sedangkan sumur X4 dan X5 berjumlah 5 parasekuen, secara kuantitatif, nilai-nilai perhitungan petrofisika menunjukan bahwa pada zona hidrokarbon mempunyai Sw berkisar 8-46%, porositas 13-30%, sedangkan zona air memiliki Sw 65-100 %, dan porositas 8-25%. Berdasarkan peta kontur struktur dan peta net san top zona C3, ke lima lapisan batupasirnya pada tiap sumur terletak pada antiklin, dimana arah pengendapan yang relative berarah Timur Laut – BaratDaya. Berdasarkan paparan diatas, pada langkah eksplorasinya telah ditentukan bahwa zona reservoir yang ekonomis pada daerah penelitian terdapat pada zona C3 sumur X5. Katakuci : Batupasir, Formasi Talang Akar, Parasekuen, Petrofisika, Prospek, Reservoir.
ROCK TYPING DAN ASOSIASI FASIES FORMASI MENGGALA, LAPANGAN “MANGGA SELASIH”, CEKUNGAN SUMATRA TENGAH Putri, Shiva Alimadana; Abdurrokhim, .; Mohammad, Febriwan; Indrarto, Yohanes Brosko
Bulletin of Scientific Contribution Vol 23, No 2 (2025): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v23i2.64322

Abstract

Lapangan “Mangga Selasih” adalah lapangan penghasil hidrokarbon dari reservoir silisiklastik yang terletak di Cekungan Sumatra Tengah. Penelitian ini berfokus pada reservoir Formasi Menggala. Penelitian dilakukan menggunakan metode kualitatif dalam penentuan litofasies, elektrofasies, dan fasies pengendapan, lalu analisis kuantitatif dalam penentuan karakteristik petrofisika dan rock type (RT). Tujuan penelitian ini adalah mengasosiasikan karakteristik petrofisika batuan dengan RT dan fasies pengendapan untuk karakterisasi reservoir dan memperkuat hubungan antara data petrofisika serta pemahaman geologi. Penelitian ini dilakukan pada 15 data sumur dengan 15 data log sumur, 3 data core, 12 data side wall core (SWC), dan data marker dengan sumur MS-05 sebagai sumur analisis. Berdasarkan analisis RT metode Hydraulic Flow Unit (HFU) dengan parameter Flow Zone Indicator (FZI), yaitu ratarata volume ruang yang dimiliki oleh suatu batuan reservoir yang dapat mengalirkan fluida melalui hubungan nilai porositas dan permeabilitas, Formasi Menggala memiliki 4 jenis RT dengan urutan terbaik ke terburuk, yaitu RT 1 bernilai FZI 19,64–22,75; RT 2 bernilai FZI 11,78–18,37; RT 3 bernilai FZI 6,1–11,26; dan RT 4 bernilai FZI 3,01–5,52. Formasi Menggala didominasi oleh RT 2 dengan nilai volume shale 0,01–0,5; PHIE 0,12-0,27 V/V; permeabilitas 773-5.263 mD. Formasi ini tersusun atas litologi sandstone, shally sandstone, sandy shale, dan shale. Pola elektrofasies teridentifikasi mencakup cylindrical berasosiasi dominan dengan RT 1 dan 2 di elemen fasies channel, sedangkan funnel, bell, dan symmetrical berasosiasi dominan dengan RT 3 dan 4 di elemen fasies floodplain dan tidal flat. Lingkungan pengendapan diinterpretasikan pada terestrial–transisi, yaitu elemen fasies fluvial channel, mid channel bar, dan floodplain membentuk asosiasi fasies fluvial serta elemen fasies estuary tidal channel, mixed flat, dan mud flat yang membentuk asosiasi fasies estuari dominasi pasang surut. Reservoir terbaik pada Formasi Menggala berjenis RT 1 berasosiasi dengan elemen fasies fluvial channel dengan litologi very coarse sandstone.Kata Kunci: Petrofisika, Rock Type, Litofasies, Elektrofa
DELINIATION OF SHALLOW GAS ZONE POTENTIAL USING SUBSURFACE DATA APPROACH IN ‘X’ FIELD KUTAI BASIN Yuniardi, Yuyun; Alfadli, Muhammad Kuniawan; Mohammad, Febriwan; Natasia, Nanda; Nur, Andi Agus
Bulletin of Scientific Contribution Vol 23, No 2 (2025): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v23i2.65622

Abstract

The presence of shallow gas (Shallow Gas) in exploration wells poses significant operational risks, including kicks or blowouts during exploration activities. To mitigate these risks, it is essential to delineate subsurface data and identify areas potentially containing shallow gas. Subsurface interpretation was conducted using various datasets, including electrolysis cutting analysis, well log data (GR, RT, NEU, RHOB) from 39 wells, and gas data obtained from chromatograph-based mud logs. Well correlation was performed to identify anomalies, gas presence, and facies characteristics.The primary stratigraphic marker surfaces indicative of shallow intervals in Field X are, from deeper to shallower, MF2, Fs-s1, s2-Fs, Fs-s3, Fs-s4, Fs-s5, and Fs-s6, with the shallow gas accumulation predominantly observed within the intervals associated with Fs-s2 and Fs-s3, at depths ranging from approximately 950 to 1300 meters below sea level (MSS). These intervals demonstrate isolated gas accumulations, primarily comprising methane (C1), with minor traces of C2, C3, C4, and C5 gases detected in the shallow zone above the marker MF2.Gas analysis indicates a surge in total gas content within the 950-1300 MSS interval, correlating with anomalies identified from the Master Log data. This surge is attributed to limestone and coal layers, as corroborated by gas bearing reservoir mapping.Based on the analyzed data, it can be concluded that shallow gas accumulations are localized within the 950-1300 MSS interval, specifically between the Fs-s2 and Fs-s3 markers. For subsequent drilling activities on Platform M, it is recommended to monitor and consider this depth zone to mitigate related risks effectively.