Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS ANOMALI KANDUNGAN TOTAL SULFUR DALAM PENENTUAN LINGKUNGAN PENGENDAPAN BATUBARA SEAM X78 FORMASI BALIKPAPAN DI DAERAH SEPARI, KALIMANTAN TIMUR Tresnanto, Teddy; Andriana S, Yoga; Muljana, Budi
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 9, No 2 (2014): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1791.487 KB)

Abstract

Batubara seam X78 pada Formasi Balikpapan, Cekungan Kutai, secara lateral memiliki anomali kandungan total sulfur, dimana di bagian utara dan selatan daerah penelitian kandungan sulfur cukup tinggi dibandingkan di bagian tengah daerah penelitian dengan kecenderungan meningkat ke bagian selatan daerah penelitian. Maksud penelitian ini adalah untuk mengetahui lingkungan pengendapan batubara dan pengaruh batuan pengapit terhadap anomali kandungan total sulfur seam X78. Metoda analisis yang digunakan adalahanalisis proksimat untuk mengetahui kandungan abu, analisis kimia abu untuk mengetahui kandungan Na O, analisis petrografi dilakukan sebagai validasi dalam penentuan lingkungan pengendapan batubara, analisis form of sulfur untuk mengetahui jenis sulfur dan analisis SEM untuk mengetahui jenis pirit. Untuk menguji pengaruh kandungan total sulfur batuan pengapit terhadap kandungan total sulfur batubara seam X78 maka dilakukan analisisstatistik. Dari hasil analisis petrografi diketahui komposisi maseral didominasi oleh maseral asal tumbuhan perdu yang cenderung meningkat dari arah utara ke selatan daerah penelitian namun berbanding terbalik dengan komposisi maseral asal tumbuhan kayu. Batubara seam X78 dapat diinterpretasikan sebagai endapan dalam lingkungan lower delta plain dengan sub lingkungan limnic – marsh. Berdasarkan analisis statistik pengaruh batuan pengapitterhadap anomali kandungan total sulfur pada seam X78 dapat disimpulkan bahwa khususnya pada blok 1, total sulfur batubara seam X78 dipengaruhi oleh kandungan total sulfur batuan pengapit bagian atas dan bagian bawah. Manfaat penelitian ini adalah untuk 2 arah pengembangan area eksplorasi, strategi rencana penjualan produk batubara yang tersedia pada area eksplorasi dan strategi perencanaan blending khususnya kandungan total sulfur batubara.
STUDI PERBANDINGAN KARAKTERISTIK KIMIA DAN PETROGRAFI BATUBARA LAPANGAN X CEKUNGAN SUMATERA SELATAN DAN LAPANGAN Y CEKUNGAN SUMATERA TENGAH INDONESIA Baihaqi, Azmi; Susilawati, Rita; Fauzielly, Lili; Muljana, Budi
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 12, No 2 (2017): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4583.66 KB)

Abstract

Karakteristik batubara dari dua wilayah prospek batubara di Sumatera dievaluasi dengan menggunakan metode kimia dan petrografi batubara. Penelitian terfokus pada evaluasi peringkat (tingkat pembatubaraan di daerah penelitian), tipe (komposisi material organik dan lingkungan pengendapan batubara) serta grade (kandungan material inorganik yang bisa berpengaruh terhadap proses utilisasi) batubara. Lapangan X memiliki lapisan batubara yang merupakan bagian dari Formasi Muaraenim dan Kasai Cekungan Sumatera Selatan sedangkan batubara pada lapangan Y merupakan bagian dari Formasi Petani Cekungan Sumatera Tengah. Sebanyak enam conto batubara dari lapangan X dan 8 conto dari lapangan Y digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua lapangan memiliki batubara dengan karakteristik yang berbeda. Walaupun batubara di kedua daerah termasuk dalam kategori lignit, nilai rata-rata reflektansi huminit batubara Lapangan Y sedikit lebih tinggi dari lapangan X. Hal ini mengindikasikan bahwa batubara lapangan Y mengalami pengaruh peningkatan termperatur dan pembebanan yang lebih tinggi dari lapangan X. Berdasarkan hasil analisis komposisi maseral, batubara lapangan X dapat dibedakan ke dalam 3 fasies: fasies 1 (huminit >90%, kandungan inertinit dan liptinit <10%), fasies II (huminit 80% s.d. 90%, inertinite 10% s.d. 15%, dan liptinit 10%) serta fasies III (huminit 75% s.d. 85%, inertinit 15% s.d. 20% dan liptinit <10%). Sementara batubara lapangan Y lebih homogen dan dapat digolongkan ke dalam satu fasies (huminit >90% dan liptinit serta inertinite <10%). Hasil plot Gelification index (GI) dan Tissue preservation index (TPI) menunjukkan bahwa batubara lapangan X diendapkan pada lingkungan limnic-marsh hingga limno telmatic sedangkan batubara lapangan Y pada lingkungan limnic hingga telmatic marsh. Banyaknya konkresi pirit pada batubara lapangan Y mengindikasikan bahwa batubara tersebut mendapat pengaruh laut yang lebih besar daripada batubara lapangan X Batubara di kedua lapangan dapat dianggap sebagai batubara grade tinggi atau batubara bersih karena memiliki kandungan sulfur (<10%) dan abu yang relatif rendah (<10%). Hanya satu conto (SJ2) yang memiliki kadar abu tinggi (>50%) menunjukkan bahwa conto tersebut bukan batubara. Sebagai kesimpulan, perbedaan karakteristik batubara lapangan X dan Y mendukung teori bahwa batubara dengan sejarah pengendapan yang berbeda akan menghasilkan karakteristik yang berbeda.
Geochemical Evolution and Groundwater Flow System in Batujajar Groundwater Basin Area, West Java, Indonesia Suhendar, Rudy; Hadian, M. Sapari Dwi; Muljana, Budi; Setiawan, Taat; Hendarmawan, Hendarmawan
Indonesian Journal on Geoscience Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : Geological Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4686.916 KB) | DOI: 10.17014/ijog.7.1.87-104

Abstract

DOI:10.17014/ijog.7.1.87-104Batujajar and its surrounding areas, situated in the west of the Bandung Basin, are geologically composed of various Tertiary rock formations with complex fold and fault systems. Springs and drilled wells in sandstone aquifers, tuffaceous sand, and tuffaceous breccias mark the development of their aquifer systems. This study aimed to determine the characteristics of the hydrogeochemistry by analyzing major ions and stable isotopes (18O and 2H) of thirty-four hydrogeological objects. The groundwater flow pattern in this area is controlled by northwest-southeast lineament, as indicated by the emergence of springs along the transition zone between areas with high and low lineament density. In order of dominance, the groundwater facies are as follows:Ca-Mg-HCO3>Ca-HCO3>Ca-Na-Mg-HCO3>Na-Ca-HCO3. Hydrochemical evolutions were detected from the change of cations from Ca2+ to Mg2+ and then Na+, and this is believed to be the product of cation exchange and dissolution of silicate minerals. However, evolutions toward anion changes were not apparent yet, meaning that HCO3- ions still prevail, or in other words the groundwater flow system is local. Nevertheless, the geological and hydrogeochemical analyses, along with the relative compositions of stable isotopes, revealed that the groundwater had three systems, namely shallow, intermediate, and deep groundwater flows; all of which were segmented in three subgroundwater basins (Sub-GWB). Aquifer systems with shallow to intermediate groundwater flow were found in Sub-GWB-A, Sub-GWB-B, and Sub-GWB-C, while the other ones with deep groundwater flow system were identified in Sub-GWB-B and Sub-GWB-C.Fracture system has an important role as a connector between recharge system in hilly areas and discharge system in plain areas.
Geochemical Evolution and Groundwater Flow System in Batujajar Groundwater Basin Area, West Java, Indonesia Suhendar, Rudy; Hadian, M. Sapari Dwi; Muljana, Budi; Setiawan, Taat; Hendarmawan, Hendarmawan
Indonesian Journal on Geoscience Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : Geological Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17014/ijog.7.1.87-104

Abstract

DOI:10.17014/ijog.7.1.87-104Batujajar and its surrounding areas, situated in the west of the Bandung Basin, are geologically composed of various Tertiary rock formations with complex fold and fault systems. Springs and drilled wells in sandstone aquifers, tuffaceous sand, and tuffaceous breccias mark the development of their aquifer systems. This study aimed to determine the characteristics of the hydrogeochemistry by analyzing major ions and stable isotopes (18O and 2H) of thirty-four hydrogeological objects. The groundwater flow pattern in this area is controlled by northwest-southeast lineament, as indicated by the emergence of springs along the transition zone between areas with high and low lineament density. In order of dominance, the groundwater facies are as follows:Ca-Mg-HCO3&gt;Ca-HCO3&gt;Ca-Na-Mg-HCO3&gt;Na-Ca-HCO3. Hydrochemical evolutions were detected from the change of cations from Ca2+ to Mg2+ and then Na+, and this is believed to be the product of cation exchange and dissolution of silicate minerals. However, evolutions toward anion changes were not apparent yet, meaning that HCO3- ions still prevail, or in other words the groundwater flow system is local. Nevertheless, the geological and hydrogeochemical analyses, along with the relative compositions of stable isotopes, revealed that the groundwater had three systems, namely shallow, intermediate, and deep groundwater flows; all of which were segmented in three subgroundwater basins (Sub-GWB). Aquifer systems with shallow to intermediate groundwater flow were found in Sub-GWB-A, Sub-GWB-B, and Sub-GWB-C, while the other ones with deep groundwater flow system were identified in Sub-GWB-B and Sub-GWB-C.Fracture system has an important role as a connector between recharge system in hilly areas and discharge system in plain areas.
Proxapertites from Walat Formation, Sukabumi, West Java, Indonesia Rizki Satria Rachman; Winantris; Budi Muljana
Journal of Geoscience, Engineering, Environment, and Technology Vol. 6 No. 1 (2021): JGEET Vol 06 No 01 : March (2021)
Publisher : UIR PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/jgeet.2021.6.1.5583

Abstract

Proxapertites have become one of the most significant indicators of ancient rock in Indonesia. Walat Formation is one of the oldest rocks exposed in Sukabumi, West Java, Indonesia. These Proxapertites have not been described in detail about their characteristics in previous studies, especially on Walat Formation. Therefore, knowing the characteristics of Proxapertites becomes interesting, especially in Walat Formation, which can be a reference for the characteristics of the late Eocene Proxapertites (37.8 - 33.9 million) in Indonesia. Acetolysis method was carried out for the preparation of pollen and spores; description and determination were carried out to see the characteristics of Proxapertites that present in Walat Formation. Result, there are three types of Proxapertites. Proxapertites operculatus have sizes 23 – 86 µ with average 40.5 (P) and 51.1 (E) µ, index PE 0,43 - 1, Peroblate – Subspheroidal – Oblate Spheroidal, Fine-Reticulate ornamentation, and Asymmetric Monosulcate aperture. Proxapertites cursus have sizes 23 – 86 µ with average 39.8 (P) and 49.8 (E) µ, index PE 0.51 - 1, Oblate – Subspheroidal – Oblate Spheroidal, Reticulate ornamentation, and Asymmetric Monosulcate aperture. Whereas Proxapertites psilatus have sizes 29 – 75 µ with average 42.3 (P) and 52.5 (E) µ, index PE 0.58 - 1, Oblate – Subspheroidal – Oblate Spheroidal, Psilate ornamentation, and Asymmetric Monosulcate aperture. These three Proxapertites can be distinguished by their type of ornamentation. Meanwhile, other aspects have similar characteristics and are affected by the appearance of individual pollen on the slide during preparation.
DINAMIKA LINGKUNGAN PENGENDAPAN DELTA KALIGARANG, SEMARANG Karina Melias Astriandhita; Winantris Winantris; Budi Muljana; Purna Sulastya Putra; Praptisih Praptisih
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 27, No 2 (2017)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (846.438 KB) | DOI: 10.14203/risetgeotam2017.v27.485

Abstract

Delta Kaligarang terletak di Utara Pesisir Semarang. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui dinamika lingkungan pengendapan yang terjadi di Delta Kaligarang, Semarang melalui analisis ukuran butir, material organik dan inorganik dari sembilan puluh contoh sampel. Hasil yang diperoleh menunjukkan adanya dua lingkungan pengendapan berdasarkan karakteristik sedimentologi (besar butir dan organik) yakni lingkungan energi relatif rendah (suspension load) dan lingkungan berarus turbulen (tidal). Selain itu, juga terdapat kenaikan nilai material organik dan inorganik, yang disertai adanya perubahan besar butir. Terlihat bahwa lapisan pada kedalaman 0-31 meter mengalami kenaikan nilai organik, seiring dengan besar butir yang berukuran silt. Hal tersebut berbeda dengan lapisan pada kedalaman 32-45 meter, di mana terdapat perselingan satuan batuan silt dan sand, serta nilai material organik turun.Kaligarang Delta is located in the North Semarang Coast. The objective of this research is to describe dynamic environmental changes in Kaligarang Delta based on grain size, organic and inorganic matters analyzes from ninety samples. The results indicated that two conditions occurred: low-energy-suspension-load environment and tidal (turbulent) environment. Furthermore, the increase of organic and inorganic matters coincides with the grain size distribution. At depth 0-31-meter, organic matter increased that coincident with silt grain size. At depth 32-45 meter the lithology shows interspersed of silt and sand.
Umur, Lingkungan Pengendapan, dan Karakteristik Fosil Palinomorf Formasi Batuasih, Sukabumi, Jawa Barat Rizki Satria Rachman; Winantris Winantris; Budi Muljana
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol 8 No 2 (2021)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2021.v08.i02.p04

Abstract

Palynomorph is a dust-sized material that is resistant to strong acids which can reflect the age and environmental conditions when a rock was formed. Batuasih Formation is one of the oldest rock formations in Bogor Basin which is rarely interpreted, especially from its palynological aspect. This study aims to see palynomorph characteristics, relative age, and environmental conditions in Batuasih Formation. There are several steps in conducting the research. Field activities by measured stratigraphic sections and sampling every 5-meter intervals or each lithological changes, laboratory activities by sample preparation using acid treatment method, identification were carried out using CX-22 binocular microscope, and laboratory analysis of age and depositional environment is drawn based on palynomorph associations that are present in rocks. The result found that palynomorphs were present in 8 of 10 samples (B.1, B.2, B.4, B.6 - B.10). One hundred seventy-three palynomorphs identified to consist of 20 different species. Dominant pollen came from genus Proxapertites, both Proxapertites operculatus, Proxapertites cursus, and Proxapertites psilatus. While dominant spores came from Verrucatosporites usmensis. Apart from pollen and spores, Palynomorphs in the form of dinoflagellates and foraminifera test lining are also present in this formation. Palynomorph analysis shows that Batuasih Formation has Late Eocene - Early Oligocene age (41.2 - 27.8 Ma) with transitional depositional environment.
Geochemical Evolution and Groundwater Flow System in Batujajar Groundwater Basin Area, West Java, Indonesia Rudy Suhendar; M. Sapari Dwi Hadian; Budi Muljana; Taat Setiawan; Hendarmawan Hendarmawan
Indonesian Journal on Geoscience Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : Geological Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17014/ijog.7.1.87-104

Abstract

DOI:10.17014/ijog.7.1.87-104Batujajar and its surrounding areas, situated in the west of the Bandung Basin, are geologically composed of various Tertiary rock formations with complex fold and fault systems. Springs and drilled wells in sandstone aquifers, tuffaceous sand, and tuffaceous breccias mark the development of their aquifer systems. This study aimed to determine the characteristics of the hydrogeochemistry by analyzing major ions and stable isotopes (18O and 2H) of thirty-four hydrogeological objects. The groundwater flow pattern in this area is controlled by northwest-southeast lineament, as indicated by the emergence of springs along the transition zone between areas with high and low lineament density. In order of dominance, the groundwater facies are as follows:Ca-Mg-HCO3>Ca-HCO3>Ca-Na-Mg-HCO3>Na-Ca-HCO3. Hydrochemical evolutions were detected from the change of cations from Ca2+ to Mg2+ and then Na+, and this is believed to be the product of cation exchange and dissolution of silicate minerals. However, evolutions toward anion changes were not apparent yet, meaning that HCO3- ions still prevail, or in other words the groundwater flow system is local. Nevertheless, the geological and hydrogeochemical analyses, along with the relative compositions of stable isotopes, revealed that the groundwater had three systems, namely shallow, intermediate, and deep groundwater flows; all of which were segmented in three subgroundwater basins (Sub-GWB). Aquifer systems with shallow to intermediate groundwater flow were found in Sub-GWB-A, Sub-GWB-B, and Sub-GWB-C, while the other ones with deep groundwater flow system were identified in Sub-GWB-B and Sub-GWB-C.Fracture system has an important role as a connector between recharge system in hilly areas and discharge system in plain areas.
Strategi Pengembangan Potensi Ekowisata di Desa Malatisuka Fauziah Hanum; Reiza D. Dienaputra; Dadang Suganda; Budi Muljana
JURNAL MASTER PARIWISATA Volume 08, Nomor 01, Juli 2021
Publisher : Magister Tourism Study, Faculty of Tourism, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JUMPA.2021.v08.i01.p02

Abstract

Desa Malatisuka merupakan salah satu desa dengan kategori tertinggal di Kecamatan Gunung Tanjung, Kabupaten Tasikmalaya yang memiliki potensi alam dan lanskap berlimpah yang dapat dijadikan destinasi wisata unggulan apabila dikelola dengan baik dengan menerapkan konsep Ekowisata dan pengembangan mengacu pada prinsip berkelanjutan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat strategi pengembangan potensi ekowisata di Desa Malatisuka, Kecamatan Gunung Tanjung, Kabupaten Tasikmalaya. Penelitian ini adalah studi kualitatif dengan metode survey dan deskriptif. Data untuk penelitian ini dikumpulkan melalui wawancara dengan teknik pemilihan narasumber menggunakan purposive sampling, studi literatur baik itu dari buku, procceding seminar, tesis, artikel-artikel jurnal dalam atau luar negeri serta sumber lainnya. Sedangkan data akan dianalisis menggunakan cara triangulasi serta analisis SWOT untuk selanjutnya melakukan perumusan strategi yang tepat untuk pengembangan potensi ekowisata tersebut. Hasil menunjukan bahwa Desa Malatisuk memiliki kelebihan dan peluang yang besar utamanya potensi alam yang apabila dimanfaatkan sebaik mungkin maka dapat menjadi nilai lebih yang menjadi kekuatan untuk bersaing diantara daya tarik wisata khususnya dikembangkan untuk kegiatan ekowisata dan memungkinkan peluang untuk mengembangkan usaha kreatif lainnya dengan strategi yang telah dirumuskan berdasarkan analisis yang telah dilakukan. Keywords: ekowisata, sustainable tourism, pengembangan wisata, air terjun
PENENTUAN LINGKUNGAN PENGENDAPAN LAPISAN BATUBARA D, FORMASI MUARA ENIM, BLOK SUBAN BURUNG, CEKUNGAN SUMATERA SELATAN Asep Bahtiar Purnama; Silti Salinita; Sudirman Sudirman; Yoga Andriana Sendjaja; Budi Muljana
Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Vol 14, No 1 (2018): Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Edisi Januari 2018
Publisher : Puslitbang tekMIRA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1062.258 KB) | DOI: 10.30556/jtmb.Vol14.No1.2018.182

Abstract

Lapisan batubara D termasuk ke dalam Blok Suban Burung, Formasi Muara Enim, Subcekungan Palembang Tengah, Cekungan Sumatera Selatan, berumur Miosen Tengah sampai Miosen Akhir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik batubara dan lingkungan terhadap percontoh Lapisan Batubara D dari kegiatan pengeboran penelitian gasifikasi bawah permukaan. Metode yang digunakan adalah analisis petrografi batubara, nilai reflektansi vitrinit, dan interpretasi lingkungan pengendapan berdasarkan diagram Diessel dan diagram Calder. Lapisan batubara ini didominasi oleh vitrinit, rata-rata sekitar 71,1%, diikuti inertinit 17,6%, liptinit 5,9%, dan mineral 6,4%. Nilai reflektansi vitrinit berkisar antara 0,25-38%, termasuk ke dalam peringkat lignit-subbituminus. Berdasarkan hasil rekonstruksi lingkungan pengendapan menggunakan empat parameter TPI (Tissue Preservation Index), GI (Gelification Index), GWI (Ground Water Index) dan VI (Vegetation Index) dan diplot dalam diagram Diessel dan diagram Calder diketahui bahwa Lapisan Batubara D diendapkan dalam lingkungan pengendapan limnik.
Co-Authors Abdurrokhim Abdurrokhim ⠀ Adi Hardiyono, Adi Adjat Sudradjat Adlan, Ryandi Agus Didit Haryanto -, Agus Didit Haryanto Al Suwaidi, Aisha Ali, Mohammed Andi Agus Nur Andi Agus Nur, Andi Agus Andriana S, Yoga Andriana S, Yoga Asep Bahtiar Purnama Asep Bahtiar Purnama Astriandhita, Karina Melias Azmi Baihaqi Baihaqi, Azmi Baihaqi, Azmi Bastira, Shahnaz Noveta Binarko Santoso Budiana, Rahmat Catur Purwanto Catur Purwanto, Catur Dadang Suganda Dadang Suganda Dewandra Bagus Eka Putra Dewandra Bagus Eka Putra, Dewandra Bagus Eka Djadjang Jedi Setiadi Emi Sukiyah Fauziah Hanum Fauziah Hanum Febriwan Mohammad, Febriwan Fercanza, Frisdio Fikri Muhammad Fiqih Hadian, M. Sapari Dwi Hadian, Mohammad Sapari Dwi Hendarmawan Hendarmawan Hendarmawan, Hendarmawan Herman Darman Ildem Syafri Ildrem Sjafri Ildrem Syafri Ildrem Syafri Iyan Haryanto J. T. van Gorsel Karina Melias Astriandhita Kuntadi Nugrahanto Kuntadi Nugrahanto Nugrahanto kurnianto, brany Laranarko, Dwandari Lathifah, Lista Ummu Fadzilatul Lia Jurnaliah LILI FAUZIELLY Lili Fauzielly Luli Gustiantini M. Sapari Dwi Hadian Mohamad Sapari Hadian Morad, Sadoon Mudiarsono Mudiarsono Muhammad Kurniawan Alfadli Muhammad Zulfikar Muslin, Dicky Nana Sulaksana Naufal, Muhammad Audy Nazar Nurdin Noor Cahyo Dwi Aryanto Nuraini , Siti Nurdradjat, . Nurdrajat Nurdrajat Osvaldus, Rodrigo Prahastomi, Mochammad Praptisih Praptisih Praptisih, . Prasetya, Muhammad Nurul Huda Purna Sulastya Putra Purna Sulastya Putra, Purna Sulastya Rahmat Fakhrudin -, Rahmat Fakhrudin Ratih C. F. Ratumanan Reiza D. Dienaputra Reza Muhammad Ganjar Gani, Reza Muhammad Ganjar Rina Zuraida Rita Susilawati Rizki Satria Rachman Rizki Satria Rachman Rudy Suhendar Sangmin Hyun Santosa, Ardian Aby Sayaf, Ival Umar Setiawan, Taat Shahnaz Noveta Bastira Shaska R. Zulivandama Silti Salinita Siti Nuraini Sudirman Sudirman Sudradjat , Adjat Suganda, Wingky Suhendar, Rudy Susilawati, Rita Susilawati, Rita Swasty Aninda Piranti Syaiful Alam Syaiful Alam Taat Setiawan Teddy Tresnanto Tresnanto, Teddy Tresnanto, Teddy Undang Mardiana Vijaya Isnaniawardhani Wahyu Sugiarto Winantris Winantris Winantris Winantris Yan Rizal, Yan Yoga A. Sendjadja Yoga Andriana S Yoga Andriana Sendjaja Yudha S. Subarna Yuspian Djapani Yuyun Yuniardi Yuyun Yuniardi -, Yuyun Yuniardi