Mohamad Mualim
Institut Daarul Qur’an Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS QIRA’AT ABU ‘AMR RIWAYAT AS-SUSI QS. AL-AHZAB DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENAFSIRAN: (Studi Kitab At-Taisir fii Al-Qira’at Sab’ah) Fadwa Nadia Sholeha; Khoirun Nidhom; Mohamad Mualim
QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies Vol. 5 No. 2 (2026): QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies, Desember 2026
Publisher : ASIAN PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58738/qanun.v5i2.1744

Abstract

Variasi qira’at memiliki keterkaitan penting dengan penafsiran Al-Qur’an karena perbedaan bacaan pada ayat tertentu dapat menghasilkan perbedaan nuansa makna dan pemahaman tafsir. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk-bentuk perbedaan qira’at Abu ‘Amr riwayat as-Susi dalam QS. Al-Ahzab berdasarkan Kitab At-Taisir fi al-Qira’at al-Sab’ serta mengidentifikasi implikasinya terhadap penafsiran ayat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kepustakaan (library research) dengan Kitab At-Taisir fi al-Qira’at al-Sab’ sebagai sumber primer dan sejumlah kitab tafsir sebagai sumber pendukung. Data dianalisis menggunakan teknik analisis isi (content analysis). Hasil penelitian menunjukkan adanya 83 perbedaan bacaan antara qira’at Abu ‘Amr riwayat as-Susi dan riwayat Hafs dalam QS. Al-Ahzab. Sebagian besar perbedaan tersebut berupa kaidah ushul qira’at, seperti idgham kabir, ibdal hamzah, dan tashil, yang tidak berimplikasi terhadap perubahan makna. Namun, terdapat tiga ayat yang menunjukkan implikasi penafsiran, yaitu ayat 30, 33, dan 52. Pada ayat 30, variasi bacaan menghasilkan perbedaan pemahaman mengenai kadar pelipatan azab bagi istri-istri Nabi; pada ayat 33, memberikan nuansa antara perintah menetap di rumah dan menjaga ketenangan, kewibawaan, serta kehormatan; sedangkan pada ayat 52, memengaruhi pemahaman mengenai cakupan perempuan yang termasuk dalam larangan menikah bagi Nabi Muhammad SAW. Temuan ini menegaskan bahwa perbedaan qira’at tidak selalu berimplikasi terhadap perubahan makna atau hukum, tetapi pada ayat tertentu dapat memperluas perspektif penafsiran. Penelitian ini berkontribusi dalam memperjelas posisi qira’at Abu ‘Amr riwayat as-Susi sebagai salah satu sumber penting dalam memahami keragaman linguistik dan interpretatif Al-Qur’an.
TREND BEAUTY MENURUT AL-QUR’AN: Analisis QS. Al-Nisa’ Ayat 119 Dan QS. Al-Rum Ayat 30 Perspektif Quraish Shihab Nuryah Vika Andriani; Ida Kurnia Shofa; Mohamad Mualim
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 23 No. 1 (2024): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v23i1.441

Abstract

Trend beauty (kecantikan) termasuk dalam fenomena yang mengalami evolusi dan perubahan yang disebabkan adanya perkembangan media dan masyarakat. Sebagai manusia pasti menginginkan pribadinya secara lahir maupun bathin memiliki nilai keestetikan. Sedangkan hal ini identik sekali dengan wanita. Dalam upaya pemenuhan mempercantik diri, klinik kecantikan menyediakan fasilitas bagi para pemburu trend beauty tersebut. Eyelash extension (tanam bulu mata), nail art (seni hias kuku), dan sulam alis kini menjadi trend beauty yang digandrungi para wanita. Dalam menanggapi persoalan ini penulis akan merujuk pada perspektif Quraish Shihab  berdasarkan Q.S. An-Nisa’ ayat 119 dan Q.S. Ar-Rum ayat 30. Dalam Tafsir Al-Misbah, Quraish Shihab menggunakan pendekatan yang berbeda untuk menjawab pertanyaan ini. Adapun jenis penelitian ini adalah library research atau penelitian yang bersifat kepustakaan  dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif analisis. Penulis menggunakan dua sumber rujukan yaitu sumber primer dan sumber sekunder. Adapun hasil dari pembahasan ini adalah Quraish Shihab menyatakan bahwa ketiga trend beauty yang disebutkan di atas tidak termasuk dari larangan yang mutlak karena dalam penggunaannya tidak terdapat unsur yang menyatakan bahwa mengalihkan atau menghilangkan fungsi tubuh manusia. Namun dalam proses penyelesaian jurnal ini, penulis juga menyajikan beberapa argument terkait tentang trend beauty menurut ulama-ulama yang berbeda. Dengan begitu pada akhir pembahasan mendapatkan hasil akhir yang bisa dijadikan sebagai dasar ilmu dalam menanggapi fenomena trend beauty tersebut.