Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Formulasi Tablet Dari Ekstrak Etanol Kulit Kacang Tanah (Arachis Hypogeae L.) Fadly Fadly; Dewi Marlina; Mar'atus Sholikhah; Cendi Elsa Karin
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (546.995 KB) | DOI: 10.36086/jpharm.v4i1.1224

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Kulit kacang tanah (Arachis hypogeae L.) hanya dianggap sebagai limbah dimasyarakat. Tetapi sebenarnya Kulit kacang tanah dapat dimanfaatkan, karena pada dosis 300mg/kgBB memiliki efek penurunan kolesterol terhadap tikus Sprague Dawley. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan ekstrak kental kulit kacang tanah sebagai sediaan tablet yang stabil secara fisik. Metode: Penelitian ini menggunakan metode eksperimental. Ekstrak kulit kacang tanah diperoleh dengan cara maserasi dengan pelarut etanol 70%, kemudian didestilasi vakum hingga didapat ekstrak kental. Diformulasikan dalam tiga formula dengan variasi konsentrasi bahan pengikat gelatin antara lain 1%, 3%, dan 5% dengan cara granulasi basah. Kemudian dilakukan evaluasi sediaan. Hasil: Hasil evaluasi menunjukkan bahwa uji keseragaman bobot, keseragaman ukuran, kekerasan, kerapuhan, dan waktu hancur menunjukkan bahwa ketiga formula menghasilkan tablet yang memenuhi syarat. Kecuali waktu hancur pada formula II dan formula III. Kesimpulan: Tablet ekstrak kulit kacang tanah dengan bahan pengikat gelatin 1% pada formula I dapat diformulasikan sebagai sediaan tablet yang stabil dan memenuhi persyaratan uji mutu fisik tablet. Kata Kunci: Tablet, kulit kacang tanah, granulasi ABSTRACT Background: Peanut shells (Arachis hypogeae L.) are only considered as waste in society. But actually peanut shells can be used, because at a dose of 300mg/kgBB it has a cholesterol-lowering effect on Sprague Dawley rats. This study aims to formulate a thick extract of peanut shell as a tablet preparation that is physically stable. Methods: This study used an experimental method. Peanut shell extract was obtained by maceration with 70% ethanol solvent, then vacuum distilled to obtain a thick extract. Formulated in three formulas with varying concentrations of gelatin binder, including 1%, 3%, and 5% by wet granulation. Then do the evaluation of the preparation. Results: The evaluation results showed that the weight uniformity test, size uniformity, hardness, friability, and disintegration time showed that the three formulas produced tablets that met the requirements. Except the disintegration time in formula II and formula III. Conclusion: Peanut shell extract tablets with 1% gelatin binder in formula I can be formulated as stable tablet preparations and meet the requirements of tablet physical quality test. Keywords: Tablet, peanut skin, granulation
Profil Peresepan Obat Antidepresan Pada Pasien Depresi di Rumah Sakit X di Kota Palembang Rizka Riatama; Mar'atus Sholikhah; Sonlimar Mangunsong
Jurnal Entitas Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2026): FEBRUARI
Publisher : PT Mara Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64465/jek.v1i1.66

Abstract

Depresi merupakan masalah kesehatan mental yang signifikan secara global dan berkaitan dengan masalah kesehatan lain seperti kecemasan dan stres. Penggunaan antidepresan adalah salah satu penatalaksanaan farmakoterapi utama pada penderita depresi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional dengan sampel seluruh rekam medik dari 22 pasien depresi periode Januari-Desember 2024 yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukkan pasien laki-laki (54,5%) dan rentang usia 18-28 tahun (40,9%) merupakan yang tertinggi. Golongan antidepresan yang paling banyak diresepkan adalah Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRIs) sebesar 86,3%, dengan Fluoxetine 20 mg menjadi obat yang paling sering digunakan (72,7%). Dosis dan frekuensi pemberian obat telah sesuai dengan pedoman terapi standar. Mayoritas pasien (54,5%) menerima terapi jangka panjang (lebih dari 90 hari) yang berfokus pada pencegahan kekambuhan. Peresepan di Rumah Sakit X di Kota Palembang didominasi oleh golongan SSRIs (Fluoxetine) dengan praktik tatalaksana jangka panjang untuk mencegah kekambuhan.
Pengaruh Variasi Konsentrasi Gliserin Terhadap Formulasi Face Mist Ekstrak Daun Matoa (Pometia pinnata) Cahya Aulya Septiahyani; Mar'atus Sholikhah
Jurnal Entitas Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2026): FEBRUARI
Publisher : PT Mara Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64465/jek.v1i1.76

Abstract

Face mistmerupakan salah satu kosmetik dengan bahan yang berbentuk larutan spray sebagai pelembap kulit dan menyegarkan kulit. Gliserin sebagai pelembap (humektan). Ekstrak daun matoa (Pometia pinnata) mengandung flavonoid yang berperan sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi gliserin yang mampu menghasilkan sediaan face mistyang stabil dan memenuhi syarat. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan ekstrak daun matoa (Pometia pinnata) 3,5% dengan variasi konsentrasi gliserin 20% dalam formula kontrol dan formula II, 15% dalam formula I, serta 25% dalam formula III. Evaluasi sediaan selama 28 hari penyimpanan pada suhu kamar dan 12 hari uji dipercepat (cycling test) yang meliputi uji pH, viskositas, kejernihan, homogenitas, daya sebar semprot, kelembapan kulit, warna, bau, dan iritasi kulit. Hasil evaluasi menunjukkan pH dan viskositas yang memenuhi persyaratan. Namun, pada evaluasi kejernihan dan homogenitas belum memenuhi persyaratan. Ditinjau dari daya sebar semprot telah memenuhi syarat, serta evaluasi kelembapan kulit didapatkan hasil yang stabil lembap dan sangat lembap dalam waktu 2 menit. Sebagian responden menyatakan perubahan warna dan bau, namun tetap memenuhi syarat karena >50% responden tidak mengalami perubahan. Serta tidak menyebabkan iritasi kulit. Ekstrak daun matoa (Pometia pinnata) belum dapat diformulasikan menjadi sediaan face mistyang stabil dan memenuhi syarat, serta belum dapat bertahan selama 12 bulan.