Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Formulasi Tablet Dari Ekstrak Etanol Kulit Kacang Tanah (Arachis Hypogeae L.) Fadly Fadly; Dewi Marlina; Mar'atus Sholikhah; Cendi Elsa Karin
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (546.995 KB) | DOI: 10.36086/jpharm.v4i1.1224

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Kulit kacang tanah (Arachis hypogeae L.) hanya dianggap sebagai limbah dimasyarakat. Tetapi sebenarnya Kulit kacang tanah dapat dimanfaatkan, karena pada dosis 300mg/kgBB memiliki efek penurunan kolesterol terhadap tikus Sprague Dawley. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan ekstrak kental kulit kacang tanah sebagai sediaan tablet yang stabil secara fisik. Metode: Penelitian ini menggunakan metode eksperimental. Ekstrak kulit kacang tanah diperoleh dengan cara maserasi dengan pelarut etanol 70%, kemudian didestilasi vakum hingga didapat ekstrak kental. Diformulasikan dalam tiga formula dengan variasi konsentrasi bahan pengikat gelatin antara lain 1%, 3%, dan 5% dengan cara granulasi basah. Kemudian dilakukan evaluasi sediaan. Hasil: Hasil evaluasi menunjukkan bahwa uji keseragaman bobot, keseragaman ukuran, kekerasan, kerapuhan, dan waktu hancur menunjukkan bahwa ketiga formula menghasilkan tablet yang memenuhi syarat. Kecuali waktu hancur pada formula II dan formula III. Kesimpulan: Tablet ekstrak kulit kacang tanah dengan bahan pengikat gelatin 1% pada formula I dapat diformulasikan sebagai sediaan tablet yang stabil dan memenuhi persyaratan uji mutu fisik tablet. Kata Kunci: Tablet, kulit kacang tanah, granulasi ABSTRACT Background: Peanut shells (Arachis hypogeae L.) are only considered as waste in society. But actually peanut shells can be used, because at a dose of 300mg/kgBB it has a cholesterol-lowering effect on Sprague Dawley rats. This study aims to formulate a thick extract of peanut shell as a tablet preparation that is physically stable. Methods: This study used an experimental method. Peanut shell extract was obtained by maceration with 70% ethanol solvent, then vacuum distilled to obtain a thick extract. Formulated in three formulas with varying concentrations of gelatin binder, including 1%, 3%, and 5% by wet granulation. Then do the evaluation of the preparation. Results: The evaluation results showed that the weight uniformity test, size uniformity, hardness, friability, and disintegration time showed that the three formulas produced tablets that met the requirements. Except the disintegration time in formula II and formula III. Conclusion: Peanut shell extract tablets with 1% gelatin binder in formula I can be formulated as stable tablet preparations and meet the requirements of tablet physical quality test. Keywords: Tablet, peanut skin, granulation
Profil Peresepan Obat Antidepresan Pada Pasien Depresi di Rumah Sakit X di Kota Palembang Rizka Riatama; Mar'atus Sholikhah; Sonlimar Mangunsong
Jurnal Entitas Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2026): FEBRUARI
Publisher : PT Mara Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64465/jek.v1i1.66

Abstract

Depresi merupakan masalah kesehatan mental yang signifikan secara global dan berkaitan dengan masalah kesehatan lain seperti kecemasan dan stres. Penggunaan antidepresan adalah salah satu penatalaksanaan farmakoterapi utama pada penderita depresi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional dengan sampel seluruh rekam medik dari 22 pasien depresi periode Januari-Desember 2024 yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukkan pasien laki-laki (54,5%) dan rentang usia 18-28 tahun (40,9%) merupakan yang tertinggi. Golongan antidepresan yang paling banyak diresepkan adalah Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRIs) sebesar 86,3%, dengan Fluoxetine 20 mg menjadi obat yang paling sering digunakan (72,7%). Dosis dan frekuensi pemberian obat telah sesuai dengan pedoman terapi standar. Mayoritas pasien (54,5%) menerima terapi jangka panjang (lebih dari 90 hari) yang berfokus pada pencegahan kekambuhan. Peresepan di Rumah Sakit X di Kota Palembang didominasi oleh golongan SSRIs (Fluoxetine) dengan praktik tatalaksana jangka panjang untuk mencegah kekambuhan.
Pengaruh Variasi Konsentrasi Gliserin Terhadap Formulasi Face Mist Ekstrak Daun Matoa (Pometia pinnata) Cahya Aulya Septiahyani; Mar'atus Sholikhah
Jurnal Entitas Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2026): FEBRUARI
Publisher : PT Mara Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64465/jek.v1i1.76

Abstract

Face mistmerupakan salah satu kosmetik dengan bahan yang berbentuk larutan spray sebagai pelembap kulit dan menyegarkan kulit. Gliserin sebagai pelembap (humektan). Ekstrak daun matoa (Pometia pinnata) mengandung flavonoid yang berperan sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi gliserin yang mampu menghasilkan sediaan face mistyang stabil dan memenuhi syarat. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan ekstrak daun matoa (Pometia pinnata) 3,5% dengan variasi konsentrasi gliserin 20% dalam formula kontrol dan formula II, 15% dalam formula I, serta 25% dalam formula III. Evaluasi sediaan selama 28 hari penyimpanan pada suhu kamar dan 12 hari uji dipercepat (cycling test) yang meliputi uji pH, viskositas, kejernihan, homogenitas, daya sebar semprot, kelembapan kulit, warna, bau, dan iritasi kulit. Hasil evaluasi menunjukkan pH dan viskositas yang memenuhi persyaratan. Namun, pada evaluasi kejernihan dan homogenitas belum memenuhi persyaratan. Ditinjau dari daya sebar semprot telah memenuhi syarat, serta evaluasi kelembapan kulit didapatkan hasil yang stabil lembap dan sangat lembap dalam waktu 2 menit. Sebagian responden menyatakan perubahan warna dan bau, namun tetap memenuhi syarat karena >50% responden tidak mengalami perubahan. Serta tidak menyebabkan iritasi kulit. Ekstrak daun matoa (Pometia pinnata) belum dapat diformulasikan menjadi sediaan face mistyang stabil dan memenuhi syarat, serta belum dapat bertahan selama 12 bulan.
Formulasi Dan Evaluasi Sediaan Masker Gel Peel-Off Ekstrak Daun Kari (Murraya koenigii L.) dengan Variasi HPMC Sebagai Gelling Agent Margareta; Dewi Marlina; Ratnaningsih Dwi Astuti; Mar'atus Sholikhah
Jurnal Kesehatan Farmasi Nusantara Vol. 1 No. 1 (2025): MEI
Publisher : PT Mara Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64465/jkfn.v1i1.4

Abstract

Masker Gel peel-off merupakan sediaan kosmetika yang praktis dan dapat diaplikasikan secara langsung dengan meratakannya pada kulit wajah. HPMC sebagai gelling agent dapat mempercepat waktu mengering dan stabil terhadap pH. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi HPMC yang optimal untuk menghasilkan sediaan masker gel peel-off yang stabil dan memenuhi syarat. Masker gel peel-off dibuat menggunakan zat aktif daun kari (Murraya koenigii L.) dengan kandungan senyawa polifenol sebagai antioksidan yang dapat mencegah penuaan dini. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental, dimana daun kari sebagai zat aktif diformulasikan menjadi sediaan masker gel peel-off dengan memvariasikan konsentrasi HPMC. Konsentrasi zat aktif yang digunakan dalam setiap formula adalah 12,3% serta konsentrasi HPMC yang digunakan adalah 1,5%, pada formula I, 2,5% pada formula II dan 3,5% pada formula III. Kemudian dilakukan evaluasi sediaan pada suhu kamar dan uji dipercepat (Cycling Test) meliputi pH, daya sebar, waktu mengering, homogenitas, syneresis/swelling, warna dan bau serta iritasi kulit. Berdasarkan hasil yang didapat, pH sediaan pada kedua uji penyimpanan mengalami kenaikan. Ditinjau dari uji waktu mengering, homogenitas, synersis/swelling, warna, bau dan iritasi kulitket iga formula memenuhi selama penyimpanan suhu kamar dan uji dipercepat. Berdasarkan hasil penelitian dapat disumpulkan bahwa ekstrak daun kari dapat diformulasikan menjadi sediaan masker gel peel-off yang stabil dan memenuhi persyaratan. Formula yang paling optimal dengan konsentrasi HPMC sebesar 3,5%.  
EKSPLORASI HERBAL NUSANTARA SEBAGAI KANDIDAT ANTIOKSIDAN UNTUK SISTEM PENGHANTARAN EMULGEL Mar'atus Sholikhah; Sarmadi Sarmadi; Ferawati Suzalin
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 7 No 2 (2025): Jurnal Kesehatan Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkpharm.v7i2.3436

Abstract

Latar Belakang: Indonesia memiliki kekayaan hayati yang melimpah termasuk tanaman obat yang berpotensi sebagai sumber antioksidan. Sejumlah penelitian telah melaporkan potensi antioksidan dari berbagai tanaman Nusantara seperti teh putih, minyak biji delima, daun kelor, kulit buah kakao, daun pepaya, daun juwet, dan daun jambu air. Artikel review ini bertujuan untuk meninjau potensi berbagai herbal Nusantara sebagai kandidat antioksidan sekaligus mengeksplorasi tantangan formulasi dalam pengembangan sistem penghantaran emulgel. Metode: Metode kajian yang digunakan berupa studi pustaka dengan penelusuran literatur melalui Google Scholar dan PubMed. Seleksi artikel dilakukan berdasarkan kriteria inklusi yang meliputi tahun terbit publikasi, jenis publikasi ilmiah, kesesuaian topik, serta ketersediaan naskah dalam akses terbuka (open access). Hasil: Hasil telaah menunjukkan bahwa formulasi emulgel dari berbagai sumber bahan alam telah diformulasi dalam bentuk emulgel dan menunjukkan karakteristik fisik yang baik. Namun, aktivitas antioksidan emulgel tersebut umumnya lebih rendah dibandingkan ekstrak. Hal ini menunjukkan adanya tantangan dalam menjaga stabilitas serta bioavailabilitas senyawa aktif.Kesimpulan: Perlu optimalisasi formulasi dan penerapan strategi penghantaran yang lebih tepat agar potensi aktivitas antioksidan dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan dalam sediaan emulgel.
Modifikasi Kelarutan Obat BCS Kelas II Piroksikam Melalui Sistem Kokristal Menggunakan Koformer Hidrofilik Mar'atus Sholikhah; Sarmadi
Jurnal Kesehatan Farmasi Nusantara Vol. 1 No. 1 (2025): MEI
Publisher : PT Mara Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64465/jkfn.v1i1.1

Abstract

Kelarutan merupakan salah satu parameter penting untuk mencapai konsentrasi terapetik obat dalam sirkulasi sistemik sehingga dapat menghasilkan respon farmakologis yang diinginkan. Banyak obat yang memiliki kelarutan buruk di dalam air. Obat dengan kelarutan rendah adalah masalah utama yang dihadapi dalam pengembangan formulasi obat baru. Lebih dari 40% senyawa baru yang dikembangkan di industri farmasi memiliki kelarutan yang buruk dalam air. Piroksikam merupakan salah satu antiinflamasi non steroid yang digunakan untuk terapi penyakit inflamasi sendi seperti arthritis rheumatoid dan osteoarthritis. Piroksikam merupakan obat dengan dosis kecil (10-20 mg/hari) dan termasuk Biopharmaceutics Classification System (BCS) kelas II yang memiliki kelarutan rendah dalam air. Tujuan penelitian ini ialah meningkatkan kelarutan piroksikam melalui modifikasi fisikadengan sistem kokristal. Kokristal didesain dengan mengadopsi metode penguapan pelarut pada komposisi equimol (piroksikam dengan nikotinamid pada rasio molar 1:1). Karakterisasi yang dilakukan pada sistem penghantaran obat ini adalah uji titik lebur dan Fourier Transform Infrared(FTIR). Hasil penelitian menunjukkan bahwamodifikasi fisika yang telah dilakukan diketahui telah mengubah karakteristik piroksikam meliputi turunnya titik lebur serta bergesernya spektrum serapan gugus kimianya.
Formulasi Tanaman Kunyit (Curcuma longa L.) dalam Berbagai Sediaan Farmasi: Systematic Literature Review Cindy Claudia Putri; Mar'atus Sholikhah
Jurnal Kesehatan Farmasi Nusantara Vol. 1 No. 1 (2025): MEI
Publisher : PT Mara Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64465/jkfn.v1i1.8

Abstract

Kunyit merupakan tanaman herbal yang telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional karena kandungan kurkuminoid yang memiliki aktivitas farmakologis, seperti antiinflamasi, antioksidan, dan antimikroba. Namun, rendahnya kelarutan dan bioavailabilitas kurkumin menjadi tantangan dalam pengembangan produk farmasi berbasis kunyit. Penelitian ini bertujuan untuk merangkum berbagai pendekatan formulasi yang telah dilakukan terhadap kunyit dalam bentuk sediaan padat, semisolid, dan cair serta mengevaluasi efektivitasnya sebagai dasar pengembangan sediaan farmasi berbahan alam yang lebih inovatif dan aplikatif. Metode yang digunakan adalah telaah pustaka terhadap artikel-artikel ilmiah yang diterbitkan antara 2015-2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berbagai bentuk sediaan farmasi telah berhasil dikembangkan antara lain nanomouthwash, sabun, granul effervescent, tablet, salep, dan krim yang ditujukan untuk aktivitas terapeutik seperti antiinflamasi, antimikroba, dan antioksidan. Kemampuan kunyit untuk diaplikasikan dalam berbagai bentuk sediaan farmasi tersebut menunjukkan prospek yang menjanjikan sebagai agen fitofarmaka dalam perkembangan ilmu dan teknologi farmasi kontemporer.
Aktivitas Rimpang Lengkuas dalam Sediaan Farmasi: Systematic Literature Review Mar'atus Sholikhah
Jurnal Kesehatan Farmasi Nusantara Vol. 1 No. 1 (2025): MEI
Publisher : PT Mara Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64465/jkfn.v1i1.9

Abstract

Rimpang lengkuas merupakan tanaman obat yang kaya akan senyawa bioaktif seperti flavonoid, 1’-asetoksikavikol asetat, galangin, dan minyak atsiri yang memiliki beragam aktivitas farmakologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan merangkum berbagai aktivitas terapi rimpang lengkuas serta pemanfaatannya dalam berbagai bentuk sediaan farmasi. Berdasarkan telaah pustaka dari sejumlah studi in vitro dan formulasi farmasetikal, diketahui bahwa rimpang lengkuas memiliki potensi sebagai agen antibakteri, antijamur hingga antioksidan. Aktivitas terapeutik ini telah dimanfaatkan dalam berbagai bentuk sediaan terutama sediaan likuid dan semisolid seperti tonik, krim, gel, balsam, dan kondisioner karena kemudahan aplikasinya serta kestabilan senyawa aktifnya. Dengan efektivitas biologis yang luas dan karakteristik alami yang relatif aman, rimpang lengkuas menunjukkan potensi besar sebagai bahan aktif dalam pengembangan sediaan farmasi berbasis alam.
Pemanfaatan Biji Kopi (Coffea Sp) Sebagai Agen Bioaktif dalam Sediaan Kosmetik Berbasis Alami Nadya Chalisa; Ratih Selviyani; Sagita Azzahra; Mar'atus Sholikhah
Jurnal Kesehatan Farmasi Nusantara Vol. 1 No. 2 (2025): SEPTEMBER
Publisher : PT Mara Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64465/jkfn.v1i2.32

Abstract

Kopi merupakan salah satu tanaman dengan kandungan senyawa bioaktif tinggi yang tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan pangan, tetapi juga memiliki potensi besar dalam dunia kosmetik alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penggunaan biji kopi (Coffea sp.) sebagai agen bioaktif dalam berbagai produk kosmetik. Metode yang digunakan adalah studi literatur terhadap artikel ilmiah terbitan satu dekade terakhir yang membahas kandungan bioaktif biji kopi dan penggunaannya dalam produk kosmetik. Hasil kajian menunjukkan bahwa biji kopi mengandung zat aktif seperti kafein, asam klorogenat, dan flavonoid yang berperan sebagai antioksidan, antiinflamasi, serta mendukung kelembapan dan regenerasi kulit. Ekstrak biji kopi telah digunakan dalam berbagai bentuk kosmetik, seperti krim, masker, lipbalm, serum, dan sabun. Temuan ini mendukung pemanfaatan bahan alami dalam kosmetik modern yang lebih aman dan berkelanjutan. Meski demikian, hasil studi literatur ini masih memerlukan penelitian lanjutan secara eksperimental untuk mengonfirmasi efektivitas, keamanan, dan kestabilan formulasi, serta mengevaluasi potensinya.
Formulasi dan Uji Evaluasi Clay mask Berbasis Ekstrak Bangle (Zingiber purpureum Roxb.) dengan Variasi Konsentrasi Bentonit dan Kaolin Serli Triwulandari; Mar'atus Sholikhah
Jurnal Kesehatan Farmasi Nusantara Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI
Publisher : PT Mara Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64465/jkfn.v2i1.35

Abstract

Indonesia memiliki beragam tanaman rempah yang dimanfaatkan sebagai obat dan bahan kosmetik, salah satunya bangle (Zingiber purpureum Roxb.) yang kaya antioksidan dan telah lama digunakan secara tradisional. Penelitian ini bertujuan memformulasikan dan mengevaluasi sediaan clay mask yang mengandung ekstrak rimpang bangle dengan variasi konsentrasi kaolin dan bentonit sebagai basis. Metode penelitian bersifat eksperimental dengan pengujian pH, viskositas, daya sebar, waktu mengering, homogenitas, warna, dan bau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan stabil setelah penyimpanan 28 hari pada suhu kamar dan uji dipercepat. Formula III dengan kaolin 20% dan bentonit 2% merupakan formula paling stabil. Disimpulkan bahwa ekstrak bangle konsentrasi 2,10% dapat diformulasikan menjadi masker clay yang stabil secara fisik dan memenuhi persyaratan, dengan komposisi kaolin dan bentonit yang optimal sebesar 20% dan 2%.