Muhammad Al Fikri
UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

STUDI KRITIS TERHADAP PEMIKIRAN MAHMUD MUHAMMAD TAHA TENTANG KONSEP NASAKH AL-QUR’AN Muhammad Al Fikri; Ahmad Mustaniruddin
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 20 No. 2 (2021): Ushuluddin and Religious Studies
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v20i2.230

Abstract

This article discusses one of the topics of the study of the Qur'anic science which was developed by one of the contemporary thinkers, namely Mahmud Muhammad Taha. He considered that the Islamic teachings contained in the madaniyah verses were irrelevant at this time because they contained values ​​that were less tolerant and even radical. Meanwhile, the Makiyah verses contain fundamental values ​​such as justice, equality, tolerance, democracy, and human rights. So, according to him, madaniyah verses need to be replaced with these makiyah verses. With such an inverted nasakh concept, he wants to carry out an evolution of sharia where according to him sharia is something historical that can change according to the situation and conditions that require it. The concept of nasakh al-Qur'an developed by Taha is different from the concept of nasakh agreed upon by the majority of scholars. Therefore, based on the critical analysis in this article, it can be said that the nasakh Taha concept still has a number of epistemological problems so that it is not valid for use in interpreting the verses of the Qur'an. Artikel ini mendiskusikan tentang topik kajian ilmu al-Qur’an yang dikembangkan oleh salah satu tokoh pemikir kontemporer yaitu Mahmud Muhammad Taha. Ia menilai bahwa ajaran Islam yang terkandung dalam ayat-ayat madaniyah tidak Sesuai dengan nilai – nilai kemanuasiaan dan masyarakat modern karena ayat madaniyah mengandung nilai radikalisme dan berlawanan dengan hak asasi manusia. Sementara ayat-ayat makiyah berisi tentang nilai-nilai fundamental seperti keadilan, kesetaraan, toleransi, demokrasi, dan HAM. Sehingga, menurutnya, ayat-ayat madaniyah perlu di-nasakh dengan ayat-ayat makiyah tersebut. Dengan konsep nasakh terbalik seperti demikian ia ingin melakukan evolusi terhadap syariat di mana menurutnya syariat merupakan sesuatu yang bersifat historis yang dapat berubah sesuai situasi dan kondisi yang menghendakinya. Konsep nasakh al-Qur’an yang dikembangkan oleh Taha tersebut berbeda dengan konsep nasakh yang disepakati oleh mayoritas ulama. Oleh karena itu, berdasarkan analisis kritis dalam artikel ini dapat dikatakan bahwa konsep nasakh Taha tersebut masih terdapat sejumlah permasalahan epistemologis sehingga tidak valid untuk digunakan dalam penafsiran al-Qur’an.
Penguatan Literasi Digital Al-Qur'an dan Hadis Santri PKP Al-Hidayah Jambi Dalam Menangkal Hoaks Keagamaan Hasbullah Hasbullah; Muhammad Al Fikri; Muhammad Syachrofi
Al-Khidmat : Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada masyarakat Vol. 9 No. 1 (2026): Jurnal Al-Khidmat : Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Pusat Pengabdian kepada Masyarakat LP2M UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jak.v9i1.53998

Abstract

Abstrak Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk Penguatan Literasi Al-Qur’an dan Hadis Berbasis Digital bagi Santri PKP Al-Hidayah Provinsi Jambi dilaksanakan sebagai respons atas meningkatnya penyebaran hoaks keagamaan di media sosial yang kerap memanipulasi ayat Al-Qur’an dan hadis tanpa rujukan otoritatif. Fenomena ini berpotensi menimbulkan kesalahpahaman keagamaan dan konflik sosial, sehingga pesantren dipandang memiliki peran strategis dalam memperkuat literasi digital keagamaan. Program ini menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) melalui lima tahapan: to know, to understand, to plan, to act, dan to change. Kegiatan meliputi observasi awal, diskusi kelompok terarah, penguatan materi literasi digital, pelatihan penggunaan aplikasi dan situs tafsir serta hadis digital, analisis studi kasus hoaks keagamaan, dan praktik verifikasi langsung. Hasil program menunjukkan peningkatan signifikan literasi digital Al-Qur’an dan hadis santri, ditandai dengan kenaikan skor pre-test dari 46,67 menjadi 92,87 pada post-test. Selain itu, santri menunjukkan peningkatan kemampuan verifikasi keabsahan informasi keagamaan dan terbentuknya budaya “saring sebelum sharing” sebagai etika bermedia sosial. Program ini juga memperkuat kapasitas guru dan pengurus pesantren serta mendorong terbentuknya komunitas literasi digital santri. Dengan keberlanjutan program melalui integrasi ke kegiatan pesantren, PKP Al-Hidayah berpotensi menjadi model penguatan literasi digital keagamaan di Provinsi Jambi. Kata Kunci: literasi digital, Al-Qur’an dan hadis, hoaks keagamaan, pesantren, PAR   Abstract The Community Service Program (Pengabdian kepada Masyarakat/PkM) entitled Strengthening Digital-Based Qur’anic and Hadith Literacy for Santri of PKP Al-Hidayah, Jambi Province was implemented in response to the increasing spread of religious hoaxes on social media, which frequently manipulate Qur’anic verses and hadith without authoritative sources. This phenomenon poses a serious threat, as it may lead to religious misunderstandings and social conflict. Islamic boarding schools (pesantren), as centers of Islamic education, hold a strategic position in strengthening digital religious literacy to counter such hoaxes. This program employed a Participatory Action Research (PAR) approach through five stages: to know, to understand, to plan, to act, and to change. Activities included initial observation, focus group discussions, enrichment of digital religious literacy materials, training on the use of digital tafsir and hadith applications and websites, analysis of religious hoax case studies, and hands-on verification practices. The results indicate a significant improvement in the santri’s digital Qur’anic and hadith literacy, as reflected in the increase of pre-test scores from 46.67 to 92.87 in the post-test. Moreover, participants demonstrated enhanced skills in verifying the authenticity of religious information and the establishment of a “filter before sharing” culture as a new norm of ethical social media engagement. The program also strengthened the capacity of teachers and pesantren administrators and fostered the formation of a santri digital literacy community. With sustained implementation through integration into pesantren activities, PKP Al-Hidayah has the potential to serve as a model for strengthening digital religious literacy in Jambi Province. Keywords: digital literacy; Qur’an and hadith; religious hoaxes; pesantren; PAR