Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Teologi Abrahamik sebagai Titik Temu: Analisis Historis atas Relasi Yahudi, Kristen dan Islam Yasinta Rohmawati; Dino; Ahmad Jaiz
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/qjbtkg48

Abstract

Abrahamic theology serves as a conceptual framework that positions the Prophet Abraham (Abraham) as a central figure in the Jewish, Christian, and Islamic religious traditions. These three religions have interconnected genealogical and theological roots, particularly in the affirmation of monotheism, respect for the prophetic tradition, and a moral commitment to the values ​​of justice and ethical responsibility. Abraham is seen as an exemplar of devout faith in God, so that narratives about him form a strong theological foundation for each religion, although interpreted through different doctrinal perspectives. Throughout history, relations between Judaism, Christianity, and Islam have developed dynamically. These relationships have been characterized not only by dialogue and intellectual exchange, but also by tensions triggered by theological differences, political interests, and the surrounding socio-cultural context. Differing views on prophecy, salvation, and the authority of revelation often trigger conflict, but at the same time also open up space for critical reflection and the enrichment of religious thought. The results of this study indicate that behind these fundamental differences, there are universal Abrahamic values. The values ​​of monotheism, justice, compassion, and moral responsibility constitute a common foundation that can serve as a meeting point between faiths. In the context of contemporary pluralistic societies, Abrahamic theology offers a relevant ethical framework for responding to the challenges of intolerance, identity conflict, and religious radicalism. By emphasizing shared fundamental values, this theology has the potential to strengthen interfaith dialogue, foster harmonious coexistence, and foster sustainable reconciliation and peace. Abstrak Teologi Abrahamik berfungsi sebagai kerangka konseptual yang menempatkan Nabi Ibrahim (Abraham) sebagai figur sentral dalam tradisi keagamaan Yahudi, Kristen, dan Islam. Ketiga agama ini memiliki akar genealogis dan teologis yang saling berkaitan, terutama dalam penegasan ajaran monoteisme, penghormatan terhadap tradisi kenabian, serta komitmen moral terhadap nilai keadilan dan tanggung jawab etis. Ibrahim dipandang sebagai teladan iman yang taat kepada Tuhan, sehingga narasi tentang dirinya membentuk fondasi teologis yang kuat bagi masing-masing agama, meskipun ditafsirkan melalui perspektif doktrinal yang berbeda. Dalam perjalanan sejarah, relasi antara Yahudi, Kristen, dan Islam berkembang secara dinamis. Hubungan tersebut tidak hanya diwarnai oleh dialog dan pertukaran intelektual, tetapi juga oleh ketegangan yang dipicu oleh perbedaan teologis, kepentingan politik, serta konteks sosial-budaya yang melingkupinya. Perbedaan pandangan tentang kenabian, keselamatan, dan otoritas wahyu sering kali menjadi faktor pemicu konflik, namun pada saat yang sama juga membuka ruang bagi refleksi kritis dan pengayaan pemikiran keagamaan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa di balik perbedaan fundamental tersebut, terdapat nilai-nilai Abrahamik yang bersifat universal. Nilai tauhid, keadilan, kasih sayang, dan tanggung jawab moral merupakan landasan bersama yang dapat menjadi titik temu antariman. Dalam konteks masyarakat plural kontemporer, teologi Abrahamik menawarkan kerangka etis yang relevan untuk merespons tantangan intoleransi, konflik identitas, dan radikalisme keagamaan. Dengan menekankan persamaan nilai dasar, teologi ini berpotensi memperkuat dialog antaragama, menumbuhkan kehidupan bersama yang harmonis, serta mendorong rekonsiliasi dan perdamaian yang berkelanjutan
Perjanjian Ilahi dan Konsep Ketuhanan sebagai Basis Keimanan dalam Agama Yahudi Serlly Della Ressa; Rahmawati; Ahmad Jaiz
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/qdt2dd86

Abstract

This study aims to examine in depth the sacred covenant (Brit) and the concept of God as the primary foundation for the formation of faith in Judaism. In Jewish tradition, faith is not understood solely as a theological recognition of the oneness of God (YHWH), but rather as a spiritual commitment manifested through concrete obedience to divine laws. Faith is thus closely intertwined with the theological, ethical, and practical dimensions of everyday Jewish life. This study uses a qualitative approach with a literature analysis method, sourced from Jewish scriptures, classical and contemporary theological works, and scientific articles relevant to the study of divinity and the sacred covenant in Judaism. The results of the study indicate that the concept of divinity in Judaism affirms absolute monotheism that positions God as a transcendent, sacred reality, and beyond the boundaries of the material world. This view demands that believers live a law-abiding, morally disciplined, and ethically oriented life as a concrete manifestation of faith. Furthermore, the sacred covenant between God and the Israelites serves as a pillar of religious identity that shapes the collective belief patterns of the Jewish people. Brit is not only interpreted spiritually, but also encompasses moral and social responsibilities embodied in the practice of Torah and mitzvot. Thus, faith in Judaism is built through the integral relationship between the idea of ​​divinity, the sacred covenant, and the practice of obedience, which simultaneously underpins the religious and ethical life of the Jewish people.  Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam perjanjian suci (Brit) dan gagasan tentang Tuhan sebagai fondasi utama pembentukan keyakinan dalam agama Yahudi. Dalam tradisi Yahudi, keyakinan tidak dipahami semata-mata sebagai pengakuan teologis terhadap keesaan Tuhan (YHWH), melainkan sebagai komitmen spiritual yang diwujudkan melalui ketaatan konkret terhadap hukum-hukum ilahi. Keyakinan dengan demikian terjalin erat antara dimensi teologis, etis, dan praksis kehidupan sehari-hari umat Yahudi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis literatur, yang bersumber dari kitab-kitab suci Yahudi, karya-karya teologi klasik dan kontemporer, serta artikel ilmiah yang relevan dengan kajian ketuhanan dan perjanjian suci dalam Yudaisme. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa konsep ketuhanan dalam agama Yahudi menegaskan monoteisme absolut yang menempatkan Tuhan sebagai realitas transenden, suci, dan melampaui batas-batas dunia material. Pandangan ini menuntut umat untuk menjalani kehidupan yang taat hukum, berdisiplin moral, dan berorientasi etis sebagai wujud nyata dari keyakinan. Lebih lanjut, perjanjian suci antara Tuhan dan bangsa Israel berfungsi sebagai pilar identitas keagamaan yang membentuk pola keyakinan kolektif masyarakat Yahudi. Brit tidak hanya dimaknai secara spiritual, tetapi juga memuat tanggung jawab moral dan sosial yang diwujudkan dalam pengamalan Torah dan mitzvot. Dengan demikian, keyakinan dalam agama Yahudi dibangun melalui relasi integral antara gagasan ketuhanan, perjanjian suci, dan praktik kepatuhan, yang secara simultan menopang kehidupan religius sekaligus etis umat Yahudi
Ekosistem Dan Peran Lembaga Keagamaan Yahudi Dalam Pembentukan Identitas Sosial Dan Spiritualitas Komunitas Yahudi Fika; Tasya; Ahmad Jaiz
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/hw7gxq61

Abstract

This research examines the institutional dynamics of Judaism as the oldest Abrahamic religion that underwent a fundamental transformation after the destruction of the Second Temple in 70 CE. This historical event triggered a profound institutional crisis, due to the loss of the main center of worship based on the cult of sacrifice. This condition prompted a process of re-institutionalization pioneered by Rabbi Yohanan ben Zakkai in Yamnia (Yavneh), by shifting religious orientation from the Temple to the authority of sacred texts and intellectual traditions, especially the Torah, Talmud, and Halakha. This research uses a descriptive qualitative approach through a literature study of classical and modern sources, to analyze the main elements of Jewish institutions, including the synagogue as the center of worship and community life, rabbinic authority, religious educational institutions (yeshivas), and the development of modern denominations such as Orthodox, Reform, and Conservative. The results of the study indicate that the institutional resilience of Judaism is built through a synergy between the ritual, legal, and social dimensions that reinforce each other. Synagogues function not only as prayer spaces but also as educational, social, and community identity centers, while rabbinic authority gains legitimacy through its interpretive power over sacred texts. The intertextuality between the Tanakh, Talmud, and Midrash has been shown to strengthen this authority and maintain the cohesion of religious identity amidst Diaspora life. Furthermore, this study finds significant institutional divergence between the Israeli and American contexts, where Israel is dominated by the Orthodox Chief Rabbinate, while in the United States, Reform and Conservative denominations are more developed and adapt to modern values. Abstrak Penelitiannya ini mengkaji dinamika kelembagaan Yudaisme sebagai agama Abrahamik tertua yang mengalami transformasi fundamental pasca-penghancuran Bait Suci Kedua pada tahun 70 M. Peristiwa historis tersebut memicu krisis institusional yang mendalam, karena hilangnya pusat ibadah utama berbasis kultus kurban. Kondisi ini mendorong proses institusionalisasi ulang yang dipelopori oleh Rabi Yohanan ben Zakkai di Yamnia (Yavneh), dengan mengalihkan orientasi keagamaan dari Bait Suci menuju otoritas teks suci dan tradisi intelektual, khususnya Taurat, Talmud, dan Halakha. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi pustaka terhadap sumber-sumber klasik dan modern, guna menganalisis elemen-elemen utama kelembagaan Yahudi, meliputi sinagoga sebagai pusat ibadah dan kehidupan komunitas, otoritas rabinik, lembaga pendidikan keagamaan (yeshiva), serta perkembangan denominasi modern seperti Ortodoks, Reformasi, dan Konservatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketahanan institusional Yudaisme terbangun melalui sinergi antara dimensi ritual, hukum, dan sosial yang saling menguatkan. Sinagoga berfungsi tidak hanya sebagai ruang ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan, sosial, dan identitas komunitas, sementara otoritas rabinik memperoleh legitimasi melalui kemampuan interpretatif atas teks-teks suci. Intertekstualitas antara Tanakh, Talmud, dan Midrash terbukti memperkuat otoritas tersebut serta menjaga kohesi identitas keagamaan di tengah kehidupan Diaspora. Selain itu, penelitian ini menemukan adanya divergensi kelembagaan yang signifikan antara konteks Israel dan Amerika Serikat, di mana Israel didominasi oleh Rabbinate Kepala Ortodoks, sedangkan di Amerika Serikat lebih berkembang denominasi Reformasi dan Konservatif yang adaptif terhadap nilai-nilai modernitas.