Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Prevalensi Jenis Kelamin dan Usia Pasien Suspek Tuberkulosis (TB) Terhadap Hasil Pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM) Menggunakan GeneXpert di RSUD Bahteramas Darmayanita Wenty; Ani Umar; Heni Umar; Fika
Jurnal Analis Kesehatan Kendari Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Analis Kesehatan Kendari (JAKK) : Vol. 7 (2) Juni 2025)
Publisher : Program Study of Medical Laboratory Technology , Politeknik Bina Husada Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46356/jakk.v7i2.353

Abstract

Tuberculosis (TB) is one of the infectious diseases that is still a global health problem, including in Indonesia. Examination using Molecular Rapid Test (TCM) is an effective method in detecting TB and resistance to rifampicin. This study aims to determine the prevalence of gender and age of suspected TB patients against the results of TCM examination at Bahteramas Hospital. This study is a quantitative descriptive study with a retrospective approach. Data were obtained from the results of TCM examinations on 309 suspected TB patients conducted at Bahteramas Regional Hospital. The variables analyzed included age, gender, and TCM results, which were categorized as Rifampicin Sensitive (Rif Sen), Rifampicin Resistant (Rif Res), and Negative. The results of this study are that of the 309 patients, the majority were over 46 years old (60.2%) and male (54.4%). The results of the TCM examination showed that 59 patients (19.1%) were detected with rifampicin-sensitive TB, 9 patients (2.9%) with rifampicin-resistant TB, and 241 patients (78%) had negative results. Most patients with positive TB results came from the age group >46 years and were male. The conclusion of this study is that there is a tendency that elderly and male patients have a higher prevalence of positive TCM results. These results indicate the importance of active screening and early detection in certain age groups and genders for TB control.
Orang Tua, Modal Agama, dan Pengetahuan Dalam Pengembangan Kecerdasan IESQ Anak Fika
Jurnal Psikologi Islam Vol. 8 No. 2 (2021): Jurnal Psikologi Islam
Publisher : Asosiasi Psikologi Islam (API) Himpsi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47399/jpi.v8i2.120

Abstract

This study aims to explain the forms and patterns of parental roles, as well as the relationship between parental roles and religious capital, as well as knowledge about children's IESQ development. The research method used is library research, with descriptive analytical techniques used in qualitative data analysis and psychological approaches. By investigating the forms and patterns of parental roles in parenting, as well as the relationship between parental roles and religious capital, and knowledge of children's IESQ development. The theoretical analysis uses Albert Bandura's Social Cognitive theory, which is known as an imitation-based learning model. The imitation in question is imitating what he sees around him, which can include teachers, parents, and playmates. Parents with strong religious capital or knowledge can demand obedience and become good role models for their children's mental, personal and behavioral development. If parents are accustomed to acting and having noble character, being obedient to God, carrying out religious laws, and having a social spirit, the traits that exist in their parents will appear and be formed in the child, because he will see and imitate what he sees in his daily life. based on the actions of their parents. Parental knowledge is also very important in developing children's IES intelligence, because parents can accompany and develop children's intelligence as much as possible. As the key to developing children's IES intelligence, the family environment, especially parents, plays an important role in directing and developing the potential of each child optimally.
Ekosistem Dan Peran Lembaga Keagamaan Yahudi Dalam Pembentukan Identitas Sosial Dan Spiritualitas Komunitas Yahudi Fika; Tasya; Ahmad Jaiz
AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2025): AL-Ikhtiar : Jurnal Studi Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/hw7gxq61

Abstract

This research examines the institutional dynamics of Judaism as the oldest Abrahamic religion that underwent a fundamental transformation after the destruction of the Second Temple in 70 CE. This historical event triggered a profound institutional crisis, due to the loss of the main center of worship based on the cult of sacrifice. This condition prompted a process of re-institutionalization pioneered by Rabbi Yohanan ben Zakkai in Yamnia (Yavneh), by shifting religious orientation from the Temple to the authority of sacred texts and intellectual traditions, especially the Torah, Talmud, and Halakha. This research uses a descriptive qualitative approach through a literature study of classical and modern sources, to analyze the main elements of Jewish institutions, including the synagogue as the center of worship and community life, rabbinic authority, religious educational institutions (yeshivas), and the development of modern denominations such as Orthodox, Reform, and Conservative. The results of the study indicate that the institutional resilience of Judaism is built through a synergy between the ritual, legal, and social dimensions that reinforce each other. Synagogues function not only as prayer spaces but also as educational, social, and community identity centers, while rabbinic authority gains legitimacy through its interpretive power over sacred texts. The intertextuality between the Tanakh, Talmud, and Midrash has been shown to strengthen this authority and maintain the cohesion of religious identity amidst Diaspora life. Furthermore, this study finds significant institutional divergence between the Israeli and American contexts, where Israel is dominated by the Orthodox Chief Rabbinate, while in the United States, Reform and Conservative denominations are more developed and adapt to modern values. Abstrak Penelitiannya ini mengkaji dinamika kelembagaan Yudaisme sebagai agama Abrahamik tertua yang mengalami transformasi fundamental pasca-penghancuran Bait Suci Kedua pada tahun 70 M. Peristiwa historis tersebut memicu krisis institusional yang mendalam, karena hilangnya pusat ibadah utama berbasis kultus kurban. Kondisi ini mendorong proses institusionalisasi ulang yang dipelopori oleh Rabi Yohanan ben Zakkai di Yamnia (Yavneh), dengan mengalihkan orientasi keagamaan dari Bait Suci menuju otoritas teks suci dan tradisi intelektual, khususnya Taurat, Talmud, dan Halakha. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi pustaka terhadap sumber-sumber klasik dan modern, guna menganalisis elemen-elemen utama kelembagaan Yahudi, meliputi sinagoga sebagai pusat ibadah dan kehidupan komunitas, otoritas rabinik, lembaga pendidikan keagamaan (yeshiva), serta perkembangan denominasi modern seperti Ortodoks, Reformasi, dan Konservatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketahanan institusional Yudaisme terbangun melalui sinergi antara dimensi ritual, hukum, dan sosial yang saling menguatkan. Sinagoga berfungsi tidak hanya sebagai ruang ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan, sosial, dan identitas komunitas, sementara otoritas rabinik memperoleh legitimasi melalui kemampuan interpretatif atas teks-teks suci. Intertekstualitas antara Tanakh, Talmud, dan Midrash terbukti memperkuat otoritas tersebut serta menjaga kohesi identitas keagamaan di tengah kehidupan Diaspora. Selain itu, penelitian ini menemukan adanya divergensi kelembagaan yang signifikan antara konteks Israel dan Amerika Serikat, di mana Israel didominasi oleh Rabbinate Kepala Ortodoks, sedangkan di Amerika Serikat lebih berkembang denominasi Reformasi dan Konservatif yang adaptif terhadap nilai-nilai modernitas.
Education on the Use of Antibiotics in the Community of Visitors to the Pesut Kita Samarinda Tourist Ship: Edukasi Penggunaan Antibiotik Pada Masyarakat Pengunjung Kapal Wisata Pesut Kita Samarinda Wijaya, Muhammad Rega Septa; Sekarwati, Dian; Likrah, Vira Saphira; Fika
Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2025): Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat
Publisher : Progran Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpm.v6i2.644

Abstract

Penyakit infeksi menjadi tantangan utama di negara berkembang seperti Indonesia, dimana antibiotik sering digunakan sebagai pengobatan utama. Namun, penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan resistensi antibiotik, mengurangi efektivitas pengobatan, dan meningkatkan angka kesakitan serta biaya perawatan. Faktor utama resistensi adalah penggunaan antibiotik tanpa resep dokter dan kurangnya pemahaman masyarakat tentang penggunaan yang rasional. Promosi kesehatan dan edukasi menjadi kunci dalam meningkatkan kesadaran masyarakat agar menggunakan antibiotik secara bijak, mengurangi swamedikasi, dan menekan laju resistensi. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat pengunjung di Kapal Wisata Pesut Kita Samarinda, Kalimantan Timur terhadap penggunaan antibiotik yang tepat. Metode pelaksanaan meliputi penyampaian materi melalui leaflet, penyuluhan langsung, serta pengisian kuesioner untuk menilai tingkat pemahaman dan persepsi peserta. Gambaran tingkat pengetahuan peserta sebelum dilakukan edukasi kesehatan pada kategori baik sebanyak 3 (13.6%), kategori cukup sejumlah 8 (36.4%), dan kategori kurang sejumlah 11 (50.0%). Setelah dilakukan edukasi kesehatan diperoleh hasil tingkat pengetahuan kategori baik sebanyak 7 (31.8%), kategori cukup sejumlah 11 (50.0%), dan kategori kurang sejumlah 4 (18.2%). Hasil ini menunjukkan terjadinya peningkatan tingkat pengetahuan masyarakat tentang penggunaan antibiotik yang benar dan bahaya resistensi antibiotik. Kegiatan ini menunjukkan bahwa edukasi berbasis komunitas di ruang publik seperti Kapal Wisata Samarinda efektif dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat terkait penggunaan antibiotik. Kedepannya, kegiatan serupa diharapkan dapat diperluas dan disertai evaluasi berkelanjutan untuk mendorong perubahan perilaku terkait penggunaan antibiotik secara lebih konsisten.