Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Jurnal Kesehatan Reproduksi

A STUDY OF MISINFORMATION EXPOSURE OF COVID-19 VACCINE AND THE WILLINGNESS TO BE VACCINATED IN TANGERANG SELATAN CITY, INDONESIA Raihana Nadra Alkaff; Narila Mutia Nasir; Dela Aristi; Jihan Fadilah Faiz
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 12 No 1 (2021): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 12 NOMOR 1 TAHUN 2021
Publisher : IAKMI South Tangerang Branch

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58185/jkr.v12i1.3

Abstract

Abstract Background: COVID-19 vaccine is important to reduce the spread of transmission. However, the objection occurred might be caused by the circulation of misinformation of COVID-19 vaccine through social media. Objective: This study aimed to assess the misinformation exposure of COVID-19 vaccine and its related factors and to identify the association between misinformation exposure of COVID-19 vaccine and the willingness to be vaccinated. Method: A cross-sectional study was conducted on people age 18-34 years in Tangerang Selatan City. Using convenience sampling, we recruited 227 respondents who filled an online questionnaire through a google form. Data were analyzed using the chi-square test, fisher’s exact test, and logistic regression. Result: Respondents who did not have sufficient internet balance were 2.197 more likely to have misinformation exposure. Respondents whose friends were ignorant if they spread misinformation were 2.1 times more likely to get misinformation. Respondents whose friends disseminated misinformation were 1.9 times more likely to get exposed to misinformation of the COVID-19. This study found no significant relationship between misinformation exposure of COVID-19 vaccine and willingness to be vaccinated. Conclusion: Peer influence regarding exposure to COVID-19 vaccine misinformation is very important. Developing a peer educator model is prominent to encourage the role of young people to end the pandemic. Keywords: Misinformation, COVID-19 Vaccine, Young People, Peer, Indonesia   Abstrak Latar Belakang: Vaksin COVID-19 sangat penting dalam upaya mengurangi penyebaran penularan. Namun, penolakan terhadap vaksin yang terjadi mungkin disebabkan oleh beredarnya misinformasi tentang vaksin COVID-19 melalui media sosial. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji paparan misinformasi vaksin COVID-19 dan faktor-faktor yang terkait serta mengidentifikasi hubungan antara paparan misinformasi vaksin COVID-19 dengan keinginan untuk divaksinasi. Metode: Studi potong lintang dilakukan pada orang berusia 18-34 tahun di Kota Tangerang Selatan. Dengan menggunakan metode convenience sampling, kami merekrut 227 responden yang mengisi kuesioner secara online melalui google form. Data dianalisis menggunakan uji chi-square, uji Fisher, dan regresi logistik. Hasil: Responden yang tidak memiliki kuota internet cenderung 2,197 kali untuk terpapar misinformasi. Responden yang temannya tidak peduli jika mereka menyebarkan misinformasi memiliki kemungkinan 2.1 kali lebih besar untuk mendapatkan misinformasi. Responden yang memiliki teman yang menyebarkan misinformasi cenderung 1,9 kali lebih besar untuk terpapar misinformasi. Studi ini tidak menemukan hubungan yang signifikan antara paparan misinformasi COVID-19 dan kesediaan untuk divaksinasi. Kesimpulan: Pengaruh teman sebaya terkait paparan misinformasi vaksin COVID-19 sangat penting. Pengembangan model pendidik sebaya sangat penting untuk mendorong kontribusi kaum muda dalam mengakhiri pandemi. Kata kunci: Misinformasi, Vaksin COVID-19, kaum muda, Teman Sebaya, Indonesia
GAMBARAN PERILAKU PEMBERIAN IMUNISASI DASAR BALITA OLEH ISTRI KYAI Aike Wella Bil Bariyah; Raihana Nadra Alkaff
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 13 No 1 (2022): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 13 NOMOR 1 TAHUN 2022
Publisher : IAKMI South Tangerang Branch

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58185/jkr.v13i1.39

Abstract

Abstract Latar belakang: Angka Kematian Bayi dan Angka Kematian Balita di Indonesia masih tinggi yang salah satunya diakibatkan rendahnya cakupan imunisasi dasar balita. Penolakan pemberian imunisasi dasar balita salah satunya dipengaruhi oleh tokoh agama yaitu istri kyai atau nyai. Nyai merupakan publik figur bagi santri wanita dan juga masyarakat sekitar. Sehingga perlu dilakukan penelitian lebih dalam terkait persepsi nyai dalam pemberian imunisasi dasar balita.  Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran terkait perilaku pemberian imunisasi dasar balita yang dilakukan oleh istri kyai.  Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif. Pemilihan informan dilakukan dengan cara Snowball sampling. Pengumpulan data menggunakan data primer melalui wawancara mendalam yang dilakukan dengan analisis konten pada enam informan utama dan dua informan kunci, satu informan pendukung.  Hasil: Gambaran perilaku pemberian imunisasi dasar diketahui mayoritas informan telah memberikan imunisasi dasar pada balita, namun masih terdapat juga informan yang menolak. Penolakan pemberian imunisasi dasar balita bukan karena faktor agama melainkan anggapan persepsi kerentanan yang dimiliki istri kyai menganggap bahwa penularan penyakit tidak berasal dari virus melainkan perilaku ibu balita sendiri yang meminum es pada saat masih menyusui balita, juga persepsi bahwa imunisasi merupakan bahan kimia yang dapat merusak antibodi alamiah pada bayi.  Kesimpulan: Masih terdapat penolakan pemberian imunisasi balita, sehingga dinas kesehatan perlu mengadakan edukasi terkait imunisasi dasar balita yang melibatkan tokoh masyarakat juga membuat kebijakan bahwa setiap pondok pesantren harus memiliki Poskestren. Petugas kesehatan puskesmas membuat kegiatan diklat (pendidikan dan pelatihan) kepada para tokoh agama
HEALTH PROFILE OF INDUSTRIAL FEMALE WORKERS AND THEIR REPRODUCTIVE HEALTH RISK IN BEKASI DISTRICT, INDONESIA Narila Mutia Nasir; Febrianti Febrianti; Iting Shofwati; Raihana Nadra Alkaff; Dela Aristi
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 13 No 2 (2022): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 13 NOMOR 2 TAHUN 2022
Publisher : IAKMI South Tangerang Branch

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58185/jkr.v13i2.42

Abstract

Abstract Background: Maternal and child morbidity and mortality remains problems in Indonesia. Based on the life cycle approach, the improvement should be done before the pregnancy which targeted to reproductive age women. One group that need attention is industrial female workers. It is crucial to know their health profile and reproductive health risk they may have. Objective: to describe the health profile of industrial female workers and their reproductive health risk in Bekasi District, Indonesia Method: We used cross sectional study design and involved 386 industrial female workers who live in Bekasi Disrict as respondents. The data collection was carried out during November 2021. We interviewed the respondents using questionnaire and measured their body mass index, total body fat, visceral fat, blood pressure, and random blood sugar. We analysed the data using univariate analysis. Result:. The respondent who categorized as obese based on body mass index (52.8%), total body fat (72%), visceral fat (9.8%). 11.9% respondents were suspected to hypertension, while 26.9% were suspected to hypertension according to diastole blood pressure measurement. The distribution of respondents who had potential risk to get diabetes was 2.3%. The anemia status of respondents was 10.4%. The result analysis shows that 88.3 % of respondents had risk to experience during pregnancy, delivery, and risk to have stunted baby because their health profile.  Conclusion: The health profile of industrial female workers in this study indicated they have risk to obesity, diabetes mellitus and hypertension. This health profile placed them to the reproductive health risk, especially related to pregnancy and delivery. They also have risk to have stunted baby if they experience pregnancy. Keywords:, Female workers, industrial, health profile, reproductive health risk, Indonesia