Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Sikap Remaja Putri Tentang Pramenstruasi Syndrom dengan Gejala Pramenstruasi Syndrom pada Siswa SMA Assanadiyah Palembang Tahun 2020 Mariyam Mariyam; Junawalia Mayang Sari; Angges Angges
KOLONI Vol. 1 No. 4 (2022): DESEMBER 2022
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/koloni.v1i4.90

Abstract

PMS (Premenstrual Syndrome) is a symptom experienced by women 1-2 weeks before menstruation. Most women more than 90% experience premenstrual symptoms such as bloating, headaches and sadness. These symptoms can affect women who are lazy to move. Many young women do not understand the importance of attitude in overcoming the symptoms of premenstrual syndrome, so they are not treated thoroughly. Negative attitudes in dealing with premenstrual syndrome will influence overcoming the premenstrual syndrome period. The aim of this study was to find out the relationship between the attitudes of young women about premenstrual syndrome and the symptoms of premenstrual syndrome in female students at Assanadiyah Palembang High School in 2020. The research used the Analytic Survey method with a Cross Sectional Study Approach. The research population was all young women totaling 117 respondents. The results of the study showed that there were 62 female adolescents who had a positive attitude towards the symptoms of premenstrual syndrome (52.9%) compared to female adolescents who had a negative attitude towards the symptoms of premenstrual syndrome, namely 55 persons (47.1%). More teenage girls experienced symptoms of premenstrual syndrome, namely 61 people (52.1%), compared to young women who did not have symptoms of premenstrual syndrome, namely 56 people (47.9%). The results of the Chi-Square statistical test obtained a p_value (0.004) < α (0.05), which means that there is a significant relationship between the attitudes of young women about premenstrual syndrome and the symptoms of premenstrual syndrome at SMA Assanadiyah Palembang. It is hoped that young women can increase their knowledge and education about attitudes towards premenstrual syndrome or symptoms before menstruation, both physically and psychologically. Keywords: Attitude of young women, premenstrual syndrome.
Pengaruh Edukasi Kesehatan Reproduksi Melalui Media Sosial Terhadap Literasi Kesehatan Remaja Tahun 2026: The Impact of Reproductive Health Education via Social Media on Adolescent Health Literacy in 2026 Junawalia Mayang Sari; Cakrawati R Cakrawati R
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1809

Abstract

Latar Belakang: Remaja membutuhkan informasi kesehatan reproduksi yang akurat, mudah dipahami, dan sesuai dengan tahap perkembangannya. Media sosial berpotensi menjadi sarana edukasi karena banyak digunakan remaja untuk memperoleh dan berbagi informasi. Namun, informasi yang tidak terverifikasi dapat menimbulkan pemahaman keliru sehingga diperlukan edukasi digital yang terstruktur. Tujuan: Menganalisis pengaruh edukasi kesehatan reproduksi melalui media sosial terhadap literasi kesehatan remaja tahun 2026. Metode: Penelitian menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan pretest–posttest dan kelompok kontrol. Penelitian direncanakan berlangsung pada Mei–Juli 2026 di salah satu wilayah pendidikan. Sampel sebanyak 121 remaja dibagi menjadi kelompok intervensi sebanyak 61 orang dan kelompok kontrol sebanyak 60 orang. Kelompok intervensi memperoleh edukasi kesehatan reproduksi melalui media sosial selama empat minggu, sedangkan kelompok kontrol memperoleh edukasi standar berupa materi tertulis. Literasi kesehatan diukur menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah intervensi. Analisis menggunakan uji berpasangan dan uji beda antarkelompok dengan tingkat kemaknaan α=0,05. Hasil: Rerata skor literasi kesehatan pada kelompok intervensi meningkat dari 62,8±9,6 menjadi 83,7±7,8, sedangkan kelompok kontrol meningkat dari 63,4±9,2 menjadi 70,1±8,7. Perubahan skor pada kelompok intervensi sebesar 20,9 poin dan kelompok kontrol sebesar 6,7 poin. Perbedaan perubahan antarkelompok sebesar 14,2 poin dan bermakna secara statistik (p<0,001). Kesimpulan: Edukasi kesehatan reproduksi melalui media sosial berhubungan dengan peningkatan literasi kesehatan remaja yang lebih besar dibandingkan edukasi standar. Penggunaan media sosial sebagai sarana edukasi perlu disertai sumber informasi terpercaya, bahasa sesuai usia, dan pendampingan yang tepat