Latar Belakang: Remaja membutuhkan informasi kesehatan reproduksi yang akurat, mudah dipahami, dan sesuai dengan tahap perkembangannya. Media sosial berpotensi menjadi sarana edukasi karena banyak digunakan remaja untuk memperoleh dan berbagi informasi. Namun, informasi yang tidak terverifikasi dapat menimbulkan pemahaman keliru sehingga diperlukan edukasi digital yang terstruktur. Tujuan: Menganalisis pengaruh edukasi kesehatan reproduksi melalui media sosial terhadap literasi kesehatan remaja tahun 2026. Metode: Penelitian menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan pretest–posttest dan kelompok kontrol. Penelitian direncanakan berlangsung pada Mei–Juli 2026 di salah satu wilayah pendidikan. Sampel sebanyak 121 remaja dibagi menjadi kelompok intervensi sebanyak 61 orang dan kelompok kontrol sebanyak 60 orang. Kelompok intervensi memperoleh edukasi kesehatan reproduksi melalui media sosial selama empat minggu, sedangkan kelompok kontrol memperoleh edukasi standar berupa materi tertulis. Literasi kesehatan diukur menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah intervensi. Analisis menggunakan uji berpasangan dan uji beda antarkelompok dengan tingkat kemaknaan α=0,05. Hasil: Rerata skor literasi kesehatan pada kelompok intervensi meningkat dari 62,8±9,6 menjadi 83,7±7,8, sedangkan kelompok kontrol meningkat dari 63,4±9,2 menjadi 70,1±8,7. Perubahan skor pada kelompok intervensi sebesar 20,9 poin dan kelompok kontrol sebesar 6,7 poin. Perbedaan perubahan antarkelompok sebesar 14,2 poin dan bermakna secara statistik (p<0,001). Kesimpulan: Edukasi kesehatan reproduksi melalui media sosial berhubungan dengan peningkatan literasi kesehatan remaja yang lebih besar dibandingkan edukasi standar. Penggunaan media sosial sebagai sarana edukasi perlu disertai sumber informasi terpercaya, bahasa sesuai usia, dan pendampingan yang tepat
Copyrights © 2026