Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ISU BORDERLESS DAN DUAL NATIONALITIES: Pemicu Disintegrasi Bangsa di Perbatasan Indonesia-Timor Leste Yohanis Kristianus Tampani
Lencana: Jurnal Inovasi Ilmu Pendidikan Vol. 1 No. 1 (2023): Januari : Jurnal Inovasi Ilmu Pendidikan
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1065.266 KB) | DOI: 10.55606/lencana.v1i1.893

Abstract

Isu Borderless dan Dual Nationalities : Pemicu disintegrasi bangsa di perbatasan Indonesia-Timor Leste. Metode dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan yakni mengumpulkan atau melakukan studi dokumen terhadap sumber dan literatur-literatur yang terkait dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Isu Borderless merupakan suatu keadaan di mana batas-batas yang ada dalam suatu masyarakat kian memudar. Tak ada batasan-batasan yang mengatur perilaku-perilaku seseorang dalam bertindak dan menilai sebuah tindakan. Infrastruktur yang memadai, maka komunikasi menjadi sulit dan tidak akan tercipta dan perhatian yang diberikan oleh Pemerintah, kadangkala juga bisa membuat permasalahan yang terjadi di daerah perbatasan. Pemerintah lebih giat dalam menekankan program-programnya hanya pada wilayah tertentu hal tersebut sering menimbulkan kecemburuan sosial dari wilayah-wilayah lain yang belum terjangkau program dari pemerintah tersebut. Dari situlah, bibit-bibit konflik mulai muncul, bahkan jika konflik atau masalah tersebut tidak segera ditanggulangi, akan menjadikan suatu ancaman yang besar, dan justru membahayakan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Di lain pihak banyak warga masyarakat Timor-Timur yang masih memegang paspor Republik Indonesia (RI) yang secara hukum masih berstatus WNI yang secara de facto merupakan warga negara Timor-Timur tapi secara de jure merupakan warga negara Indonesia (warga Indonesia pasif) sehingga dapat disimpulkan terdapatnya tiga kategori kewarganegaraan yakni kewarganegaraan ganda (dual nationalities), tanpa kewarganegaraan, dan kewarganegaraan pasif. Peran pembelajaran sejarah sebagai upaya menanamkan nilai-nilai nasionalisme untuk memberi peringatan kepada kita tentang pentingnya memahami identitas kebangsaan yang kita miliki dengan cara menengok kembali kepada masa lalu waktu identitas tersebut terbentuk.
Hase Hawaka Dan Natoni Sebagai Sumber Sejarah Lisan Di Timor Yohanis Kristianus Tampani
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.6848

Abstract

Hase hawaka dan natoni merupakan sebuah upacara adat berupa sapaan adat yang dilakukan dengan cara bertutur oleh seorang penutur dan didampingi oleh beberapa orang sebagai penegas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode riset kepustakaan (library recearch). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam upacara adat hase hawaka dan natoni terdapat tiga komponen penting di dalamnya, yakni: pertama, pembicara (penutur). Seorang penutur dalam tradisi hase hawaka dan natoni harus menguasai tradisi tersebut. Peran tersebut bukan sembarangan orang melainkan seorang tetua adat atau pemangku adat yang sudah ditunjuk atau seseorang yang sudah diwahyukan. Seorang penutur adalah seseorang yang secara spiritual sudah ditentukan oleh leluhur (ancestor). Kedua, lawan bicara. Sebagai seorang penutur, bisa menguasai situasi di mana kegiatan dilakukan. Ketiga, hal yang dibicarakan. Seorang penutur harus pandai memilih frasa yang sesuai dengan jenis kegiatan yang laksanakan. Oleh karena itu, tutur adat hase hawaka dan natoni secara implisit dapat menghadirkan perspektif historiografi baik sejarah lisan maupun tradisi lisan yang dapat memberikan sumber-sumber lisan yang akurat dan faktual.
Peran Guru Sejarah Dalam Implementasi Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) Bermuatan Kearifan Lokal Sebagai Upaya Penguatan Identitas Budaya Lokal Peserta Didik di SMA Swasta Cendana Boas Yanriani Aquina Asa; Augusta De Jesus Magalhaes; Antonius Bere; Yohanis Kristianus Tampani
Kajang: Jurnal Teknopedagogi Nusantara Vol. 1 No. 2 (2026): Kajang: Jurnal Teknopedagogi Nusantara
Publisher : Susilo Academic Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67200/kajang.v1i2.16

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran guru sejarah dalam implementasi Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) bermuatan kearifan lokal, khususnya unsur budaya lokal (pangan lokal), sebagai strategi penguatan identitas budaya peserta didik di SMA Swasta Cendana Boas. Dalam konteks Kurikulum Merdeka, P5 menjadi media penting untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila melalui pendekatan berbasis proyek yang relevan dengan lingkungan sosial dan budaya peserta didik. Guru sejarah memainkan peran strategis sebagai perancang, pelaksana, sekaligus pembimbing dalam mengintegrasikan nilai-nilai sejarah dan budaya lokal ke dalam kegiatan pembelajaran. Melalui metode kualitatif deskriptif, penelitian ini menemukan bahwa keterlibatan guru dalam menghadirkan tema-tema lokal seperti kepercayaan tradisional, praktik adat, dan narasi sejarah lokal mampu meningkatkan kesadaran budaya peserta didik serta memperkuat jati diri mereka sebagai bagian dari komunitas budaya lokal. P5 yang dikemas dengan muatan kearifan lokal terbukti efektif dalam membentuk pelajar yang berkarakter, berwawasan kebangsaan, serta menjunjung nilai-nilai toleransi dan keberagaman.