Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Hans Georg Gadamer's Hermeneutics for News Anchor Reni Sara Indrawati; Fitzerald Kennedy Sitorus
Journal of Social Research Vol. 2 No. 2 (2023): Journal of Social Research
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/josr.v2i2.598

Abstract

Globalization has a significant impact on increasing the need for information through the media in society. Television is one of the means of information that is trusted and easily accessible to the public. News anchors or news anchors on television carry an important role in disseminating information to the public. News anchors are an important part of broadcasting news information on television in realizing pre-planned news show programs. It doesn't stop there, television news anchors play an important capacity in influencing thoughts, persuasion, and shaping public opinion through the information they present to the public. In addition to proper expression and word selection, they are also obliged to deliver news in a language that is easy to understand, and understandable to television viewers. News anchors prepare themselves with information, knowledge, and competence before breaking the news. This paper presents an explanation of how the concept of understanding news texts can be seen from the perspective of Gadamer's hermeneutic philosophy. The research method used in solving the problem is the Hermeneutic analysis of a German philosopher named Gadamer. The news material in a news text is analyzed to bring out a new understanding by the process of mixing two horizons between the text of the news writer and the horizon news anchor along with the theory of communication competence and the study of hermeneutics. Hermeneutics helps news anchors present news well through preconceptions so that there is a melting of horizons and a history of influence that results in an understanding of dialogue or conversation with individuals, groups, and communities in this case the television audience so that a new horizon is reached.
ALLAH DAN TRINITAS Sebuah Pendasaran Dialektis-Filosofis Hegelian Fitzerald Kennedy Sitorus
Jurnal Theologia Forum STFT Surya Nusantara Vol. 7 No. 1 (2019): January
Publisher : Jurnal Theologia Forum STFT Surya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.376 KB)

Abstract

Mengapa gerangan Hegel bagi Protestan tidak seperti Thomas Aquinas bagi Katolik Roma? – Karl Barth Pokok permasalahan agama dan filsafat adalah kebenaran abadi dalam objektivitasnya, yakni Allah dan tidak lain dari Allah dan pemaparan mengenai Allah ... (Karena itu), agama dan filsafat itu identik, perbedaan keduanya adalah kekhasan cara masing-masing dalam memahami Allah tersebut – G.W.F. Hegel Semua hal pada dirinya sendiri adalah kontradiktif – G.W.F. Hegel
Truth, Post Truth, dan Dinamikanya di Indonesia: Sebuah Kajian Literatur Herman Purba; Fitzerald Kennedy Sitorus
Sosial Horizon: Jurnal Pendidikan Sosial Vol 10, No 1 (2023): Sosial Horizon: Jurnal Pendidikan Sosial
Publisher : IKIP PGRI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31571/sosial.v10i1.5001

Abstract

Kriteria kebenaran dalam era modernism merupakan kesesuaian antara apa yang dinyatakan dengan fakta atau realitas yang ada di lapangan. Kriteria kebenaran ini kemudian beralih seiring dengan perkembangan teknologi dan kehadiran internet. Kehadiran media sosial menghasilkan fenomena post-truth yang mana kebenaran saat ini dilihat dari sisi viral atau tidaknya informasi yang disampaikan, bukan merujuk pada fakta. Kualitatif menjadi pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini dan didukung dengan metode literature review. Hasil penelitian menunjukkan bagaimana fenomena post-truth dapat dilihat dan telah berkembang di berbagai bidang kehidupan manusia mulai dari politik, kesehatan, kehidupan sosial dan beragama. Peran dari media massa sangat dibutuhkan untuk mengontrol derasnya informasi yang menyesatkan. Pemerintah juga aktif dalam meningkatkan literasi media dari masyarakat dan menyiapkan layanan dan kerja sama dengan komunitas untuk menekan laju penyebaran post-truth.
Fusion of Horizons: Pemikiran Gadamer Mengenai Dialog dan Pemahaman dalam Kehidupan Manusia Muhammad Nadhif Judhananto; Fitzerald Kennedy Sitorus
Jurnal ISO: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora Vol. 5 No. 1 (2025): June
Publisher : Penerbit Jurnal Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53697/iso.v5i1.2490

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemikiran Hans-Georg Gadamer mengenai proses pemahaman yang bersifat historis, dialogis, dan linguistik, serta relevansinya dalam kajian komunikasi. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka, penelitian ini menganalisis secara mendalam konsep-konsep kunci hermeneutika Gadamer, khususnya tentang peleburan cakrawala, prasangka, dan peran bahasa dalam proses interpretasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut Gadamer, pemahaman tidak bersifat objektif atau metodologis semata, melainkan merupakan hasil interaksi antara cakrawala masa lalu dan masa kini yang dimediasi oleh prasangka dan bahasa. Prasangka tidak dipandang sebagai hambatan, melainkan sebagai prasyarat awal terjadinya pemahaman. Selain itu, bahasa berperan penting sebagai medium utama dalam proses komunikasi dan interpretasi makna. Temuan ini menegaskan bahwa hermeneutika Gadamer memberikan kontribusi signifikan terhadap ilmu komunikasi dan humaniora, karena menekankan pentingnya dialog, keterbukaan terhadap perspektif lain, dan kesadaran historis dalam proses memahami suatu makna.
Idle Talk dalam Penyampaian Berita di Media Sosial: Analisis Perspektif Martin Heidegger Trifena Feisa Samola; Fitzerald Kennedy Sitorus
Jurnal ISO: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora Vol. 5 No. 1 (2025): June
Publisher : Penerbit Jurnal Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53697/iso.v5i1.2494

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi konsep idle talk (Gerede) dalam pemikiran filsuf Martin Heidegger serta mengkaji relevansinya dalam praktik penyampaian berita di media sosial. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana fenomena komunikasi dangkal yang dijelaskan Heidegger tercermin dalam pola penyebaran informasi digital, serta bagaimana hal ini berdampak pada keautentikan eksistensial individu dalam menerima dan merespons informasi. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan filosofis eksistensial dengan analisis kualitatif terhadap konten media sosial seperti Twitter, Facebook, dan YouTube. Penelitian ini menelaah bagaimana informasi yang beredar di platform tersebut sering kali disebarluaskan tanpa penyingkapan kebenaran yang sejati, dan lebih merupakan pengulangan tanpa refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep idle talk Heidegger sangat relevan dalam menggambarkan penyebaran berita palsu dan viral, di mana individu cenderung terjebak dalam arus informasi massal tanpa pemahaman pribadi yang mendalam. Hal ini menciptakan ilusi pemahaman yang menjauhkan individu dari realitas dan keautentikan eksistensial. Studi ini menyimpulkan bahwa budaya komunikasi digital saat ini memperkuat pola komunikasi yang dangkal dan tidak otentik, yang pada gilirannya mengaburkan batas antara informasi, kebenaran, dan pemahaman eksistensial. Temuan ini diharapkan dapat menjadi refleksi kritis terhadap etika bermedia sosial dan pentingnya kesadaran dalam menyerap informasi.
Dampak Positif dan Negatif Media Digital dalam Pendekatan Filsafat Lisa Indriani; Fitzerald Kennedy Sitorus
Jurnal ISO: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora Vol. 5 No. 1 (2025): June
Publisher : Penerbit Jurnal Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53697/iso.v5i1.2495

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak positif dan negatif media digital dalam kehidupan manusia modern melalui pendekatan filsafat. Perkembangan media digital telah mengubah secara fundamental cara manusia memperoleh informasi, berkomunikasi, dan menjalin relasi sosial. Namun, kemajuan ini juga menimbulkan persoalan mendalam terkait aspek eksistensial, realitas, dan etika. Dengan merujuk pada pemikiran para filsuf seperti René Descartes, Immanuel Kant, Martin Heidegger, dan Jean Baudrillard, penelitian ini mengkaji pengaruh media digital terhadap epistemologi, aksiologi, serta memunculkan kritik terhadap fenomena alienasi dan realitas semu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, di mana data diperoleh dari literatur filsafat, teori media, dan hasil penelitian sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media digital memberikan kontribusi positif dalam memperluas akses terhadap pengetahuan, membentuk interaksi sosial yang lebih inklusif, serta mendorong terbentuknya nilai-nilai baru yang lebih terbuka dan toleran. Di sisi lain, media digital juga berpotensi menimbulkan alienasi eksistensial serta menciptakan realitas palsu yang menyulitkan individu membedakan antara fakta dan ilusi. Dari perspektif etika, media digital dapat menjadi sarana penyebaran hoaks dan ujaran kebencian yang mengancam tatanan sosial dan moralitas bersama. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kritis dan pengelolaan yang bijak agar media digital dapat berfungsi secara konstruktif dalam pembangunan peradaban manusia.