Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Pengaruh Sapa Orangtua Remaja Terhadap Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Oangtua tentang Pendidikan Kesehatan Reproduksi Dyah Widiyastuti; Lia Nurcahyani
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.055 KB) | DOI: 10.22146/jkr.45496

Abstract

ABSTRAK Latar belakang : Seks pranikah merupakan masalah yang rentan terjadi pada remaja. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi. Pendidikan kesehatan reproduksi sangat penting, tetapi mayoritas orangtua memiliki pengetahuan kurang serta persepsi negatif terhadap kesehatan reproduksi remaja.Tujuan : Menganalisis perbedaan pengetahuan, sikap dan perilaku orangtua sebelum dan setelah diberikan intervensi Sapa Orangtua Remaja.Metode : Rancangan penelitian quasi experimental non randomized pre test  and post test one group design. Subjek penelitian ini adalah 35 orangtua siswa Sekolah Dasar Pamitran Kota Cirebon dengan kriteria inklusi dan eksklusi.  Instrumen penelitian meliputi kuesioner dan modul Sapa Orang Tua Remaja . Analisis data menggunakan uji wilcoxon dan paired t-test.Hasil dan pembahasan : Terdapat perbedaan yang bermakna pengetahuan sikap dan perilaku orang tua sebelum dan setelah intervensi (p value 0,003 ; 0,000 dan 0,013).Kesimpulan : Sapa orangtua remaja dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku orangtua tentang kesehatan reproduksi remaja.  
Pengembangan Video Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja Bagi siswa Sekolah Dasar di Kota Cirebon Dyah Widiyastuti; Lia Nurcahyani
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 8, No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.65821

Abstract

Latar Belakang: Batasan usia remaja berdasarkan WHO adalah 10-19 tahun. Seks pranikah merupakan masalah yang sangat rentan terjadi pada remaja. Faktor penyebab munculnya perilaku seksual adalah kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi. Pemberian pendidikan kesehatan reproduksi pada remaja sangat penting, Berbagai penelitian telah merekomendasikan pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi sejak dini.Tujuan: melakukan pengembangan video pendidikan kesehatan reproduksi remaja bagi siswa Sekolah Dasar di Kota CirebonMetode: Metode yang digunakan adalah metode penelitian dan pengembangan (research and development), dengan jenis data kuantitatif dan kualitatif. Subjek penelitian ini subjek ahli/ pakar (psikolog, petugas UKS, dosen Kesehatan Reproduksi, ahli informasi dan teknologi).  Penelitian ini menggunakan instrumen berupa kuesioner dan 3 buah video. Analisis data meliputi univariabel dalam bentuk distribusi frekuensi. Data kualitatif dianalisis dengan content analysis.Hasil dan Pembahasan: hasil analisis uji kelayakan video pendidikan kesehatan reproduksi pada siswa SD menurut psikolog, petugas UKS, dosen kespro dan ahli media adalah layak digunakan sebagai media pembelajaran kesehatan reproduksi remajaKesimpulan : video pendidikan kesehatan reproduksi pada siswa SD menurut psikolog, petugas UKS, dosen kespro dan ahli media adalah layak digunakan sebagai media pembelajaran kesehatan reproduksi remaja
Development of Reproductive Health Education Videos as an Effort to Prevent Premarital Sexual Behavior in Adolescents Aged 10-12 Years Widiyastuti, Dyah; Nurcahyani, Lia; Mariani, Nina Nirmaya; Fitrianingsih, Yeni; Hafid, Fahmi
Poltekita: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 18 No. 4 (2024)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/jik.v18i4.3879

Abstract

Adolescents have a fairly high risk of reproductive health problems, namely premarital sexual behavior. One of the factors that causes adolescent sexual behavior is a lack of reproductive health knowledge. This study aims to analyze the effectiveness of reproductive health videos which include physical changes, healthy association, prevention of sexual harassment and the impact of promiscuity. This research method uses a quasi-experimental pre and post-test design with a sample of 30 students aged 10-12 years in three elementary schools and supported by qualitative data through interviews. Data analysis includes quantitative (univariable) and qualitative data with content analysis. The study's results obtained a p-value of 0.000 (< 0.05) so that statistically there was a significant difference between the respondents' knowledge before and after the intervention. A total of 3 respondents experienced a decrease in knowledge, 6 respondents remained, and 21 respondents increased. After participating in learning using reproductive health videos, student assessments were obtained, namely 27 students (90%) gave very good opinions, and 3 students (10%) gave good opinions about the use of videos as learning media. Conclusion: The use of reproductive health videos in elementary school students can increase knowledge about reproductive health to prevent risky sexual behaviors
“REPRODUCTIVE HEALTH GO TO SCHOOL” MODEL PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI PADA SISWA SD Nurcahyani, Lia; Widiyastuti, Dyah; Jubaedah, Entin
Abdimas Galuh Vol 5, No 2 (2023): September 2023
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ag.v5i2.10477

Abstract

Masalah yang sering terjadi pada remaja adalah perilaku seksual yang berisiko. Batasan usia remaja berdasarkan WHO adalah 10-19 tahun. Berdasarkan batasan ini, maka siswa SD yang berusia 10-12 tahun sudah memasuki masa remaja dan perlu diberikan pendidikan kesehatan reproduksi. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah memberdayakan guru dengan meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi pada siswa SD yang telah memasuki usia remaja, agar dapat mencegah perilaku seksual yang berisiko. Metode penerapan “Reproductive Health Go to School” melalui rangkaian kegiatan sosialisasi materi pendidikan kesehatan reproduksi, Focus Group Discussion kepada guru kelas, guru agama, serta guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) serta penyampaian materi pendidikan kesehatan reproduksi oleh guru kepada siswa kelas V yang berjumlah 30 orang. Hasil yang dicapai nilai rata-rata pre-test pengetahuan guru sebesar 88,3 dan rata-rata post-test sebesar 95. Nilai rata-rata pre-test pengetahuan siswa sebesar 82,1 dan rata-rata post-test sebesar 87,1. Materi pendidikan kesehatan reproduksi sebagian besar sudah termuat dalam mata pelajaran PJOK, serta Pendidikan Agama Islam. Terdapat beberapa pesan utama untuk remaja pada masa pubertas yang belum tersampaikan pada materi tersebut, selanjutnya telah disepakati akan ditambahkan untuk melengkapi materi yang sudah ada.
Upaya Peningkatan Pengetahuan Kader Kesehatan Remaja Tentang Kesehatan Reproduksi Remaja Melalui Pelatihan Pendidik Masyarakat di RW 05 Kedung Krisik, Desa Argasunya Widiyastuti, Dyah; Nurcahyani, Lia; Fitrianingsih, Yeni; Lisnawati, Lisnawati
Abdimas Galuh Vol 8, No 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ag.v8i1.22705

Abstract

Remaja adalah periode dimana mereka mengalami pertumbuhan fisik yang cepat, pertumbuhan seksual, dan perubahan psikologis yang mendalam. Remaja sangat berisiko terhadap masalah kesehatan reproduksi yaitu perilaku seksual pranikah, yang akan menyebabkan Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD), pernikahan dini serta Penyakit Menular Seksual (PMS) termasuk HIV AIDS yang merupakan permasalahan dalam bidang Kesehatan Ibu dan Anak. Faktor penyebab munculnya perilaku seksual remaja adalah kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi. Berbagai penelitian telah merekomendasikan pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi sejak dini, tetapi belum sepenuhnya dilakukan. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah memberdayakan kader kesehatan remaja melalui program “Pelatihan Kader Komunitas” sebagai pendidik teman sebaya untuk meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi pada remaja usia 10-12 tahun  agar dapat mencegah perilaku seksual yang berisiko. Pelaksanaan kegiatan pelatihan kader komunitas sebagai pendidik teman sebaya dilaksanakan melalui rangkaian kegiatan sosialisasi materi pendidikan kesehatan reproduksi remaja menggunakan video edukasi, selanjutnya dari sepuluh kader kesehatan yang ada dipilih empat orang kader kesehatan remaja untuk diberikan pelatihan “Pendidik Komunitas” selama satu hari menggunakan modul yang sudah dibuat oleh penulis. Nilai rata-rata pre test pengetahuan kader kesehatan remaja sebesar sebesar 84,1 dan post test sebesar 93,8 sehingga terdapat peningkatan rata-rata skor pengetahuan dari pre test ke post test sebesar 9,7. Terdapat peningkatan rata-rata skor pengetahuan sasaran (kader kesehatan remaja) dari pre test ke post test setelah diberikan materi pendidikan kespro remaja. Saran agar pihak puskesmas dapat memanfaatkan kader kesehatan remaja yang terpilih sebagai pendidik teman sebaya agar dapat diberikan kesempatan untuk memberikan informasi kepada teman sebaya yang lainnya.