Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Efektivitas Pemberian Aromaterapi Kenanga Terhadap Intensitas Disminorea Di Pondok Pesantren Nurul Islam Jember Samnah Khoiriah; Susilawati Susilawati; Riza Umami
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 3 No. 2 (2023): Innovative: Journal Of Social Science Research (Special Issue)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v3i2.758

Abstract

  Disminorea merupakan masalah menstruasi yang sering timbul pada remaja putri karena terjadi peningkatan hormone yang mengakibatkan uterus hipertonus dan vasokontriksi. Beberapa remaja mengalami gangguan aktifitas fisik dan nyeri membatasi kegiatan sehari-hari. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi intensitas disminorea adalah dengan menggunakan terapi non farmakologi yaitu berupa pemberian aromaterapi kenanga. Desain penelitian pre-eksperimental dengan rancangan One-Grup Pretest-Posttest Desain. Teknik pengambilan sampel menggunakan  purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 34 responden. Analisis data menggunakan Uji Wilcoxon. Sebelum diberikan aromaterapi sebanyak 88,2 % responden mengalami nyeri ringan, setelah pemberian aromaterapi 100% responden mengalami nyeri ringan. Hasil uji Wilcoxon diperoleh p-value 0.000. Terdapat perbedaan rata-rata pada intensitas disminorea sebelum dan sesudah diberikan aromaterapi kenanga. Aromaterapi kenanga mempengaruhi intensitas disminorea, terjadi penurunan intensitas disminorea sebelum dan sesudah diberikan aromaterapi. Hal ini disebabkan karena  aromaterapi kenanga dapat meningkatkan pengeluaran hormon serotonin dan endorphine. Aromaterapi kenanga dapat dihirup dengan frekuensi 3-5 hari setelah menstruasi atau timbulnya disminorea sebelum menstruasi. Disminorea merupakan masalah menstruasi yang sering timbul pada remaja putri karena terjadi peningkatan hormone yang mengakibatkan uterus hipertonus dan vasokontriksi. Beberapa remaja mengalami gangguan aktifitas fisik dan nyeri membatasi kegiatan sehari-hari. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi intensitas disminorea adalah dengan menggunakan terapi non farmakologi yaitu berupa pemberian aromaterapi kenanga. Desain penelitian pre-eksperimental dengan rancangan One-Grup Pretest-Posttest Desain. Teknik pengambilan sampel menggunakan  purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 34 responden. Analisis data menggunakan Uji Wilcoxon. Sebelum diberikan aromaterapi sebanyak 88,2 % responden mengalami nyeri ringan, setelah pemberian aromaterapi 100% responden mengalami nyeri ringan. Hasil uji Wilcoxon diperoleh p-value 0.000. Terdapat perbedaan rata-rata pada intensitas disminorea sebelum dan sesudah diberikan aromaterapi kenanga. Aromaterapi kenanga mempengaruhi intensitas disminorea, terjadi penurunan intensitas disminorea sebelum dan sesudah diberikan aromaterapi. Hal ini disebabkan karena  aromaterapi kenanga dapat meningkatkan pengeluaran hormon serotonin dan endorphine. Aromaterapi kenanga dapat dihirup dengan frekuensi 3-5 hari setelah menstruasi atau timbulnya disminorea sebelum menstruasi.
Hubungan Tingkat Stres dengan Tingkat Insomnia Pada Mahasiswa Tingkat 4 Pada Saat Mengerjakan Skripsi Di Poltekkes Kemenkes Malang Kampus 1 Jember Rifky Sabila Firdaus Sita; Riza Umami
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 6 No. 4 (2026): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang : Mahasiswi tingkat akhir sering mengalami stres akademik selama proses penyusunan skripsi. Stres ini bisa berdampak pada kualitas tidur, salah satunya berupa insomnia. Studi ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres dan tingkat insomnia pada mahasiswi tingkat 4. Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel dalam penelitian adalah 26 mahasiswi tingkat 4 di Poltekkes Kemenkes Malang Kampus 1 Jember. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Perceived Stress Scale (PSS) untuk mengukur stres dan Insomnia Severity Index (ISI) untuk mengukur insomnia. Analisis data menggunakan uji Spearman Rank. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden sebanyak 14 sebanyak 14 responden (54%) mengalami stres sedang (54%) dan insomnia ringan ringan sebanyak 15 responden (58%). Hasil uji Spearman menunjukkan nilai p = 0,019 (p < 0,05), yang berarti terdapat hubungan antara tingkat stres dan tingkat insomnia, dengan besar hubungan 0,456 (456%).Kesimpulan: Tingkat stres pada mahasiswa akhir saat mengerjakan skripsi dapet mempengaruhi tingkat insomnia. Saran: mahasiswa khususnya tingkat akhir diharapkan dapat mengelola diri dan stres akademik secara baik dan benar agar dapat menyelesaikan tugas akhir skripsi tepat waktu dan tidak menyebabkan insomnia yang dapat menurukan kualitas belajar.
Hubungan Sikap Remaja Putri Tentang Kejadian Anemia dengan Kepatuhan Mengkonsumsi Tablet Tambah Darah Di SMP Sultan Agung Puger Intan Dwi Octaviana; Riza Umami
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 6 No. 4 (2026): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anemia merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi pada remaja putri, terutama akibat kekurangan zat besi selama menstruasi. Pemerintah telah menjalankan program pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) sebagai upaya pencegahan. Namun, tingkat kepatuhan remaja dalam mengonsumsi TTD masih rendah, yang menandakan adanya hambatan non-teknis, seperti sikap dan perilaku. Metode : Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswi kelas 7, 8, dan 9 di SMP Sultan Agung Puger, sebanyak 49 orang, yang juga menjadi sampel penelitian (total sampling). Data dikumpulkan menggunakan kuesioner mengenai sikap dan kepatuhan, lalu dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil : Sebagian besar responden (69,40%) memiliki sikap negatif terhadap pencegahan anemia dan 85,70% tidak patuh dalam mengonsumsi TTD. Uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan signifikan antara sikap dan kepatuhan (p = 0,018) dengan kekuatan hubungan sedang (C = 0,32). Analisis : Hasil menunjukkan bahwa sikap positif tidak selalu berbanding lurus dengan kepatuhan. Faktor penghambat seperti efek samping, kurangnya edukasi, dan minimnya dukungan dari sekolah serta keluarga turut memengaruhi kepatuhan. Ini menegaskan bahwa sikap saja tidak cukup—intervensi edukatif dan dukungan sosial sangat diperlukan. Kesimpulan : Penelitian ini menjustifikasi bahwa untuk meningkatkan keberhasilan program TTD, pendekatan edukatif dan pengawasan aktif dari tenaga kesehatan, guru, dan orang tua sangat penting. Program kesehatan perlu disertai pembentukan sikap dan kebiasaan positif secara konsisten di lingkungan remaja.