Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Pemetaan Geologi Gunung Api Dijital Daerah Ngebel, Madiun berdasarkan Data Reflektansi dan Suseptibilitas Magnetik Batuan Saepuloh, Asep; Andrean Saputra, Raditya; Sumintadireja, Prihadi
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol 18, No 4 (2017): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.61 KB)

Abstract

This study was taken as a part of volcano geology mapping at Ngebel area including volcanostratigraphy and structural geology interpretations by optimizing the satellite remote sensing and terestrial data. Ngebel area is located at the western flank of Mt. Wilis volcanic complex, Madiun District, East Java, Indonesia. The purpose of this study is to obtain the effectiveness of atmospherically corrected satellite image of Landsat-8 OLI (Operational Land Imager) TIRS (Thermal Infrared Sensor) and rock magnetic susceptibility for identifying volcanic products. The Landsat-8 OLI/TIRS image processing is performed in two steps: pre and post field observation. The pre field observation step was treated by processing and analysing the Landsat-8 OLI/TIRS to produce geomorphological units, circular/linear feature, rock unit boundary, and interpreted eruption center by examining image color, tone, and texture. Furthermore, the reflectance spectra analyses of Landsat-8 OLI/TIRS were obtained to define detailed volcanic product unit boundary after the field observation performed. Magnetic susceptibility of the rocks was used to classify the volcanostratigraphic units based on their magnetization degree of the induced rocks. Considering the  magnetic susceptibility, there are suggested two groups of volcanic unit or Hummocks (Gumuk): Hummock of Ngebel with low susceptibility (9.9×10-3 – 20.7×10-3) and Hummock of Manyutan with medium (20.7×10-3 – 48.7×10-3) to high susceptibility (≥48.7×10-3). Noticing the reflectance spectra of Landsat-8 OLI/TIRS, it can be defined five volcanic rock units: pyroclastic fall Ngebel (reflectance value at  0.63 – 0.71), pyroclastic flows Ngebel (reflectance value at 0.71 – 0.74),  pyroclastic flow Manyutan (reflectance value at 0.74 – 0.78), lava Manyutan 1 (reflectance value at 0.78 – 0,84), and Lava Manyutan 2 (reflectance value at  ≥0.84).Keyword: Volcanostratigraphy, Landsat-8 OLI/TIRS, magnetic susceptibility, reflectance, Ngebel
Pengolahan Data Magnetik Laut Terkoreksi Diurnal Base Station (Studi Kasus Perairan Pusong Kuala Langsa - Aceh) Sutikwo, Sutikwo; Sumintadireja, Prihadi; Saroso, Saroso; S. Mulyadi, Dikdik
Jurnal Hidropilar Vol. 2 No. 1 (2016): JURNAL HIDROPILAR
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (841.922 KB) | DOI: 10.37875/hidropilar.v2i1.40

Abstract

Indonesia merupakan negara kepulauan yang sebagian besar wilayahnya adalah perairan, maka segala aktivitas di laut menjadi bagian penting bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Hal ini menuntut sumber daya manusia yang mempunyai kemampuan lebih tentang ilmu hidrografi dan geologi laut. Kegiatan utama penerapan ilmu geologi laut bertujuan untuk memperkirakan struktur geologi bawah laut sebagai informasi dalam keselamatan pelayaran. Penyajian informasi tentang keberadaan benda-benda bawah laut memerlukan perangkat lunak seperti Oasis Montaj, Magpick, Surfer dan perangkat pendukung lainnya. Proses pengolahan data kemagnetan ada beberapa tahapan dan metode yang digunakan dalam mempermudah dalam intepretasi, diantaranya melakukan beberapa koreksi seperti koreksi diurnal dengan data magnetik hasil pengamatan dari base station, koreksi IGRF, reduksi ke ekuator dan koreksi-koreksi lainnya. Hasil pengolahan data magnetik yang dikoreksi dengan diurnal base station dan tanpa koreksi diurnal base station pada studi kasus di perairan Pusong Kuala Langsa Aceh terdapat perbedaan nilai anomali magnet.
PENDEKATAN TERINTEGRASI DALAM PEMODELAN FASIES RESERVOIR D-10 STRUKTUR NKL, LAPANGAN SANGASANGA, CEKUNGAN KUTAI, INDONESIA Rizal, Ferdi; Nugroho, Dwiharso; Sumintadireja, Prihadi
Bulletin of Geology Vol 7 No 3 (2023): Bulletin of Geology
Publisher : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Institut Teknologi Bandung (ITB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/bull.geol.2023.7.3.2

Abstract

Total kumulatif produksi minyak saat ini di Struktur North Kutai Lama (NKL) sekitar 70% berasal dari reservoir D-10 yang terletak di sayap (flank) antiklin timur dari ujung utara Antiklinorium Samarinda. Namun demikian, pengembangan reservoir inimempunyai kendala dalam pemodelan fasies karena kurangnya data sumur yang menembus area flank dan reservoir D-10 tidak menerus hingga ke bagian punggungan (crestal) dari Antiklinorium Samarinda. Ketidak menerusan ini terlihat dari posisireservoir minyak pada area flank berada di bawah kontak minyak-air dari reservoir di daerah crestal dan tren evolusi tekanan terlihatberbeda antara bagian crestal dan flank. Salah satu tahapan penting dalam pemodelan fasies adalah analisis paleo-depositional environment yang tentunya berkaitan dengan penentuan fasies reservoir. Penelitian ini melakukan pendekatan terintegrasi dengan memanfaatkan dan mensintesiskan lima data, yaitu analisis biostratigrafi, elektro-fasies, besar butir, struktur sedimen dan paleocurrent sertasa linitas reservoir. Korelasi antar sumur dilakukan dengan menggunakan konsep cyclothem, karena terdapat perulangan lapisan Batubara yang membatasi lapisan batupasir baik secara lateral maupun vertikal. Tahapan berikutnya adalah interpretasi tren fasies dari peta Net to Gross (NTG) yang dikontrol oleh anomali atribut seismik, penentuan? Nilai NTG tiap sumur, perbedaan kontak fluida, analisis evolusi tren tekanan dan rasio lebar sungaiterhadap netsand. Pendekatan terintegrasi terbukti dapat menjawab permasalahan pada distribusi fasies dankonektivitas reservoir D-10. Tentunya peta NTG digunakan sebagai tren pada saat pemodelan fasies secara 3D, sehingga perhitungan volume hidrokarbon menjadi lebih realistis. Kata kunci: Analisis terintegrasi, lingkungan pengendapan purba, pemodelan fasies, atribut seismik, cyclothem
Analisis Daerah Potensi Panas bumi Songa-Wayaua, Bacan, Maluku Utara Berdasarkan Data Geologi dan Geokimia Nandiwardhana, Damar; Haryanto Lukmana, Allen; Sumintadireja, Prihadi; Saepuloh, Asep
Bulletin of Scientific Contribution Vol 19, No 2 (2021): Bulletins of Scientific Contribution : Geology
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v19i2.34952

Abstract

Kajian geologi dan geokimia merupakan kajian awal yang dilakukan pada suatu lapangan panas bumi yang bertujuan untuk mengetahui gambaran awal potensi panas bumi lapangan tersebut. Dari kajian geologi dan geokimia ini dilakukan untuk mengetahui gambaran kondisi geologi (geomorfologi, vulkanostratigrafi, dan struktur) dan geoindikator (soil, pH, isotop, dan temperatur) lapangan. Pada penelitian ini dilakukan kajian geologi dan geokimia, untuk mengetahui potensi awal prospek panas bumi pada daerah Songa - Wayaua, Bacan, Maluku Utara. Pada daerah Songa - Wayaua, Bacan, Maluku Utara diindikasikan terdapat adanya potensi panas bumi, hal ini ditunjukan dengan adanya kemunculan manifestasi di permukaan berupa fumarol, mata air panas, kolam lumpur, tanah beruap, dan batuan ubahan (alterasi), yang terdapat di sekitar Desa Songa dan Desa Wayaua. Kemunculan manifestasi berada pada lingkungan vulkanik (sekitar G. Pele dan G. Lansa). Berdasarkan hasil analisis data geologi struktur sesar yang berkembang di daerah penelitian memiliki arah dominan berarahkan baratlaut - tenggara dan timurlaut - baratdaya. Morfologi daerah penelitian terdiri dari perbukitan, kerucut vulkanik dan dataran aluvial. Geologi daerah penelitian terdiri dari produk gunung api berumur kuarter - tersier dari G. Songa, G. Pele, G. Lansa, dan G. Bibinoi kemudian satuan batugamping, satuan batuan granit tawa, dan satuan batuan metamorf yang berumur tersier. Berdasarkan hasil analisis data geokimia bahwa tipe air manifestasi didominasi oleh air klorida, temperatur antara 30o C - 98oC, pH 3 - 8 dan perkiraan temperatur reservoir 240 o - 250 oC (entalpi tinggi).
DELINEASI AREA PROSPEK DAN KARAKTERISASI RESERVOIR PANAS BUMI NON-VULKANIK UNTUK PEMANFAATAN LANGSUNG DI BANDA BARU, MALUKU TENGAH: PROSPECT AREA DELINEATION AND CHARACTERIZATION OF NON-VOLCANIC GEOTHERMAL RESERVOIRS FOR DIRECT USE IN BANDA BARU, CENTRAL MALUKU Melisano, Erawan; Nugraha, Husin Setia; Rahadinata, Tonny; Sumintadireja, Prihadi
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 20 No 3 (2025): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47599/bsdg.v20i3.548

Abstract

The significant disparity between Indonesia's geothermal direct-use potential (230 MWt) and its current utilization (8 MWt) necessitates precise delineation methods for non-volcanic systems. This study aims to characterize the shallow reservoir and delineate the prospect area in Banda Baru, Central Maluku, using integrated geoscience data. A GIS-based Multi-Influencing Factor (MIF) method was applied to map groundwater potential, which was then synthesized with surface CO2 gas anomalies and Magnetotelluric (MT) resistivity gradient modeling. The results identified a 6.49 km2 prospect area controlled by fracture structures within metamorphic rocks. Validation through the BBR-1 temperature gradient well drilling showed significant success, encountering 95°C fluid at a depth of 164 meters. This finding prompted a re-evaluation of geophysical interpretations, proving that low resistivity values (<50 ohm-m) represent active thermal aquifers rather than conventional clay caps. Based on production tests, the total measured resource potential in this region is estimated at 6.3 MWt. This integrated modeling provides a strategic instrument for efficient non-volcanic geothermal development to support the local economy through sustainable direct-use schemes.