Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PEDILAVIUM AS CONFLICT RECONCILIATION: EFFORTS TO INTERPRET THE BIBLICAL FOOT WASHING TRADITION AS RECONCILIATION OF INTERNAL CONFLICTS IN THE CHURCH Ewen Josua Silitonga; Zulkarnain Siagian; Janhotner Saragih
Jurnal Scientia Vol. 12 No. 02 (2023): Education, Sosial science and Planning technique, edition March-May 2023
Publisher : Sean Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58471/scientia.v12i02.1476

Abstract

The rite of foot washing is a rite that has been practiced in the Bible for a long time, and has been known since the Old Testament. However, the meaning contained in it develops according to its context. If in the Old Testament washing feet shows a sense of courtesy and hospitality towards guests, then in the New Testament washing feet shows a moral example of humility and love. for that it is necessary to excavate contextually and relevantly the meaning of foot washing in the contemporary context. And seeing how Jesus used the rite of foot washing in reconciling the conflict that occurred between Himself and His disciples, in the tension of Judas' betrayal and the quarrel of the disciples who was the greatest among them? And how Jesus used foot washing, when Jesus experienced an internal conflict in himself before the suffering of His cross.
Teologi Minoritas Berdampak Publik: Memaknai Kondisi Minoritas Berdasarkan Hidup Yesus Kristus Dan Refleksi Bagi Gereja Pada Arus Politik Identitas di Indonesia Ewen Josua Silitonga; Sri Kejora Tarigan; Jekson Ambarita; Janhotner Saragih
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 3 No. 3 (2023): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v3i3.3461

Abstract

Dewasa ini masyarakat Indonesia sudah terbiasa mendengarkan dan mengucapkan istilah mayoritas dan minoritas agama. Istilah ini sepertinya telah menjadi kosa kata umum dalam kehidupan sosial-politik bangsa ini. Tetapi dapatkah semua mengetahui apa dampak dari istilah ini bagi kerukunan kehidupan beragama di Indonesia? Apakah kekristenan yang diklaim sebagai agama minoritas di bangsa ini dapat memaknai istilah itu secara konstruktif? Diperlukan pengkajian secara biblis teologis, khususnya dari kehidupan Yesus yang minoritas tetapi berdampak publik. Hal ini dapat menjernihkan kembali seraya menggali makna dari istilah tersebut, agar kelompok mayoritas dapat memandang identitas mayoritas tersebut secara objektif, sedangkan kekristenan sebagai pihak minoritas dapat berdampak publik dalam kehidupan beragama di tengah-tengah negara kesatuan Republik Indonesia.
Dalihan Na Tolu (DNT) Sebagai Rekonsiliasi Konflik Agama Islam-Kristen Dalam Masyarakat Batak Zulkarnain Siagian; Ewen Josua Silitonga
Mitra Sriwijaya: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 4 No. 1 (2023): Juli 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46974/ms.v4i1.71

Abstract

Batak society is heterogeneous in embracing religion, in particular, most Batak people embrace Islam and Christianity, and in the historical context of Islam-Christian relations and interactions experience conflict. The study is conducted with a culture-based conflict reconciliation methodology with a library research method, looking for documents, books or literature related to the topic. Dalihan Na Tolu (DNT) as the pulse of Batak custom is able to unite religious differences in the Batak tribe in the public sphere, so DNT needs to be developed as conflict reconciliation due to religious differences in Batak society, especially Islam-Christianity.
Teologi Toleransi Dalam Dalihan Na Tolu (Kajian Teologi Religionum Menemukan Nilai-Nilai Toleransi di Dalam Budaya Dalihan Na Tolu Sebagai Jembatan Teologi dan Budaya) Zulkarnain Zulkarnain; Junjungan Simorangkir; Ewen Josua Silitonga
Jurnal Teologi Cultivation Vol 7, No 1 (2023): JULI
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v7i1.2267

Abstract

Saat ini konteks kehidupan kita adalah heterogenitas, dimana hampir diseluruh lingkungan hidup kita sehari-hari dipenuhi dengan berbagai hal yang berbeda, mulai dari perbedaan: Agama, gender, budaya, bahasa, ekonomi, status sosial, kedudukan sosial dan lain sebagainya. Secara khusus dalam hal teologi dan budaya. Umumnya teologi terlalu menyibukan diri kepada hal-hal yang doktrinal normatif, logis dan metodis. Ciri teologi seperti ini menerangkan karakter barat bukan karakter Asia. Hal-hal yang bersifat doktrinal normatif akan memperburuk kehidupan kita yang heterogenitas di Asia secara khusus di Sumatera Utara Indonesia. Karakter Indonesia adalah masyarakat yang beradat dan berbudaya, hal itu telah dikenal dunia sejak zaman nenek moyang bangsa ini. Oleh kehadiran dan dominasi agama-agama barat di Indonesia, akhirnya nilai-nilai adat-istiadat budaya di desakralisasikan bahkan termarginalisasikan. Akibatnya karakter masyarakat Indonesia, seolah-olah kehilangan identitasnya dalam merefleksikan iman percayanya. Untuk menjawab tantangan itu, kita memerlukan model berteologi yang baru yang lokus dari teologi itu adalah produk dari apa yang ada pada kita di Indonesia, yang dalam konteks ini adalah Dalihan Na Tolu (DNT) yakni adat-istiadat suku Batak. Bagaimana menjadikan DNT sebagai lokus teologi Indonesia dalam membangun dan menjembatani perbedaan yang ada menuju kerukunan atau toleransi masyarakat Batak secara khusus.