FX Yatno Karyadi
Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Skenario Film Fiksi Lauik Sirah Menggunakan Sturuktur Tiga Babak Untuk Meningkatkan Suspense Fadhilatul Khaira; Hery Sasongko; FX Yatno Karyadi
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 6, No 2 (2023): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/bcdk.v6i2.2634

Abstract

Artikel ini menciptakan sebuah skenario film fiksi dari tahap menemukan ide sampai menjadi skenario utuh. Penulis menciptakan skenario Lauik Sirah dengan menggunakan pola cerita struktur tiga babak dengan tujuan menata certia drama tragedi agar cerita yang disampaikan lebih menarik dan pembaca dapat menikmati jalan ceritanya. Dalam tulisan ini penulis menjelaskan bagaimana menciptakan skenario film fiksi menggunakan struktur tiga babak untuk meningkatkan suspense. Penulis menata suspense dalam setiap babak. Teori yang digunakan adalah teori struktur tiga babak dengan dasar penceritaan awal, tengah dan akhir. Tulisan ini menunjukkan bahwa penciptaan skenario Lauik Sirah penulis berhasil mewujudkan dengan menerapkan struktur tiga babak.
Pangek Sasau as Cultural Identity in an Expository-Style Documentary Film Ikrar Qibran Wirja Nugraha; FX Yatno Karyadi; Fadly Rahmadanu; Muhammad Hamdanu Syakirin
KINEMA: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Vol. 5 No. 1 (2026): KINEMA: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran
Publisher : Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31958/kinema.v5i1.17121

Abstract

This study discusses the creation of an expository documentary film titled "Pangek Sasau as Cultural Identity in an Expository-Style Documentary." In Minangkabau culture around Lake Singkarak, Pangek Sasau is not merely food, but a local identity that reflects how communities live in harmony with their environment. However, most audiovisual documentation about Lake Singkarak focuses on scenic landscapes and tourism, while local culinary culture has rarely been explored in depth. This creative project aims to demonstrate how Pangek Sasau can represent local cultural identity through a structured and argumentative documentary. The filmmaking process follows four production phases: pre-production (including direct fieldwork and interviews with local fishermen and merchants), production, post-production, and distribution. Applying Bill Nichols' expository mode, this film employs voice-over narration and evidentiary editing to construct a persuasive argument about the preservation of local culture. The findings show that this documentary is effective as an educational tool to introduce and protect traditional culinary heritage from being forgotten by younger generations.