Abu Warasy Batula
Universitas Pendidikan Indonesia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pembiasaan (Ta‘wid) sebagai Strategi Pendidikan Karakter: Telaah Pemikiran Ibnu Miskawaih dalam Perspektif Pedagogik Ariq Muammar; Pitra Gosha Patriasya; Nurti Budiyanti; Abu Warasy Batula; Aulia Tegar Wicaksono
Action Research Journal Indonesia (ARJI) Vol. 8 No. 1 (2026): Action Research Journal Indonesia (ARJI)
Publisher : PT. Pusmedia Group Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61227/arji.v8i1.684

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan pembiasaan di sekolah serta menganalisisnya menggunakan perspektif pemikiran akhlak Ibnu Miskawaih, khususnya konsep ta‘wīd atau habituasi moral. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Guru, siswa, serta pembina kegiatan menjadi informan utama yang memberikan gambaran mengenai rutinitas sekolah dan praktik pembiasaan sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembiasaan dilakukan melalui berbagai kegiatan rutin, seperti sholat dhuha, senam Jumat, permainan tradisional setiap hari Rabu, serta outing class bagi siswa kelas 9. Selain itu, kebiasaan sederhana seperti salam pagi, menjaga kebersihan kelas, sopan santun, dan disiplin waktu turut membentuk perilaku positif peserta didik. Temuan lapangan menegaskan bahwa pembiasaan berkembang dari tindakan yang membutuhkan pengawasan menuju tindakan yang dilakukan secara otomatis. Guru menilai bahwa hal ini terjadi karena konsistensi sekolah, keteladanan pendidik, serta pengaruh kelompok sebaya yang menciptakan budaya kelas yang mendukung. Analisis berdasarkan pemikiran Ibn Miskawaih menunjukkan bahwa pembiasaan di sekolah ini sejalan dengan prinsip ta‘wīd, yaitu pembentukan karakter melalui latihan berulang yang akhirnya terinternalisasi dalam diri siswa.  Dengan demikian, pembiasaan tidak hanya dipahami sebagai rutinitas, tetapi memberikan implikasi teoretis bahwa ia menjadi fondasi penting dalam pembentukan karakter melalui proses internalisasi nilai secara berulang. Secara praktis, pembiasaan berfungsi sebagai strategi yang dapat diterapkan pendidik untuk menumbuhkan akhlak, kedisiplinan, dan rasa tanggung jawab peserta didik dalam konteks kegiatan belajar sehari-hari.
Teachers' and Students' Experiences in Implementing Direct Instruction in Islamic Religious Education Learning: A Hermeneutic Phenomenological Perspective Abu Warasy Batula; Nurlaila Turohmah; Robiatul Adawiyah Ramadhani; Pitra Gosha Patriasya
Cultura Islamica: Journal of Islamic Studies, Management, and Culture Vol. 2 No. 1 (2026): June 2026 | Islamic Studies, Management, and Culture
Publisher : WISE Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70211/culturaislamica.v2i1.370

Abstract

This phenomenological hermeneutic study explores the lived experiences of teachers and students in implementing the Direct Instruction (DI) model in Islamic Religious Education (PAI) at the senior high school level. Using Max van Manen's hermeneutic phenomenology approach, this research investigates the pedagogical and spiritual meanings embedded in structured instructional practices. Data were collected through in-depth interviews with PAI teachers and students at SMA Negeri 2 Bandung, complemented by participatory observation and documentation. The findings reveal that Direct Instruction in PAI transcends its technical-procedural nature, functioning as a medium for spiritual internalization of Islamic values such as discipline, responsibility, and sincerity. Teachers experience tension between procedural demands and the search for spiritual meaning in teaching, while students perceive a shift from merely receiving instructions to discovering religious meaning through structure and clarity. This study introduces the concept of "Spiritualized Direct Instruction," integrating the effectiveness of DI with Islamic spiritual values and educational ethics. The research contributes to the development of PAI learning theory that harmonizes modern pedagogical models with Islamic spirituality, offering practical implications for curriculum developers and educators in creating meaningful religious education experiences.
Peran Kompetensi Pedagogis Guru PAI dalam Implementasi Kurikulum Merdeka Syifa Fatihatul Mubarokah; Puput Rahmania; Nurti Budiyanti; Helmy Abdullah Helmy; Abu Warasy Batula
IQRO: Journal of Islamic Education Vol. 8 No. 3 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Prodi Pendidikan Agama Islam FTIK IAIN Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24256/iqro.v8i3.8770

Abstract

Implementasi Kurikulum Merdeka menuntut pembelajaran yang fleksibel, berdiferensiasi, dan berbasis asesmen autentik. Namun di lapangan masih terdapat kesenjangan antara tuntutan tersebut dengan kesiapan kompetensi pedagogis guru, termasuk guru Pendidikan Agama Islam (PAI), yang menghadapi kendala dalam memahami kebutuhan peserta didik, merancang alur tujuan pembelajaran, menerapkan model pembelajaran aktif, serta menyusun asesmen yang mencerminkan capaian belajar secara komprehensif. Kesenjangan ini menunjukkan perlunya analisis mendalam mengenai bagaimana kompetensi pedagogis guru berperan dalam implementasi kurikulum baru ini. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran kompetensi pedagogis guru PAI dalam perencanaan, pelaksanaan, dan asesmen pembelajaran pada Kurikulum Merdeka. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus dengan subjek guru PAI; data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur kepada satu guru PAI yang dinilai memiliki kompetensi pedagogis yang baik, kemudian dianalisis menggunakan model reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi pedagogis guru tampak melalui kemampuan memahami karakteristik siswa, merancang perangkat ajar sesuai kebutuhan, mengelola pembelajaran aktif, serta menerapkan asesmen formatif dan sumatif secara berkelanjutan. Kesimpulannya, kompetensi pedagogis guru PAI memiliki peran signifikan dalam memastikan keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka dan perlu didukung melalui pengembangan profesional yang berkelanjutan.
Konstruksi Model Pembelajaran Holistik-Eksperiensial: Integrasi Metode Tajribi dan Program Ngaji Rasa di Pesantren Abu Warasy Batula; Nurlaila Turohmah; Robiatul Adawiyah Ramadhani; Antiti Armilah; Yahya Rafi Sya’bani
Jurnal Pendidikan, Bahasa dan Budaya Vol. 5 No. 2 (2026): Juni: Jurnal Pendidikan, Bahasa dan Budaya
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jpbb.v5i2.6279

Abstract

The digital era has introduced significant challenges in the form of educational degradation, where cognitive achievements are often prioritized over the internalization of moral-spiritual values. In Indonesia, Islamic boarding schools (pesantren) face serious constraints, with digital readiness levels as low as 16.4% and a curriculum dominated by classical text memorization, leading to insufficient critical thinking skills (6.2%). This study aims to construct a Holistic-Experiential learning model by integrating the Tajribi method and the Ngaji Rasa program as a strategic solution within the pesantren ecosystem. The research employs a qualitative method with a library research approach, utilizing content and thematic analysis for data interpretation. The findings reveal that the Tajribi method serves as a methodological foundation for experiential learning, while Ngaji Rasa acts as an affective manifestation implemented through a hidden curriculum. The construction of this model is epistemologically rooted in QS. Ash-Shaff: 2–3, which integrates ’ilm (knowledge), amal (action), and niyyah (intention). The novelty of this research lies in the inclusion of the spiritual dimension as a fourth pillar, transcending Bloom's taxonomy by forming a learning tetragonal that encompasses cognitive, affective, psychomotor, and spiritual domains. In conclusion, the integration of Tajribi and Ngaji Rasa transforms the pesantren into a "character laboratory" capable of bridging classical traditions with modernization demands without losing its spiritual identity.