Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

TINDAK TUTUR DIREKTIF PADA INTERAKSI GURU DAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA KELAS VII MTS MUHAMMADIYAH KOTA JAMBI Adinda Larasati; Yusra D.; Imam Suwardi Wibowo; Andiopenta Purba; Akhyaruddin
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Undiksha Vol. 12 No. 3 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbsi.v12i3.59852

Abstract

Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan bentuk, fungsi, dan makna dari tindak tutur direktif pada interaksi guru dan siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia kelas VII MTs Muhammadiyah Kota Jambi. Penelitian ini menggunakan pedekatan kualitafif dengan jenis penelitian deskriptif. Data penelitian berupada tuturan antara guru dan siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik simak, rekam, dan catat. Analisis data dalam penelitian, yaitu reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat bentuk dan fungsi dari tindak tutur direktif. Bentuk dari tindak tutur direktif yang berlangsung ada 3 (tiga), yaitu modus deklaratif, modus interogatif, dan modus imperatif. Ditemukan 8 (delapan) fungsi tindak tutur direktif, yaitu mengajak, memerintah, menyarankan, meminta, menuntut, melarang, memberi nasihat, dan memberi izin.
NILAI MORAL DALAM NASKAH DRAMA NENEK TERCINTA KARYA ARIFIN C. NOER Andini Yopita Sari; Yusra D.; Bunga Efrilea Rahima; Erniyani Hutagalung
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 8 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v8i2.1065

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai moral yang terkandung dalam naskah drama Nenek Tercinta karya Arifin C. Noer, sekaligus menekankan pentingnya telaah moral di tengah situasi krisis moral pada masyarakat kini. Nilai moral merupakan pedoman bagi manusia dalam membedakan perilaku baik dan buruk serta menjadi dasar dalam bertindak sesuai dengan norma sosial dan etika. Gejala menurunnya rasa hormat kepada orang tua, memudarnya rasa empati, serta menguatnya sifat individualis menjadikan karya sastra perlu dikaji sebagai media perenungan dan pembelajaran moral. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologi sastra. Teknik pengumpulan data dilalukan dengan metode simak dan catat, sedangkan analisis data dilakukan melalui analisis isi terhadap naskah drama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai moral dalam naskah drama ini meliputi tiga aspek utama, yaitu (1) hubungan manusia dengan diri sendiri, (2) hubungan manusia dengan manusia lain, dan (3) hubungan manusia dengan tuhan. Dalam hubungan dengan sesama, nilai moral tercermin pada sikap kasih sayang, empati, dan tanggung jawab. Sedangkan nilai moral dalam hubungan dengan tuhan tercermin keyakinan, kesabaran, dan penyesalan atas dosa. Secara keseluruhan, naskah drama Nenek Tercinta menggambarkan potret kehidupan keluarga yang sarat pesan moral tentang rasa hormat terhadap orang tua dan pentingnya rasa syukur.
ABSURDITAS DALAM NASKAH DRAMA “DOR” KARYA PUTU WIJAYA TINJAUAN EKSISTENSIALISME Yomi Kristina Sari; Yusra D.; Delia Sari; Melisa Andani
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 8 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v8i2.1194

Abstract

Penelitian ini mengkaji absurditas dalam naskah drama “DOR” karya Putu Wijaya melalui tinjauan eksistensialisme. Fokus kajian ini berangkat dari kehadiran berbagai keganjilan dan ketidakpastian hidup dalam naskah yang merefleksikan problem eksistensial manusia modern. Tujuan penelitian meliputi pendeskripsian bentuk-bentuk absurditas dalam perwatakan tokoh, analisis makna absurditas melalui perspektif eksistensialisme, serta pengungkapan relevansinya dengan realitas sosial kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analisis. Data berupa dialog, monolog, dan tindakan tokoh yang merepresentasikan fenomena absurditas dianalisis berdasarkan konsep eksistensialisme Jean-Paul Sartre dan Albert Camus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa absurditas dalam “DOR” terwujud melalui percakapan repetitif, pernyataan kontradiktif, dan keputusan irasional. Unsur-unsur ini tidak hanya menjadi ciri estetika drama absurd, tetapi juga berfungsi sebagai kritik sosial terhadap sistem hukum dan realitas masyarakat Indonesia. Dengan demikian, “DOR” merepresentasikan sintesis antara estetika absurditas, refleksi eksistensial, dan kritik sosial yang relevan dengan kehidupan manusia modern.
STRUKTUR INTRINSIK DRAMA "GODLOB" KARYA DANARTO Ananda Putri Nabila; Yusra D.; Fadiya Resviani; Perdi Ardiansyah
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 8 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v8i2.1201

Abstract

Drama tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga berfungsi sebagai representasi kehidupan sosial dan kritik terhadap realitas kehidupan manusia. Godlob karya Danarto adalah salah satu drama yang kuat dalam menyuarakan kritik tersebut, yang menampilkan ironi tentang kepahlawanan, kekuasaan, dan kekerasan dalam situasi perang. Drama ini menarik untuk dikaji karena menunjukkan penderitaan manusia yang dimanfaatkan untuk heroisme. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan pendekatan struktural, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis unsur-unsur intrinsik dalam drama Godlob karya Danarto. Metode ini digunakan untuk melihat bagaimana elemen tema, alur, tokoh, latar, dan gaya bahasa yang saling berkaitan dalam membangun makna cerita secara utuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Godlob sangat menentang kemunafikan kekuasaan dan ironi kepahlawanan dalam perang. Jalan cerita berjalan secara linier, dengan konflik yang menyebabkan tokoh Lelaki Tua kehilangan akal sehat sebagai akibat dari penderitaan dan ketidakadilan yang dia alami. Lelaki muda digambarkan sebagai korban fanatisme perang, sementara lelaki tua digambarkan sebagai korban sistem kekuasaan yang gagal. Berbagai simbol yang digunakan dalam drama ini menunjukkan bagaimana kekerasan yang dilegalkan merusak nilai-nilai kemanusiaan dan etika.Secara keseluruhan, drama Godlob menunjukkan bagaimana struktur intrinsiknya saling mendukung dalam menyampaikan kritik sosial yang kuat terhadap fakta perang dan kekuatan, serta menunjukkan bahwa perang menghancurkan tidak hanya tubuh manusia tetapi juga nilai dan moralitas manusia.