Us’an Us’an
Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Implementasi Model Kontekstual pada Pembelajaran Akidah Akhlak di Sekolah Formal dan Relevansinya terhadap Pendidikan Karakter Us’an Us’an; Waharjani Waharjani
Pendekar: Jurnal Pendidikan Berkarakter Vol 6, No 1 (2023): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/pendekar.v6i1.12002

Abstract

Abstrak: Guru Pendidikan Agama Islam memiliki peran penting memberi pemahaman agama kepada siswanya, karena PAI menjadi bagian mata pelajaran yang dimasukkan ke dalam kurikulum. Pendidikan PAI bertujuan mengembangkan seluruh potensi peserta didik lahir dan batin agar terbentuk manusia seutuhnya. Manusia seutuhnya yang dimaksud manusia yang terbentuk karakternya. Salah satu upaya yang bisa dilakukan pendidik ialah menerapkan niali-nilai pendidikan karakter berdasarkan tafsir surat Luqman ayat 12-19. Dalam proses pembelajaran, pendidik perlu menerapkannya dengan menggunakan model kontekstual, supaya siswa memahami secara mendalam apa yang dipelajarinya. Penelitian ini menggunakan kualitatif melalui literatur rivew atau library research, dimana data-data yang diperoleh melalui data primer dan sekunder. Setelah data terkumpul, kemudian dideskripsikan dan membuat kesimpulan. Berdasarkan penelitian ini, model pembelajaran kotekstual bisa diterapkan oleh guru, dan membantu siswa dalam meningkatkan pemahaman pendidikan agama mereka. Dengan metode ini manfaat yang didapatkan adalah siswa mampu menjelaskan, mempresentasikan, memahami, dan mendemonstrasikan apa yang sedang dipelajarinya.Abstrac: Islamic Religious Education teachers have an important role in providing religious understanding to their students, because PAI is part of the subjects included in the curriculum. PAI education aims to develop all the potential of students physically and mentally in order to form a complete human being. Whole human is meant by human being whose character is formed. One of the efforts that educators can do is to apply the values of character education based on the interpretation of Luqman's letter verses 12-19. In the learning process, educators need to apply it by using a contextual model, so that students understand in depth what they are learning. This study uses qualitative research through literature review or library research, where the data obtained through primary and secondary data. After the data has been collected, it is described and concluded. Based on this research, the contextual learning model can be applied by teachers, and helps students in increasing their understanding of religious education. With this method the benefits obtained are that students are able to explain, present, understand, and demonstrate what they are learning.
Pembelajaran Guru Sebagai Determinan Self-Motivation Learning Peserta Didik: Kajian Teoretis Berbasis Literatur Us’an Us’an; Ade Sofyan; Mastur Mastur
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 1 (2026): Menulis - Januari
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i1.934

Abstract

Pembelajaran guru memiliki peran strategis dalam membentuk dan meningkatkan motivasi belalajar peserta didik. Motivasi belajar yang bersumber dari dalam diri peserta didik merupakan faktor kunci dalam keberhasilan proses pembelajaran, terutama dalam konteks pembelajaran yang menuntut kemandirian dan keterlibatan aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara teoretis peran pembelajaran guru sebagai determinan self-motivation learning peserta didik melalui pendekatan kajian literatur. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan menganalisis berbagai sumber ilmiah berupa buku, artikel jurnal, dan hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan topik pembelajaran guru dan motivasi belajar. Hasil kajian menunjukkan bahwa strategi pembelajaran guru, seperti penerapan metode pembelajaran yang variatif, pemberian umpan balik yang konstruktif, penciptaan lingkungan belajar yang menyenangkan, berkontribusi signifikan dalam menumbuhkan self-motivation learning peserta didik. Dengan demikian, pembelajaran guru tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer pengetahuan saja, tetapi juga sebagai faktor penentu dalam pengembangan motivasi belajar internal peserta didik. Kajian ini diharapkan dapat menjadi referensi teoretis bagi pendidik dalam merancang pembelajaran yang berorientasi pada penguatan motivasi belajar mandiri peserta didik.
Partisipasi Masyarakat sebagai Faktor Utama Keberhasilan Kebijakan Pemerintah dalam Membentuk Karakter Anak Us’an Us’an; Jenjang Waldiono; Sriyono Sriyono
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 1 (2026): Menulis - Januari
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i1.993

Abstract

Pendidikan karakter merupakan aspek fundamental dalam pendidikan nasional yang tujuannya membentuk manusia seutuhnya, beriman, berakhlak mulia, serta mampu berperan aktif dalam kehidupan sosial. Namun, berbagai fenomena penyimpangan perilaku anak menunjukkan bahwa implementasi pendidikan karakter belum berjalan secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran serta masyarakat dan kebijakan pemerintah sebagai faktor utama keberhasilan dalam pembentukan karakter anak. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan menganalisis berbagai sumber ilmiah berupa buku, artikel jurnal, dan hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan topik partisipasi masyarakat dan pemerintah dalam membentuk karakter. Hasil kajian menunjukkan bahwa pembentukan karakter anak merupakan tanggung jawab kolektif yang melibatkan orang tua, sekolah, masyarakat, dan juga kebijakan pemerintah. Partisipasi masyarakat berperan penting melalui keteladanan, pembiasaan nilai-nilai moral, penerapan norma sosial, serta keterlibatan program pendidikan berbasis komunitas. Sementara itu, pemerintah berfungsi sebagai regulator, fasilitator, pendamping, mitra, dan penyandang dana melalui kebijakan pendidikan, kurikulum, dan penciptaan iklim sosial yang kondusif. Sinergi antara partisipasi masyarakat dan kebijakan pemerintah terbukti menjadi faktor penentu dalam keberhasilan pendidikan karakter anak. Oleh karena itu, penguatan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat perlu terus dioptimalkan guna membentuk generasi yang berkarakter, berdaya saing, dan berkarakter di tengah tantangan global.
Tujuan Akhir Strategi Pembelajaran: Studi Pemikiran Ibnu Sina Us’an Us’an; Zaki Arrazaq; Unaimah Sanaya
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 1 (2026): Menulis - Januari
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i1.997

Abstract

Artikel ini mengkaji strategi pembelajaran dan tujuan akhir proses belajar dalam pemikiran Ibnu Sina serta relevansinya dengan praktik pendidikan saat ini. Strategi pembelajaran dipahami sebagai perencanaan sistematis yang mencakup metode, teknik, dan pendekatan pembelajaran dengan harapan dapat mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Dalam konteks pendidika saat ini, strategi pembelajaran tidak hanya berorientasi pada pencapaian kognitif saja, namun bagaimana mengembangkan aspek afektif, psikomotorik, dan pembentukan karakter. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan (library research) dengan menelaah sumber-sumber primer dan sekunder yang relevan, baik dari literatur pendidikan modern maupun pemikiran Ibnu Sina. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Ibnu Sina menawarkan konsep pendidikan yang bersifat integral dan humanistik, dengan tujuan akhir diarahkan pada pengembangan potensi manusia secara menyeluruh, meliputi aspek fisik, intelektual, moral dan aspek spiritual. Selain itu, pendidikan menurut Ibnu Sina harus berorientasi pada pembinaan jiwa, akhlak, dan kesiapan peserta didik untuk hidup bermasyarakat sesuai dengan bakat dan potensi yang dimilikinya. Dengan demikian, pemikiran Ibnu Sina tentang strategi pembelajaran dan tujuan akhir pendidikan memiliki relevansi yang kuat dengan kebutuhan pendidikan masa kini, khususnya dalam upaya membangun pendidikan yang aktif dan berorientasi pada pembentukan manusia seutuhnya.