Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

ULAMA INDONESIA KONTEMPORER (Peran, Tipologi, dan Pemikiran) Mutrofin, mutrofin -
Dinamika Penelitian: Media Komunikasi Penelitian Sosial Keagamaan Vol 19, No 1 (2019)
Publisher : LP2M IAIN Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/dinamika.2019.19.1.105-124

Abstract

This article will review the Typology of Indonesian Ulama in the Contemporary era. Indeed, the understanding of the ulama itself leaves various interpretations of meaning. In fact, some circles argue that the ulama is a term or title that is equated with the term, for example: Kyai if in the Java region, Teuku is in the Aceh region, Tuan Guru is in the Bima region, and other terms. In general, scholars are a term for those who have the ability to understand a science. In this case what is meant by science is the science of religion which covers various scientific disciplines. However, further this paper reviews Indonesian scholars in the contemporary era. Who are among the contemporary Indonesian scholars and how is the typology or grouping of Indonesian Ulama more specific. Keywords: Ulama, Contemporary, Thought, Typology Artikel ini akan mengulas tentang Tipologi Ulama Indonesia di era Kontemporer. Sesungguhnya pengertian ulama sendiri menyisahkan berbagai interpretasi makna. Bahkan beberapa kalangan berpendapat bahwa ulama merupakan sebuah sebutan atau gelar yang disamakan dengan istilah, misalnya: Kyai kalau di wilayah Jawa, Teuku di wilayah Aceh, Tuan Guru di wilayah Bima, dan istilah-istilah lainnya. Secara umum ulama merupakan sebuah sebutan bagi mereka yang memiliki kemampuan dalam memahami sebuah ilmu. Dalam hal ini yang dimaksudkan dengan ilmu adalah ilmu agama yang mencakup berbagai disiplin keilmuan. Namun, lebih lanjut paper ini mengulas ulama Indonesia di era kontemporer. Siapa sajakah yang termasuk ulama Indonesia kontemporer dan bagaimana tipologi atau pengelompokkan Ulama Indonesia secara lebih spesifik. Kata Kunci: Ulama, Kontemporer, Pemikiran, Tipologi
ULAMA INDONESIA KONTEMPORER (Peran, Tipologi, dan Pemikiran) mutrofin - Mutrofin
Dinamika Penelitian: Media Komunikasi Penelitian Sosial Keagamaan Vol 19 No 1 (2019)
Publisher : LP2M IAIN Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/dinamika.2019.19.1.105-124

Abstract

This article will review the Typology of Indonesian Ulama in the Contemporary era. Indeed, the understanding of the ulama itself leaves various interpretations of meaning. In fact, some circles argue that the ulama is a term or title that is equated with the term, for example: Kyai if in the Java region, Teuku is in the Aceh region, Tuan Guru is in the Bima region, and other terms. In general, scholars are a term for those who have the ability to understand a science. In this case what is meant by science is the science of religion which covers various scientific disciplines. However, further this paper reviews Indonesian scholars in the contemporary era. Who are among the contemporary Indonesian scholars and how is the typology or grouping of Indonesian Ulama more specific. Keywords: Ulama, Contemporary, Thought, Typology Artikel ini akan mengulas tentang Tipologi Ulama Indonesia di era Kontemporer. Sesungguhnya pengertian ulama sendiri menyisahkan berbagai interpretasi makna. Bahkan beberapa kalangan berpendapat bahwa ulama merupakan sebuah sebutan atau gelar yang disamakan dengan istilah, misalnya: Kyai kalau di wilayah Jawa, Teuku di wilayah Aceh, Tuan Guru di wilayah Bima, dan istilah-istilah lainnya. Secara umum ulama merupakan sebuah sebutan bagi mereka yang memiliki kemampuan dalam memahami sebuah ilmu. Dalam hal ini yang dimaksudkan dengan ilmu adalah ilmu agama yang mencakup berbagai disiplin keilmuan. Namun, lebih lanjut paper ini mengulas ulama Indonesia di era kontemporer. Siapa sajakah yang termasuk ulama Indonesia kontemporer dan bagaimana tipologi atau pengelompokkan Ulama Indonesia secara lebih spesifik. Kata Kunci: Ulama, Kontemporer, Pemikiran, Tipologi
Dikotomi Ulama menurut Perspektif Abu Hamid Al-Ghazali Mutrofin Mutrofin; Izzul Madid
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 23, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v23i2.9243

Abstract

Islamic Scholars (ulama) have important position in Muslim society, they are not only as references but also as determinants in decisions making process, specially related to the benefit of the ummah, as a result, who can be called ulama is not clear, as a result, ulama are defined according to the interests of certain groups. This article examines the dichotomy of scholars in Al-Ghazali's perspective. This article uses data from literature review sources, especially the works written by Al-Ghazali. This article concludes that Al-Ghazali did a sociological reading of the ulama concept according to the social, political, and life context. At the time of Al-Ghazali, the term ulama had become a certain social status, even this term was juxtaposed with certain types of scholarship. With the various titles of ulama according to their expertise, this condition caused a conflict between them. The goal of each group is to claim the most correct according to their opinion. This article discusses the definition of ulama in Alghazali's perspective along with the standards developed by Alghazali to determine the criteria of the ulama in the context of the Islamic community during  he lived that stiil suitable to be applied today.Abstrak:  Ulama memiliki posisi yang cukup penting dalam masyarakat, mereka tidak hanya sebagai panutan namunn juga sebagai penentu dalam penggambilan keputusan terkait denggan kemaslahatan umat, akibatnya siapa yang dapat disebut sebagai ulama merupa area yang kadang abu-abu, akibatnya ulama didefinisikan sesuai kepentingan kelompok tertentu.  Artikel ini  mengkaji tentang dikotomi ulama dalam perspektif Al-Ghazali.  Artikel ini mengunakan data dari sumber kajian kepustakaan khususnya karya-karya yangg ditulis oleh Alghazali.  Kesimpulan dari artikel ini bahwa Al-Ghazali melakukan pembacaan secara sosiologis atas konsep ulama tersebut sesuai dengan konteks sosial, politik dan kehidupannya. Pada masa Al-Ghazali istilah ulama sudah menjadi status sosial tertentu, bahkan istilah ulama ini disandingkan pada jenis keilmuan tertentu. Dengan berbagai julukan ulama sesuai dengan keahliannya tersebut, memunculkan mereka untuk saling berseteru antara ulama satu dengan lainnya. Tujuannya adalah untuk mengklaim yang paling benar menerut pendapat tertentu.  Artikel ini membahas tentang definisi ulama dalam perskpektif Alghazali beserta standar yang dikembang oleh Alghazali untuk mentukan kriteria ulama dalam konteks masyarakat islam saat itu.
Penyampaian Pesan Dakwah Dalam Film “Aku Tahu Kapan Kamu Mati” Tahun 2020 (Pendekatan Analisis Semiotika) Alysha Kurnia Sulistyandi; Mutrofin Mutrofin
Al-I'lam: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 5, No 1 (2021): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jail.v5i1.5178

Abstract

Abstrak:Di tengah perkembangan masyarakat, film bukan hanya berfungsi sebatas penyampaian informasi, namun juga sebagai media hiburan, pendidikan, kritikan, dan lain sebagainya, termasuk sebagai media dakwah. Begitu kuatnya media ini mempengaruhi pikiran, sikap dan tindakan penonton. Salah satunya pada film yang menjadi objek dalam penelitian ini yaitu film Aku Tahu Kapan Kamu Mati.Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui pesan dakwah yang ada pada film. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis semiotika Charles Sanders Peirce. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi dan dokumentasi. Hasil pembahasan penelitian ini meliputi representasi pesan dakwah yang digambarkan pada film dan makna tanda yang terkandung pada dialog dan adegan Film berdasarkan Representamen, objek dan Interpretant.Abstract:In the midst of community development, films are not only limited to conveying information, but also as a medium for entertainment, education, criticism, and so on, including as a medium for da’wah. So strong, is this media influencing the thoughts, attitudes and actions of the audience? One of them is the film that is the object of this research, namely the film “Aku Tahu Kapan Kamu Mati”. This research was conducted with the aim of knowing the da’wah messages in the film. This study used a descriptive qualitative method with the semiotic analysis approach of Charles Sandres Peirce. The data collection technique was done by means of observation and documentation. The result of the discussion of this study include the representation of da’wah messages that are depicted in the film and the meaning of the signs contained in the dialogue and film scenes based on the representation, object and interpretation
REAKTUALISASI ETIKA ISLAM TERHADAP LINGKUNGAN (Sebuah Upaya Penanggulangan Krisis Global Perspektif Islam) Mutrofin Mutrofin
Asketik : Jurnal Agama dan Perubahan Sosial Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Lembaga penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LPPM) IAIN Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/ask.v3i2.1562

Abstract

This article review about the Industrial Revolution that occurred in the 18th century had an impact on the acceleration of natural destruction. Bald forest, river bribery, and so on indicate an unbalanced relationship between humans and the environment. The global crisis often leads to disasters such as landslides, floods, forest fires, droughts and more. Various damage that occurs is none other than because of human activities that treat nature arbitrarily. In fact, Islam teaches its people to always maintain and maintain the universe. Efforts to re-actualize the ethics of Islam to the environment can run optimally with some principles of environmental management taught in Islam. These principles are then used as the basis for tackling the current global crisis so that the balance between humans and the environment will be realized.
Da’wah Strategy for Disabilities People in the Covid-19 Pandemic Era Mutrofin Mutrofin
MUHARRIK: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol 5 No 1 (2022): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial
Publisher : Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/muharrik.v5i1.947

Abstract

This article attempts to explore various problems faced by people with disabilities in the pandemic era. Da'wah is more than just Amar Ma'ruf Nahi Munkar (perform good and keep away from bad). The study of da'wah is not just about conveying Islamic treatizes but keeping up with the times. Dilemmas that arise in the community must find immediate solutions, especially those related to basic needs. The methods and models of da'wah must adapt to the current da'wah models. The appropriate da'wah model for groups with disabilities in the new normal is the da'wah bil maal method (a missionary endeavour using wealth, such as giving money to the poor). This study adopts a qualitative method and draws samples from five informants. The informants are from the disability group, especially those who are married. The data was collected using in-depth interviews. This study aims to increase awareness of the importance of mutual respect and mutual assistance among people.
Strategi Komunikasi Organisasi Dalam Membentuk Karakter Spiritual (Studi Kasus Dalam Ormas Persaudaraan Setia Hati Terate Di MTsN 4 Blitar) Mohamad Efendi; Mutrofin Mutrofin
Al-I'lam: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 6, No 1 (2022): September 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jail.v6i1.11146

Abstract

Abstrak: Kajian ini merupakan distansi dari penelitian sebelumnya, yang bertujuan menganalisa bagaimana strategi komunikasi organisasi dapat mempengaruhi individu maupun kelompok. Studi kasus penelitian ini ormas persaudaraan setia hati terate di MTsN 4 Blitar, agar dapat menganalisa bagaimana strategi yang di gunakan untuk membentuk karakter spiritual pra remaja. Karakter spiritul sangat di butuhkan bagi umat manusia dalam menjalani kehidupan, menemukan jati diri, memperindah kehidupan dan mencintai Tuhan semesta alam. Penelitian ini menggunakan metode diskriptif kualitatif, menggali sumber melalui wawancara dan observasi secara langsung. Dengan jenis litbrary research atau kepustakaan menggunakan rujukan buku, dan jurnal terdahulu dalam menunjang penelitianAbstract: This study is a departure from previous research, which aims to analyze how organizational communication strategies can affect individuals and groups. The case study of this research is the brotherhood loyal heart terate organization at MTsN 4 Blitar, in order to be able to analyze how the strategies are used to shape the spiritual character of pre-adolescents. Spiritual character is very much needed for human beings in living life, finding identity, beautifying life and loving God of the universe. This study uses a qualitative descriptive method, digging sources through interviews and direct observation. With this type of literature research or literature using reference books, and previous journals to support research
Urgensi Peningkatan Kualitas Literasi Keislaman Melalui Digitalisasi (Studi Pada Followers Tiktok Da’i Muda Husain Basyaiban Arini Tika Sabila; Mutrofin Mutrofin
Jurnal Dakwah dan Komunikasi Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Curup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29240/jdk.v8i1.7335

Abstract

Penelitian ini mengulas mengenai bagaimana perkembangan literasi Islam di era digital. Penelitian ini bertujuna untuk mengetahui urgensi peningkatan kualitas literasi Islam melalui digitalisasi dengan studi pada followers TikTok Husain Basyaiban, selain itu tujuan dari penelitian ini juga untuk mengetahui dampak konten dakwah pada akun TikTok @basyasman00 terhadap peningkatan kualitas literasi keislaman followersnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan menggunakan etnografi virtual sebagai metode yang akan digunakan dalam penelitiannya. Adapun teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Hypodermic needle theory milik Schramm. Teori ini sangat berkaitan dengan penelitian ini, hal tersebut dikarenakan media massa mempunya kekuatan untuk mempengaruhi khalayak secara mendalam. Pada hasil penelitian terlihat bahwa penggunaan digitalisasi sebagai media dakwah pada saat penyampaian pesan oleh Husain Basyaiban dapat meningkatkan pengetahuan keislaman bagi siapa saja yang menyimak maupun menonton serta memahami isi pesan dakwahnya.
Pembacaan Surah Yasin Ayat 9 dan 83 untuk Asma’ Pamungkas dan Panglimunan dalam Pencak Silat Nahdlatul Ulama’ Pagar Nusa: (Kajian Living Qur’an di Pondok Jidarul Ummah Pakel Kabupaten Tulungagung) Lana Umi Fauziyah; Mutrofin Mutrofin
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 11 No. 2 (2021): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v11i2.123

Abstract

Penelitian living Qur’an dalam artikel ini mengkaji tentang amalan pembacaan surah Yasin ayat 9 dan 83 untuk asma’ pamungkas dan panglimunan dalam pencak silat Pagar Nusa di Pondok Jidarul Ummah, Pakel, Kabupaten Tulungagung. Amalan tersebut dilaksanakan oleh anggota yang telah menjadi pelatih atau asisten pelatih. Dalam hal ini, peneliti menggunakan metode pendekatan fenomenologis berdasarkan observasi dan wawancara dengan menggunakan analisis kualitatif. Kemudian makna yang dihasilkan menggunakan analisis berdasarkan pada teori sosiologi pengetahuan Karl Mannheim yang meliputi tiga kategori makna, yaitu, 1) makna objektif, bahwa dari pengamalan surah Yasin ayat 9 dan 83 dengan tujuan untuk asma’ pamungkas yang berupa pukulan dan untuk panglimunan (menghilang), 2) makna ekspresif, berharap tidak hanya mendapatkan kekuatan magis, tetapi juga memperoleh kemudahan dalam hal lain, dan terhindar dari segala bentuk kejahatan, dan 3) makna dokumenter, amalan itu menjadi rutinitas yang dialakukan secara istiqomah, yang secara tidak langsung, akan melatih anggota Pagar Nusa lebih konsisten mengamalkan amalan yang lainnya.
Pendampingan Penguatan Rohani Berbasis Nilai-Nilai Moderasi ST Noer Farida Laila; Muhammad Mahfud Ridwan; Mutrofin Mutrofin; Widatul Himawati; Khodijatul Mukarromah; Nihla Nadida Hanifa
ABDI KAMI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 8 No. 1 (2025): February 2025
Publisher : LPPM Institut Agama Islam (IAI) Ibrahimy Genteng Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69552/abdi_kami.v8i1.2777

Abstract

Assistance for spiritual and religious strengthening is an important effort for every human being/individual, especially for those who are inmates in correctional institutions. This mentoring activity aims at moderation values which are expected to have a positive impact on the rehabilitation process of the assisted residents. The aim of this activity is to build awareness and be able to implement the values of moderation in the Trenggalek. Detention center environment. The aim of this service activity is to find out how the understanding and tolerance of the inmates is based on the value of moderation and to find out how the values of moderation are implemented. The implementation method in this servise program uses a research model based on Participatory Action Research (PAR). This method tries to realize three benchmarks, namely the exixtence of a shared commitment with the community and the existence of new institutions in the community that are built based on needs. During the training, various methods are used to ensure active participation and involvement of all participants. The FGD session was held by inviting speakers from several different backgrounds. Group discussions, simulations and role-playing are implemented to help inmates understand the perspectives of othes religions and build empathy. These activities aim to facilitate constructive dialogue and reduce interreligious stereotypes or prejudice. This training was designed with a socio-religious approach to the diversity of religions and beliefs among the inmates. The result of this service is a significant increase in understanding of the values of religious moderation among the inmates.