Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KAJIAN INTERAKSI SIMBOLIK DALAM FILM DOKUMENTER SIKOLA BARUAK (Tradisi beruk pemetik kelapa di Padang Pariaman, Sumatera Barat) Try Mulyani; Handri yotopo; Rustim Rustim
ARTCHIVE: Indonesian Journal of Visual Arts and Design Vol 4, No 1 (2023): ARTCHIVE : Indonesia Journal of Visual Art and Design
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53666/artchive.v4i1.3766

Abstract

Film dokumenter “sikola baruak” bercerita tentang bagaimana proses melatih beruk-beruk liar menjadi beruk pemetik buah kelapa agar bisa dimanfaatkan tenaganya sebagai mata pencarian masyarakat nagari Toboh Gadang, Kecamatan Sintuk Toboh Gadang, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Film yang disutradarai oleh Genggam Arsuma Oejoen ini berhasil meraih penghargaan Nominasi Best Documentary Denpasar Film Festival 2016.  Banyak simbol dalam film ini salah satunya interaksi simbolik antara pawang dengan baruak-baruak liar yang dilatih dalam memetik kelapa.Penelitian ini memiliki tujuan untuk memperdalam dan memahami terkait bagaimana interaksi simbolik terhadap aktor dengan hewan yang membentuk sebuah sistem makna. Penelitian ini menggunkan metodologi penelitian kualitatif, melalui observasi atau pengamatan secara menyeluruh pada objek penelitian yaitu dengan menonton film Sikola baruak. Data dianalisis dengan menggunakan teknik analisis naratif untuk menangkap adegan dalam menganalisis interaksi simbol antara teks dan konteksnya menggunkan teori interaksi simbolik Helber Blumer, dimana manusia membentuk makna melalui proses komunikas Berdasarkan analisis interaksi simbolik yang digunakan dalam berkomunikasi untuk menyampaikan pesan yang dimaksud oleh aktor dalam memahami simbol. Hasil dari penelitian ini simbol-simbol yang dikomunikasikan oleh pawang dimediasi oleh bahasa lisan, gerakan tubuh, dan isyarat. Penafsiran berdasarkan simbol-simbol atau Blumer sebagai proses self-indication dan menentukan tindakan oleh beruk sesuai dengan makna yang ada pada simbol  Kata Kunci: film sikola baruak, interaksi simbolik, naratif, Helber Blumer   ABSTRACTThe documentary film Nikola Barak tells the story of how the process of training wild bark to become coconut-picking break so that their energy can be utilized as a livelihood for the people of Nagari Toboh Gadang, Sintuk Toboh Gadang District, Padang Pariaman Regency, West Sumatra. The film, which Genggam Arsuma Oejoen directed, won the Best Documentary Denpasar Film Festival 2016. This film has many symbols, including the symbolic interaction between the handler and wild break-break, who are trained in picking coconuts. This study aims to deepen and understand how the symbolic interactions between actors and animals form a system of meaning. This study uses a qualitative research methodology through observation or thorough observation of the research object, namely by watching the film Sikola Baruak. The data were analyzed using narrative analysis techniques to capture the scene in analyzing the interaction of symbols between the text and its context using Helber Blumer's symbolic interaction theory, where humans form meaning through communication. The conclusion of this study The symbols communicated by the handler are mediated by spoken language, body movements, and signs. Interpretation based on symbols or Blumer as a process of self-indication and determining the actions of the beuk following the meaning contained in the symbol  
Akselerasi Pemulihan Ekonomi Pertanian Terdampak Bencana Melalui Inovasi Jembatan Non-Beton di Nagari Sungai Landia, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam Rustim Rustim; FX Yatno Karyadi; Wahyu Nova Riski; Deddy Desmal; Zainal Abidin; Adri Yandi; Abdul Rahman
Jurnal Abdidas Vol. 7 No. 2 (2026): April
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/abdidas.v7i2.1340

Abstract

Nagari Sungai Landia mengalami kerusakan konektivitas dan penurunan ekonomi pertanian pascabencana banjir bandang dan tanah longsor pada akhir tahun 2025, sehingga memerlukan solusi infrastruktur yang adaptif dan berkelanjutan. Program ini menerapkan metode pemberdayaan partisipatif berbasis kolaborasi interdisipliner dalam pembangunan jembatan non-beton menggunakan material lokal. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa tiga unit jembatan utama berhasil dibangun, mampu memulihkan lebih dari 80% akses lahan pertanian, menurunkan biaya logistik, serta meningkatkan aktivitas ekonomi dan resiliensi sosial masyarakat. Dengan demikian, inovasi jembatan non-beton terbukti efektif sebagai solusi pemulihan ekonomi pascabencana yang berkelanjutan dan berpotensi direplikasi di wilayah terdampak lainnya.