Ni Nyoman Ayu Kunti Aryani, Ni Nyoman
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Tari Leko di Pendem, Jembrana Sebuah Kajian Tekstual Ayu Kunti Aryani, Ni Nyoman
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 3 No 2 (2017): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.756 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v3i2.235

Abstract

Leko merupakan salah satu kesenian yang terdapat pada beberapa wilayah di Bali, salah satunya di Kabupaten Jembrana. Leko yang ada di Jembrana merupakan sebuah tari balih-balihan (hiburan) yang memiliki kekhasan tersendiri yakni penari dijaga oleh seorang pecalang yang membawa klewang (pedang) serta tidak memperkenankan pengibing untuk menyentuh penari. Penelitian ini merupakan salah satu upaya pelestarian tari Leko di Pendem Jembrana, melalui pendokumentasian secara tertulis yang membahas secara rinci mengenai tari Leko dari sudut pandang tari. Fokus bahasan dalam penelitian ini yakni tari Leko di Pendem Jembrana yang dianalisis melalui kajian tekstual. Analisis tekstual merupakan suatu cara yang digunakan untuk mendapatkan dan menganalisis informasi dalam riset akademik. Dalam hal ini, tari Leko dipandang sebagai sebuah teks yang dapat dibaca layaknya sebuah tulisan. Kajian tekstual dalam tari Leko dibahas melalui tiga pokok bahasan yang meliputi koreografis, struktural, dan simbolik. Koreografis membahas mengenai gerak tarinya, teknik gerak, gaya gerak, jumlah penari, jenis kelamin dan postur tubuh, ruang dalam tari Leko, waktu, musik iringan tari, analisis dramatik, serta tata teknik pentas (tata cahaya, tata rias, dan tata busana). Struktural pembahasannya meliputi struktur gerak dan struktur pementasan tari Leko. Sedangkan pada bagian simbolik membahas mengenai simbol pada gerak, kostum, dan tata riasnya. Penulisan ini berdasarkan pengamatan melalui video tari Leko yang dipentaskan pada Pesta Kesenian Bali tahun 2009. Metode yang digunakan dalam tulisan ini, yakni observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan uraian pembahasan mengenai koreografis, struktural, dan simbolik, dapat disimpulkan bahwa tari Leko Jembrana memiliki memiliki koreografi, struktur dan simbol dalam tari Bali yang masih bersifat tradisi Bali dan belum mendapat pengaruh perkembangan gerak seperti yang berkembang saat ini.Leko is an art that exists in some regions in Bali, including Jembrana Regency. Leko that exists in Jembrana is a balih-balihan (entertainment) dance which has its own characteristic where the pengibing (spectator who joins in the dance) is banned to touches the dancer because pecalang will guard her with their klewang (machete). This research is an effort to preserve Leko dance in Pendem Jembrana, through written documentation that discuss the details about Leko dance from dance point of view. The main focus of this article is on the study about dance concept of leko in Pendem Jembrana using textual study. Textual analysis is a method used to obtain and analyze information in academic research. In this case, Leko is viewed as a readable text like writings. Textual study about Leko dance is discussed in three main subjects including choreography, structure, and symbols. Choreography discussion is about the dance movements, motion techniques, motion styles, number of dancers, sex and posture, space in Leko dance, time, dance music, dramatic analysis, and performances (lighting, makeup and dressing). Structural discussions include motion structure and Leko dance performance structure. Whereas the symbolic section discusses about the symbols in the motion, costumes, and makeup. This writing is based on observations of Leko dance video performed at the Bali Arts Festival in 2009. The methods used in this paper are observation, interviews, and documentation Based on textual study of leko dance in Jembrana it can be concluded that its choreography, structure, and symbols haven’t get influence from development of motion nowadays and still keep the value of Balinese tradition.
TATA RIAS WAJAH PENARI BALI PERIODE TAHUN 1920-1940-AN (Perspektif Maestro Tari Bali Ni Ketut Arini) Ni Nyoman Ayu Kunti Aryani; Anak Agung Ayu Mayun Artati
Jurnal Seni Makalangan Vol. 12 No. 1 (2025): "Merawat Warisan" Nilai Tradisi dan Kontemporer
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tata rias merupakan elemen penting dalam seni pertunjukan, termasuk dalam tari Bali, karena tidak hanya mempercantik penampilan tetapi juga memperkuat karakter dan ekspresi penari. Penelitian ini mengungkap tata rias penari Bali pada periode 1920–1940-an berdasarkan keterangan dari maestro tari Bali Ni Ketut Arini (82 tahun), berdasarkan pada ingatannya sewaktu masih kecil saat memperhatikan para penari berhias, dan mengacu pada foto seniman I Wayan Rindi yang merupakan paman sekaligus guru tari dari Ibu Arini. Metode yang digunakan meliputi wawancara, observasi, studi dokumen, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata rias pada masa tersebut menggunakan bahan-bahan alami seperti jelaga, buah pinang, tangkai sirih, daun dlungdung (dadap berduri), minyak kelapa, perlengkapan nginang, kapas, bedak dari bahan alami, dan pamor (kapur sirih). Peralatan sederhana yang digunakan dalam proses menata rias seperti lampu sentir, lidi, pisau, dan cermin. Proses merias didahului dengan persembahyangan untuk memohon restu-Nya agar proses merias berjalan dengan lancar. Kajian ini memperkaya pemahaman terhadap praktik tata rias tradisional dan kearifan lokal dalam seni pertunjukan Bali.
ELEMEN KOREOGRAFI TARI PENYAMBUTAN PRASNAYA PRAMI Ni Komang Sri Wahyuni; Ni Made Liza Anggara Dewi; Ni Nyoman Ayu Kunti Aryani
Jurnal Seni Makalangan Vol. 12 No. 2 (2025): "Ruang Kreatif Mencipta Tari"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya Tari Prasnaya Prami merupakan tari penyambutan yang menggabungkan nuansa gerak tari Jawa dan Bali sebagai inovasi dalam pengembangan tari penyambutan di Bali. Perpaduan ini merefleksikan keharmonisan budaya serta memvisualisasikan simbol keramahan yang sejalan dengan nilai Pawongan dalam Tri Hita Karana. Secara etimologis, prasnaya berarti penghormatan dan prami merujuk pada sosok perempuan anggun dan penuh kasih, yang menjadi dasar artistik dalam membangun karakter tarian. Karya ini merupakan bagian dari Program P2SD Berdampak ISI Bali 2025 dan telah didiseminasikan pada Bali Nata Bhuwana Nasional 2025 di Yogyakarta. Penulisan ini menggunakan konsep pemikiran Y. Sumandiyo Hadi mengenai elemen koreografi dengan pendekatan kualitatif melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasilnya berupa pencatatan struktur koreografi yang mencakup (1) Jumlah penari, jenis kelamin, dan postur tubuh, (2) Ruang tari, (3) Iringan/musik tari, (4) Gerak tari, (5) Judul tari, (6) Tema tari, (7) Tipe/jenis/sifat tari, (8) Mode/cara penyajian, (9) Rias dan kostum tari, (10) Tata cahaya, dan (11) Properti tari. ABSTRACT CHOREOGRAPHIC ELEMENTS OF THE PRASNAYA PRAMI WELCOMING DANCE, DECEMBER 2025. Prasnaya Prami is a welcoming dance that integrates movement nuances from Javanese and Balinese dance traditions as an innovative contribution to the development of welcoming dances in Bali. This fusion reflects intercultural harmony and embodies the symbolism of hospitality aligned with the Pawongan values in the Tri Hita Karana philosophy. Etymologically, prasnaya means “honor,” while prami refers to a graceful and gentle woman, forming the artistic foundation of the dance’s character. Created as part of the 2025 P2SD Berdampak Program of ISI Bali, the work was presented at the 2025 Bali Nata Bhuwana National event in Yogyakarta. This writing employs Y. Sumandiyo Hadi’s conceptual framework on choreographic elements using a qualitative approach through observation, interviews, and documentation. The findings present a detailed mapping of the choreography, including (1) number, gender, and posture of dancers, (2) dance space, (3) musical accompaniment, (4) movement vocabulary, (5) title, (6) theme, (7) type/character of dance, (8) mode of presentation, (9) makeup and costume, (10) lighting design, and (11) properties used. Keywords: Choreographic Elements; Prasnaya Prami.