Suwito, Gregorius
Sekolah Tinggi Teologi Kristus Alfa Omega Semarang

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Dimensi Teologis Pujian dan Penyembahan dalam Eksorsisme: Analisis Kualitatif Pengalaman Pelayanan Pelepasan Suwany, Suwany; Gidion, Gidion; Suwito, Gregorius
Shift Key : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol. 15 No. 1 (2025): Regular Issue, Volume 15 Number 1 (2025)
Publisher : P3M STT Kristus Alfa Omega

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37465/shiftkey.v15i1.489

Abstract

The potential of praise and worship as a strategic tool to face spiritual challenges is often overlooked in ministry practice. A deep and comprehensive understanding of the biblical principles underlying praise and worship is crucial to empowering the ministry. This study aims to explore the role of praise and worship in spiritual warfare and to understand the criteria that must be possessed in deliverance ministry. The research method used is descriptive qualitative, with data collection through interviews with ten data sources who have experience with praise and worship in deliverance ministry. The results of the study include praise and worship as an effective tool in facing the powers of darkness.
MEMBINGKAI PRINSIP PENDISIPLINAN TUHAN YESUS BERDASARKAN MARKUS 8:33 Jon, Bong Min; Suwito, Gregorius
Shift Key : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol. 12 No. 1 (2022): Regular Issue, Volume 12 Number 1 (2022)
Publisher : P3M STT Kristus Alfa Omega

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37465/shiftkey.v12i1.210

Abstract

This study aims to find out how the disciplinary principle of the Lord Jesus is based on Mark 8:33 and its application. The method used in this research is qualitative with the type of case study. The results of the research are that the principle of discipline includes the respondent's understanding of the meaning and importance of discipline for positive things. The purpose of discipline is the reason for regular work in the office and the lack of violations that occur. The principle of discipline carried out by the Lord Jesus is the reason for doing work in the office.
Implementasi Musik dalam Misi Lintas Budaya pada Program Pengabdian Masyarakat STT Kristus Alfa Omega di Daegu, Busan, dan Jinju Korea Selatan Yunatan Krisno Utomo; Gregorius Suwito; Rini Adiyati; Ricky Nelson
Real Coster : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 1: March 2026
Publisher : Institut Kristen Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/6r6q9286

Abstract

Globalization has intensified cross-cultural interactions, demanding contextual and adaptive mission approaches that transcend conventional methods. This community service (PkM) study examines the role of music as a cross-cultural mission medium in STT Kristus Alfa Omega's community service activities across Daegu, Busan, and Jinju, South Korea. Employing a descriptive qualitative approach, data were collected through participatory observation, in-depth interviews, and documentation analysis. Findings reveal that music significantly enhanced participant engagement, fostered more inclusive cross-cultural interactions, and generated positive emotional and social responses toward the Gospel message. The adaptation of local musical elements combined with bilingual performance strategies strengthened community acceptance and deepened relational trust across cultural boundaries. Furthermore, music functioned not merely as a communicative medium, but as a strategic missiological instrument for building intercultural relationships, increasing community participation, and facilitating the internalization of spiritual values. These findings affirm that a contextual, music-based community service model holds substantial potential for replication across diverse multicultural contexts, contributing meaningfully to the development of contextual missiology in East Asia. Keywords: cross-cultural mission; contextual missiology; music as mission medium; community engagement; intercultural spirituality Abstrak Globalisasi telah mengintensifkan interaksi lintas budaya, menuntut pendekatan misi yang kontekstual dan adaptif melampaui metode konvensional. Studi Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini mengkaji peran musik sebagai media misi lintas budaya dalam kegiatan pengabdian masyarakat STT Kristus Alfa Omega di Daegu, Busan, dan Jinju, Korea Selatan. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan analisis dokumentasi. Temuan menunjukkan bahwa musik secara signifikan meningkatkan keterlibatan partisipan, memfasilitasi interaksi lintas budaya yang lebih inklusif, serta menghasilkan respons emosional dan sosial yang positif terhadap pesan Injil. Adaptasi elemen musik lokal yang dipadukan dengan strategi pertunjukan bilingual memperkuat penerimaan komunitas dan mempererat kepercayaan relasional lintas budaya. Lebih jauh, musik berfungsi bukan sekadar sebagai medium komunikatif, melainkan sebagai instrumen missiologis strategis dalam membangun relasi interkultural, meningkatkan partisipasi komunitas, dan memfasilitasi internalisasi nilai-nilai spiritual. Temuan ini menegaskan bahwa model PkM berbasis musik yang kontekstual memiliki potensi signifikan untuk direplikasi dalam berbagai konteks multikultural, berkontribusi pada pengembangan misiologi kontekstual di Asia Timur. Kata kunci: misi lintas budaya; misiologi kontekstual; musik sebagai media misi; keterlibatan komunitas; spiritualitas interkultural
Rancangan Kurikulum Sekolah Minggu bagi anak Usia 7 Tahun di Sinode Gereja Bethel Tabernakel Ragil Kristiawan; David Priyo Susilo; Gregorius Suwito; Willyanto Pontonuwu; Tri Astuti
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 6, No 1 (2025): MEI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v6i1.209

Abstract

The curriculum is a vital part of the implementation of Sunday school. The GBT Synod understands this so they plan to create a curriculum that can be used nationally. As a concrete step, the GBT Synod collaborated with STT KAO to produce Sunday school curriculum teaching for 7-year-old children. What is the right curriculum design for 7-year-old Sunday schoolchildren at the GBT Synod? By using this type of qualitative research, literature studies are obtained several important things to answer this question. Some aspects that need to be considered in making this curriculum include: the urgency of the curriculum itself, the characteristics of 7-year-old Sunday school children, and the spirituality of Sunday school children at the age of 7. As a result, several things can be mentioned in this curriculum. First, the curriculum is set in a span of one year. Second, the content in the curriculum must pay attention to the themes that have been the dogma of GBT. Third, the content of the curriculum must also pay attention to the ecclesiastical calendars. Finally, 7-year-old Sunday schoolchildren are equipped with the creation stories in the Bible as the basis for an introduction to Christian doctrine.Abstrak:Kurikulum menjadi bagian yang vital dalam penyelenggaraan sekolah minggu. Sinode GBT memahami akan hal ini sehingga mereka merencanakan adanya pembuatan kurikulum yang dapat dipakai secara nasional. sebagai langkah konkritnya, Sinode GBT bekerjasama dengan STT KAO untuk menghasilkan pengajaran kurikulum sekolah minggu bagi anak usia 7 tahun. Bagaimanakah rancangan kurikulum yang tepat bagi anak sekolah minggu usia 7 tahun di Sinode GBT? Dengan menggunakan jenis penelitian kualitatif studi pustaka didapatkan beberapa hal penting untuk menjawab pertanyaan ini. Beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan dalam pembuatan kurikulum ini diantaranya: urgensi dari kurikulum itu sendiri, karakteristik anak sekolah minggu usia 7 tahun, serta kerohanian anak sekolah minggu di usia 7 tahun. Sebagai hasilnya, beberapa hal dapat disebutkan dalam kurikulum ini. Pertama, kurikulum ditetapkan dalam rentang satu tahun. Kedua, Isi dalam kurikulum harus memperhatikan tema-tema yang selama ini menjadi dogma GBT. Ketiga, isi kurikulum juga harus memperhatikan kalender-kalender gerejani. Terakhir, anak sekolah minggu usia 7 tahun dibekali dengan cerita-cerita penciptaan dalam Alkitab sebagai dasar pengenalan doktrin Kristen. Kata Kunci: Kurikulum Sekolah Minggu, Anak 7 Tahun, Sinode GBT
Pernikahan sebagai ruang liminal: Rekonstruksi teologis sakramen dalam perspektif studi ritual Gregorius Suwito; Jon
KURIOS Vol. 11 No. 3: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i3.1487

Abstract

Artikel ini mengajukan rekonstruksi teologis terhadap sakramen pernikahan Kristen melalui perspektif ritual studies, khususnya konsep liminalitas Victor Turner. Teologi pernikahan konvensional cenderung beroperasi dalam logika biner statis yang mereduksi pernikahan menjadi status ontologis yang diperoleh sekali dan permanen. Melalui analisis konseptual terhadap struktur ritus peralihan (rites of passage), artikel ini berargumen bahwa pernikahan lebih tepat dipahami sebagai permanent liminality, yakni kondisi ambang berkelanjutan yang tidak pernah sepenuhnya terselesaikan ke dalam stabilitas struktural. Implikasi teologis dari paradigma ini mencakup reinterpretasi komunitas Turner sebagai analog dengan koinonia Perjanjian Baru, serta pengembangan konsep ritual maintenance sebagai praktik liturgis domestik yang memelihara dimensi sakramental pernikahan sepanjang kehidupan pasangan.