Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

MORFOLOGI RUANG Studi Kasus Huma Gantung Buntoi Syahrozi
JURNAL PERSPEKTIF ARSITEKTUR Vol. 5 No. 02 (2010): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 5 Nomor 2 Tahun 2010
Publisher : Jurusan Arsitektur UPR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (785.634 KB)

Abstract

Huma Gantung merupakan salah satu tipe rumah tradisional masyarakat Dayak. Secara fisik HumaGantung memiliki besaran yang lebih kecil dari Betang. Ciri khusus yang ada pada Huma Gantungadalah memiliki ketinggian panggung yang yang cukup tinggi sesuai dengan namanya yang berartirumah tinggi.Huma Gantung di desa Buntoi Kabupaten Pulang Pisau merupakan salah satu contoh yang masihberdiri sampai saat ini. Bangunan yang berdiri pada tahun 1870 yang lalu telah mengalami banyakperubahan dari bentuk semula pada saat Demang Singa Jalla berkuasa. Perubahan yang terjadi meliputitata ruang, bentuk fasade maupun material bangunan. Perubahan yang terjadi dikarenakan olehbeberapa sebab antara lain adanya tuntutan penghuni, keadaan alam (rusak) ataupun pindahnya kepercayaandari tuan rumah yang baru dari agama Hindu Kaharingan menjadi penganut Kristen yngtaat (aspek religi).Sangat disayangkan apabila perubahan-perubahan yang terjadi telah mencapai titik klimaks yangmana sulit ditelusuri kembali bentuk awal dan unsur pemaknaan yang mendasari trasnformasi bentukyang terjadi. Apapun alasannya bangunan Huma Gantung ini adalah sisa peninggalan lama yang sekiranyabanyak tata nilai dan pemaknaan yang terkandung di dalamnya yang dapat dipakai sebagaipelajaran berharga.
INTEGRITAS ARSITEKTUR TUMAH BETANG KALIMANTAN TENGAH Syahrozi
JURNAL PERSPEKTIF ARSITEKTUR Vol. 10 No. 02 (2015): Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 10 Nomor 2 Tahun 2015
Publisher : Jurusan Arsitektur UPR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (954.404 KB)

Abstract

Rumah Betang, merupakan salah satu tipe rumah tradisional masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah. Saat ini keberadaannya sudah sangat memprihatinkan, rusak parah, tidak terawat bahkan banyak yang hilang tiada jejak. Terjadi perubahan bentuk karena tuntutan penghuni merupakan fakta yang sering terjadi pada rumah-rumah kuno ini. Karena kuno dan dianggap sudah ketinggalan jaman, menyebabkan keadaan arsitektur rumah betang semakin terpuruk, mulai ditinggalkan penghuninya. Bila dilihat dari sisi sejarahnya sangat disayangkan apabila betang ini hanya menjadi sebuah kenangan semata tanpa sempat dikenali sosok bentuk sebenarnya apalagi tata nilai maupun makna yang tersimpan di dalamnya. Banyak pesan dari para orang tua dahulu yang semestinya bisa digali sebagai bahan pembelajaran. Tidak kenal maka tidak sayang, barangkali ungkapan kelakar untuk menghibur diri, rumah betang sepertinya hanya dipandang dengan sebelah mata. Meskipun demikian harapan dan semangat untuk mengembangkannya tetap ada dengan kepedulian dari dinas terkait untuk usaha pelestariannya. Sayangnya arsitektur masa lalu ini seolah-olah hanya layak untuk dilestarikan saja belum dikembangkan lebih jauh sesuai konteks masa kini. Hal ini semestinya menjadi tanggung jawab semuanya, bukan hanya para arsitek. Di sisi lain terdapat fakta bahwa usaha penyelamatan rumah betang yang dilakukan terkadang membawa dampak kurang baik dengan menghilangkan, mengurangi atau bahkan menambah elemen-elemen baru yang kurang sesuai. Hal ini juga diperparah dengan tuntutan penghuni yang terpaksa melakukan perubahan-perubahan tanpa mengindahkan keasliannya, meskipun yang kedua ini cukup delematis, sulit dicari solusinya mengingat menyangkut hak atas kepemilikan rumah betang. Arsitektur tradisional rumah betang seyogyanya tidak dilihat dengan sebelah mata, namun secara menyeluruh, utuh, lengkap (integritas) agar dapat ditangkap makna filosofi yang dikandung di dalamnya. Tidak menutup kemungkinan perubahan-perubahan yang terjadi atas dasar usaha pelestarian, pembangunan, ataupun pengembangan bisa berdampak melemahnya integritas arsitektur rumah betang bila dilakukan dengan semena-mena atau hanya atas dasar kebutuhan sesaat. Integritas arsitektur betang menjadi sangat penting karena berpotensi memancarkan kewibawaan dan kejujuran masyarakat penghuninya dalam menjalani kehidupan. Melihat rumah betang secara utuh dan menyeluruh (integritas) akan terekam kearifan lokal tentang nilai-nilai filosofi hidup, budaya, keseimbangan alam dan kemanusiaan lainnya. Arsitektur tidak sekedar berbicara bentuk proporsi, komposisi dan teknis konstruksi tetapi juga tentang menemukan jati diri (Yu Sing, 2011). “ …… memandang arsitektur tradisional dari bentuk luarnya, sudah barang tentu akan menampilkan gambaran dalam citra kekinian kita yang rumit-runyam, yang muskil-muspra, yang lamban-lambat dan yang kolot-ngotot, meskipun justru sering hal yang demikian ini digandrungi dengan salah mengerti, dan dicemooh tanpa mengerti ”, (Soelarto, 1984)
MECHANICAL PERFORMANCE OF NYLON FIBER-BASED FIBER CONCRETE WITH ARTIFICIAL COARSE AGGREGATE FROM TANGKILING CLAY Liliana Sahay; Abertun Sagit Sahay; Supiyan; Syahrozi; Giris Ngini; Theo Fransisco
BALANGA: Jurnal Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Vol. 14 No. 1 (2026): Journal Balanga Edisi Januari-Juni 2026
Publisher : Jurusan Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, FKIP, Universitas Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37304/balanga.v14i1.25743

Abstract

This study investigates the physical properties of artificial coarse aggregate produced from Tangkiling clay and examines the influence of nylon fiber addition on the bulk density, compressive strength, and flexural strength of fiber-reinforced concrete. The aggregate was manufactured by firing clay at 1000°C for 15 minutes. Results indicate that the produced aggregate does not qualify as lightweight aggregate under SNI 03-2461-2002, with a maximum bulk density of 984 kg/m³, exceeding the 880 kg/m³ limit. The fiber-reinforced concrete exhibited bulk densities between 1,830 and 1,855 kg/m³. Incorporating 0.4% nylon fiber increased the bulk density above 1,850 kg/m³, classifying the mix as normal-weight concrete. Mixes containing 0.20–0.40% nylon fiber met the structural lightweight concrete requirement with compressive strengths exceeding 17.24 MPa, while 0.36% fiber content achieved the highest compressive strength of 20.03 MPa. Flexural strength ranged from 2.40 to 2.80 MPa, surpassing the 2.3 MPa minimum set by SNI 2461-2014, with the optimal value of 2.79 MPa recorded at 0.23% fiber content.