Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

KESETARAAN DAN KEPEMILIKAN HARTA BENDA DALAM PERKAWINAN PERSPEKTIF FIKIH DAN HUKUM POSITIF INDONESIA Abd. Basit Misbachul Fitri
Minhaj: Jurnal Ilmu Syariah Vol. 4 No. 2 (2023): Juli
Publisher : Lembaga Penerbitan Jurnal Ilmiah Institut Agama Islam Bani Fattah Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Kesetaraan dan kepemilikan harta benda dalam perkawinan perspektif  hukum positif diatur  dalam UU. Perkawinan tahun 1974 dalam tiga pasal, pasal 35 sampai dengan pasal 37. Menurut Ulama’ Madzhab Fikih dalam kitab-kitab fikih disebut dengan syirkah atau syarikah. Menurut Mazhab Hanafi : Syirkah Atau Syarikah dibagi menjadi dua bagian, yaitu syarikah milik dan Syirkah atau Syarikah Uqud. Menurut Mazhab Maliki, pembahasan syirkah dibagi menjadi enam, yaitu syirkah mufawadhah, syirkah inaan, syirkah amal, syirkah dziman, syirkah jabar, dan syirkah mudharabah,  Menurut mazhab Syafi’i : Syirkah dapat dibagi menjadi empat bagian. Menurut Mazhab Hambali : Syirkah dibagi menjadi dua, yaitu syirkah fil maal  dan syirkah fil uqud. Adapun dalam KHI menyatakan bahwa suami adalah kepala keluarga, dan istri sebagai ibu rumah tangga. Hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup bersama dalam masyarakat. Sedangkan dalam hukum adat Indonesia ada 3 pilihan, apakah menggunakan struktur masyarakat patrinial, Struktur masyarakat matrinial, atau Struktur masyarakat parental atau bilateral. Adapun dalam Pasal 27 Ayat (1) UUD. 1945 bahwa segala warga negara bersamaan kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak terkecuali.
TINJAUAN UU. PERKAWINAN NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERNIKAHAN SIRRI DALAM ACARA KHTBAH Muhammad Burhanuddin; Abd. Basit Misbachul Fitri
Salimiya: Jurnal Studi Ilmu Keagamaan Islam Vol. 5 No. 1 (2024): Salimiya
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) IAIFA Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58401/salimiya.v5i1.1322

Abstract

This reaserch takes the title Marriage at a Sermon event in the review of Law number 16 of 2019 (Case study in Pakel Village, Bareng District, Jombang Regency). There are two questions. First, what is the background for carrying out a sirri wedding at the Khitbah event? Second, how is the review of Law number 1 of 1974 Sirri marriage at the Khitbah event. The research we collected through interviews and documents was then analyzed using narrative techniques and content, using an analytical deductive mindset, namely the data was analyzed by reviewing Law number 1 of 1974 on Siri Marriage at the Khitbah event. The research we collected through interviews and documents was then analyzed using narrative techniques and content, using an analytical deductive mindset, namely the data was analyzed by reviewing Law number 1 of 1974 on Siri Marriage at the Khitbah event.
Analisis Faktor Penyebab Perceraian di Pengadilan Agama Nganjuk Tahun 2017–2019 Perspektif Kompilasi Hukum Islam Abd. Basit Misbachul Fitri; Halimatus Sa’adah
JAS MERAH: Jurnal Hukum dan Ahwal al-Syakhsiyyah Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : ADIDAS: Asosiasi Dosen Syari'ah STAI Darussalam Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze divorce cases at the Nganjuk Religious Court during 2017–2019 from the perspective of the Indonesian Compilation of Islamic Law (Kompilasi Hukum Islam/KHI). Specifically, the research examines the number of divorce cases, identifies the dominant factors causing divorce, and analyzes their conformity with the legal provisions governing divorce under the KHI. This study employs a qualitative empirical legal research method with a field research approach. Primary data were obtained through interviews with judges and court officials of the Nganjuk Religious Court, while secondary data were collected from court documents, legislation, and relevant literature. Data were gathered through observation, interviews, and documentation, and analyzed using the Miles and Huberman interactive model, including data reduction, data display, and conclusion drawing, with source triangulation employed to ensure data validity. The findings indicate that divorce cases remained consistently high during the 2017–2019 period, with divorce petitions filed by wives (cerai gugat) significantly exceeding divorce petitions filed by husbands (cerai talak). Economic problems constituted the most dominant cause of divorce, followed by continuous marital disputes and abandonment by one spouse. From the perspective of the Compilation of Islamic Law, the causes of divorce identified in this study generally correspond to the grounds for divorce stipulated in Article 116 of the KHI. In judicial practice, however, judges more frequently rely on Article 19 letter (f) of Government Regulation Number 9 of 1975 concerning continuous disputes and the impossibility of reconciliation as the principal legal basis for granting divorce.
Division of Marital Property in Divorce Due to Domestic Violence: A Gender Justice Perspective Abd. Basit Misbachul Fitri
VRISPRAAK : International Journal of Law Vol. 10 No. 01 (2026): March 2026
Publisher : STAI Miftahul Ula Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59689/vp7eck63

Abstract

The intersection of marital property division and domestic violence in Indonesian divorce proceedings reveals a profound gender justice deficit that existing family law frameworks have failed to adequately address. This study employs a normative-empirical legal research methodology to systematically examine whether the current legal regime governing marital property (harta bersama) division—under the Marriage Law Number 1 of 1974 as amended by Law Number 16 of 2019, the Compilation of Islamic Law (KHI), and Law Number 23 of 2004 on the Elimination of Domestic Violence (UUPKDRT)—sufficiently incorporates gender justice principles in cases where divorce is precipitated by domestic violence. Drawing on an analysis of selected court decisions from religious courts (Pengadilan Agama) and district courts (Pengadilan Negeri) from 2018 to 2023, supplemented by data from the National Commission on Violence Against Women (Komnas Perempuan), this study identifies a systematic pattern of gender injustice: courts consistently apply a formal equality standard in marital property division regardless of the history of domestic violence, thereby failing to account for the economic coercion, loss of earning capacity, and disproportionate unpaid labor contributions that characterize the economic experience of domestic violence survivors. Comparative analysis with Australia's Family Law Act and South Africa's Recognition of Customary Marriages Act illuminates viable reform pathways. The study proposes a gender-responsive marital property division framework that incorporates domestic violence as a factor requiring upward adjustment of the survivor's share, economic compensation for caregiving contributions, and procedural protections for survivors navigating property division proceedings.
Tinjauan Maṣlaḥah Mursalah Terhadap Pelaksanaan Sidang Keliling oleh Pengadilan Agama Nganjuk Siti Nafi’ah; Abd. Basit Misbachul Fitri; Abdul Hafidz Miftahuddin
USRATUNA: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol. 9 No. 2 (2026): USRATUNA: Jurnal Hukum Keluarga Islam
Publisher : Prodi  Ahwal al-Syakhsiyah STAI Darussalam Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65356/usratuna.v9i2.1110

Abstract

Sidang keliling merupakan kebijakan Mahkamah Agung Republik Indonesia untuk mendekatkan layanan hukum kepada masyarakat yang sulit menjangkau kantor Pengadilan Agama. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis pelaksanaan sidang keliling oleh Pengadilan Agama Nganjuk di Desa Tanjungtani, Kecamatan Prambon, pandangan masyarakat terhadapnya, serta meninjaunya dari perspektif maṣlaḥah mursalah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif jenis penelitian lapangan (field research) bersifat deskriptif analitik. Data dikumpulkan melalui observasi nonpartisipan, wawancara semi terstruktur dengan petugas pengadilan, kepala desa, tokoh masyarakat, dan peserta sidang, serta dokumentasi; dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan triangulasi sumber sebagai uji keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sidang keliling di Desa Tanjungtani dilaksanakan secara insidentil di Kantor Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Prambon pada 20 Juni 2025, menangani 18 perkara meliputi cerai gugat, cerai talak, isbat nikah, dispensasi kawin, dan perwalian dengan sistem hakim tunggal, sementara proses administrasi tetap dilaksanakan di kantor pengadilan. Masyarakat menilai sidang keliling memberikan kemudahan akses, efisiensi biaya dan waktu, serta secara bertahap meningkatkan kesadaran hukum, meski masih terbatas pada pihak yang berperkara. Ditinjau dari maṣlaḥah mursalah, kebijakan ini tergolong maṣlaḥah ḥājjiyyah yang sejalan dengan maqāṣid al-syarīʿah, memenuhi syarat kehujjahan menurut al-Syāṭibī dan ʿAbd al-Wahhāb Khallāf, serta termasuk kategori maṣlaḥah ẓanniyyah dan maṣlaḥah al-aghlāb/gālibah karena kemanfaatannya dirasakan oleh mayoritas masyarakat pencari keadilan.