Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PENEGAKAN HUKUM CAGAR BUDAYA DI INDONESIA: STUDI KASUS SMA “17”1 YOGYAKARTA Keling, Gendro
Kebudayaan Vol 14, No 1 (2019)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.804 KB) | DOI: 10.24832/jk.v14i1.193

Abstract

Penegakan hukum yang berkaitan dengan cagar budaya hingga ke tingkat putusan pengadilan di Indonesia masih jarang terjadi. Satu kasus baru yang terjadi tahun 2017 tentang perusakan Bangunan Cagar Budaya di Yogyakarta menjadi sangat penting karena menjadi titik tolak pelaksanaan penegakan hukum dalam Undang-Undang Cagar Budaya di Indonesia. Permasalah yang diketengahkan dalam artikel ini yaitu bagaimana gambaran kasus perusakan SMA ?17? 1 Yogyakarta sampai dengan tingkat putusan pengadilan. Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka untuk mengumpulkan data primer dan beberapa berita di media cetak sebagai data sekunder. Pelaku perusakan/pembongkaran telah diajukan ke meja hijau, Pengadilan Negeri Yogyakarta telah menjatuhkan vonis denda kepada terdakwa. Hingga saat ini vonis tersebut dinyatakan sudah ingkrah.
MAKAM KUNO DI SITUS ANGGAREKSA, KECAMATAN LOMBOK TIMUR, KABUPATEN LOMBOK: BUKTI PENGARUH AWAL ISLAM DI LOMBOK Keling, Gendro
Siddhayatra Vol 24, No 2 (2019): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1415.722 KB) | DOI: 10.24832/siddhayatra.v24i2.153

Abstract

Islam masuk dan berkembang di Nusantara melalui wilayah pesisir. Demikian juga perkembangan Islam di Lombok, dimulai dari wilayah pesisir menuju ke pedalaman. Penelitian ini berusaha mengidentifikasi makam di Situs Anggareksa sebagai salah satu bukti awal berkembangnya Islam di melalui pesisir Lombok Timur. Dari beberapa teori mengenai masuknya Islam di Lombok, Situs Makam Anggareksa menjadi salah satu bukti pengaruh Islam dari Sulawesi Selatan yang masuk melalui Lombok Timur. Metode yang digunakan untuk membedah permasalahan adalah observasi, wawancara, dan studi pustaka. Data yang sudah terkumpul kemudian dianalisis, dengan arsiktektural, komparasi, dan analisis gaya. Penelitian di lapangan didapatkan data komplek makam di Situs Anggareksa terdapat 13 makam, 5 diantaranya menunjukkan karakterisktik makam kuno, dan sisanya adalah makam umum. Setelah dianalisis didapatkan kesimpulan bahwa makam-makam kuno ini adalah type makam bugis. Hal ini menjadi salah satu bukti pengaruh Islam yang menyebar di wilayah timur Lombok adalah dari Sulawesi Selatan
PENEGAKAN HUKUM CAGAR BUDAYA DI INDONESIA: STUDI KASUS SMA “17”1 YOGYAKARTA Keling, Gendro
Kebudayaan Vol 14 No 1 (2019)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v14i1.193

Abstract

Penegakan hukum yang berkaitan dengan cagar budaya hingga ke tingkat putusan pengadilan di Indonesia masih jarang terjadi. Satu kasus baru yang terjadi tahun 2017 tentang perusakan Bangunan Cagar Budaya di Yogyakarta menjadi sangat penting karena menjadi titik tolak pelaksanaan penegakan hukum dalam Undang-Undang Cagar Budaya di Indonesia. Permasalah yang diketengahkan dalam artikel ini yaitu bagaimana gambaran kasus perusakan SMA â??17â? 1 Yogyakarta sampai dengan tingkat putusan pengadilan. Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka untuk mengumpulkan data primer dan beberapa berita di media cetak sebagai data sekunder. Pelaku perusakan/pembongkaran telah diajukan ke meja hijau, Pengadilan Negeri Yogyakarta telah menjatuhkan vonis denda kepada terdakwa. Hingga saat ini vonis tersebut dinyatakan sudah ingkrah.
MAKAM KUNO DI SITUS ANGGAREKSA, KECAMATAN LOMBOK TIMUR, KABUPATEN LOMBOK: BUKTI PENGARUH AWAL ISLAM DI LOMBOK Keling, Gendro
Siddhayatra Vol 24, No 2 (2019): JURNAL ARKEOLOGI SIDDHAYATRA
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/siddhayatra.v24i2.153

Abstract

Islam masuk dan berkembang di Nusantara melalui wilayah pesisir. Demikian juga perkembangan Islam di Lombok, dimulai dari wilayah pesisir menuju ke pedalaman. Penelitian ini berusaha mengidentifikasi makam di Situs Anggareksa sebagai salah satu bukti awal berkembangnya Islam di melalui pesisir Lombok Timur. Dari beberapa teori mengenai masuknya Islam di Lombok, Situs Makam Anggareksa menjadi salah satu bukti pengaruh Islam dari Sulawesi Selatan yang masuk melalui Lombok Timur. Metode yang digunakan untuk membedah permasalahan adalah observasi, wawancara, dan studi pustaka. Data yang sudah terkumpul kemudian dianalisis, dengan arsiktektural, komparasi, dan analisis gaya. Penelitian di lapangan didapatkan data komplek makam di Situs Anggareksa terdapat 13 makam, 5 diantaranya menunjukkan karakterisktik makam kuno, dan sisanya adalah makam umum. Setelah dianalisis didapatkan kesimpulan bahwa makam-makam kuno ini adalah type makam bugis. Hal ini menjadi salah satu bukti pengaruh Islam yang menyebar di wilayah timur Lombok adalah dari Sulawesi Selatan
Penelusuran sisa-sisa Kerajaan yang hilang dibalik Letusan Gunung Tambora di Situs Doro Bente Yuda Haribuana, I Putu; Indria, Ida Ayu Gede Megasuari; Sumerata, I Wayan; Keling, Gendro
PURBAWIDYA Vol. 13 No. 1 (2024): Vol. 13(1) Juni 2024
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/purbawidya.2024.877

Abstract

The archaeological research in the Tambora Peninsula was initiated by the National Archaeological Research Center in 2006, and from 2008 onwards, it was continued by the Archaeological Office in Denpasar-Bali until 2021. Numerous archaeological pieces of evidence have been successfully excavated from Mount Tambora's pyroclastic material. Recent research has been focused on the Doro Bente Site on the Teluk Saleh Peninsula. The research aims to understand the sequence of historical events on settlement centers based on artifact evidence resulting from the eruption of Mount Tambora in 1815. The study employs qualitative, descriptive methods, and a geoarchaeological approach. Data acquisition involves excavation, surveys, and literature studies. Stratigraphic analysis is conducted to identify sediment matrices and understand the deposition sequence. Excavation activities have uncovered significant artifacts such as ceramic fragments, pottery, animal bones, and shell fragments. Micro-scale deposition chronology in excavation box B28U18 indicates that the three lower layers, the oldest, were deposited in a marine environment, followed by five layers of pyroclastic material from the 1815 eruption of Mount Tambora. The geographical factors and available natural resources make Sumbawa Island a focal point for Chinese and European attention from the 13th to the 19th centuries AD.