Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Amerta

PANDANGAN MASYARAKAT JAWA TENTANG PERKAWINAN DARI MASA JAWA KUNA HINGGA KINI (BERDASARKAN KARYA SASTRA DAN RELIEF) Susetyo, Sukawati
AMERTA Vol. 22 No. 1 (2002)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENGARUH MAJAPAHIT PADA BANGUNAN PURI GEDE KABA-KABA, TABANAN Susetyo, Sukawati
AMERTA Vol. 34 No. 2 (2016)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Majapahit Influence on the Grand Palace of Kaba-Kaba, Tabanan. Majapahit, as a kingdom, had spread its influence to almost every part of Indonesia such as the western part of Sumatra and the eastern part of the Moluccas, even to our neighbouring countries in Southeast Asia, which were implemented in form of equal partnership (mitra satata). The archaeological remains from the Majapahit period that we can see include sacred and profane buildings, sculptures, reliefs, fragmented and intact potteries and ceramics, and literatures. They bear distinct characteristics, particularly in sacred buildings as well as the styles of reliefs and sculptures. Kaba-Kaba Palace is theremain of Kaba-Kaba Kingdom in Tabanan, Bali, whose king was originated from Majapahit. The aim of this research is to uncover the Majapahit influence on this palace. Furthermore, an attempt was also made to see whether it was built in accordance with Sanga Mandala, a concept used in the building of palaces. The method for this study was carried out by literature study and describing the building elements of the palace that have Majapahit influence, as well as interviewing some sources. The results show that the palace was built based on the sangamandala concept but it has experienced development to accommodate the needs of more recent period. The Majapahit influences on the Kaba-Kaba Palace are seen in the candi bentar (split gate), paduraksa (roofed gate), tantricstyle sculptures, the sculptures of tortoise and dragon, and figure with the face of a stranger. Keywords: Influence, Majapahit, the Grand Palace of Kaba-Kaba Abstrak. Majapahit sebagai kerajaan besar telah mengembangkan pengaruhnya meliputi hampir di seluruh wilayah Indonesia saat ini, yaitu daerah-daerah di Pulau Sumatra di bagian barat dan Maluku di bagian timur, bahkan pengaruhnya meluas sampai ke negara tetangga di Asia Tenggara yang dijalin dalam bentuk persahabatan yang setara (mitra satata). Tinggalan arkeologi dari masa Majapahit yang dapat kita temui adalah bangunan suci, arca-arca, relief, bangunan profan, fragmen/utuh gerabah dan keramik, dan karya-karya sastra. Tinggalan Majapahit tersebut mempunyai ciriciri khusus dalam bentuk arsitektur bangunan suci, gaya relief dan arca. Puri Kaba-Kaba merupakan tinggalan Kerajaan Kaba-Kaba di Tabanan, yang rajanya berasal dari Majapahit. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apa saja pengaruh Majapahit yang ditemukan pada bangunan Puri ini. Selain itu juga untuk mengetahui apakah pembangunan puri sesuai dengan konsep Sanga Mandala. Metode penelitian dilakukan dengan studi pustaka, dan mendeskripsikan unsur-unsur bangunan Puri yang mendapat pengaruh dari Majapahit, juga melakukan wawancara terhadap narasumber. Dari penelitian ini diketahui bahwa pembangunan Puri menerapkan konsep Sanga Mandala, namun telah mengalami pengembangan sesuai kebutuhan. Pengaruh Majapahit yang ditemukan pada bangunan Puri Kaba Kaba antara lain adalah gapura candi bentar dan paduraksa, arca-arca bergaya tantris, arca kura-kura dan naga, serta arca tokoh berwajah orang asing. Kata Kunci: Pengaruh, Majapahit, Puri Gede Kaba-Kaba
PEMUKIMAN DI LINGKUNGAN BIARO (STUDI TERHADAP BIARO MANGALEDANG, PADANG LAWAS) (THE SETTLEMENT WITHIN THE BIARO AREA (A STUDY ON BIARO MANGALEDANG AT PADANG LAWAS)) Susetyo, Sukawati
AMERTA Vol. 24 No. 1 (2006)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Biaro Mangaledang merupakan salah satu bagian dari percandian Padang Lawas yang secara administrasi berada di Dusun Torna Tambang, Desa Mangaledang Godang, Kecamatan Portibi, Kabupaten Tapanuli Selatan. Sebagai sebuah bangunan pemujaan yang difungsikan pada sekitar abad ke 11-14 tentu saja ada yang mengelola bangunan tersebut yaitu merawat dan menggunakannya. Untuk itulah dalam tulisan ini dicoba mencari tahu apakah ada permukiman kuna di lingkungan biaro. Berdasarkan hasil test-pit di beberapa lokasi yang diduga sebagai tempat bermukim ditemukan indikasi adanya permukiman yang sejaman dengan Biaro Mangaledang berupa fragmen keramik Cina abad ke-10-14 M, yaitu dari masa Dinasti Song abad ke-10- 13 M serta Dinasti Yuan abad ke-13-14 M. Namun demikian karena lokasi temuan berada sangat dekat dengan Sungai Sirumambe (berjarak 50 meter) masih diragukan apakah artefak tersebut in-situ. Keraguan didasarkan pada lapisan tanah berupa hamparan kerakal menyerupai bekas sungai (lama?), yang menimbulkan dugaan bahwa artefak tersebut terbawa oleh banjir. Tulisan ini belum dapat menyimpulkan siapa yang bermukim di lokasi tersebut, hanya dapat memberikan gambaran bahwa permukiman kuno di sekitar Biaro Mangaledang memang ada. ABSTRACT. The Settlement within the Biaro Area (A Study on Biaro Mangaledang at Padang Lawas). Mangaledang biaro is a sanctuary building that was used in 11-14th century AD. The biaro was a part of Padang Lawas temples that is administratively located at Dusun Torna Tambang, Desa Mangaledang Godang. Kecamatan Portibi in South Tapanuli. In this paper, it would be analyzed the correlation between the ceramic- earthenwares found with the possibility of people living according to the test-pit in the vicinity of the biaro. The ceramics are known from Yuan and Song Dynasty from China in the same century era as the biaro, 10-13th AD and 13-14th AD respectively. Due to the fact that the location of artefacts found were near to the Sirumambe river, which is about 50 meters from the biaro, and the other facts which indicated of flood. This research it is still hard to conclude if there were people living around the biaro.
PERIODESASI CANDI SIMANGAMBAT: Tinjauan Terhadap Beberapa temuan ragam hias Candi Susetyo, Sukawati
AMERTA Vol. 29 No. 2 (2011)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Candi Simangambat merupakan suatu candi yang terletak di bagian Selatan Provinsi Sumatera Utara yang kondisinya sudah runtuh. Beberapa artefak yang ditemukan baik dari hasil penggalian maupun yang sudah berada di permukaan tanah yaitu batu-batu berbentuk kala; makara; batu berelief guirlande, gapa, pilar dan motif kertas tempel; menunjukkan kemiripan dengan artefak dari candi-candi zaman Mataram Kuna. Berdasarkan hal itu maka diduga bahwa Candi Simangambat dibangun sezaman dengan candi-candi dari jaman Mataram Kuna. Kata kunci: Periodisasi Candi Simangambat, Ragam Hias Candi Abstract. Periodization of Simangambat Temple: A Review on Some Temple Ornaments. Simangambat Temple is the ruin of a temple which is located in the southern part of North Sumatra Province. Some artefacts found during ground surveys and excavations vary from kala-shaped stones, makara, guirlande reliefs, garia, pillars, and 'kertas tempel' motifs. These findings show similarities to the artefacts found in the temples from Old Mataram era; hence it can be concluded that Simangambat Temple might have been built in the same period as the temples of Old Mataram era. Keywords: Periodization of Simangambat Temple, temple ornamental