Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peran Budaya Keislaman Dalam Membentuk Karakter Masyarakat Tanjung Balai Khairun Nasri Ritonga; Muhammad Ayyubi; Muktarruddin Muktarruddin; Ilmi Shobron
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 3 No. 3 (2023): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v3i3.2344

Abstract

Artikel ini berdiskusi mengenai Islam, kebudayaan, dan juga karakter. Islam terdiri dari beberapa aspek, yaitu antara lain segi keagamaan dan segi budaya. Dalam kajian keilmuan, antara keduanya bisa dibedakan, tetapi menurut wawasan Islam sendiri tak mungkin dipisahkan. Antara yang pertama maupun yang kedua dapat membentuk integrasi. Demikian juga eratnya jalinan integrasinya, maka sulit meletakkan suatu masalah, apakah agama atau mungkin kebudayaan. Dilihat dari sudut pandang kebudayaan, masalah itu masuk kedalam aspek kebudayaan. Namun ketentuan-ketentuannya datang dari Allah Swt. Agama Islam sebagai rahmatan lil’alamin berhubungan dengan kebudayaan. Agama memberikan warna pada kebudayaan, dan juga kebudayaan memberi pengetahuan terhadap agama.
Peran Konseling Individu dalam Mengatasi Betrayal Trauma (Trauma Pengkhianatan) Ainul Mardiyah; Muhammad Ayyubi; Muhammad Nur; Muhammad Kahfi Saragih
Fatih: Journal of Contemporary Research Vol. 2 No. 2 (2025): July-December
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/8mkfn246

Abstract

Fenomena betrayal trauma (trauma pengkhianatan) dalam hubungan interpersonal merupakan isu psikososial yang memberikan dampak destruktif bagi kesejahteraan mental individu, khususnya di kalangan mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peran dan efektivitas konseling individu dalam membantu proses pemulihan mahasiswa yang mengalami trauma akibat pengkhianatan romantis, finansial, dan manipulasi emosional. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap tiga narasumber laki-laki berusia 21-25 tahun yang belum menikah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa trauma pengkhianatan memicu gangguan kecemasan, insomnia, hilangnya kepercayaan diri, hingga gejala PTSD ringan. Implementasi konseling individu melalui teknik restrukturisasi kognitif (Cognitive Behavioral Therapy), terapi naratif, dan latihan regulasi emosi terbukti efektif dalam merekonstruksi pola pikir negatif narasumber. Proses konseling membantu narasumber memahami batasan hubungan yang sehat, memvalidasi emosi yang tertekan, dan mendorong pertumbuhan pasca-trauma (post-traumatic growth). Temuan ini menegaskan bahwa intervensi konseling yang personal dan terstruktur sangat krusial untuk mengembalikan fungsi sosial dan resiliensi mahasiswa. Penelitian ini merekomendasikan penguatan layanan bimbingan konseling di lingkungan perguruan tinggi sebagai sarana mitigasi dampak trauma interpersonal agar tercipta lingkungan akademik yang lebih sehat dan inklusif.