Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Implementasi Pengembangan Kurikulum Prototipe Pada Pendidikan Agama Islam (PAI) di SDI Al Azhar Kota Kediri Rifqiawati Zahara; Yasin Nurfalah
Indonesian Journal of Humanities and Social Sciences Vol. 3 No. 3 (2022): Indonesian Journal of Humanities and Social Sciences, November, 2022
Publisher : Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/ijhass.v3i3.3516

Abstract

The curriculum development model is a model used to develop a curriculum where curriculum development aims to improve or perfect a curriculum that is made to be developed by it self either from the central government, local government or schools. In the learning process in general, various problems arise, especially for elementary level students where students get bored easily, lack of concentration on learning activities. Descriptive qualitative research methods with case study techniques in this journal article the author uses. The need for teacher innovation in developing an independent curriculum model to overcome these problems because the teacher is the main milestone in education and the creativity of the teacher is needed in teaching, especially in education in basic-level Islamic learning. Salah satu desain pengembangan kurikulum menggunakan model pengembangan berbasis kebutuhan sendiri atau kebutuhan lokal. Karena berbagai permasalahn dan kendala menjadi tantangan di SDI Al Azhar Kota Kediri. Pengembangan kurikulum prototipe sudah dilakukan selama tiga tahun. Berdasarkan hasil evaluasi, desain pengembangan ini membawa perubahan suasana pembelajaran yang lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran di periode sebelumnya. Dalam konteks ini, perlu mengadakan penelitian lebih mendalam tentang implementasi pengembangan kurikulum berbasis prototipe. Guna mendapatkan pendalaman, penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan fokus pengembangan dalam bidang ilmu Pendidiakan Agama Islam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengembengan kurikulum model prototipe akan berhasil jika ditopang dengan adanya inovasi guru kreatifitas guru dalam mengajar pendidikan dalam pembelajaran Agama Islam (PAI) tingkat dasar.
Pembelajaran Kitab Khulashoh Nurul Yaqin untuk Mewujudkan Karakter Peduli Sosial Asna Amalia Rojana; Yasin Nurfalah
Indonesian Journal of Humanities and Social Sciences Vol. 4 No. 1 (2023): Indonesian Journal of Humanities and Social Sciences, March, 2023
Publisher : Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/ijhass.v4i1.4072

Abstract

This study aims to understand the material and application of learning from the Book of Khulashoh Nurul Yaqin in shaping the character of social care at Madrasah Hidayatul Mubtadi-aat Fit Tahfizhi Wal Qiro-at Lirboyo, Kediri City. Qualitative research methods are used by collecting data through interviews with teachers. The results showed that the book's material was delivered through lecture, discussion, and question and answer methods, as well as monitoring student behavior. Even though female students have studied the book, most of them are still not able to apply the character of social care in their daily life. Support from the closest people is needed to help realize the social caring character of female students, because the influence of learning this book has not been seen significantly.
KONSEP PERCAYA DIRI DALAM AL-QUR’AN Yasin Nurfalah
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman Vol. 24 No. 1 (2013): Jurnal Tribakti
Publisher : Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/tribakti.v24i1.125

Abstract

Asumsi umum yang berkembang bahwa memiliki kepercayaan diri berarti meyakini kemampuannya dalam melakukan hal-hal tertentu. Percaya diri muncul dari bagaimana seseorang memandang dirinya. Percaya diri merupakan keyakinan dalam jiwa manusia bahwa tantangan hidup apapun harus dihadapi dengan berbuat sesuatu, bukan kepada kemampuan, keahlian, hasil dan kesuksesannya tetapi pada kesedian untuk melakukannya. Al-Qur'an sebagai rujukan pertama juga menegaskan tentang percaya diri dengan jelas dalam beberapa ayat-ayat yang mengindikasikan percaya diri karena berkaitan dengan sifat dan sikap seorang mukmin yang memiliki nilai positif terhadap dirinya dan memiliki keyakinan yang kuat
URGENSI PENDIDIKAN TAUHID DALAM KELUARGA Yasin Nurfalah
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman Vol. 25 No. 2 (2014): Jurnal Tribakti
Publisher : Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/tribakti.v25i2.190

Abstract

Keluarga dapat disebut sebagai unit dasar serta unsur yang fundamental dalam masyarakat, karena dengan keluarga kekuatan-kekuatan yang tersusun dalam komunitas sosial dirancang di dalamnya. Masa depan anak dalam keluarga sangat tergantung kepada pendidikan, pengajaran dan lingkungan yang diciptakan oleh orang tuanya, dengan demikian orang tua harus mampu menciptakan rumah menjadi lingkungan yang islami dengan menerapkan pendidikan tauhid. Pendidikan tauhid sangat penting dalam keluarga karena pendidikan tauhid dalam Islam tidak hanya sekedar memberikan ketentraman batin dan menyelamatkan manusia dari kesesatan dan kemusyrikan dan bermanfaat bagi kehidupan umat manusia, akan tetapi juga berpengaruh besar terhadap pembentukan sikap dan perilaku keseharian seseorang. Pendidikan tauhid itu tidak hanya pengakuan bahwa Allah satu-satunya pencipta dan Ilah, namun ketauhidan tersebut harus sejalan dengan semua aktivitas seorang hamba, keyakinan tersebut harus diwujudkan melalui ibadah, amal sholeh yang langsung ditujukan kepada Allah SWT tanpa perantara serta hanya untuk Dialah segala bentuk penyembahan dan pengabdian, ketaatan tanpa yang hanya tertuju kepada-Nya syarat
HUBUNGAN KECERDASAN INTELEKTUAL (IQ) DENGAN KECERDASAN EMOSIONAL (IE) Yasin Nurfalah
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman Vol. 26 No. 2 (2015): Jurnal Tribakti
Publisher : Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/tribakti.v26i2.218

Abstract

Berbicara tentang kecerdasan, maka ada tiga hal yaitu IQ (intelligence quotient), IE (intelligence emotional), dan IS (intelligence spiritual). Ketiganya membentuk hierarkhi kecerdasan yang mesti dimiliki secara utuh oleh setiap diri kita. Karena IQ, EQ dan IS merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Ketiga kecerdasan tersebut akhir-akhir ini, begitu hangat dan marak diangkat kepermukaan, baik dalam media massa maupun dalam dunia pendidikan. Dari ketiga kecerdasan tersebut hanya dua yang akan kita bahas disini, yaitu: IQ (intelligence quotient) dan IE (intelligence emotional). Kecerdasan Emosional (EQ) juga sangat menentukan prestasi seseorang dengan perbandingan 80% ditentukan oleh kecerdasan emosional (EQ) dan 20% ditentukan oleh kecerdasan yang lain. Kecerdasan Emosional (EQ) ini merupakan salah satu kecerdasan manusia yang dapat dikembangkan dan dilatih dengan baik untuk memperoleh keberhasilan dalam belajar, mengajar, mengasuh anak, dan persahabatan.
URGENSI NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER Yasin Nurfalah
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman Vol. 27 No. 1 (2016): Jurnal Tribakti
Publisher : Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/tribakti.v27i1.264

Abstract

Pendidikan karakter mempunyai makna yang lebih tinggi dibandingkan dengan pendidikan moral, karena pendidikan karakter tidak hanya sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah. Pendidikan yang berbasis karakter lebih mengarah pada penanaman kebiasaan (habituation)  tentang hal-hal yang baik, sehingga seorang anak menjadi tahu mana yang baik dan mana yang salah (domain kognitif), mampu merasakan nilai yang baik (domain afektif) dan mau melakukannya (domain psikomotor). Dalam bentuk operasional pada pendidikan formal, maka berdasarkan kajian empirik pusat kurikulum, maka untuk memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter dirumuskan 18 nilai yang bersumber dari agama, pancasila, budaya dan tujuan pendidikan nasional. Yaitu: 1. Religius, 2. Jujur, 3. Toleransi, 4. Disiplin, 5. Kerja keras, 6. Kreatif, 7. Mandiri, 8. Demokratis, 9. Rasa ingin tahu, 10. Semangat kebangsaan, 11. Cinta tanah air, 12. Menghargai prestasi, 13. Bersahabat/komunikatif, 14. Cinta damai, 15. Gemar membaca, 16. Peduli lingkungan, 17. Peduli sosial, 18. Tanggung jawab.Nilai-nilai tersebut secara teknis dituangkan dalam pembelajaran melalui rencana pelaksanaan pembelajaran yang terintegrasi ke dalam seluruh mata pelajaran. Dalam tataran praktik, jumlah dan jenis karakter yang dipilih itu berbeda antara satu daerah atau sekolah yang satu dengan yang lainnya. Hal ini disesuaikan dengan kepentingan, kondisi dan lokalitas daerah masing-masing.
Hubungan Perkembangan Emosi Remaja Dengan Pendidikan Islam Yasin Nurfalah
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman Vol. 28 No. 1 (2017): Jurnal Tribakti
Publisher : Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/tribakti.v28i1.407

Abstract

Pendidikan adalah faktor terhadap eksistensi sebuah peradaban. Bahkan, bisa dikatakan bahwa pendidikan merupakan hal yang tidak bisa dilepas dari kehidupan. Melalui pendidikan yang benar, maka kemajuan suatu bangsa dapat tercapai. Di sisi lain, remaja adalah generasi penerus umat. Apalah gunanya bila kita hendak membangun masyarakat tanpa memedulikan pendidikan sejak anak-anak sampe remaja. Sejarah mencatat betapa besar peran generasi penerus terhadap keberhasilan suatu perjuangan. Di dalam Islam, pentingnya pendidikan terhadap anak mendapatkan porsi yang besar guna perkembangan emosi pada saat remaja nanti. Pendidikan juga dapat diartikan sebagai suatu usaha sadar yang dilakukan manusia untuk membawa anak didik ke tingkat dewasa dalam arti mampu memikul tanggung jawab moral. Hakekat pendidikan merupakan suatu upaya mewariskan nilai, yang akan menjadi penolong dan penentu umat manusia dalam menjalani kehidupan, dan sekaligus untuk memperbaiki nasib dan peradaban umat manusia. Secara ekstrim bahkan dapat dikatakan, bahwa maju mundurnya atau baik buruknya peradaban suatu masyarakat, suatu bangsa, akan ditentukan oleh bagaimana pendidikan yang dijalani oleh masyarakat bangsa tersebut. Perkembangan emosi remaja pada peringkat awal terutama pada zaman kanak-kanak banyak dipengaruhi melalui pelaziman dan cara peniruan. Cara pelaziman berlaku dengan mudah dan cepat pada masa beberapa tahun permulaan hidup mereka. Kanak-kanak menggunakan daya imaginasi dalam membayangkan sesuatu mengikut yang telah dilazimkan. Cara peniruan pula, kanak-kanak meniru tingkah laku emosi yang diperhatikannya pada orang lain dan memberikan gerak balas terhadap perkara berkenaan dengan cara yang tidak dapat dibuatnya dulu. Oleh kerana itu, emosi remaja pada zaman kanak-kanak berkembang mengikut proses pelaziman dan peniruan.
Mendidik Anak Supernormal dalam Perspektif Pendidikan Islam Yasin Nurfalah
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman Vol. 28 No. 2 (2017): Junal Tribakti
Publisher : Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/tribakti.v28i2.482

Abstract

Manusia yang berkualitas adalah manusia yang berkembang optimal baik secara fisik, kognitif, emosi, sosial maupun spiritual. Secara tidak sadar bangsa Indonesia memiliki bibit-bibit unggul yang dapat dijadikan sumber daya manusia berkualitas. Bibit unggul tersebut yaitu anak yang memiliki kecerdasan lebih tinggi atau bisa disebut dengan anak supernormal. Keunggulan-keunggulan yang dimiliki anak supernormal penting untuk dikembangkan dan dibimbing. Karena anak yang memiliki kecerdasan lebih laksana tanaman yang membutuhkan seseorang yang dapat membimbing dan membantunya agar berkembang secara alamiah, menghilangkan berbagai kendala yang ada dihadapannya, serta merintis jalan baginya. Mereka pun membutuhkan seseorang yang dapat memahami serta menghargai kelebihannya. Upaya membimbing dan mendidik anak supernormal supaya menjadi sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki masa depan yang cerah akan berhasil apabila didukung oleh orang tua dan masyarakat. Orang tua mempunyai peran yang sangat penting, karena orang tualah yang menemukan beberapa karakteristik anak pada usia yang sangat dini. Disamping orang tua, lingkungan masyarakat juga mempunyai peran yang sangat besar. Karena di lingkungan masyarakatlah mereka berkembang yang dapat mempengaruhi baik buruknya anak. Dalam konteks Pendidikan Islam sikap Islam terhadap pendidikan anak terpantul dari karakteristiknya yang suci atau fitroh dengan melihat dan menghormati potensi manusia sebagai potensi yang utuh tidak sepotong-potong. Proses pendidikan Islam pada dasarnya membantu mengembangkan potensi yang dimiliki anak agar berkembang secara optimal, sehingga anak mampu melaksanakan tugas-tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Pendidikan Islam tidak lain bertujuan untuk mengembangkan potensi dan kemampuan yang ada dalam diri si anak didik baik spiritual, emosi, komunikasi, kecerdasan, sosial dan kepercayaan dirinya
Penanaman Nilai-Nilai Agama Islam Terhadap Anak Didik Yasin Nurfalah
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman Vol. 29 No. 1 (2018): Jurnal Tribakti
Publisher : Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/tribakti.v29i1.567

Abstract

Setiap anak mempunyai pembawaan berbeda dengan anak lain. Pembawaan itu merupakan cikal bakal dari karakteristik setiap individu. Pembawaan setiap anak juga akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan lingkungan sosial mereka karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial. Ini berarti, munculnya kenakalan pada anak dalam berbagai bentuk dan jenisnya bukan semata-mata kesalahan mereka, tapi juga salah satu dampak negatif dari sebuah lingkungan yang kurang edukatif. Karena ada dasarnya setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Artinya, pertumbuhan dan perkembangan anak secara jasmani dan rohani adalah tanggung jawab semua pihak yang dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Tanpa kesesuaian dan kerjasama antar ketiga komponen itu, maka anak akan menjadi rentan terpengaruh dan kemudian terbawa oleh perilaku-perilaku yang dianggap menyimpang. Dalam konteks ini, sering kali yang menjadi sasaran kesalahan adalah anak, orang tua, dan dalam lingkup sekolah yang menjadi sasaran utama adalah mata pelajaran agama. Padahal, titik pijakan yang terpenting adalah bagaimana menanamkan nilai-nilai islami dalam diri anak sejak dini dan dilakukan oleh semua elemen secara kooperatif dan memberikan keteladanan dalam praktek kehidupan sehari-hari. Sehingga pengetahuan dan pemahaman akan nilai-nilai ajaran Islam dapat terwujud dalam bentuk perilaku.
Pendidikan Damai Alternatif Pendidikan Korban Konflik Komunitas Syi'ah Sampang Madura Yasin Nurfalah
Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman Vol. 30 No. 1 (2019): Jurnal Tribakti
Publisher : Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/tribakti.v30i1.663

Abstract

Pendidikan Damai Alternatif Pendidikan Korban Konflik (Studi Pendidikan Anak Komunitas Syiah Sampang Madura) penelitian ini hendak melihat konsep pendidikan damai yang sekarang menjadi kebutuhan di Indonesia. Akhir-akhir ini, Indonesia sering dilanda konflik sosial terutama konflik berbasis agama. Korban investasi masa depan adalah terhambatnya perkembangan anak-anak. Masa perkembangan mental maupun fisik harus terhambat trauma akibat konflik. Kejadian penyerangan terhadap komunitas Syiah di Sampang Madura merupakan potret konflik dengan korban anak-anak sangat banyak. Saat ini, terdapat sekitar 76 anak usia prasekolah dan sekolah dasar (PAUD/TK sejumlah 21 anak dan SD sejumlah 55 anak) yang tinggal bersama dengan orang tua mereka. Mereka adalah anak-anak yang secara psikologis mengalami trauma. Sebagaimana seluruh kisah orang yang hidup di pengungsian, hampir seluruh kehidupan berjalan dalam kondisi memprihatinkan. Pun dengan anak-anak pengungsi Syiah Sampang ini. Hak-hak hidupnya sebagai anak jelas tidak terpenuhi dengan baik. Di antara sekian banyak kehilangan, yang paling menyedihkan adalah hilangnya hak anak atas pendidikan Penelitian ini menggunakan penelitian kepustakaan (library research), yaitu penelitian yang kajiannya dilaksanakan dengan menelaah dan menelusuri berbagai literatur. Hasilya secara umum, hasil pendidikan damai anak-anak pengungsi Syiah Sampang Madura belum menunjukkan hasil maksimal. Pasalnya, kesadaran perlunya pendidikan kurang mendapat dukungan dari orang tua dan pemuka agama Syi’ah. Dari 76 anak pengungsi yang setiap hari hadir untuk mengikuti kegiatan pendidikan damai hanya 40-45. Hasil kajian ini, menurut peneliti perlu adanya pengembangan lebih mendalam tentang “pendidikan damai”.