Dian Novita Kristiyani, Dian Novita
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Peran Pemerintah Serta Pemuka Agama Dalam Membentuk Perilaku Masyarakat Salatiga Untuk Hidup Berdampingan Melalui Tagline “Kota Salatiga Hati Beriman” Hartika, Martania; Kristiyani, Dian Novita
PAX HUMANA Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Yayasan Bina Darma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.52 KB)

Abstract

Pemerintah kota memiliki peran khusus terhadap perilaku masyarakatnya, begitu juga dengan pemuka agama. Bagi masyarakat kota Salatiga perilaku untuk dapat hidup rukun berdampingan merupakan kebiasaan hidup bermasyarakat. Tidak mudah bagi sebuah kota menciptakan situasi yang kondusif ditengah isu keagamaan yang memanas, hingga mampu meraih prestasi sebagai kota paling toleran no 2 di Indonesia. Selain itu makna dari tagline kota Salatiga seolah memiliki keterkaitan dengan perilaku masyarakat dan prestasi yang telah diraih. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan mengenai peran pemerintah kota Salatiga dalam menata warganya untuk hidup sesuai tagline kota Salatiga Hati Beriman, dan menjelaskan peran pemuka agama kota Salatiga dalam mengendalikan pengikutnya untuk tetap hidup damai dan rukun saling berdampingan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskritif, dan data utama diperoleh dari hasil wawancara mendalam dengan pemerintah kota dan pemuka agama. Meskipun faktanya masyarakat sudah memiliki kebiasaan hidup saling berdampingan sejak dini, namun pemerintah kota memiliki tanggung jawab dalam prestasi toleransi dan pemuka agama memiliki tanggung jawab dalam budaya toleransi. Pemerintah kota sudah dengan baik menjalankan perannya sebagai koordinator bagi pemuka agama dalam menjalankan setiap aktivitasnya yang berpedoman dengan makna tagline. Begitu juga dengan pemuka agama yang dengan baik berperan sebagai kontributor dalam upaya membudayakan toleransi. Keduanya telah berupaya menciptakan kehidupan kota yang mampu saling berdampingan dan bertoleransi. Kata kunci : Tagline, Manajemen komunikasi, Dialog interreligius, Perilaku masyarakat, Pluralisme.
Strategi Komunikasi Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam Mensosialisasikan Kebijakan Penangkapan Ikan Terukur (Studi Kasus Nelayan Kota Tegal) Gerungan, Kirsten Kimberly Injily; Darmastuti, Rini; Kristiyani, Dian Novita
Scriptura Vol. 14 No. 1 (2024): JULY 2024
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9744/scriptura.14.1.1-13

Abstract

Kebijakan Penangkapan Ikan Terukur (PIT) merupakan suatu kebijakan yang dilakukan dengan menerapkan sistem kuota dan pembagian zona atau wilayah penangkapan ikan yang diatur dalam PP 85 Tahun 2021. Sekalipun sudah ada sudah ada sosialisasi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), nelayan di wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa termasuk nelayan Kota Tegal bergejolak memberikan respon negatif terhadap kebijakan ini. Strategi komunikasi yang kurang tepat dan perbedaan persepsi menjadi permasalahannya. Tujuan dari tulisan ini pertama, memetakan strategi komunikasi Kementerian Kelautan dan Perikanan kepada nelayan dalam membangun pemahaman tentang kebijakan penangkapan ikan terukur. Kedua, memahami persepsi nelayan terkait kebijakan ini dan memberikan masukan untuk membangun persepsi yang sama. Tulisan ini didasarkan dari hasil penelitian yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan desain penelitian studi kasus. Hasil dari penelitian ini adalah: Pertama, ada beberapa strategi komunikasi yang digunakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam mensosialisasikan kebijakan penangkapan ikan terukur ini. Strategi tersebut adalah Word of Mouth (WOM), konsultasi publik dan publikasi melalui media. Kedua, strategi yang digunakan KPP belum berhasil, karena ada perbedaan persepsi antara pemerintah, dalam hal ini KPP dengan nelayan. Nelayan di Pantura beranggapan kebijakan PIT ini sangat merugikan nelayan. Karena itu, strategi komunikasi KPP seharusnya didasarkan dari persepsi nelayan.
Personal Political Branding: Framing Pemberitaan Gibran Rakabuming Pada Majalah Tempo Edisi “Ugal-Ugalan Paman Gibran” Sinaga, Grace Aprilydia; Kristiyani, Dian Novita
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol. 13 No. 2 (2024): KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v13i2.5856

Abstract

The year 2023 marks the beginning of a dynamic political period, with intensive preparations for the contestation of the presidential and vice-presidential elections in 2024. This research explores how Tempo Magazine's news framing in the “Ugal- Ugalan Uncle Gibran” edition shapes the political image of Gibran Rakabuming Raka, particularly in the context of the 2024 vice presidential election. This topic is interesting to research since it highlights the critical role of the media in influencing the political image during the crucial period leading up to the election, where public perception plays a significant role in determining the direction of political support. Using Robert M. Entman's Framing analysis model, this study assesses how Tempo defines the problem, identifies causes, provides moral judgment, and recommends solutions. Using a constructivist qualitative approach, this study examined the printed and digital editions of the magazine to assess how Tempo's framing influenced public perception and Gibran's political branding. The unit of observation and analysis of this research is Tempo Magazine's “Ugal-Ugalan Paman Gibran” print and digital editions. This study found that Tempo framed Gibran's candidacy in the context of legal and ethical violations by labeling him as the “illegitimate son of the Constitution” and highlighting the issues of nepotism and political dynasty as the main elements. The results showed that Tempo Magazine's negative framing significantly affected Gibran's political image and not only impacted public perception of Gibran, but also affected the personal political branding strategy being built ahead of the election. This research contributes to the literature by presenting a new perspective on the role of the media in shaping public opinion and political image. In addition, this research provides a novelty side by providing a perspective on practical implications for improving personal political branding strategies in Indonesia.