Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pendidikan Akhlak; Studi Atas Hadis-Hadis tentang Tamu Muhammad Abdul Halim Sani; Ilham Ilham; Sahman Sahman
CIVICUS : Pendidikan-Penelitian-Pengabdian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 11, No 1 (2023): Maret 2023
Publisher : Muhammadiyah University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/civicus.v11i1.16436

Abstract

Al Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang sangat mementingkan dimensi kemanusiaan khususnya akhlak dikarenakan ada sekitar 1500 ayat membahas tentang itu. Risalah kenabian pada diri Nabi Muhammad saw sebagaian besar berisi tentang kemanusian yang berkaitan dengan akhlak. Hal ini, senada dengan  hadis bahwa Nabi diutus untuk penyempurna akhlak.  Oleh karena itu, kajian tentang akhlak menjadi penting dalam rangka menjalankan kehidupan di dunia. Mengingat pentingnya akhlak ini, maka bisa melihat korelasi akhlak dengan hadis-hadis menghormati tamu.  Pada hadis itu,  adanya relasi kemuasiaan yang erat dikarenakan hubungan antar sesama manusia. Kajian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Peneliti melakukan kajian literatur tentang akhlak dan hadis-hadis yang berkaitan dengan tamu kemudian dianalisis dengan pendekatan akhlak. Hasil kajian hadis tentang tamu, adanya pendididikan akhlak yang dapat diambil dalam kasus tamu dan bertamu dalam Islam seperti melatih kesabaran, berbuat jujur dan bersikap baik. Perbuatan tersebut sebagai pelaksanaan ajaran Islam dalam menghormati sesama muslim yang bertamu sebagai manifestasi pelaksanaan ajaran agama. The Qur'an is the holy book of Muslims which attached great importance to the human dimension, especially morality, because there are about 1500 verses discussed it. Prophetic treatises on the Muhammad mostly contain humanity related to morals. This is in line with the hadith that the Prophet was sent to perfect morals. Therefore, the study of morality is important in order to carry out life in the world. Given the importance of this morality, one can see a correlation between morality and the traditions of respecting guests. In that hadith, there is a close relationship of satisfaction due to the relationship between human beings. This study used qualitative research by using a descriptive approach. The researcher conducted a literature study on morals and hadiths related to guests and then analyzed them using a moral approach. The results of the study of hadith about guests, there is moral education that can be taken in the case of guests and visitors in Islam such as practicing patience, being honest and being kind. This act is an implementation of Islamic teachings in respecting followed by Muslims who visit as a manifestation of the implementation of religious teachings.
Peran Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) dalam Penegakan Syariat Islam di Kabupaten Aceh Barat Dwiana Adinda; Alfah Salam; Mulitalia; Darlin Rizki; Sahman Z; Jovial Pally Taran
At-Tafakur: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol. 1 No. 2 (2025): Maret
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Az-Zain Sampang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ulama di Aceh memiliki peran historis sebagai penasihat agama bagi penguasa, namun dalam konteks pemerintahan saat ini, tantangan utama yang dihadapi adalah bagaimana memastikan pengawasan syariat Islam tetap relevan dan efektif dalam sistem pemerintahan sekuler. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi lapangan, melalui wawancara dengan Ketua MPU Aceh Barat serta observasi langsung di kantor MPU. Teknik analisis data yang digunakan mengacu pada model Miles dan Huberman, yang mencakup tahap pengumpulan, reduksi dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa MPU Aceh Barat memiliki tiga komisi utama, yaitu Komisi Fatwa, Komisi Ekonomi, dan Komisi Dakwah, yang berperan dalam menjaga serta membimbing umat sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Namun, dalam pelaksanaannya, MPU menghadapi kendala seperti pluralitas masyarakat, perbedaan interpretasi ajaran Islam, serta koordinasi dengan pemerintah daerah. Oleh karena itu, diperlukan strategi adaptasi agar peran ulama tetap kuat dan pengawasan syariat Islam dapat berjalan secara efektif dalam sistem pemerintahan saat ini.