Wiwiek Andajani
Progam Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Kadiri

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Usaha Ternak Itik Petelur di Sentra Produksi di Kabupaten Kediri dan Kelayakan Finansialnya Nur Khabibi; Wiwiek Andajani; Tutut Dwi Sutiknjo; Nina Lisanty
JINTAN : Jurnal Ilmiah Pertanian Nasional Vol. 2 No. 1 (2022): JANUARY
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jintan.v2i1.2208

Abstract

The demand for animal products in Indonesia increases public awareness of the need for better food nutrition. Therefore, the livestock business plays an important role and needs to be developed from agribusiness. The study was conducted in an independent laying duck business in Tegalan Village, Kandat District, Kediri Regency, to analyze the business's financial feasibility. The analysis was carried out descriptively and quantitatively. The analytical tools included the Internal Rate of Return (IRR), Payback Period (PP), and sensitivity analysis. The data in the field were divided into three categories, namely breeders with a category of fewer than 500 ducks (A), a category of 500–1000 ducks (B), and a category of more than 1000 ducks (C). The results of the analysis based on the value (IRR) of the three categories of breeders showed a higher value than the percentage of bank interest (14%), where breeders in category A (374 ducks) had an IRR of 87%, category B breeders (650 ducks) of 112 %, and breeders in category C (2,275 ducks) were 54%. Meanwhile, in terms of PP, the three categories of breeders were when the project is not over (less than 10 years), category A breeders needed a payback period of 1.7 years, category B breeders for 1.2, and category C breeders for two years. Permintaan produk hewani di Indonesia semakin meningkat seiring dengan kesadaran masyarakat akan kebutuhan gizi pangan yang lebih baik. Oleh karenanya, usaha ternak menjadi bagian penting dan perlu pengembangan dari sisi agribisnisnya. Penelitian dilakukan di suatu usaha ternak itik petelur mandiri di Desa Tegalan, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri untuk menganalisis kelayakan finansial usahanya. Analisis dilakukan secara deskriptif dan kuantitatif. Alat analisis yang digunakan di antaranya adalah Internal Rate of Return (IRR), Payback Period (PP), dan analisis sensitivitas. Data di lapangan dibagi menjadi tiga kategori, yaitu peternak dengan kategori jumlah ternak kurang dari 500 ekor (A), kategori 500–1000 ekor (B), dan kategori lebih dari 1000 ekor (C). Hasil analisis berdasarkan nilai (IRR) dari ketiga kategori peternak menunjukkan nilai yang lebih tinggi dari persentase bunga bank (14%), di mana peternak pada kategori A (374 ekor) mempunyai IRR sebesar 87%, peternak kategori B (650 ekor) sebesar 112%, dan peternak dalam kategori C (2.275 ekor) sebesar 54%. Sementara dalam segi PP, ketiga kategori peternak berada pada saat umur proyek belum berakhir (kurang dari 10 tahun), di mana peternak kategori A memakan waktu pengembalian modal selama 1,7 tahun, peternak kategori B selama 1,2 tahun, dan peternak kategori C selama 2 tahun.
Keuntungan Pola Tanam Jagung Tumpangsari dengan Kacang Tanah di Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur Cindy Yohana; Wiwiek Andajani; Eko Yuliarsha Sidhi; Nina Lisanty
JINTAN : Jurnal Ilmiah Pertanian Nasional Vol. 2 No. 1 (2022): JANUARY
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jintan.v2i1.2209

Abstract

Katikupialang Hamlet, Pataawang Village, Umalulu District is a corn-producing area in East Sumba Regency. Corn has become the main commodity, although local farmers have begun to apply an intercropping corn cropping pattern with peanuts in recent times. This study was objected to financially comparing the income and feasibility of maize farming with monoculture or intercropping patterns. The sample was randomly selected from 20 farmers practicing the corn monoculture pattern and ten farmers practicing the corn-peanut intercropping design. The analysis method includes analysis of costs, revenues, income, and efficiency or feasibility of farming. Furthermore, a comparative study of income and efficiency was carried out using the F and t-tests. The analysis results showed that the income from intercropping maize with peanuts per hectare per growing season is higher than the income from monoculture maize. Likewise, the value of the R/C Ratio and the results of statistical tests were also the same. Based on these findings, counseling related to intercropping maize and beans can be carried out more actively in the East Sumba area.Dusun Katikupialang, Desa Pataawang, Kecamatan Umalulu merupakan wilayah produsen jagung di Kabupaten Sumba Timur. Jagung menjadi komoditi utama, meski dalam kurun waktu terakhir, petani setempat mulai menerapkan pola tanam jagung tumpangsari dengan kacang tanah. Penelitian dilakukan untuk membandingkan secara finansial usahatani pola monokultur jagung dan pola jagung tumpangsari kacang tanah guna mempelajari pola usahatani yang yang efisiensi dan pendapatan paling tinggi. Sampel ditentukan terhadap 20 petani pelaku pola monokultur jagung dan 10 petani pelaku pola jagung tumpangsari dengan kacang tanah dengan teknik simple random sampling. Metode analisis meliputi analisis finansial (biaya, pendapatan, dan kelayakan) usahatani, dilanjutkan dengan analisis statistik pengujian hipotesis. Hasil analisisnya, pendapatan per hektar per musim tanam untuk usahatani jagung tumpangsari lebih besar daripada monokultur, secara statistik hasil pengujian juga terbukti demikian. Hal yang sama juga untuk nilai R/C Ratio dan hasil pengujian statistiknya. Berdasarkan temuan ini, penyuluhan terkait pola tanam jagung tumpang sari dengan kacangkacangan dapat lebih aktif lagi dilakukan di daerah Sumba Timur.