Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Organisasi Massa Islam Awal Abad 20; Telaah Terhadap Perjalanan Gerakan Sarekat Islam Abdullah Khusairi
Hikmah Vol 13, No 2 (2019): HIKMAH: JURNAL ILMU DAKWAH DAN KOMUNIKASI ISLAM
Publisher : IAIN Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/hik.v13i2.2034

Abstract

This article reveals the journey of an Islamic mass organization in the early 20th Century, Serikat Dagang Islam (SDI), which later became Serikat Dagang (SI). This organization was present as a form of awareness to unite in the movement to deal with the economic pressures of the Dutch East Indies government. In the early days of its presence it was not intended to be a political tool of power but SI activists eventually became figures respected by the Dutch East Indies government at that time. The momentum of the rise of thought and the independence movement of the Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) actually started from SI activists who spread in various developing regions. They are active in writing thoughts in the print media that are being loved by Muslim cum activists. These activists networked with each other in producing discourse in written form and owning their respective media. This article would like to offer that every movement through the organization as a vehicle for Da'wah Islamiyah must prepare activists who are capable, brave, and strong in fighting. More than that, it is able to design and implement the latest Da'wah Islamic strategy in the midst of the political currents that are in power so as not to lose and sink in the midst of the times that keep changing so fast.
Ruang Percakapan Digital Sebagai Limbah Informasi: Analisis terhadap Pengalaman di Media WhatsApp Group Abdullah Khusairi; Icol Dianto
Ittishol: Jurnal Komunikasi dan Dakwah Vol 2, No 2 (2024): Ittishol: Jurnal Komunikasi dan Dakwah
Publisher : Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/ittishol.v2i2.13796

Abstract

Penelitian ini bertujuan menggali pengalaman netizen yang terafiliasi dengan whatsapp group sebagai konsumen dan pengguna teknologi informasi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode pengumpulan data melalui wawancara terhadap netizen yang aktif di WAG. Pengumpulan data didukung dengan metode observasi partisipatif dari peneliti. Sampel penelitian beragam kelompok usia, latar belakang pendidikan dari beragam WAG. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan teori penerimaan dan penggunaan teknologi informasi yang digagas Fred D. Davis. Hasil penelitian ini menemukan bahwa RPD WAG memiliki kecenderungan untuk menjadi gudang sampah informasi. Hal ini disebabkan jumlah pesan yang cepat dan terus-menerus, kurangnya filterisasi informasi, serta kurangnya keterlibatan pengguna dalam memeriksa kebenaran informasi. WAG cenderung terjebak dalam lingkaran informasi yang salah, rumor dan hoaks. Beberapa pengguna mengungkapkan kewalahan atas WAG yang kurang efektif sebagai wadah komunikasi kelompok dan terjadi kebisingan informasi. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya literasi digital dan peran moderator dalam mengelola dan memantau konten yang disebarkan di WAG.
Fasad Ekologis dan Krisis Tata Kelola: Telaah Ekoteologis Islam atas Penambangan Emas Ilegal di Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi Abdullah Khusairi; Al Hadis; Musthafa Luthfi
Al-Adyan: Journal of Religious Studies Vol 6, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/al-adyan.v6i2.12953

Abstract

Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Sarolangun memicu krisis ekologis yang kompleks, seperti kontaminasi merkuri, kerusakan lanskap, dan dampak sosial-ekonomi. Penelitian ini menganalisis dampak PETI sebagai pola kerusakan sistemik melalui perspektif ekoteologi Islam, penting untuk memahami hubungan antara degradasi lingkungan, tekanan ekonomi, dan kegagalan tata kelola, serta untuk kontribusi dalam studi ekoteologi, ekologi, dan kebijakan sumber daya alam. Metode penelitian menggunakan deskriptif-analitis berbasis laporan lapangan, publikasi ilmiah, data lingkungan, dan studi literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan, terjadinya kontaminasi merkuri, konversi lahan yang merusak hidrologi, pergeseran mata pencaharian, kerentanan ekonomi, serta lemahnya tata kelola yang mereproduksi kerusakan secara berulang. Analisis dari perspektif ekoteologis, PETI beroperasi sebagai jaringan sosial-ekologis yang merusak lingkungan, mencerminkan kolaborasi antara tindakan sosial yang merugikan lingkungan dan ketidakmampuan sistem untuk mengelola dampak tersebut secara efektif, serta menciptakan disfungsi dalam praktik etis yang seharusnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.Illegal gold mining (PETI) in Sarolangun has triggered an increasingly complex ecological crisis, particularly through mercury contamination, landscape degradation, and socio-economic transformation within local communities. This study aims to explain how PETI generates patterns of systemic destruction and to assess it from the perspective of Islamic ecotheology as an ethical framework for interpreting this phenomenon. This issue is urgent in order to uncover the relationship between environmental degradation, economic pressures, and governance failure, thereby contributing theoretical insight to studies of ecotheology, ecology, and natural resource policy. The research employs a descriptive-analytical method based on field reports, scientific publications, environmental data, and relevant literature. The findings reveal significant mercury contamination, land conversion that disrupts hydrology, shifts in livelihoods, economic vulnerability, and weak governance that perpetuates recurrent damage. From an ecotheological perspective, PETI operates as a socio-ecological network that destroys the environment and demonstrates ethical–moral dysfunction. The conclusion emphasizes the need for ecological policy integration, strengthening of local institutions, and internalization of ecotheological ethics to break the cycle of destruction. This study opens space for further research on governance design grounded in religious values and socio-ecological sustainability.