Otniel Aurelius Nole
Universitas Kristen Satya Wacana

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Hubungan Umat dan Pemerintah: Studi Hermeneutik terhadap Roma 13:1-7 Otniel Aurelius Nole
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4, No 2 (2023): Juni 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v4i2.174

Abstract

The people and the government are the two main figures in the order of life. The government has important roles and works with devotion. The presence of the people helps the government. The people have obligations to respect the government, but sometimes there are neglects to obey the government. In the Bible, Paul's letter Romans 13:1-7 states about the relationship between people and government. The social situation describes the presence of the people and the government. Paul emphasized the importance of the people to obey the government. This paper aims to investigate the relationship between the people and the government and find their relevance in the Indonesian context. This paper is reviewed with a hermeneutic study of Romans 13:1-7. The author explores the socio-historical context relating to Rome and the Roman Empire. The research method used is qualitative with a hermeneutic study based on critical approaches. The result found is that God is sovereign over the people and the government. Then, the people and the government have a relationship of mutualism and interdependence. Both work together in the order of life. The government is God's messenger who is given the task of protecting and helping the people. The people pay respect to the government as God's servants.Umat dan pemerintah adalah dua figur utama yang berada dalam tatanan kehidupan. Pemerintah berperan penting dan bekerja dengan pengabdian. Kehadiran umat turut membantu pemerintah. Umat memiliki kewajiban untuk menghormati pemerintah, tetapi terkadang terjadi kelalaian untuk mematuhi pemerintah. Di dalam Alkitab, surat Paulus di  Roma 13:1-7 menyatakan tentang keterkaitan antara umat dan pemerintah. Keadaan sosialnya menggambarkan kehadiran umat dan pemerintah. Paulus menegaskan kepentingan untuk umat patuh kepada pemerintah. Tulisan ini bertujuan untuk menginvestigasi hubungan umat dan pemerintah, serta menemukan relevansinya dalam konteks Indonesia. Tulisan ini ditinjau dengan studi hermeneutik terhadap Roma 13:1-7. Penafsir mengeksplorasi konteks sosio-historis yang berkaitan dengan Roma dan Kekaisaran Romawi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan studi hermeneutik berdasarkan pendekatan-pendekatan kritis. Hasil yang ditemukan ialah Tuhan yang berdaulat atas umat dan pemerintah. Kemudian, umat dan pemerintah memiliki hubungan mutualisme dan saling bergantung. Keduanya bekerja sama dalam tatanan kehidupan. Pemerintah adalah utusan Allah yang diberi tugas untuk melindungi dan membantu umat.Umat memberi hormat kepada pemerintah sebagai pelayan Allah.
Gereja dengan Model Hibrida: Sebuah Pendekatan Eklesiologi di Era Pasca Pandemi COVID-19 Otniel Aurelius Nole
Jurnal Teologi dan Pelayanan Kerusso Vol 8 No 2: Jurnal Teologi & Pelayanan Kerusso - September 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33856/kerusso.v8i2.305

Abstract

The Church can contemplate and act upon the implementation of its activities in the post-COVID-19 pandemic era. Generally, the Church has traditionally conducted its activities in a face-to-face manner, but the increasing modernization of society has led to the adoption of indirect methods as well. In this research, these two approaches are not seen as contradictory but are viewed from a different perspective, presenting a model for the Church, namely the hybrid model. The aim of this research is to demonstrate that the hybrid Church model is an intriguing and beneficial ecclesiological approach for the enhancement of a healthy and vibrant Church in contemporary times. This study employs a literature review to present an argument based on valid references, and the author also conducts field research, including observations and interviews, as data collection techniques. The author finds that the hybrid model can serve as a solution to assist churches in carrying out religious practices. Abstrak Indonesia Gereja dapat berpikir dan bertindak tentang pelaksanaan kegiatannya di era pasca pandemi COVID-19. Secara umum, gereja melakukan kegiatan secara langsung, tetapi perkembangan zaman yang kian modern membuat gereja juga memberlakukan kegiatan secara tidak langsung. Dalam penelitian ini, kedua hal itu tidak dipertentangkan, melainkan diambil sudut pandang lain dengan menampilkan suatu model bagi gereja, yaitu hibrida. Tujuan penelitian ini menunjukkan bahwa gereja bermodel hibrida adalah pendekatan eklesiologi yang menarik dan bermanfaat tentang peningkatan gereja yang sehat dan segar di zaman kontemporer. Penelitian ini menggunakan studi kepustakaan dalam memunculkan suatu argumen dari referensi valid, serta penulis juga melakukan studi lapangan berupa observasi dan wawancara sebagai teknik pengumpulan datanya. Penulis menemukan bahwa model hibrida dapat menjadi jawaban untuk membantu gereja-gereja melaksanakan praktik religius.
Pengalaman Mahasiswa Rantau tentang Adaptasi Lintas Budaya di Salatiga: Suatu Tinjauan Teologi Interkultural Otniel Aurelius Nole
ARUMBAE: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama Vol 5, No 2 (2023)
Publisher : Program Pascasarjana UKIM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37429/arumbae.v5i2.1067

Abstract

Salatiga is a city known for its diverse cultures, so there are not only Javanese cultures but also cultures that come from outside Java. The arrival of students who migrate to study and have particular cultural origins has an impact on this as well. Cultural diversity motivates students to make cross-cultural adaptations. From this, students certainly have life experiences related to life and the social world. This research aims to investigate the experiences of overseas students about cross-cultural adaptation in Salatiga with a review of intercultural theology. The researcher used a qualitative method with a case study design. The data analysis approach used was an interpretative phenomenological analysis. The participants were three theology students from different cultures and were selected based on a purposive sampling technique. The researcher found that the three participants had unique and distinctive life experiences about adapting across cultures. For them, there were challenges at first, but the atmosphere shifted to feelings of excitement and learning opportunities from experiencing other cultures. In the end, the presence of diverse cultures certainly makes them realize the goodness of God, who has created cultural diversity.
Teologi Trauma: Hubungan Tuhan, Resiliensi, dan Solidaritas Otniel Aurelius Nole
Skenoo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 5 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tabernakel Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55649/skenoo.v5i2.166

Abstract

Trauma merupakan isu penting yang terus mendapat perhatian karena tetap menjadi bagian nyata dalam pengalaman hidup manusia sehingga memiliki signifikansi dalam ranah akademis. Kendati demikian, trauma dalam perspektif teologis masih minim untuk dianalisis secara ilmiah di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengintroduksi teologi trauma melalui analisis hubungan antara Tuhan, resiliensi, dan solidaritas. Melalui studi reviu literatur, peneliti menegaskan bahwa Tuhan adalah sumber pertolongan manusia yang memberikan daya bagi manusia untuk bangkit dan bertahan hidup. Tuhan senantiasa mencurahkan kasih-Nya kepada manusia agar mereka tetap menerima anugerah dengan menggerakkan partisipasi pertolongan insan lain. Kasih tersebut memampukan mereka untuk memperoleh kekuatan dan membangun kemampuan untuk melewati masa-masa sulit menuju pemulihan demi kesehatan dan kesejahteraan. Kontribusinya ialah memperkuat diskursus teologis mengenai trauma.
Pendampingan Sosioteologis Mengenai Penggunaan Media Sosial Dan Implementasi Misi Gereja Otniel Aurelius Nole; Tony Tampake
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 5, No 2 (2025): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v5i2.287

Abstract

Misi gereja di masa kontemporer ini ialah mendampingi umat dalam menggunakan media sosial demi mencegah problem sosial dalam dunia virtual. Untuk menghindari penyalahgunaan media sosial, gereja berperan penting dalam menerapkan misi yang memuat pendampingan sosioteologis. Tujuan penelitian ini ialah menegaskan pendampingan sosioteologis dalam menggunakan media sosial sebagai implementasi misi gereja. Metode penelitian ini ialah kualitatif dengan pendekatan reviu literatur dan peneliti mengumpulkan data melalui wawancara terstruktur. Hasil penelitian ini menemukan bahwa pelaksanaan misi gereja dengan melakukan pendampingan sosioteologis sangat relevan bagi umat, secara khusus bagi mereka yang memiliki media sosial. Pada prinsipnya, gereja menaruh perhatian yang besar untuk umat agar tetap merealisasikan kasih lewat media sosial.