Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

NILAI-NILAI TASAWUF GENERASI MILENIAL Nuraini Nuraini; Nelly Marhayati
Nuansa : Jurnal Studi Islam dan Kemasyarakatan Vol 12, No 2 (2019): Desember
Publisher : Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/nuansa.v12i2.2759

Abstract

Nilai-nilai Tasawuf Generasi Milenial. Tasawuf atau sufi sme merupakan hasil dari peradaban Islam yang keberadaannya sudah ada sejak dulu. Tasawuf seperti mengalami fase Revitalisasi di era generasi millennial ini. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tak diimbangi dengan ajaran agama yang luhur membuat generasi millennial menjadi rakus dan jauh dari Tuhan. Kehadiran Tasawuf semakin bermakna, ketika tasawuf mampu menjadi oase di padang pasir yang tandus dan gersang bagi masyarakat modern yang mengalami krisis spiritual. Tasawuf dalam bentuk tarekat ataupun dalam bentuk yang sudah termodifi kasi akan menjadi solusi yang tepat ataupun obat bagi modernisasi dengan segala dampak dan konsekuensinya. Tasawuf dengan ajaran kerohaniannya dan akhlak mulianya semakin berperan penting dalam kehidupan masyarakat yang mulai terkikis dengan moral yang luhur. Tasawuf yang dulunya diklaim menjadi salah satu penyebab kemunduran Islam, dan ditanggapi dengan sikap yang negatif oleh beberapa tokoh Islam ketika itu, seperti Fazlur Rahman dan Al-Faruqi, kini semakin mendapat tempat di kalangan generasi millennial yang serba modern.
Strategi Pengasuh PONPES dalam Menjaga Kesehatan Mental Santri di Ponpes Salafiyah Sentot Alibasya Kota Bengkulu Nurul Falah; Alfauzan Amin; Nelly Marhayati
Al-Bahtsu: Jurnal Penelitian Pendidikan Islam Vol 6, No 1 (2021): Islamic Education Research
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/btu.v6i1.5686

Abstract

This research uses a qualitative type with a descriptive approach. Data collection techniques use observation, interviews and documentation. Research informants included: Kyai Ponpes Salafiyah Sentot Alibasya, Pondok Caretaker, male students and female students. The data analysis technique uses the Narrative Analysis Technique which is carried out by collecting data describing events or occurrences and then compiling it into a story using a storyline. The results of this thesis research are: 1. The mental health of children at the Salafiyah Sentot Alibasya Bengkulu Islamic boarding school as a whole is not the same, but the system implemented by the Islamic boarding school to handle problems that arise is very good. Like the actions taken to deal with new students so that they are willing to open up and obey existing regulations, this cannot be separated from the role of the santri guardians who follow the development of the students through meetings held by the Islamic boarding school. 2. The strategy implemented by the Sentot Alibasya Bengkulu Salafiyah Islamic boarding school is appropriate to deal with the students with the problems they face. For students who violate the rules that have been set, the boarding school administrators are ready with the appropriate punishment to be given to the students. By holding dormitory cleaning activities, weekly activities every Friday night after the Maghrib prayer congregation, followed by reading Yasin and Tahlil and after that reading the Barzanji Prayers, the researchers saw that this was the right strategy for the students to be able to maintain their mental health. 3. Supporting factors for the mental health of students at the Salafiyah Sentot Alibasya Islamic boarding school can be seen from the readiness of the boarding school caregivers in handling any problems posed by the students, besides that, there is support from the guardians of the students for the progress of the Islamic boarding school. Meanwhile, the inhibiting factor in implementing the boarding school caregiver's strategy in maintaining the mental health of students lies in the various characters of the students, where not all students commit violations not only once but more than once and the factors that encourage them to commit these violations have various motives. Keywords: Strategy, Islamic Boarding School Caregivers, Mental Health
DINAMIKA TRADISI BERGURU MENGAJI DI TENGAH FENOMENA PUTUS MENGAJI PADA REMAJA MASYARAKAT LEMBAK BENGKULU Nelly Marhayati; Lailatul Badriyah; Novia Ayu Lestari; Sinta Safitri; Mhd Akhyar Harahap; Nadia Asmanti Putri; Aisyah Primadanti; Frizcha; Muhammad Abdul Yunus; Muhammad Andra Utama; Annida Nadia Alfauziah; Widia Bella Pisra
VARIABLE RESEARCH JOURNAL Vol. 3 No. 03 (2026): JULI 2026
Publisher : Media Inovasi Pendidikan dan Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menganalisis dinamika tradisi berguru ngaji pada masyarakat Lembak di Kota Bengkulu, dengan fokus pada keberlanjutan pendidikan keagamaan berbasis komunitas dan fenomena putus mengaji pada remaja. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam terhadap remaja aktif, remaja yang telah berhenti, serta guru mengaji. Data dianalisis secara tematik melalui reduksi, pengkodean, dan penentuan tema. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi berguru ngaji masih bertahan sebagai sistem pendidikan keagamaan berbasis relasi personal guru–murid yang dibangun atas dasar keikhlasan, penghormatan, dan kedekatan emosional. Aktivitas mengaji juga berfungsi sebagai ruang sosial yang memperkuat interaksi dan solidaritas teman sebaya. Namun, ditemukan fenomena putus mengaji yang dipengaruhi oleh melemahnya ikatan kelompok sebaya serta meningkatnya kompetisi aktivitas remaja, terutama tuntutan pendidikan formal dan kegiatan lain. Secara teoretis, analisis menggunakan perspektif Pierre Bourdieu melalui konsep field, habitus, serta modal sosial dan budaya. Temuan menunjukkan bahwa keberlanjutan tradisi sangat ditentukan oleh kekuatan modal sosial, khususnya jaringan teman sebaya. Pelemahan modal sosial berdampak pada menurunnya habitus keagamaan dan partisipasi remaja dalam tradisi berguru. Penelitian ini menyimpulkan bahwa putus mengaji bukan disebabkan oleh penolakan nilai agama, melainkan oleh perubahan struktur sosial dan dinamika aktivitas remaja. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan jejaring sosial dalam pendidikan keagamaan berbasis komunitas untuk menjaga keberlanjutan tradisi dan reproduksi nilai budaya lokal.