p-Index From 2021 - 2026
2.036
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Artesis
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

EVALUASI KINERJA OPERASIONAL DAN PELAYANAN BUS RAPID TRANSIT TRANSJAKARTA (STUDI KASUS: KORIDOR 10 TANJUNG PRIOK – PGC 2) Ilham Digna; Nuryani Tinumbia
Jurnal ARTESIS Vol 4 No 2 (2024): JURNAL ARTESIS
Publisher : Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35814/artesis.v4i2.7855

Abstract

BRT Transjakarta Koridor 10 melayani rute Tanjung Priok – PGC 2, melewati beberapa jalan utama di Jakarta dan terintegrasi dengan layanan angkutan lain seperti KRL Cikarang dan KRL Tanjung Priok. Permasalahan yang sering terjadi pada koridor ini seperti penumpukan penumpang pada jam sibuk dan kemacetan akibat jalur yang tidak steril menyebabkan keterlambatan. Oleh karena itu, evaluasi kinerja operasional Transjakarta Koridor 10 perlu dilakukan berdasarkan Surat Keputusan Dirjen Perhubungan Darat Nomor 687 Tahun 2002 dan Standar Pelayanan Minimal dalam Peraturan Gubernur Nomor 33 Tahun 2017. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja operasional BRT Transjakarta Koridor 10 eksisting yang terdiri dari faktor muat, waktu antara, frekuensi, waktu perjalanan, kecepatan perjalanan dan ketersediaan angkutan; menganalisis kinerja pelayanan; dan mengevaluasi kinerja operasional dan pelayanan dengan mengacu pada Standar yang ditetapkan. Dalam penelitian ini dilakukan 4 (empat) survei yaitu survei statis dan survei dinamis dimana survei statis dilakukan pada tiga halte yaitu Halte Tanjung Priok, Halte Utan Kayu Rawamangun dan Halte PGC 2, survei dinamis dilakukan didalam bus koridor 10 yang sedang beroperasi, survei inventarisasi pelayanan halte dan bus, dan survei wawancara penumpang. Hasil survei kemudian dianalisis dan dievaluasi berdasarkan standar yang ditetapkan. Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh indikator pelayanan operasional BRT Transjakarta Koridor 10 eksisting masuk pada kategori baik, yang berarti telah sesuai dengan standar. Kemudian untuk kinerja pelayanan, sebagian besar pelayanan Halte Tanjung Priok, Utan Kayu Rawamangun dan PGC 2, serta bus 2 pintu dan 3 pintu yang beroperasi telah memenuhi standar pelayanan minimal yang disyaratkan. Namun ada beberapa jenis pelayanan dasar yang masih belum memenuhi, sehingga kedepannya diperlukan beberapa penambahan fasilitas pelayanan, terlebih untuk halte yang banyak penumpangnya dan halte yang bersinggungan dengan koridor lainnya maupun moda angkutan umum lainnya.
ANALISIS KINERJA SIMPANG TIDAK BERSINYAL Tiffany Anasya Putri; Nuryani Tinumbia
Jurnal ARTESIS Vol 4 No 2 (2024): JURNAL ARTESIS
Publisher : Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35814/artesis.v4i2.7861

Abstract

Persimpangan sebagai tempat bertemunya arus lalu lintas dari dua atau lebih ruas jalan banyak menimbulkan konflik lalu lintas seperti kemacetan. Kemacetan sering terjadi karena arus yang melewati ruas jalan melampaui kapasitas dari jalan tersebut. Kinerja suatu simpang merupakan faktor utama dalam menentukan penanganan tepat untuk mengoptimalkan fungsi simpang. Pada kota Tangerang Selatan masih terdapat beberapa simpang tidak bersinyal seperti simpang empat Viktor yang memiliki 4 lengan jalan yaitu Jalan Ps. Jengkol – Jalan Raya Puspitek – Jalan Buaran Raya yang masih sering terjadi kemacetan terutama pada sore hari. Beberapa upaya telah dilakukan oleh pemerintah Kota Tangerang Selatan seperti sistem One Way pada pagi hari pukul 06.00 – 09.00. Maka dari itu perlu dikaji untuk dapat meningkatkan kinerja simpang Viktor. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis kinerja simpang tidak bersinyal simpang empat Viktor dengan menggunakan metode PKJI 2023 dan simulasi model lalu lintas menggunakan aplikasi PTV Vissim. Berdasarkan perhitungan menggunakan PKJI tahun 2023 didapatkan nilai derajat kejenuhan sebesar 1,19 dengan tingkat pelayanan F. Penanganan simpang empat Viktor kemudian dibuat dalam 2 (dua) skenario penanganan. Skenario dengan penerapan APILL 3 fase memberikan hasil yang lebih baik oleh karena memberikan nilai derajat kejenuhan di bawah 0,85 untuk setiap lengannya.