Retni Mulyani
STTGKE

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Memaknai Pakanan Sahur Lewu: Tinjauan Sosiologis terhadap Perubahan Sosial Masyarakat di Desa Sigi Retni Mulyani; Alexandra Binti; Kristina Ayu
Jurnal Teologi Pambelum Vol 2 No 1 (2022): Kepemimpinan, Perubahan Sosial dan Ibu Kota Negara
Publisher : Unit Penerbitan Informasi dan Teknologi Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kalimantan Evangelis (STT GKE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59002/jtp.v2i2.31

Abstract

Pakanan Sahur Lewu merupakan upacara memberi persembahan sebagai penghormatan kepada para leluhur yang menjaga kampung dan acara ini bertujuan untuk melindungi desa/kampung dari mara bahaya dan hidup dalam keamanan. Pakanan sahur lewu yang dulunya hanya dilakukan oleh orang Kaharingan, sekarang melibatkan partisipasi seluruh penduduk desa. Perbedaan agama tidak menyurutkan sikap toleransi. Tujuan dari partisipasi umat lain semata-mata untuk bersatu memohon keamanan bagi desa dan penduduknya. Pakanan Sahur Lewu sendiri merupakan wujud dari perubahan sosial melahirkan kebutuhan-kebutuhan yang tidak mudah dihindari.
Paradigma Jemaat Terhadap Pendeta Penyandang Disabilitas: Studi Teologi Disabilitas dalam Konteks Jemaat GKE Selat Kapuas Retni Mulyani; Alexandra Binti; Sri Winda Yanti; Elvi Sumbu
Jurnal Teologi Pambelum Vol 2 No 2 (2023): Teologi Dalam Konteks Perubahan Sosial dan Budaya Masyarakat
Publisher : Unit Penerbitan Informasi dan Teknologi Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kalimantan Evangelis (STT GKE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59002/jtp.v3i1.41

Abstract

The congregation's paradigm towards persons with disabilities in the context of the Kapuas Strait GKE Congregation is seen from the medical model and social model. The medical model is also said to be an individual model which places people with disabilities at normal standards that have been determined by non-disabled people. The medical model is a paradigm that was criticized by Michael Oliver who then offered the social model as a new paradigm in viewing socially disabled people in a more human way. It is also supported by the idea of Thomas Reynolds that the medical model is not something that is forbidden but is equipped with a social model because after all social models produce physiological conditions that cannot be eliminated. Through the results of the research, it was found that congregations can accept pastors with disabilities and they place their pastors in an equal place and provide space that allows pastors with disabilities to make a contribution. However, on the other hand it is also found that the understanding of the congregation is on two sides between the medical model and the social model. This means that medical understanding is still embedded in their memory
Pelaksanaan Kursus Teologi Warga Gereja (KTWG) di Resort GKE Tamiang Layang dalam Rangka Hari Pendidikan Teologi (HPT) GKE 2023 Retni Mulyani; Sudianto; Tahan Mentria Cambah; Enta Malasinta Lantigimo; May Linda Sari
Akoloutheo: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 1 No 1 (2024): Respons, Pembinaan, dan Penguatan Spiritualitas Warga Gereja dalam Konteks yang T
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kalimantan Evangelis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hari Pendidikan Teologi (HPT) merupakan agenda tahunan Gereja Kristen Evangelis (GKE) dalam upaya meningkatkan pengetahuan teologis para warga jemaatnya. Salah satu kegiatan dalam rangka HPT 2023 adalah penyelenggaraan Kursus Teologi Warga Gereja (KTWG) yang dilaksanakan di berbagai resort GKE, termasuk Resort GKE Tamiang Layang pada 09 September 2023. Tujuan kegiatan ini adalah memberikan pembekalan teologis kepada warga jemaat melalui seminar dua sesi. Seminar sesi pertama membahas tentang liturgi GKE oleh Pdt. Dr. Tahan M. Cambah, sedangkan seminar sesi kedua membahas strategi GKE dalam menyambut Ibukota Negara (IKN) yang baru oleh Pdt. Dr. Sudianto. Peserta seminar berjumlah sekitar 120 orang yang berasal dari berbagai jemaat di Resort GKE Tamiang Layang. Selain seminar, acara juga diawali dengan ibadah pembukaan dan ditutup dengan ibadah penutupan. Secara keseluruhan, pelaksanaan kegiatan ini berlangsung dengan baik dan mendapat respons positif dari peserta. Kegiatan serupa sangat direkomendasikan untuk dilakukan secara berkala guna meningkatkan literasi teologis warga jemaat GKE.
Praktik Lingkaran Pastoral Bersama Resort GKE Pulang Pisau Retni Mulyani; Keloso S. Ugak; Lia Afriliani
Akoloutheo: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 1 No 2 (2024): Pengajaran Teologi, Pelayanan Gereja, dan Pengembangan Spiritualitas
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kalimantan Evangelis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kehidupan bergereja pasca pandemi Covid-19 merupakan topik menarik untuk didiskusikan. Anggota jemaat perlu didampingi dalam memetakan permasalahan yang mereka hadapi hingga akhirnya dapat sampai pada problem solving berupa perencanaan aksi pastoral untuk dilakukan bersama oleh gereja. Kegiatan bertujuan untuk membantu peserta kegiatan memetakan permasalahan, menganalisa, dan menyusun perencanaan untuk menghadapi permasalahan yang dihadapi terkait kehidupan bergereja pasca pandemi Covid-19 melalui praktik lingkaran pastoral dan penerapan Focus Group Discussion (FGD). Penelitian ini melibatkan pendeta, penatua, dan diakon dari Resort GKE Pulang Pisau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasca pandemic Covid-19 sangat berdampak pada kehidupan bergereja, baik secara pelayanan, spiritualitas, relasi, serta teologi. Gereja harus melakukan pembinaan bagi anak, remaja dan pemuda tentang ajaran Kristen, Penatua, diakon dan pendeta juga perlu dibuat pertemuan bulanan yang membahas tentang ajaran Kristen. Penelitian ini menyimpulkan penerapan PkM dengan metode FGD dan lingkar pastoral sangat membantu gereja untuk memetakan permasalahan, menganalisa, serta menyusun rencana-rencana aksi terkait kehidupan bergereja pasca pandemi Covid-19.