Sudianto
Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kalimantan Evangelis

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Gereja Kalimantan Evangelis Menyikapi Proyek Ibu Kota Negara Baru Hadi Miter; Sudianto; Kinurung Maleh Maden
Jurnal Teologi Pambelum Vol 2 No 1 (2022): Kepemimpinan, Perubahan Sosial dan Ibu Kota Negara
Publisher : Unit Penerbitan Informasi dan Teknologi Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kalimantan Evangelis (STT GKE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59002/jtp.v2i2.25

Abstract

Kalimantan in 2019. The Kalimantan Evangelical Church (GKE), as one of the ecclesiastical organizations in Kalimantan, has a very positive and anticipatory reaction to the government's decision. The research in this paper describes the process of relocating a new IKN in East Kalimantan, GKE's attitude towards the IKN project, and the theological reflection of GKE services in the IKN area. The research method used is a qualitative method to describe the data collected. The type of research is descriptive, with data collection by interview method. The presence of the new IKN in East Kalimantan was responded to in a very positive way by GKE. There was an opportunity to be seen there, where East Kalimantan and the location of IKN were in direct contact with GKE. The synod level already has a basis, where there is a "blueprint" for the formation of GKE preparations for the new IKN, so that the basis for strengthening the position of GKE in the new IKN is clear. The development of the GKE congregation in response to the formation of a new IKN is a continuous process. observation, strengthening commitment to change, preparing and conducting research, problem analysis, theological reflection, and continuous strategic planning in evaluation. Developing the medium-term and long-term GKE projects in the New IKN so that the presence and development of GKE there become a lighthouse project of God's church in the future.
KEMUNCULAN RAJA NANSARUNAI DALAM PUSARAN IKN Hadi Miter; Kinurung Maleh; Sudianto
Jurnal Teologi Pambelum Vol 2 No 2 (2023): Teologi Dalam Konteks Perubahan Sosial dan Budaya Masyarakat
Publisher : Unit Penerbitan Informasi dan Teknologi Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kalimantan Evangelis (STT GKE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59002/jtp.v3i1.38

Abstract

AbstractThe relocation of the Indonesian National Capital to East Kalimantan has proven to be a magnet for many groups to compete to show their existence in various aspects: socioeconomic, ecological, political, and cultural. A successful businessman in East Kalimantan, namely Abriantinus, brought his socio-cultural identity as a Ma'anyan Dayak and confirmed him as King Nansarunai in Betang Sanggu, South Barito. Nansarunai is a name full of history, meaning, and the traditional identity of the Ma’anyan people. With the title of King, Abriantinus hopes to be able to elevate the cultural values and potential of the Dayak people in the new National Capital. This confirmation received responses from various parties. The heads of the three Dayak Maanyan kadamangan agreed that the title of the king could be accepted if it had a socio-cultural nuance rather than being used for political and sovereign interests. The research method used in this paper is a qualitative one to describe each part of the data collected. This type of research is descriptive, with data collection methods including interviews, observation, and literature study. Keywords: Abriantinus, King Nansarunai, Dayak Ma'anyan, social identity, and social interaction. AbstrakPemindahan Ibu Kota Negara ke Kaltim terbukti menjadi magnet bagi banyak kalangan untuk berlomba menunjukkan eksistensinya dalam berbagai aspek: sosial ekonomi, ekologi, politik dan budaya. Seorang pengusaha sukses di Kalimantan Timur, yaitu Abriantinus membawa identitas sosial budayanya sebagai Dayak Ma'anyan dan mengukuhkannya sebagai Raja Nansarunai di Betang Sanggu - Barito Selatan. Nansarunai adalah nama yang sarat sejarah dan makna serta identitas tradisional masyarakat Maanyan. Dengan gelar Raja, Abriantinus berharap mampu mengangkat nilai budaya dan potensi masyarakat Dayak di Ibu Kota Negara yang baru. Konfirmasi ini mendapat tanggapan dari berbagai pihak. Kepala tiga kadamangan Dayak Maanyan berpandangan bahwa gelar raja bisa diterima asalkan bernuansa sosial budaya, bukan untuk kepentingan politik dan kedaulatan. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode kualitatif untuk mendeskripsikan setiap bagian dari data yang dikumpulkan. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan metode pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan studi pustaka. Kata kunci: Abriantinus, Raja Nansarunai, Dayak Ma’anyan, Identitas Sosial dan Interaksi Sosial.
Konstruksi teologis-pedagogis moderasi beragama: Upaya pendidikan tinggi teologi mendorong moderasi di era digital Happy Seviana Undas; Idrus Sasirais; Sudianto
KURIOS Vol. 10 No. 3: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i3.1154

Abstract

This research raises the issue of the challenges of implementing religious moderation in theological higher education in the digital era, with the locus of the Theological College of the Kalimantan Evangelical Church (STT GKE) in Banjarmasin. The research aims to explore how STT GKE implements and promotes religious moderation through curriculum and student activities, taking into account the challenges and opportunities of the digital era. The method used was a qualitative approach with a case study, using in-depth interviews and document analysis. The results showed that STT GKE has integrated the values of religious moderation into the curriculum, student activities, and interfaith collaboration, although it still faces challenges in implementation in the digital era. Finally, this study concludes that theological higher education, such as STT GKE, can play an important role in shaping a generation of religious leaders who are ready to promote moderation in an increasingly digitally connected world. We recommend increased investment in digital capacity building and closer collaboration between theological higher education institutions and interfaith communities to strengthen networks of tolerance and mutual understanding in the digital age.   Abstrak Penelitian ini mengangkat masalah tantangan implementasi moderasi beragama di pendidikan tinggi teologi dalam era digital, dengan lokus Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kalimantan Evangelis (STT GKE) di Banjarmasin. Tujuan penelitian adalah mengeksplorasi bagaimana STT GKE mengimplementasikan dan mempromosikan moderasi beragama melalui kurikulum dan kegiatan mahasiswa, dengan memperhatikan tantangan dan peluang era digital. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi kasus, menggunakan wawancara mendalam dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa STT GKE telah mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama ke dalam kurikulum, kegiatan mahasiswa, dan kolaborasi lintas agama, meskipun masih menghadapi tantangan dalam implementasi di era digital. Akhirnya, penelitian ini menyimpulkan bahwa pendidikan tinggi teologi, seperti STT GKE, dapat memainkan peran penting dalam membentuk generasi pemimpin agama yang siap mempromosikan moderasi dalam dunia yang semakin terkoneksi secara digital. Kami merekomendasikan peningkatan investasi dalam pengembangan kapasitas digital dan kolaborasi yang lebih erat antara institusi pendidikan tinggi teologi dengan komunitas lintas agama untuk memperkuat jaringan toleransi dan pemahaman bersama di era digital.
Respons Gereja terhadap Dampak Pandemi Covid-19 melalui Focus Group Discussion dan Lingkar Pastoral Bimbing Kalvari; Sudianto; Idrus Sasirais
Akoloutheo: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 1 No 1 (2024): Respons, Pembinaan, dan Penguatan Spiritualitas Warga Gereja dalam Konteks yang T
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kalimantan Evangelis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pandemi COVID-19 telah memberikan dampak yang sangat besar bagi kehidupan masyarakat dan pelayanan gereja. Penelitian ini bertujuan untuk menggali dampak pandemi COVID-19 di Resort GKE Buntoi Penda Alai, Kalimantan Tengah serta merumuskan respons gereja yang tepat melalui penerapan focus group discussion (FGD) dan lingkar pastoral. Penelitian kualitatif ini melibatkan pendeta, penatua, diakon dan jemaat dari 5 jemaat di Resort GKE Buntoi Penda Alai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pandemi berdampak pada penurunan kehadiran jemaat dalam ibadah, penurunan pemasukan gereja, keterbatasan interaksi sosial, kesulitan ekonomi bagi sebagian jemaat, gangguan pendidikan anak, dan ketakutan psikologis. Di sisi lain, terjadi peningkatan kesadaran kesehatan dan kebersihan. Respons gereja direncanakan melalui optimalisasi kunjungan pastoral, penguatan pengajaran doa bagi anak, pendampingan khusus bagi lansia, serta penyesuaian bertahap kebiasaan lama. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan FGD dan lingkar pastoral efektif membantu gereja merumuskan respons yang tepat dan strategis terhadap berbagai perubahan sosial akibat pandemi COVID-19.
Pelayanan Mimbar dan Kursus Teologi Warga Gereja Sebagai Upaya Penguatan Liturgi dan Spiritualitas Kristen Tahan Mentria cambah; Sudianto; Enta Malasinta Lantigimo
Akoloutheo: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 1 No 1 (2024): Respons, Pembinaan, dan Penguatan Spiritualitas Warga Gereja dalam Konteks yang T
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kalimantan Evangelis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan pelayanan mimbar dan Kursus Teologi Warga Gereja (KTWG) merupakan program rutin tahunan yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Teologi GKE bekerja sama dengan resort-resort dan jemaat-jemaat di lingkungan Gereja Kalimantan Evangelis (GKE). Tujuannya adalah untuk memberikan pendalaman iman dan penguatan pelayanan di pekerja gereja dan warga jemaat secara umum. Salah satu lokus kegiatan KTWG pada tahun 2023 adalah Resort GKE Kapuas Seberang. Kegiatan di tempat ini mengambil tema “Tata Ibadah, Liturgi dan Kaitannya dengan Spiritualitas Kristen” dan dilaksanakan di pada tanggal 3 September 2023. Peserta yang hadir berjumlah 128 orang yang berasal dari 8 jemaat. Metode yang digunakan adalah ceramah, tanya jawab dan praktik. Hasil kegiatan menunjukkan antusiasme peserta yang tinggi dalam memahami dan mempraktikkan liturgi dengan benar. Beberapa saran untuk peningkatan kualitas ibadah dan spiritualitas diajukan agar Sekolah Tinggi Teologi GKE bekerja sama dengan Majelis Sinode GKE untuk membuat pedoman liturgi yang lebih lengkap. Kegiatan ini memberikan kontribusi positif dalam upaya membina dan memperdalam pengetahuan teologis para pelayan jemaat dan warga jemaat secara umum di tempat tersebut.
Pelaksanaan Kursus Teologi Warga Gereja (KTWG) di Resort GKE Tamiang Layang dalam Rangka Hari Pendidikan Teologi (HPT) GKE 2023 Retni Mulyani; Sudianto; Tahan Mentria Cambah; Enta Malasinta Lantigimo; May Linda Sari
Akoloutheo: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 1 No 1 (2024): Respons, Pembinaan, dan Penguatan Spiritualitas Warga Gereja dalam Konteks yang T
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kalimantan Evangelis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hari Pendidikan Teologi (HPT) merupakan agenda tahunan Gereja Kristen Evangelis (GKE) dalam upaya meningkatkan pengetahuan teologis para warga jemaatnya. Salah satu kegiatan dalam rangka HPT 2023 adalah penyelenggaraan Kursus Teologi Warga Gereja (KTWG) yang dilaksanakan di berbagai resort GKE, termasuk Resort GKE Tamiang Layang pada 09 September 2023. Tujuan kegiatan ini adalah memberikan pembekalan teologis kepada warga jemaat melalui seminar dua sesi. Seminar sesi pertama membahas tentang liturgi GKE oleh Pdt. Dr. Tahan M. Cambah, sedangkan seminar sesi kedua membahas strategi GKE dalam menyambut Ibukota Negara (IKN) yang baru oleh Pdt. Dr. Sudianto. Peserta seminar berjumlah sekitar 120 orang yang berasal dari berbagai jemaat di Resort GKE Tamiang Layang. Selain seminar, acara juga diawali dengan ibadah pembukaan dan ditutup dengan ibadah penutupan. Secara keseluruhan, pelaksanaan kegiatan ini berlangsung dengan baik dan mendapat respons positif dari peserta. Kegiatan serupa sangat direkomendasikan untuk dilakukan secara berkala guna meningkatkan literasi teologis warga jemaat GKE.
Bertumbuh dan Berakar dalam Kristus: Kursus Teologi Warga Gereja (KTWG) sebagai Upaya Penguatan Jemaat di Resort GKE Kahayan Hulu Idrus Sasirais; Sanon; Sudianto
Akoloutheo: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 2 (2025): Pengembangan Kapasitas Jemaat dan Pemberdayaan Sosial Berbasis Konteks Lokal
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kalimantan Evangelis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article presents the outcomes of a community engagement initiative conducted through the Church Members’ Theology Course (Kursus Teologi Warga Gereja, KTWG), held at the GKE Kahayan Hulu Resort on 15 February 2025. The program was attended by 41 participants, comprising pastors, church council members, and congregants representing 11 local churches within the resort. Employing a qualitative approach through lectures, group discussions, and interactive sessions, the course aimed to deepen the theological understanding of church members. Three central themes were explored: Christian theology concerning work, money, and material possessions; pastoral spirituality; and the proclamation of the Gospel in the digital age. The results indicate a heightened awareness among participants regarding the role of faith in everyday life, the significance of pastoral spiritual integrity, and the urgency of contextual evangelism through digital media. Participant responses reflected strong appreciation, emphasizing the relevance of the themes to their spiritual and social realities. This initiative underscores the importance of theological education for church members as a means of fostering growth and rootedness in faith in Christ, bridging academic theology with congregational life, and strengthening the resilience of Christian communities in Kalimantan.