Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Religion in Television: Mediated Religious "Kuliah Subuh” Program in Indonesia Taufiqurrohim, Taufiqurrohim
FIKRAH Vol 5, No 2 (2017): December 2017
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Jurusan Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v5i2.2638

Abstract

In this contemporary life, television becomes an effective media of the da’wa or proliferation. The flourishing some of Islamic programs also effects to the order of the religious public life in Indonesian society. Using the descriptive analytical research, this essay investigates the process of religious proliferation program who become popular in society. It is started from the objective of some television channel to show “kuliah subuh”, a religious speech from an expert people that understand about Islamic religion or ustad after the dawn. Then the writer tries to find an effect of the media especially television to the audiences from the message of the program and their daily life expressions. Finally, “kuliah subuh” appears as a mediated religion which produces certain effects on religion in order to adapt it to television formats. It make the birth of transformations and paradoxes within the institutional model of religiosity.
Reexamining Thich Nhat Hanh’s Concept in Creating World Peace Taufiqurrohim, Taufiqurrohim
Religió: Jurnal Studi Agama-agama Vol 4 No 2 (2014): September
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (311.406 KB)

Abstract

Pada era globalisasi, dunia dihadapkan dengan tantangan permasalahan baru yaitu arus teknologi, ideologi dan budaya yang semakin maju. Tak ayal, hal tersebut menciptakan benturan di kalangan masyarakat yang resistan terhadap arus perkembangan-perkembangan yang ada. Dari sini, masyarakat secara tidak langsung berperan sekaligus menjadi aktor budaya dan teknologi yang sedang mengglobal. Benturan-benturan tersebut telah diciptakan ketika fundamentalis berhadapan dengan konservatif yang tidak mampu menghindar dan terlibat dalam perkembangan dunia global. Pada puncaknya, perang kosmik pun dimulai dengan mengatasnamakan kebenaran dari satu sisi dan prasangka sebagai kejahatan di sisi lainnya. Agama seringkai dimengerti sebagai pemeran utama dalam benturan tersebut, semisal antara Yahudi dan Islam di Palestina, Hindu dan sih di Punjab, Katolik dan Protestan di Irlandia. Pemahaman tentang agama-agama bermanfaat untuk menghindari benturan tersebut dengan dialog dan pengaplikasian etika sebagai metode menciptakan perdamaian. Oleh karena itu, peran agama menjadi krusial selain sebagai petunjuk hidup namun juga sebagai cara kunci perdamaian bagi golongan yang berbeda. Untuk itu, Thich Nhat Hanh, sebagai master Zen dan Biksu Budha menawarkan ajaran kedamaian melalui pendekatan “engaged budhism” dan susunan “interbeing” yang berorientasi pada metode penciptaan kedamaian dunia tidak hanya bagi orang Buddha tetapi juga semua orang dalam menghadapi perbedaan dan perdamaian. 
FROM THE WORLD RELIGION VIEW TO THE GEERTZIAN APPROACH IN INTERPRETING A CULTURE: An Excursion to Traditional Economic Ritual of Javanese in Langsih Cave Taufiqurrohim, Taufiqurrohim
AL-TAHRIR Vol 19, No 1 (2019): Islam & Local Wisdom
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/altahrir.v19i1.1575

Abstract

Abstract: Langsih cave offers the space for the ritual which fulfills the requirement of Javanese tradition called Pesugihan defining as a supernatural practice and belief in getting rich quick through mysticism and the people should do such a ritual in a sacred place with the particular rule. Through the symbol and ritual experiences, there would find how the people chronologically believe in the sacred ritual that would conducive to the wealth of the ritual. Thus, this paper firstly tries to point out the role of Langsih cave as the site of traditional economic ritual for Javanese culture. The next discussion is examining the existence of pesugihan as on how the worldview representation to the ritual. The last is arguing the optional perspective based on Geertzian approach, which it offers interpretative theory of the culture at the semiotic experience due to its explication “construing social expressions on their surface enigmatical” but it still needs an explanation. The paper shows that the traditional economic ritual is surely a practice transcending from the ancestor unconsciously and the culture seems to be blurred because the role of the tough should be more rational, modernized or religious.الملخص: يسورغارLangsih  الفراغ لطقوس الذي يأدي إلي شروط تقليد الجاوية التي تسميpesugihan  . المقصد من  pesugihan يعني ممارسة الخارق و التصديق لتكون غنيا بسرعة بوسيلة التصوف, ووجب لكل نفر الطاعة علي الطقوس في أي مكان و بقواعد معين. بتفهيم الرمز وتجربة الطقوس سيكون هناك طريقة للناس لفهم بشكل طبيعي عن الطقوس المقدسة التي تفضي إلى الثروة الطقوسية. ففي أول هذه المقالة ستظهر إلي دور غارLangsih   كمكان الطقوس الإقتصاد التقليدي لثقافة الجاوية. ومناقشة بعدها يعني البحث عن التمثيل النظرة العالمية علي تلك الشعيرة. والأخر يعني التنازع عن منظور الإختياري بناء علي نهجGeertzian  , الذي يعرض عن النظرية التفسيرية بتجربة شبه لأن تفسير "حد التعبير الإجتماعي في سطحهم بغامض" يحتاج ألي التشريح. توضح هذه الورقة أن الطقوس الاقتصادية التقليدية هي الممارسات الفلسفة المتعالية من أسلاف دون وعي و كما لو كانت الثقافة مخفية لأن الدور الذي يجب القيام به هو تصبح أكثر عقلانية أو حديثة أو دينية.              Abstrak: Gua Langsih menawarkan ruang untuk ritual yang memenuhi persyaratan tradisi Jawa yang disebut pesugihan yang didefinisikan sebagai praktik supranatural dan kepercayaan untuk menjadi kaya dengan cepat melalui mistisisme dan orang-orang harus mamatuhi ritual di suatu tempat dengan aturan tertentu. Melalui interpretasi simbol dan pengalaman ritual, akan ada cara yang orang secara alami percaya pada ritual sakral yang akan kondusif bagi kekayaan ritual. Maka, makalah ini pertama-tama mencoba menunjukkan peran gua Langsih sebagai tempat ritual ekonomi tradisional untuk budaya Jawa. Diskusi selanjutnya adalah penelusuran keberadaan representasi pandangan dunia terhadap ritual tersebut. Yang terakhir adalah memperdebatkan perspektif opsional berdasarkan pendekatan Geertzian, yang menawarkan teori interpretatif semi-pengalaman karena penjelasan "membatasi ekspresi sosial di permukaan mereka secara misterius" tetapi masih perlu penjelasan. Makalah ini menunjukkan bahwa ritual ekonomi tradisional tentu saja merupakan praktik transendentalisme dari leluhur secara tidak sadar dan budaya tersebut seolah ditutup-tutupi karena peran yang harus dibuat adalah menjadi lebih rasional, modern ataupun agamis.
Distinction of Millennials and Generation Z Islamic Literacy: A Comparative Study of Reading Preferences at UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Taufiqurrohim, Taufiqurrohim
Pustakaloka Vol. 15 No. 1 (2023)
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/pustakaloka.v15i1.5905

Abstract

Abstract: The characteristics of the generation are related to the side of Islamic behavior that they should adhere to. We can analyze the selection of literacy commonly used in studying Islam. However, the challenge is increasing the prevalence of various literacy that does not introduce tolerance and diversity, even leading to radicalism. Therefore, mapping the relationship between generation categories and literacy selection is used, especially in the Higher Education environment, considering its role as a center for knowledge development. Through the mixed method, this study tries to compare the use of literacy between 2 different generations, namely Millennial and Z, at UIN Sayyid Ali Rahmatullah. The results of this study show that first, Millennials tend to use gadgets to obtain Islamic knowledge compared to Generation Z, who prefer to learn Islam face-to-face or in person. Second, Gen Z finds less radical content than millennials, who show how their interest in the issue of radicalism is lower as a form of their apathy on the issue. Third, Gen Z is more acknowledging that they know what kind of Islamic content to avoid than Gen Y, but this is just a matter of the general meaning of their version of radicalism rather than specific to characters, books, or other sources that should be avoided.Keywords: Gen Z , Islamic literacy, MillennialAbstrak: Karakteristik generasi berhubungan dengan sisi perilaku keislaman yang seharusnya mereka anut. Hal itu bisa kita analisis pemilihan literasi yang biasa dipakai dalam mempelajari Islam. Namun demikian, tantangan saat ini mengarah pada makin maraknya berbagai literasi yang tidak memperkenalkan toleransi dan keberagaman bahkan mengarah pada radikal. Oleh karena itu, pemetaan hubungan antara kategori generasi dengan pemilihan literasi yang dipakai terutama di lingkungan Perguruan Tinggi, perlu dilakukan mengingat perannya sebagai pusat berkembangan pengetahuan. Melalui metode mix method, penelitian ini mencoba untuk membandingkan penggunaan literasi yang digunakan antara 2 generasi yang berbeda yaitu Millenial dan Z, di UIN Sayyid Ali Rahmatullah sebagai salah satu PTKIN terbesar di Indonesia. Hasil dari penelitian ini menunjukkan yaitu pertama, milenial memang cenderung suka menggunakan gadget dalam memperoleh pengetahuan keislaman dibanding generasi Z yang lebih menyukai belajar islam via tatap muka atau langsung. Kedua, Gen Z lebih jarang menemukan konten yang berbau radikal dibanding milenial dimana menunjukkan bagaimana ketertarikan mereka terhadap isu radikalisme lebih rendah sebagai wujud apatisme mereka pada isu tersebut. Ketiga, Gen Z lebih mengakui bahwa mereka tahu konten keislaman seperti apa yang harus dihindari dibanding Gen Y, akan tetapi hal ini hanya sekedar secara umum arti radikal versi mereka bukan spesifik pada tokoh, buku ataupun sumber lainnya yang seharusnya dihindari.Kata Kunci: Gen Z, Literasi keislaman, Milenial, 
THE ASSEMBLAGE OF INTERRELIGIOUS DIALOGUE AND TOURISM: Buddhist-Muslim Relation at a Hindu-Majapahit Site in Trowulan, Indonesia Taufiqurrohim, Taufiqurrohim
Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman Vol 17 No 01 (2022)
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/epis.2022.17.01.97-113

Abstract

The touristic place provides discourses that are worth examining as to which how the management of the site, its internal contestation and development, as well as experiences of its visitors. Examining a heritage of the ancient Majapahit kingdom in Java, this article discusses the assemblage of tourism and religious sites and the extent the site serves as a reservoir for interreligious dialog in contemporary Indonesia. It tries to point out how interreligious dialogue is at work in this site and how surrounding communities participate and respond to the perseverance of the site. Finally, accentuating Swidler’s theory of dialogues, this paper looks at the practice of interreligious dialogue at a touristic site and how religious harmony is negotiated by Buddhist and Muslim through the site and the construction of “the other” by both religious communities.
Distinction of Millennials and Generation Z Islamic Literacy: A Comparative Study of Reading Preferences at UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Taufiqurrohim, Taufiqurrohim
Pustakaloka Vol. 15 No. 1 (2023)
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/pustakaloka.v15i1.5905

Abstract

Abstract: The characteristics of the generation are related to the side of Islamic behavior that they should adhere to. We can analyze the selection of literacy commonly used in studying Islam. However, the challenge is increasing the prevalence of various literacy that does not introduce tolerance and diversity, even leading to radicalism. Therefore, mapping the relationship between generation categories and literacy selection is used, especially in the Higher Education environment, considering its role as a center for knowledge development. Through the mixed method, this study tries to compare the use of literacy between 2 different generations, namely Millennial and Z, at UIN Sayyid Ali Rahmatullah. The results of this study show that first, Millennials tend to use gadgets to obtain Islamic knowledge compared to Generation Z, who prefer to learn Islam face-to-face or in person. Second, Gen Z finds less radical content than millennials, who show how their interest in the issue of radicalism is lower as a form of their apathy on the issue. Third, Gen Z is more acknowledging that they know what kind of Islamic content to avoid than Gen Y, but this is just a matter of the general meaning of their version of radicalism rather than specific to characters, books, or other sources that should be avoided.Keywords: Gen Z , Islamic literacy, MillennialAbstrak: Karakteristik generasi berhubungan dengan sisi perilaku keislaman yang seharusnya mereka anut. Hal itu bisa kita analisis pemilihan literasi yang biasa dipakai dalam mempelajari Islam. Namun demikian, tantangan saat ini mengarah pada makin maraknya berbagai literasi yang tidak memperkenalkan toleransi dan keberagaman bahkan mengarah pada radikal. Oleh karena itu, pemetaan hubungan antara kategori generasi dengan pemilihan literasi yang dipakai terutama di lingkungan Perguruan Tinggi, perlu dilakukan mengingat perannya sebagai pusat berkembangan pengetahuan. Melalui metode mix method, penelitian ini mencoba untuk membandingkan penggunaan literasi yang digunakan antara 2 generasi yang berbeda yaitu Millenial dan Z, di UIN Sayyid Ali Rahmatullah sebagai salah satu PTKIN terbesar di Indonesia. Hasil dari penelitian ini menunjukkan yaitu pertama, milenial memang cenderung suka menggunakan gadget dalam memperoleh pengetahuan keislaman dibanding generasi Z yang lebih menyukai belajar islam via tatap muka atau langsung. Kedua, Gen Z lebih jarang menemukan konten yang berbau radikal dibanding milenial dimana menunjukkan bagaimana ketertarikan mereka terhadap isu radikalisme lebih rendah sebagai wujud apatisme mereka pada isu tersebut. Ketiga, Gen Z lebih mengakui bahwa mereka tahu konten keislaman seperti apa yang harus dihindari dibanding Gen Y, akan tetapi hal ini hanya sekedar secara umum arti radikal versi mereka bukan spesifik pada tokoh, buku ataupun sumber lainnya yang seharusnya dihindari.Kata Kunci: Gen Z, Literasi keislaman, Milenial,