Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Waktu Simpan dan Pelapisan Benih Menggunakan Ekstrak Nabati terhadap Benih Cabai Terinfeksi Colletotrichum gloeosporioides Halimursyadah Halimursyadah; Maulina Syadidah Hasibuan; Trisda Kurniawan
Jurnal Agrotek Lestari Vol 9, No 1 (2023): April
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jal.v9i1.6278

Abstract

Tanaman Cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu tanaman hortikultura yang dibudidayakan secara komersial. Colletotrichum gloeosporioides mampu menginfeksi benih cabai. Cara untuk mengatasi patogen terbawa benih dan menjaga mutu benih cabai selama penyimpanan yaitu dengan pelapisan benih menggunakan ekstrak nabati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu simpan dan pelapisan benih dalam mempertahankan viabilitas benih cabai serta interaksi antara keduanya terhadap viabilitas benih cabai terinfeksi C. gloeosporioides. Penelitian ini menggunakan RAL pola faktorial 3x5 dengan 3 ulangan. Faktor yang diamati yaitu waktu simpan yang terdiri dari 3 taraf (waktu simpan 7 hari, 14 hari dan 21 hari) dan pelapisan benih cabai menggunakan ekstrak nabati yang terdiri dari 5 taraf (kontrol, kunyit 50%, kunyit 100%, lengkuas 50% dan lengkuas 100%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu simpan berpengaruh sangat nyata terhadap indeks vigor benih cabai, tinggi tanaman 14 HSPT, tinggi tanaman 21 HSPT, jumlah daun 14 HSPT, serta kerapatan spora C. gloeosporioides pada benih cabai. Pelapisan benih berpengaruh sangat nyata terhadap indeks vigor benih cabai, jumlah daun 14 HSPT, serta kerapatan spora C. gloeosporioides. Terdapat interaksi yang sangat nyata pada perlakuan waktu simpan dan pelapisan benih terhadap kerapatan spora C. gloeosporioides pada benih cabai. Kombinasi perlakuan terbaik dijumpai pada waktu simpan 21 hari menggunakan ekstrak kunyit 50%.
PENGARUH APLIKASI EKSTRAK ETIL ASETAT BEBERAPA JENIS TANAMAN TERHADAP PERTUMBUHAN (Amaranthus spinosus L). Dwika Maha Reni Swanda; Gina Erida; Trisda Kurniawan
Journal Agroecotech Indonesia (JAI) Vol. 5 No. 2 (2026): Juli
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Islam Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan herbisida sintetis secara terus-menerus untuk mengendalikan gulma dapat menyebabkan resistensi gulma, pencemaran lingkungan serta dampak negatif terhadap kesehatan manusia. Oleh karena itu, diperlukan alternatif pengendalian yang lebih ramah lingkungan melalui pemanfaatan bioherbisida berbahan alelopati tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tanaman yang paling berpotensi dijadikan bioherbisida terhadap pertumbuhan gulma bayam duri. Pelarut memiliki peranan penting dalam menarik senyawa aktif selama proses ekstraksi. Keberhasilan ekstraksi dipengaruhi oleh kesesuaian polaritas antara pelarut dan senyawa yang diekstraksi. Etil asetat dipilih karena bersifat semi polar sehingga mampu mengekstraksi senyawa polar dan nonpolar yang diduga berperan sebagai alelokimia. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap non faktorial dengan 17 perlakuan dan 3 ulangan yaitu, kontrol positif (2, 4-D), kontrol negatif (aquades), ekstrak etil asetat daun pinus, akasia, jati, ketapang dan jarak pagar masing-masing konsentrasi 20%, 30% dan 40%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi ekstrak etil asetat jati dan jarak pagar konsentrasi 20%, akasia, pinus dan ketapang konsentrasi 30% menyebabkan kematian gulma bayam duri pada 7 HSA.