Muhammad Tamrin Tahir
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

EVALUASI PENGGUNAAN OSELTAMIVIR DAN AZITROMISIN PADA PASIEN COVID – 19 DI RSUD UNDATA PALU Setiawati Fadhilah Zainal; Amelia Rumi; Muhammad Tamrin Tahir; Nurhaya Y Kanang
Majalah Farmasi dan Farmakologi Vol. 27 No. 4 (2023): MFF SPECIAL ISSUE
Publisher : Faculty of Pharmacy, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/mff.v27i4.30053

Abstract

Wabah virus corona atau lebih dikenal dengan nama Covid–19 berdampak sampai ke Indonesia hinggasekarang. Angka penularan virus ini terus meningkat di Indonesia dan masih tergolong tinggi sehingga kerjasama antara pemerintah, aparat, swasta dan masyarakat terjalin dalam menanggulangi penyebaran viruscorona. Pengobatan Covid–19 diterapi dengan antivirus dan antibiotik yang menjadi salah satu fakorpenunjang keberhasilan pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan oseltamivirsebagai antivirus dan azitromisin sebagai antibiotik pada terapi pasien Covid–19 ditinjau dari hasil data klinikdan pengunaan obat di RS Undata Tahun 2020. Desain penelitian ini, yaitu kuantitatif dengan pendekatanretrospektif, dengan populasi seluruh pasien terkonfirmasi positif covid-19 dan jumlah sampel 52 pasien yangmemenuhi kriteria inklusi yaitu pasien menerima oseltamivir dan azitromisin dan memiliki data suhu, heartrate, respiration rate, leukosit, hasil klinik yang tertera di rekam medik. Data yang diperoleh dianalisis denganuji statistik Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan oseltamivir dengan persentase 11%,sedangkan azitromisin dengan persentase 4% untuk terapi tunggal dan sebanyak 85% untuk terapi kombinasioseltamivir dan azitromisin. Penggunaan terapi oseltamivir dan azitromisin menunjukkan perbedaan yangsignifikan untuk suhu tubuh (p=0,002), heart rate (p=0,003) dan GCS (p=0,035), tidak ada perbedaan signifikanuntuk hasil pemeriksaan leukosit (p=0,888) dan respiration rate (p=0,333). Pemberian kombinasi oseltamivirdan azitromisin sebagai terapi pengobatan lebih efektif dan dapat memperluas lingkup terapi dan beberapainfeksi.
Identifikasi Potentially Inappropriate Medication (PIM) Melalui Beers Criteria pada Pasien Geriatri Rawat Inap di Ruangan Seroja dan Flamboyan RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah: Identification of Potentially Inappropriate Medication (PIM) Through Beers Criteria for Geriatric Patients on Hospitalized in Seroja and Flamboyan Room at Undata Hospial Central Province Amelia Rumi; Muhammad Tamrin Tahir; Muh. Ilham
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 6 No. 1 (2023): January 2023
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i1.2531

Abstract

Latar belakang: Pasien geriatri merupakan penduduk yang memiliki lebih dari satu penyakit, sehingga rentan terhadap obat yang berpotensi tidak tepat yang dapat menyebabkan risiko efek samping obat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pengobatan dan angka kejadian Potentially Inappropriate Medication (PIM) berdasarkan Beers Criteria 2019 pada pasien geriatri rawat inap di ruangan Seroja dan Flamboyan. Metode: Metode yang digunakan adalah metode deskriptif yang bersifat retrospektif dengan mengambil data rekam medis sebanyak 93 pasien geriatri secara purposive sampling. Data kemudian diidentifikasi menggunakan Beers Criteria 2019. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah pemberian obat pada pasien geriatri sebanyak 334 obat dan terdapat 109 obat termasuk Beers Criteria dengan kategori 1 yaitu alprazolam (2,75%), diazepam (1,83%), natrium diklofenak (8,27%), asam mefenamat (7,34%), meloksikam (4,59%), ketoprofen (2,75%), ketorolak (19,27%), dan glimepirid (0,92%). Kategori 2 yaitu ketoprofen (0,92%), dan meloksikam (0,92%). Kategori 3 yaitu furosemid (34,86%), tramadol (1,83%), dan asam asetilsalisilat (1,83%). Kategori 4 yaitu interaksi kortikosteroid dengan NSAIDs (5,5%), dan interaksi opioid dengan benzodiazepin (1,83%). Kategori 5 yaitu ranitidin (3,67%), dan siprofloksasin (0,92%). Kesimpulan: Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu pada pasien geriatri rawat inap di ruangan Seroja dan Flamboyan terdapat obat yang berpotensi tidak tepat berdasarkan Beers Criteria 2019 dengan 109 angka kejadian.