Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Hubungan tingkat kepatuhan pasien prolanis diabetes melitus terhadap kualitas hidup selama masa pandemi Covid-19 di fasilitas kesehatan primer Kota Palu Niluh Agnes Kadoena; Amelia Rumi
Syntax Idea Vol 4 No 3 (2022): Syntax Idea
Publisher : Ridwan Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/syntax-idea.v4i3.1816

Abstract

Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit metabolik yang bersifat kronis. Menurut data hasil riset Dinas Kesehatan Sulawesi Tengah. Prevalensi penderita DM di kota Palu merupakan terbanyak ke 2 se-Sulawesi Tengah dengan jumlah penderita 27.005 jiwa. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara kepatuhan dan kualitas hidup pasien DM selama mengikuti kegiatan PROLANIS (Program Pengelolaan Penyakit Kronis) yang diselenggarakan oleh BPJS kesehatan. Penelitian ini menggunakan metode non eksperimental (observasional) dan bersifat cross sectional dengan jumlah responden yang di gunakan sebanyak 33 responden dengan teknik pengambilan sampel random sampling serta pengambilan data menggunakan instrumen berupa kuesioner kepatuhan dan kuesioner kualitas hidup. Hasil penelitian yang didapatkan kepatuhan dari pasien DM dengan jumlah responden dalam kategori patuh (45,5%), sedang (24,2%) dan tidak patuh (30,3%) sedangkan hasil penelitian kualitas hidup pasien DM masuk dalam kategori baik (63,6%) dan kategori buruk (36,4%). Hasil uji Sperman Rank Correlation nilai p = 0,813 atau p > α (0,05), maka Ho diterima yang artinya antara kepatuhan dan kualitas hidup pasien DM tidak terdapat hubungan. Kesimpulan dari penelitian ini kualitas hidup seseorang tidak bergantung dari kepatuhan minum obat namun juga bisa berdasarkan faktor lain seperti gaya hidup, pola makan, diet dan olahraga yang bisa dilakukan secara mandiri di rumah yang bisa membantu meningkatnya kualitas hidup seseorang.
TINGKAT PENGETAHUAN SWAMEDIKASI JERAWAT PADA MAHASISWA FARMASI FMIPA UNIVERSITAS TADULAKO Sitti Rahma Ramadani; Amelia Rumi; Firdawati Amir Parumpu
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 6 No. 1 (2022): April 2022
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v6i1.2936

Abstract

Jerawat merupakan keadaan kulit tidak normal ketika produksi minyak berlebih dan pori-pori tersumbat sehingga timbul bintik kemerahan pada kulit. Mahasiswa lebih banyak memilih swamedikasi jerawat daripada bantuan tenaga medis. Banyaknya  masalah penggunaan obat secara swamedikasi yang terjadi menyebabkan masalah seperti over dosis dan penyalahgunaan obat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat pengetahuan swamedikasi jerawat pada mahasiswa farmasi Universitas Tadulako. Metode penelitian ini yaitu analisis deskriptif dengan pendekatan cross sectional dengan jumlah responden 249 mahasiswa jurusan farmasi FMIPA Universitas Tadulako. Teknik pengambilan sampel secara  random sampling menggunakan kuesioner di google form. Hasil pengolahan data menunjukkan nilai tingkat pengetahuan mahasiswa mengenai swamedikasi jerawat secara keseluruhan yaitu 82,6% dan 67,6%. Nilai tingkat pengetahuan responden untuk tiap variabel pengetahuan mengenai swamedikasi secara umum (87,5%), sumber informasi (96,5%), pengetahuan mengenai jerawat (66,82%), ketepatan indikasi (95,6%),  ketepatan dosis (90,9%), cara penyimpanan (34,05%), cara penggunaan (93,1%). Kesimpulan penelitian ini yaitu pengetahuan mahasiswa farmasi Universitas Tadulako mengenai swamedikasi jerawat secara keseluruhan adalah baik dan cukup, sedangkan tingkat pengetahuan pada tiap variabel pengetahuan dikatakan baik pada pengetahuan swamedikasi secara umum, sumber informasi, ketepatan indikasi, ketepatan dosis, dan cara penggunaan. Tingkat pengetahuan cukup pada variabel pengetahuan mengenai jerawat dan tingkat pengetahuan kurang pada variabel cara penyimpanan.
Analisis Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Pengobatan Antiretroviral pada Pasien HIV/AIDS Ririen Hardani; Amelia Rumi; Afriani Kusumawati; Adelisa Putri; Nurul Ambianti
Jurnal Pharmascience Vol 10, No 1 (2023): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v10i1.14610

Abstract

Terwujudnya terapi pengobatan yang efektif tergantung dari kepatuhan seseorang meminum obat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menetapkan pengaruh faktor pengetahuan, pemberian konseling dan ketersediaan sarana dan fasilitas kesehatan terhadap kepatuhan pengobatan antiretroviral pada pasien HIV/AIDS. Metode pada penelitian ini menggunakan penelitian analitik yang dikerjakan secara cross-sectional dengan menggunakan kuisioner faktor yang mempengaruhi kepatuhan dan kuisioner kepatuhan MARS (Medication Adherence Rating Scale) pada pasien HIV/AIDS yang mengonsumsi obat antiretroviral dengan analisis data menggunakan uji Chi-square dengan nilai signifikan p<0,05. Dari hasil penelitian jumlah sampel yang diperoleh sebanyak 92 pasien, 20 pasien memiliki kepatuhan rendah, 15 pasien memiliki kepatuhan sedang dan 57 pasien memiliki kepatuhan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada faktor yang mempengaruhi kepatuhan yaitu pengetahuan dengan nilai signifikan (p=0,001), pemberian konseling dengan nilai signifikan (p=0,000) dan ketersediaan sarana dan fasilitas kesehatan dengan nilai signifikan (p=0,002) memiliki hubungan yang signifikan terhadap kepatuhan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa faktor pengetahuan, pemberian konseling dan ketersediaan sarana dan fasilitas kesehatan memiliki pengaruh terhadap kepatuhan pengobatan pasien HIV/AIDS. Kata Kunci: HIV/AIDS, Antiretroviral, Kepatuhan, MARS, Pengobatan  The realization of effective treatment theraphy depends on a person’s adherence to taking medication. The purpose of this study was to determine the effect of knowledge, counseling and availability of health facilities and facilities on antiretroviral treatment adherence in HIV/AIDS patients. The method in this study used an analytic study that was carried out in a cross-sectional manner using a questionnaire on factors that affect adherence and the MARS (Medication Adherence Rating Scale) adherence questionnaire in HIV/AIDS patients taking antiretroviral drugs with data analysis using the Chi-squere test with a significant value. p<0.05. From the results of the study with a total sample of 92 patients, 20 patients had low adherence, 15 patients had moderate adherence and 57 patients had high adherence. The results showed that the factors that influenced adherence, namely knowledge with a significant value (p=0.001), counseling with a significant value (p=0.000) and the availability of health facilities and facilities with a significant value (p=0.002) had a significant relationship. to compliance. So it can be concluded that the factors of knowledge, counseling and availability of health facilities and facilities have an influence on adherence to treatment of HIV/AIDS patients.
EVALUASI PENGGUNAAN OSELTAMIVIR DAN AZITROMISIN PADA PASIEN COVID – 19 DI RSUD UNDATA PALU Setiawati Fadhilah Zainal; Amelia Rumi; Muhammad Tamrin Tahir; Nurhaya Y Kanang
Majalah Farmasi dan Farmakologi Vol. 27 No. 4 (2023): MFF SPECIAL ISSUE
Publisher : Faculty of Pharmacy, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/mff.v27i4.30053

Abstract

Wabah virus corona atau lebih dikenal dengan nama Covid–19 berdampak sampai ke Indonesia hinggasekarang. Angka penularan virus ini terus meningkat di Indonesia dan masih tergolong tinggi sehingga kerjasama antara pemerintah, aparat, swasta dan masyarakat terjalin dalam menanggulangi penyebaran viruscorona. Pengobatan Covid–19 diterapi dengan antivirus dan antibiotik yang menjadi salah satu fakorpenunjang keberhasilan pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan oseltamivirsebagai antivirus dan azitromisin sebagai antibiotik pada terapi pasien Covid–19 ditinjau dari hasil data klinikdan pengunaan obat di RS Undata Tahun 2020. Desain penelitian ini, yaitu kuantitatif dengan pendekatanretrospektif, dengan populasi seluruh pasien terkonfirmasi positif covid-19 dan jumlah sampel 52 pasien yangmemenuhi kriteria inklusi yaitu pasien menerima oseltamivir dan azitromisin dan memiliki data suhu, heartrate, respiration rate, leukosit, hasil klinik yang tertera di rekam medik. Data yang diperoleh dianalisis denganuji statistik Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan oseltamivir dengan persentase 11%,sedangkan azitromisin dengan persentase 4% untuk terapi tunggal dan sebanyak 85% untuk terapi kombinasioseltamivir dan azitromisin. Penggunaan terapi oseltamivir dan azitromisin menunjukkan perbedaan yangsignifikan untuk suhu tubuh (p=0,002), heart rate (p=0,003) dan GCS (p=0,035), tidak ada perbedaan signifikanuntuk hasil pemeriksaan leukosit (p=0,888) dan respiration rate (p=0,333). Pemberian kombinasi oseltamivirdan azitromisin sebagai terapi pengobatan lebih efektif dan dapat memperluas lingkup terapi dan beberapainfeksi.
Early Detection of Degenerative Diseases in the Elderly in Uenuni Village, Palolo District Yuliet Yuliet; Khildah Khaerati; Amelia Rumi; Khusnul Diana
Warta Pengabdian Andalas Vol 31 No 1 (2024)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jwa.31.1.51-59.2024

Abstract

The risk of various degenerative diseases is more experienced by older adults than young people. One of the most common health problems among the elderly is hypertension. Delays in treating hypertensive patients are caused by the majority of patients only coming to health facilities after experiencing complications and lack of access to public health services. The incidence of dyslipidemia and diabetes mellitus (DM) also continues to grow, which are risk factors for coronary heart disease. For this reason, promotive and preventive efforts for the elderly group are significant through increasing knowledge and understanding of degenerative diseases. The community service partner is the Banpres Pololo Community Health Center, one of the community health centers in Sigi Regency with high cases of degenerative diseases, and the target of community service is the elderly in Uenuni Palolo village. Implementing the activity was health education about hypertension, DM, and dyslipidemia, health screening, and health counseling. The screening results found that 94.12% of older adults suffered from hypertension, 17.65% suffered from DM, and 52.94% suffered from hypercholesterolemia. Health counseling results show that most older adults did not understand the importance of early detection of degenerative diseases. Therefore, health education and counseling for the community still need to be improved.
Identifikasi Potentially Inappropriate Medication (PIM) Melalui Beers Criteria pada Pasien Geriatri Rawat Inap di Ruangan Seroja dan Flamboyan RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah: Identification of Potentially Inappropriate Medication (PIM) Through Beers Criteria for Geriatric Patients on Hospitalized in Seroja and Flamboyan Room at Undata Hospial Central Province Amelia Rumi; Muhammad Tamrin Tahir; Muh. Ilham
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 6 No. 1 (2023): January 2023
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i1.2531

Abstract

Latar belakang: Pasien geriatri merupakan penduduk yang memiliki lebih dari satu penyakit, sehingga rentan terhadap obat yang berpotensi tidak tepat yang dapat menyebabkan risiko efek samping obat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pengobatan dan angka kejadian Potentially Inappropriate Medication (PIM) berdasarkan Beers Criteria 2019 pada pasien geriatri rawat inap di ruangan Seroja dan Flamboyan. Metode: Metode yang digunakan adalah metode deskriptif yang bersifat retrospektif dengan mengambil data rekam medis sebanyak 93 pasien geriatri secara purposive sampling. Data kemudian diidentifikasi menggunakan Beers Criteria 2019. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah pemberian obat pada pasien geriatri sebanyak 334 obat dan terdapat 109 obat termasuk Beers Criteria dengan kategori 1 yaitu alprazolam (2,75%), diazepam (1,83%), natrium diklofenak (8,27%), asam mefenamat (7,34%), meloksikam (4,59%), ketoprofen (2,75%), ketorolak (19,27%), dan glimepirid (0,92%). Kategori 2 yaitu ketoprofen (0,92%), dan meloksikam (0,92%). Kategori 3 yaitu furosemid (34,86%), tramadol (1,83%), dan asam asetilsalisilat (1,83%). Kategori 4 yaitu interaksi kortikosteroid dengan NSAIDs (5,5%), dan interaksi opioid dengan benzodiazepin (1,83%). Kategori 5 yaitu ranitidin (3,67%), dan siprofloksasin (0,92%). Kesimpulan: Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu pada pasien geriatri rawat inap di ruangan Seroja dan Flamboyan terdapat obat yang berpotensi tidak tepat berdasarkan Beers Criteria 2019 dengan 109 angka kejadian.
Evaluasi Penggunaan Obat Antihistamin pada Pasien Rawat Jalan Penyakit Kulit Rumah Sakit Umum Daerah Undata Palu : Evaluation of the Use of Antihistamines in Outpatients with Skin Diseases Undata Regional General Hospital Palu M. Fakhrul Hardani; Amelia Rumi; Yuli indasari; Rugayyah Alyidrus; Abdurrahman Hasymi
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 6 No. 8 (2023): August 2023
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i8.3219

Abstract

Latar belakang: Penyakit kulit merupakan sebuah kelainan kulit yang disebabkan beberapa faktor seperti jamur, kuman, parasit, virus dan infeksi yang dapat menyerang segala umur. Gejala dari penyakit kulit dapat diatasi menggunakan antihistamin, yang bila dikonsumsi tidak tepat dapat menyebabkan gangguan pada sistem konduksi kardiovaskuler, retensi urin akut, acute generalized exanthematous pustulosis (AGEP), penurunan fungsi kognitif dan gangguan neuromuscular junction. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum penggunaan obat dan evaluasi penggunaan antihistamin yang ditinjau dari aspek tepat indikasi, dosis, dan interval waktu pemberian di RSUD Undata Palu. Metode: Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif yang bersifat retrospektif dengan pengambilan data secara purposive sampling pada rekam medis Juli sampai dengan Desember 2021. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 100 responden diperoleh karakteristik pasien sebagian besar berjenis kelamin laki-laki 59%, usia 46-65 tahun 33%, didominasi tidak bekerja 18%, dan ditemukan 100% manifestasi klinik mengalami keluhan gatal dan ruam, diagnosa terbanyak adalah dermatitis seboroik 16%, pada jumlah pasien yang mendapatkan <3 jenis obat 85%, dengan penggunaan antihistamin terbanyak adalah setirizin 80%. Kesimpulan: Evaluasi kesesuaian indikasi didapatkan sebesar (100%) tepat indikasi, tepat dosis pemberian obat didapatkan sebesar (97%) tepat dosis, dan tepat interval waktu pemberian didapatkan sebesar (96%) tepat interval waktu pemberian berdasarkan pada British National Formulary (BNF) Edisi 83.
Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Perilaku Swamedikasi terhadap Penggunaan Obat Influenza dan Batuk di Islamic Boarding School Ma’had Daarul Muhsin Man 2 Kota Palu : Level of Knowledge of Patients in the Use of Antibiotic Drugs at the Aafiyah Apitaik Pharmacy, East Lombok Ririen Hardani; Amelia Rumi; Fikriani
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 6 No. 7 (2023): July 2023
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i7.3276

Abstract

Latar belakang: Swamedikasi adalah proses penyembuhan yang dilakukan secara mandiri terhadap penyakit ringan seperti batuk, influenza, demam, sakit kepala, sakit maag. Influenza dan batuk merupakan penyakit serta gejala pada saluran pernafasan dengan penularan melalui droplet sehingga sangat mudah tertular jika tidak ditangani dengan baik. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik responden, tingkat pengetahuan dan perilaku swamedikasi influenza dan batuk terhadap Islamic Boarding Ma’had Daarul Muhsin MAN 2 Kota Palu serta hubungan antara kedua variabel tersebut Metode: Desain penelitian ini yaitu observasional (noneksperimen) yang bersifat cross-sectional dengan teknik pengambilan data yaitu total sampling dengan memberikan kuesioner kepada responden yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Kuesioner terdiri dari 2 variabel yaitu pengetahuan yang terdiri dari definisi swamedikasi, jenis batuk, pentalaksana, penyebab, gejala dan pencegahan, sedangkan variabel perilaku meliputi swamedikasi, penatalaksana dan pencegahan terhadap swamedikasi influenza dan batuk di Islamic Boarding Ma’had Daarul Muhsin MAN 2 Kota Palu Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan responden dominan berumur 15 tahun (41%) yang berada pada kelas X dengan persentase 44%. Pada karakteristik jenis kelamin dominan responden adalah perempuan dengan persentase 66%. Sebagian besar responden paling banyak berasal dari Kota Palu dengan persentase 28. Responden sudah pernah mendapatkan infromasi mengenai penyakit influenza dan batuk dengan persentase 64%. Siswa Islamic Boarding Ma’had Daarul Muhsin MAN 2 Kota Palu didominasi tingkat pengetahuan baik (80%) dan didominasi perilaku baik (69%) terhadap swamedikasi influenza dan batuk. Sehingga didapatkan nilai Sig. (2- tailed) 0,002 dan nilai koefisien korelasi 0,238. Kesimpulan: Maka dapat disimpulkan bahwa adanya hubungan positif searah antar kedua variabel.
Analisis Persepsi Ibu Hamil tentang Keamanan Obat Selama Kehamilan di Kota Palu : Analysis of Perceptions of Pregnant Women on Drug Safety During Pregnancy in Palu City Ririen Hardani; Amelia Rumi; Jaya I. Madina
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 6 No. 6 (2023): June 2023
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i6.3380

Abstract

Latar belakang: Ibu dan janin merupakan satu kesatuan fungsional yang tidak dapat dipisahkan selama kehamilan. Penggunaan obat yang salah dapat dicegah sejak dini dengan memberikan informasi mengenai keamanan obat selama kehamilan, sehingga menimbulkan persepsi yang baik pada ibu tentang keamanan obat selama kehamilan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik demografi, persepsi ibu hamil tentang keamanan obat selama kehamilan, dan pengaruh karakteristik terhadap persepsi ibu hamil tentang keamanan obat selama kehamilan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental (observasional) dengan metode pendekatan cross-sectional dengan memberikan kuesioner kepada responden yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Kuesioner yang diberikan merupakan kuesioner dengan variabel persepsi yang terdari dari 15 pertanyaan tentang keamanan obat selama kehamilan. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan responden dominan berumur 25-29 tahun (35,4%), usia kehamilan trimester III (40,9%), jumlah anak yaitu anak pertama (33,3%), riwayat pendidikan yaitu tidak sarjana (68,8%), pekerjaan yaitu tidak bekerja (65,9%) dan status pernikahan yaitu menikah (100%). Hasil penelitian dari persepsi ibu hamil tentang keamanan obat selama kehamilan di Kota Palu menunjukkan bahwa terdapat sebanyak 213 (55,9%) ibu hamil yang memiliki persepsi tentang keamanan obat selama kehamilan dalam kategori sedang atau cukup baik. Terdapat adanya pengaruh antara riwayat pendidikan dan pekerjaan terhadap persepsi ibu hamil tentang keamanan obat selama kehamilan sehingga didapatkan nilai Sig. (2-tailed) masing-masing yaitu 0,000 dan 0,024. Hasil pengujian analisis regresi logistik antara riwayat pendidikan dan pekerjaan didapatkan nilai Sig. (2-tailed) masing-masing yaitu 0,000 dan 0,266 sehingga dapat diartikan bahwa riwayat pendidikan lebih mempengaruhi persepsi ibu hamil tentang keamanan obat selama kehamilan dibandingkan dengan pekerjaan. Kesimpulan: Maka dapat disimpulkan bahwa persepsi ibu hamil tentang keamanan obat selama kehamilan di Kota Palu termasuk dalam kategori sedang atau cukup baik.
Analisis Pengetahuan terhadap Sikap Penggunaan Napza di Masyarakat Kota Palu: Knowledge Analysis of Attitudes to Drug Use in Palu City Communities Muhammad Fakhrul Hardani; Amelia Rumi; Nurul Fatiah Fitriana
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 6 No. 11 (2023): November 2023
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i11.3776

Abstract

Latar belakang: Penyalahgunaan NAPZA merupakan pemakaian obat-obatan atau zat berbahaya yang bertujuan bukan untuk pengobatan dan penelitian serta digunakan tanpa mengikuti aturan dosis yang benar. Pengetahuan terhadap NAPZA sangat penting diberikan kepada masyarakat mengingat kasus penyalahgunaan NAPZA yang terus meningkat tiap tahunnya. Pengetahuan masyarakat yang baik akan membentuk sikap yang baik pula sehingga masyarakat akan terhindar dari penyalahgunaan NAPZA. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan terhadap sikap penggunaan NAPZA di Masyarakat Kota Palu. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan metode pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan menyebarkan kuesioner dalam bentuk hard file, kemudian data di analisis menggunakan metode chi-square dengan jumlah sampel sebanyak 400 responden. Hasil: Hasil penelitian didapatkan pengetahuan masyarakat Kota Palu terhadap penggunaan NAPZA termasuk dalam kategori baik dengan persentase sebesar 80%. Sikap masyarakat terhadap penggunaan NAPZA memiliki persentase sikap positif yang lebih besar (51,5%) dari pada sikap negatif. Pada hasil analisa uji ­chi-square didapatkan nilai p value pengetahuan dan sikap 0,000 lebih kecil dari nilai ? = 0,05. Kesimpulan: Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap masyarakat Kota Palu terhadap penggunaan NAPZA. Hal ini dapat diartikan bahwa semakin baik tingkat pengetahuan masyarakat terhadap penggunaan NAPZA maka sikap yang dihasilkan semakin positif.