Perkembangan kedai kopi di Indonesia menunjukkan perubahan fungsi yang signifikan, dari sekadar tempat konsumsi minuman menjadi ruang interaksi sosial yang menekankan pengalaman komunikasi antara penjual dan konsumen. Perubahan tersebut mendorong pelaku usaha kedai kopi untuk mengembangkan strategi Personal Selling yang tidak hanya berorientasi pada penjualan produk, tetapi juga pada proses membangun hubungan interpersonal melalui interaksi langsung. Dalam konteks ini, komunikasi interpersonal menjadi elemen penting dalam menciptakan suasana yang nyaman, dialogis, dan berkelanjutan antara penjual dan konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk memahami praktik Personal Selling melalui komunikasi interpersonal yang diterapkan di Kedai Kopi Sapa Remaja. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode deskriptif, yang memungkinkan peneliti menggali secara mendalam proses komunikasi, pola interaksi, serta makna yang dibangun dalam hubungan antara penjual dan konsumen. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap pemilik, pramukopi, serta pihak yang terlibat langsung dalam aktivitas pelayanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik Personal Selling di Kedai Kopi Sapa Remaja dijalankan melalui komunikasi interpersonal yang termanifestasi dalam empat komponen utama. Pertama, keterbukaan diwujudkan melalui sapaan awal dan percakapan ringan yang memberi ruang bagi konsumen untuk menyampaikan preferensi tanpa tekanan. Kedua, empati tampak dari kemampuan pramukopi menyesuaikan gaya pelayanan dengan kondisi emosional konsumen, misalnya ketika konsumen datang dalam keadaan lelah atau menginginkan suasana tenang. Ketiga, sikap positif tercermin dari nada bicara yang ramah, respons yang antusias terhadap pertanyaan konsumen, serta penguasaan informasi produk yang memudahkan pengambilan keputusan pembelian. Keempat, kesetaraan terlihat dari cara penjual memosisikan konsumen sebagai mitra dialog, bukan sekadar pembeli. Keempat komponen tersebut membentuk pengalaman interaksi yang bermakna, mendorong terbentuknya kepercayaan, dan menciptakan hubungan yang berulang antara konsumen dan kedai kopi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Personal Selling melalui komunikasi interpersonal memiliki peran penting dalam membentuk kualitas interaksi konsumen di Kedai Kopi Sapa Remaja. Praktik komunikasi yang konsisten dan manusiawi menjadi dasar terciptanya hubungan jangka panjang antara penjual dan konsumen, serta memperkuat identitas kedai kopi sebagai ruang interaksi sosial.